Nahdlotul Ulama (NU) sebagai salah satu organisasi massa (ormas) Islam terbesar di Indonesia telah banyak menyumbangsihkan perjuangan dan pengorbanannya dalam pembangunan negeri tercinta ini. Namun hal tersebut sering diabaikan oleh masyarakat dewasa ini. Seperti Resolusi Jihad yang dibungkam sejarahnya oleh pemerintah. Padahal ulama-ulama NU adalah sosok gigih pejuang kemerdekaan kala itu.
Istimewa


Judul               : Nasionalisme dan Islam Nusantara
Penulis             : Said Aqil Siroj, Dkk
Penerbit           : PT. Kompas Media Nusantara
Tahun terbit     : 2015
Tebal               : xii+292 hal.; 15 cm x 23 cm
ISBN               : 978-979-709-955-8

Nahdlotul Ulama (NU) sebagai salah satu organisasi massa (ormas) Islam terbesar di Indonesia telah banyak menyumbangsihkan perjuangan dan pengorbanannya dalam pembangunan negeri tercinta ini. Namun hal tersebut sering diabaikan oleh masyarakat dewasa ini. Seperti Resolusi Jihad yang dibungkam sejarahnya oleh pemerintah. Padahal ulama-ulama NU adalah sosok gigih pejuang kemerdekaan kala itu.
Nahdlotul Ulama membuktikan nasionalismenya dengan tetap teguh setia pada NKRI dan ideologi Pancasila. Sebab, hal tersebut dianggap memang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Bagi NU, NKRI adalah harga mati. Seperti yang termaktub dalam sepenggal lirik lagu Syubbanul Wathon, “hubbul wathon minal iman” bahwa cinta tanah air (nasionalisme) adalah bagian daripada keimanan seorang hamba. Syariat agama tidak akan berjalan jika tidak ada Negara yang mengayomi. Indonesia tidak perlu menjadi Negara Islam, tetapi Indonesia wajib menjadi Negara yang melindungi umat Islam untuk melaksanakan syariatnya.
Ulama-ulama NU tidak berkehendak menjadikan Indonesia sebagai Khilafah Islamiyah,  sebab di Indonesia tidak hanya terdiri dari satu agama saja. Indonesia adalah Negara yang penuh dengan pluralitas, keanekaragaman ras, suku, budaya, adat dan agama. Sangat tidak humanis jika memaksakan kehendak untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara yang berdasar syariat Islam. Hak-hak minoritas perlu dihargai sebagai wujud dari toleransi kehidupan berbangsa.
Akulturasi budaya sebagai bentuk cinta terhadap tanah air oleh ulama-ulama NU terdahulu dalam mendakwahkan ajaran Islam nyatanya telah berhasil merebut hati para penduduk setempat sehingga Indonesia kini menjadi salah satu Negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Penyebaran ajaran Islam berbasis budaya lokal tersebut telah melahirkan suatu gagasan solutif dalam kehidupan beragama dan bernegara yang seimbang yakni Islam Nusantara. Ajaran Islam dapat lebih membumi Indonesia lewat harmonisasi antara adat dan kebudayaan yang telah lama mentradisi dengan syariat itu sendiri.
Sosok
Dalam buku ini juga mengisahkan Gus Dur dengan segala keunikan sikap, ide-ide nyeleneh dan catatan kiprahnya dalam berpolitik dan beragama. Lima tahun telah berlalu namun sosoknya masih hangat dikenang dan diperbincangkan. Sosok kontroversialnya hingga kini menjadi kisah inspiratif di hati para penggemarnya.
Sebagai salah satu tokoh besar dalam banom NU, Gus Dur telah mewariskan pesan-pesan kebangsaan kepada warga-warga nahdliyin bahwa NU itu memiliki dua sayap kanan-kiri yang harus seimbang agar dapat “terbang tinggi” yaitu agama di sayap kanan dan Negara di sayap kiri. Gus Dur menjadi pendobrak kejumudan (stagnasi) di NU dan simbol perlawanan NU terhadap penguasa Orde Baru. Sebagai putra kiai yang lekat dengan kehidupan pesantren, Gus Dur pun menguasai iptek yang selalu mengalami progress. Hal ini menyebabkan adanya perpaduan warna antara modernitas dan tradisionalitas warga NU yang dikemas secara apik oleh Gus Dur. Gagasan-gagasan yang dilontarkannya kadang terasa tidak masuk akal bahkan dinilai memberontak oleh orang-orang yang tidak memahami betul makna di balik pernyataannya.
Empatik, pluralis dan misterius adalah tiga di antara sekian karakter Gus Dur. Ia adalah sosok yang sangat menghargai hak-hak kaum minoritas dan berusaha memperjuangkan mereka dengan laku nyata seperti ketika terjadi peristiwa pembakaran gereja pertama kali di Situbondo pada 1996, Gus Dur rela meninggalkan Roma untuk mendatangi lokasi kejadian dan meminta maaf atas tragedi tersebut. Padahal tentu itu bukanlah kesalahannya, peristiwa yang direkayasa oleh politik namun diatasnamakan agama.
Buku yang disusun dalam rangka menyambut Muktamar NU ke-33 di Jombang, 1-5 Agustus 2015 ini memuat opini dari berbagai kalangan berkaitan dengan perjalanan NU selama satu periode dari tahun 2010-2015. Pada periode kepemimpinan baru ini, ada dua titik tekan yang berbeda dengan periode sebelumnya yaitu pengarusutamaan semangat nasionalisme dan gagasan Islam Nusantara yang hendak disegarkan kembali dan dijadikan konsumsi publik untuk menyuburkan semangat nasionalisme di tengah gejolak yang ada. (hlm ix-x)

Buku ini merupakan kumpulan artikel maupun esai yang telah dimuat dalam harian Kompas. Terdiri dari 5 bab dan 66 artikel, buku ini patut dibaca oleh seluruh umat Islam di Indonesia agar dapat tercerahkan mengenai paradigma keislaman yang sesungguhnya. Buku ini sangat inspiratif dan menggugah wawasan. Membaca tulisan-tulisan di buku akan mampu menggelorakan semangat -NKRI harga mati- bagi seorang warga yang beragama dan bernegara. 
Nilam Sari, penikmat buku. Bergiat di KAMMI Kudus


Dalam tatanan hidup manusia modern seringkali lupa dengan tingkah dan pola hidup sejahtera. Terbukti dengan semakin banyaknya kegelisahan yang dialami oleh masyarakat. Tidak hanya persoalan ekonomi, politik, dan hukum. Tetapi juga dalam tatanan akidah dan agama pun termasuk di dalamnya. Meski banyak klaim telah mengikuti aturan, namun kenyataannya mereka tidak melakukannya secara keseluruhan. Termasuk dalam mencintai Nabi Muhammad Saw. Hal itu mengemuka dalam peringatan maulid Nabi bertajuk Indahnya Kebersamaan di Desa Cendono RT 05 RW 02, Dawe, Kudus pada Senin (30/01). Hadir sebagai penceramah yaitu Habib Umar al-Muthohhar dari Semarang dan K. H. Abdurrahman dari Kudus.
Habib Umar dalam peringatan maulid nabi di desa Cendono RT 5 RW 2, Dawe Kudus. Senin (30/1) kemarin.
FOTO : FARID/Parist.id

Dalam tatanan hidup manusia modern seringkali lupa dengan tingkah dan pola hidup sejahtera. Terbukti dengan semakin banyaknya kegelisahan yang dialami oleh masyarakat. Tidak hanya persoalan ekonomi, politik, dan hukum. Tetapi juga dalam tatanan akidah dan agama pun termasuk di dalamnya. Meski banyak klaim telah mengikuti aturan, namun kenyataannya mereka tidak melakukannya secara keseluruhan. Termasuk dalam mencintai Nabi Muhammad Saw.
Hal itu mengemuka dalam peringatan maulid Nabi bertajuk Indahnya Kebersamaan di Desa Cendono RT 05 RW 02, Dawe, Kudus pada Senin (30/01). Hadir sebagai penceramah yaitu Habib Umar al-Muthohhar dari Semarang dan K. H. Abdurrahman dari Kudus.
Menurut Habib Umar kenyataan di atas disebabkan karena belum dimasukkannya ajaran Rasulullah kedalam rumah kita. Maksudnya, dalam kehidupan sehari-hari kita belum mengamalkan ajaran Rasulullah. Dalilnya jelas bahwa Allah tidak akan menimpakan musibah kepada suatu kaum saat kamu (Muhammad) berada ditengah-tengahnya. Ini bisa kita artikan dengan menghadirkan ajaran Muhammad agar tidak ditimpa musibah.
“Ayo kita masukkan Rasulullah ke dalam rumah kita. Kita hadirkan (ajaran) Rasulullah di tengah-tengah kita,”” paparnya.
Kita mengenal Nabi Muhammad sebagai pribadi yang tidak pernah menyulitkan orang lain. Habib Umar menceritakan kisah Rasul yang tidak menjadi beban orang lain, bahkan saat masih di dalam kandungan ibunya, Aminah. Dalam riwayatnya ketika mengandung sang pemimpin umat sepanjang masa itu, Aminah merasa tidak sedang mengandung. “Beda dengan kita yang suka merepotkan orang.
Sementara itu, K.H. Abdurrahman menghimbau untuk mulai mencontoh Rasulullah dari hal-hal sederhana. Dalam kitab-kitab maulid disebutkan bahwa Nabi Muhammad merupakan pribadi sederhana. Beliau suka berkumpul dengan orang-orang miskin, menengok dan mendoakan orang yang sakit, bahkan seringkali menahan lapar.
“Marilah kita mulai mencontoh Rasulullah dengan hal-hal sederhana. Menjaga kerukunan umat itu juga termasuk salah satu diantaranya,”” tutur Kyai asli Kudus itu.
(Red/Farid)

Noor Wahyudi menandatangani  surat serah terima jabatan sebagai Ketua UKM LDK 2017. Disaksiskan oleh Wakil Ketua III, Shobirin dan pembina LDK, Mubasyaroh. Foto: Ismah/paragraphfoto



PARIST - Pelantikan bersama kepengurusan tiga Unit Kegiatan Mahasiswa(UKM) periode 2017  di Gedung Rektorat lantai tiga STAIN Kudus berlangsung pada, Rabu (25/01/2017). Tiga UKM tersebut yakni, Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Kelompok Pecinta Nalar (KPN), dan Olahraga (OLGA). Tiga ketua terpilih yakni Noor Wahyudi yang akan memimpin UKM LDK, M. Syaifuddin Mustofa sebagai Ketua UKM KPN dan Zaenal Mustofa sebagai Kapten UKM OLGA.
                                 
“SEMA dan DEMA serta OK yang lain juga bisa memberi masukan agar UKM kami lebih baik lagi ke depannya,” ucapan terimakasih Zaenal Mustofa mewakili ketiga UKM.

Presiden DEMA, Ahmad Minhajul Abror, berpesan untuk ketiga UKM agar bisa melestarikan kebaikan pengurus sebelumnya dan memperbaiki kekurangannya. “Tiga UKM menjadi UKM yang aktif, tidak pasif, agar bisa menangkis kabar-kabar hoak yang berkembang,” imbuh Abror.

Abror juga berharap tahun depan dapat dilangsungkan pelantikan bersama seluruh OK di Gedung Olahraga. “Selain efisien waktu dan tempat, juga hemat ongkos,” pungkasnya ‘

Menanggapi Abror, Wakil Ketua III, Shobirin mengatakan bahwa ada beberapa Organisasi Kemahasiswaan (OK) yang tergolong Unit Kegiatan Khusus (UKK), sehingga pelantikannya melibatkan pihak di luar STAIN Kudus. Pelantikan bersama OK STAIN Kudus bisa diselenggarakan bersama jika OK yang akan dilantik dalam satu konsep acara.

“Bisa, kalau pelantikan bersama, tapi UKK semisal Menwa pelantikannya harus melibatkan Menwa Mahadipa,” ungkapnya.

Selain itu, pembina LDK, Mubasyaroh juga memberikan selamat kepada pengurus yang telah dilantik. “Terus berorganisasi dan menjaga kekompakan antar anggota,” ujarnya.

Satrio Adhi Cahyono (baju putih) dan para anggota Effort EO yang lain. Foto: dokumen pribadi








PARIST – Kurangnya penanganan secara cepat dan tepat bagi penderita stroke menjadi masalah yang harus diperhatikan. Karena sering kali lambatnya penanganan dapat menyebabkan kematian. Demikian yang disampaikan oleh Satria Adhi Cahyono selaku Direktur Effort Event Organizer (EO) saat diwawancara oleh wartawan Parist. 

Effort EO sendiri merupakan kumpulan alumni mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Kudus. Mereka mengadakan acara perdana berupa seminar dan workshop neurologis Emergency Stroke and Post Stroke Rehebilitation bertema Update pada Manajemen Stroke Iskemik Akut di Gedung Griya Raharja Jalan Mangga No 6 A Kudus, Sabtu (28/1/2017). Sebanyak 370 peserta dari berbagai kalangan terutama yang menekuni bidang keperawatan turut mengikuti acara sampai selesai. 

“Semoga tenaga kesehatan khususnya perawat tahu penanganan yang cepat dan  tepat untuk penderita stroke,” ungkap Satria.

Hadir dalam acara tersebut sebagai pembicara, yakni dosen khusus keperawatan STIKES Muhammadiyah Kudus, Sukarmin, dan Kepala Ruang Unit Stroke RSUP dr. Kariadi Semarang, Muji Astuti. Acara dimoderatori oleh Ahmad Kholid yang juga berprofesi sebagai dosen keperawatan Universitas Ngudi Waluyo Semarang. 

Menurut Sukarmin, usia penderita stroke saat ini mulai berubah. Dulu, lanjut Sukarmin, penyakit stroke menyerang pada usia 50 tahun ke atas. Tetapi sekarang faktanya, usia 30 tahun sudah terkena stroke. Setiap 3,1 menit terdapat satu orang yang meninggal karena stroke. 

“Tak mengherankan jika penyakit stroke merupakan penyakit yang mematikan nomor 5 di dunia. Penyakit ini bisa menyerang siapa dan kapan saja,” tambahnya. 

Sementara itu, Muji Astuti mengingatkan kepada seluruh peserta seminar agar tidak tergesa-gesa dalam menangani penderita stroke. Ia juga berpesan agar jangan sampai ada kejadian yang membahayakan saat penanganan terhadap penderita stroke. Solusi yang ditawarkan oleh Muji yakni ketika merawat pasien untuk menjauhkannya dari benda berbahaya.

“Jauhkan pasien dari api dan benda tajam didekat pasien. Ini bertujuan agar keamanan dan kenyamanan tidak merugikan pasien,” pungkasnya.
(Mahya/Salim)

MELANTIK: Wakil Ketua III, Shobirin melantik pengurus baru UKM PALWA 51 2017.
Foto: Mita/paragraphfoto

Parist -  Tugas Palwa 51 bukan seperti cicak yang hanya naik-naik saja. Keberadaan UKM ini bisa menghambat datangnya kiamat, karena selalu menjaga kelestarian bumi. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua III, Shobirin, dalam pelantikan pengurus baru Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam Mahasiswa (Palwa) 51 periode 2017, di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) STAIN Kudus, Kamis, (26/01/2017). Acara yang dibuka pukul 10.45 WIB tersebut, dihadiri oleh sejumlah tamu undangan dari UKM yang lain. 

Shobirin juga mengatakan bahwa manusia di dunia ini sebagai khalifah, salah satu tugasnya adalah menjaga dan melestarikan alam dengan baik bagi peradaban kehidupan manusia. "Sehingga dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang,” tandasnya

Sementara itu, Khoirul Mustaqim, selaku ketua demisioner berharap untuk kepengurusan baru menjadi lebih baik dari kepengurusan sebelumnya dan dapat menjalankan tugas dengan baik.
“Sedangkan untuk anggota muda, kalian harus bisa loyal dan mengikuti dengan baik, jangan separo-separo,” tuturnya.

Selaku pembina UKM Palwa 51, Ma’mun Mu’min sangat berterima kasih terhadap anggota lama yang telah mengabdikan dirinya selama satu tahun ini. Tetap dijaga komunikasi dari pihak pembina maupun yang lain. Ia menambahkan agar jangan ada tindakan dan perilaku di atas batas kemanusiaan. Seperti yang pernah terjadi pada kampus lain yang anggotanya pernah meninggal.

“Melakukan kegiatan sewajarnya saja. Seperti yang tertuang dalam kode etik Palwa keenam, yakni menghargai sesama anggota,” pungkasnya. []


Ayun/Mita



Maulana Habib Lutfi bin Yahya saat memberi ceramah.
Foto: ilustrasi

Ulama kharismatik asal pekalongan, Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, memang seringkali mengajarkan banyak hal dengan contoh yang sederhana. Salah satunya yaitu tentang persatuan dan kesatuan NKRI yang ia analogikan dengan asal usul makanan dan etika memakannya. Ceramah itu disampakan dalam rangkaian maulid Kanzus Sholawat dan Haul Mbah Gareng di Kanzuz Sholawat Angudi Barokahe Gusti (ABG), Undaan, Kudus, kemarin malam (22/01/2017).

Habib Luthfi menyebutkan bahwa aktivitas makan merupakan salah satu hal yang membuktikan bahwa perbedaan ialah keniscayaan. Dalam hal makan meskipun berbeda lauk pauk, kita akan tetap bersama tanpa menyalahkan satu dan yang lain. Orang yang suka makan sayur asem tidak lantas menyalahkan orang yang pilih lauk ayam.

Ini lah satu contoh yang indah tentang harmonisme yang patut kita agungkan. Jangan ribut saja!,” tegasnya.

Menjelaskan etika makan, Habib Luthfi menceritakan apa yang didapatkannya saat nyantri pada gurunya. Bahwa makan bukan hanya persoalan mengisi perut, tetapi juga nilai luhur yang memperkuat simpati, rasa persaudaraan antar sesama. Pada butiran nasi terkandung jerih payah banyak pihak, mulai dari petani, pedagang, juru masak dan tentunya Allah sendiri sebagai pencipta dan penentu seonggok padi bisa menjadi nasi.

Guru saya mengajarkan agar selalu mendoakan dan mengingat jasa mereka semua ketika makan. Itulah sebabnya Islam mengajarkan kita dalam doa sebelum makan dengan sebutan naa (kita), bukan sekadar barikli, tetapi bariklana,tuturnya.

Kalau sudah begitu, kata Habib Luthfi, rasa syukur akan muncul, rasa terimakasih kepada setiap orang tumbuh. Persaudaraan kuat dan tidak mudah dipecah belah. Jangan sampai bangsa kita mudah diombang-ambingkan oleh ideologi yang tidak jelas dan merusak teladan serta rasa persaudaraan yang telah direkatkan para pendahulu kita.

Wahai bangsaku relakah negerimu terpecah belah?,” tanya Habib Luthfi tegas.

Persoalan disharmoni seperti sekarang ini sebenarnya telah ada lama, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Itu disebabkan adanya benturan antar lapisan masyarakat yang telah disetting dengan politik adu domba. Pada imperium kehidupan Sultan Fatah misalnya, raja pertama Kerajaan Demak itu dibenturkan kekuasaannya dengan nama besar ayahnya, Prabu Brawijaya V. Pihak-pihak berkepentingan yang tak bertanggung jawab itu sengaja memelintir sejarah untuk mengadu domba rakyat Indonesia.

Indonesia itu ibarat perawan yang cantik, maka sewajarnya ia menjadi rebutan bangsa-bangsa lain. Ketika sudah berbicara soal ketahanan pangan, di masa depan tidak ada lain Indonesialah sumber utamanya.

Makanya dari dulu kita menjadi incaran negara lain dengan cara diadu domba, sehingga jatuh dan Indonesia bisa dibagi rata sebagaimana roti. Wahai bangsaku relakah negerimu terpecah belah?,” tanya Habib Lutfi lagi dengan tegas.

Tantangan sebagai bangsa tidak hanya soal beda pendapat, musyrik dan bidah. Itu semua persoalan aqidah yang tiap-tiap orang tiada yang tahu isi hati orang lain. Kesibukan mengurusi hal itu akan semakin membuat kita semakin tertinggal, semakin mudah dipecah belah. Kalau terus-terusan seperti itu, kapan kita maju?

Maju tidaknya bangsa ini ada di tangan kalian, bukan basa-basi, NKRI Harga Mati, tandasnya.

Sependapat dengan Habib Luthfi, Kapolres Kudus, AKBP Andy Rifai, mengungkapkan bahwa Indonesia akan maju dan makmur manakala ada persatuan antara TNI, Polri, ulama serta rakyatnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh ulama dan santri terdahulu yang gigih membela negeri ini hingga akhirnya bisa berdiri tegak. Bahkan tidak bisa dipungkiri bahwa santri juga pelopor berdirinya lembaga pertahanan seperti TNI dan Polri.

Tanpa ulama dan santri, mungkin saja tidak akan meraih kemerdekaan. Ini lah teladan yang harus selalu kita usung. Umat Islam harus menjadi garda terdepan utuhnya NKRI, pungkasnya.[]


Muhammad Farid 

Ahmad Minhajul Abror menandatangani serah terima jabatan dihadapan Ketua STAIN Kudus, Fathul Mufid, dan Ketua DEMA 2016, Zahrotul Anisah (kanan).
Foto: Salim/Paragraphfoto
KAMPUS, PARIST.ID – Ahmad Minhajul Abror secara resmi dilantik sebagai Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) periode 2017 di Aula Rektorat lantai 3 STAIN Kudus, Rabu siang (25/01/2017). Pelantikan tersebut sekaligus pengukuhan terhadap pengurus Senat Mahasiswa (SEMA) yang baru.

Hadir dalam pelantikan yakni, Ketua STAIN Kudus, Fathul Mufid, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan, Shobirin, segenap Ketua Jurusan dan dosen, serta perwakilan dari masing-masing Organisasi Kemahasiswaan (OK). Dalam sambutannya, Abror berjanji akan berusaha memajukan OK STAIN Kudus.

“Kita harus bisa mengharumkan nama STAIN Kudus dengan ‘membesarkan’ OK yang ada di kampus,” terang Abror.

Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Program Studi Bahasa Arab ini bertekad, ke depan DEMA STAIN Kudus harus lebih baik dari pengurus sebelumnya dengan meningkatkan kinerja para pengurus. Terkait STAIN Kudus yang akan berganti nama IAIN dalam waktu dekat, Abror mengatakan akan mengundang Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) PTKIN di seluruh Indonesia untuk merayakannya.

Sementara itu, Ketua STAIN Kudus, Fathul Mufid berpesan agar pengurus DEMA memiliki wawasan luas. 

“Pengurus Dema harus memiliki wawasan yang lebih dibanding mahasiswa yang lain,” terangnya

Kebutuhan membaca sangat diperlukan mahasiswa. Maka dari itu, lanjut Mufid, rajin-rajinlah membaca, baik buku, berita dan lain sebagainya. Karena kalau aktif membaca, maka akan memiliki wawasan yang luas, yang mana nantinya dihadapan mahasiswa yang lain akan terlihat berwibawa. Mufid juga berpesan agar para aktivis tidak melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa. 

“Di samping aktif di organisasi, jangan lupakan tugas pokoknya yaitu belajar,” pungkasnya.[]

Foto: Istimewa


Pangan sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia yang tidak pernah bisa ditunda, karena manusia tidak bisa menimbun pangan di dalam perutnya”- (Fransika Z Rungkat)

Pangan, dalam UU No 18 tahun 2012 merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sedangkan kata “pangan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai padanan kata dengan “makanan”. 

Sebagai kebutuhan dasar, makanan tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia. Pedagang nasi harus bangun jam 03.00 dini hari demi menyiapkan sarapa untuk pelanggannya. Ia tak mau pelanggannya yang ingin sarapan kecewa hanya karena makanan yang dibutuhkan belum matang. Seorang ibu harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan keluarganya. Bahkan ketika salah satu anggota keluarganya tidak sempat untuk makan di rumah, seorang ibu membawakan bekal makanan. Ia tak mau anak atau suaminya sakit. Urusan makanan adalah urusan kebutuhan tubuh, dan dengan demikian adalah uruan kesehatan. 

Ihwal Makanan (Tho’am), Allah Sw menyebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 48 kali. Belum lagi ayat-ayat lain yang menggunakan kata selainnya. Begitu urgen makanan bagi kita. Purwiyatno Hariyadi dalam bukunya Ulas Pangan menyebutkan“ Jika dianggap paling tidak setiap orang makan 3 kali sehari, setelah berumur 30 tahun, maka seseorang itu telah menyantap makanan sebanyak 30X365X3 atau 32850 kali”. Itu baru makanan berat alias nasi, belum termasuk makanan ringan, jajanan dan lain-lain. Sebanyak itukah yang kita konsumsi?

Al-Qur’an membatasi makanan yang layak konsumsi dan tak layak konsumsi. Bahkan dengan jelas ada pembatasan makanan yang halal dan yang haram. Hal ini disebabkan karena tidak semua makanan yang masuk ke dalam tubuh kita mempunyai dampak positif. Ada makanan-makanan yang dapat merusak kesehatan. Ada makanan yang mempunyai dampak negatif bagi tubuh kita. 

Meminjam istilah Purwiyatno Hariyadi (2015) banyak penyakit yang diderita manusia adalah penyakit yang berhubungan dengan pangan (foodborne diseases). Oleh karena itu berlebih-lebihan dalam hal makan tidak dianjurkan dalam agama. Bahkan ada perintah membagikan makanan kepada orang melarat dan butuh (Wawasan AlQur’an, 1996:136) Inilah bentuk kasih sayang sang Kholiq kepada makhluq-Nya. 

Kesejahteraan

Dalam KBBI menyebutkan kata “sejahtera” sama artinya dengan “aman sentosa” dan “makmur”, “selamat” (terlepas dari segala macam gangguan). Terkait dengan kesejahteraan, Allah telah memberi peringatan kepada Adam (QS. Thaha (20): 117-119). Quraish Shihab menjelaskan bahwa istilah tidak lapar, dahaga, telanjang maupun kepanasan dalam ayat tersebut adalah kebutuhan sandang, pangan dan papan yang harus terpenuhi. Kebutuhan primer tersebut menjadi unsur pertama dan utama kesejahteraan sosial (Wawasan Al-Qur’an, 1996:128)

Saya teringat pada pelajaran IPS sewaktu duduk di bangku sekolah dasar. Selain sebagai negara maritim, Indonesia juga dijuluki negara agraris. Ya, negara yang mayoritas penduduknya bekerja di bidang pertanian. Selain itu, Indonesia juga tersohor dengan gemah ripah loh jinawi-nya. Tentram dan makmur serta sangat subur tanahnya. Saya juga teringat lagunya Koes Plus “Kolam Susu”, orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, begitu kutipan syairnya. 

Indonesia tanah surga, bisa dibilang seperti itu. Perumpamaan yang selaras dengan peringatan Allah Swt ketika Nabi Adam berada di surga, di mana kebutuhan tercukupi, dan—menurut Quraisy Shihab, merupakan unsur utama kesejahteraan. Kemudian, benarkah Indonesia merupakan tempatnya orang-orang yang sejahtera, tempatnya orang-orang yang terpenuhi kebutuhannya?

Data Food Agriculture Organization (FAO) memperkirakan sebanyak 19,4 juta penduduk Indonesia masih mengalami kelaparan, (Pikiran Rakyat, 2015/06/11). Beberapa bulan yang lalu, di NTT terancam kelaparan, (Tempo.co, 2016/01/11). Dan saya kira masih banyak orang kelaparan yang tidak terekspos oleh media. Dua tahun silam, bahkan sebuah media menerbitkan sebuah berita bertajuk, “Kelaparan, 10 Desa Perbatasan Ancam Pindah Warga Negara Tetangga.” Sungguh ironi[]

Mahya Hidayatun Ni'mah
Redaktur Opini Paradigma Institute Kudus

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.