Bedah Majalah : Narasumber berfoto dengan tim redaksi Majalah Paradigma seusai bedah majalah yang berjudul Ironi Panggung Teater Kita.
KUDUS, PARIST.ID - Haflah Ilmiah kembali digelar untuk ketiga kalinya oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma di Gedung Olahraga (GOR) STAIN Kudus. Acara pertama dimulai dengan bedah majalah Paradigma edisi 30, Senin (27/02/2017). Dibedah langsung oleh Yaumis Salam selaku Pimpinan Redaksi majalah tahun 2016 sebagai penanggung jawab.  

Tak lupa dua narasumber yang telah berkompeten dalam bidang teater, yaitu Asa Djatmiko (praktisi teater) dan Muchamad Zaeni (pelaku teater). Kedua narasumber tersebut mengorek secara mendalam isi majalah. Pada edisi 30 ini bertemakan tentang keberadaan teater di Kudus, dengan judul Ironi Panggung Teater Kita

Bedah majalah ini dihadiri oleh teater pelajar, kampus, maupun mandiri. Di antaranya adalah teater El hawa, Lentera Manzulku, Gerak 11, Dewa Ruji, Satoesh, ESA, X Miffa, Obeng, Apotek, Keset dan KSK. Dari berbagai kalangan membaur menjadi satu untuk ikut meramaikan. Ramainya penonton menambah semangat narasumber untuk membedah majalah yang dibuat Paradigma.
Sebelum dibedah langsung oleh kedua narasumber yang ada, Salam menceritakan terlebih dahulu mengenai majalah yang telah dibuat. Keinginan untuk membidik teater di Kudus sudah menjadi harapannya. Mengingat Kudus sendiri memiliki teater yang begitu banyak.

“Teater di Kudus khususnya pelajar begitu banyak, lebih dari 30 teater yang ada juga pernah mengikuti Festival Teater Pelajar 2017,” ungkapnya.

Menurut Muchamad Zaeni, Majalah Paradigma edisi 30 ini patut diapresiasi. Mengingat jarang media yang ingin menulis atau memberitakan teater Kudus sampai saat ini. Majalah Paradigma merupakan pintu bagi para teaterawan untuk mengetahui keadaan semua teater di Kudus. Zaeni membedah satu per satu dari isi majalah yang ada, mulai dari cover, karikatur, editorial sampai bidikan utama.

Kritikan ia lontarkan untuk dua bidikan utama serta editorial majalah. Menurutnya kedua bidikan utama terlalu membawa iklim provokatif bagi pembaca. Sedangkan penulis hanya sebagai kritikus terhadap teaterawan. Sehingga hanya akan menggiring pembaca untuk berpikir negatif terhadap teater Kudus. Dalam rubik editorial, lanjut Zaeni, menjelaskan mengenai ketidakharmonisan teater Kudus, perbandingan kejayaan dari tahun ke tahun, serta potensialnya teater Kudus untuk dikembangkan.

"Mulai tahun 60-an sampai sekarang teater di Kudus ini telah berkembang" ujar Zaeni.

Berbeda dengan Zaeni, Asa Djatmiko berujar baru lima tahun terakhir ini teater Kudus mengalami perkembangan yang sangat baik. Terlihat begitu banyaknya teater yang ada, dari sisi kualitatif maupun kuantitatif.

Kedua narasumber pun berbagi keluh kesah seputar dunia teater. Masih adanya kekurangan yang ada di teater Kudus. Berupa idealisnya kreativitas masing-masing teater, iklim perteateran terlalu sentimentil, kurangnya jaringan serta tak didukung oleh pemerintah.
 
Melalui bedah majalah ini, banyak harapan yang ditujukan bagi seluruh teater yang ada di Kudus. Dengan diangkatnya tema majalah tentang teater akan menjadi pintu bagi para teaterawan untuk mengerti keadaan teater lainnya. Peran masyarakat umum dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk kehidupan teater. Bagi kelompok teater harus bisa menulis kegiatan mereka sendiri untuk memberikan informasi dan perkembangan terkini di teater. [] (Melinda)


Pemotongan Tumpeng. Wakil Ketua Satu STAIN Kudus Saekhan Muchit memotong tumpeng sebagai tanda pembukaan Haflah Ilmiah 3 bersama Ade Ahmad Ismail selaku PU LPM Paradigma 2017
KUDUS, PARIST.ID - Acara Haflah Ilmiah 3 yang dilaksanakan di GOR STAIN Kudus ini bertemakan Menghidupkan Marwah Seni-Budaya Kaki Muria. Sebagai peningkatan literasi dan keilmuan mahasiswa, acara ini pun dihadiri banyak pihak. Tak hanya para mahasiswa yang berdatangan dilokasi, melainkan banyak tamu undangan seperti SMA dan SMP sederajat yang memeriahkan acara tersebut, Senin (27/02/2017).

LPM Paradigma terlihat sibuk mempersiapkan pembukaan acara Haflah Ilmiah 3. Acara ini akan dilaksanakan sampai 4 hari kedepan (27 Februari – 02 Maret). Ade Ahmad Ismail, selaku Pimpinan Umum LPM Paradigma menuturkan bahwa kegiatan Haflah Ilmiah 3 ini lahir karena rendahnya daya literasi mahasiswa di STAIN Kudus.

Selain itu, Ismail menekankan bahwa literasi di Indonesia masih sangat rendah. “Tingkat kesadaran pembaca Indonesia itu menduduki peringkat ke 60 dunia, hal ini membuktikan bahwa masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam membaca, menulis dan berwacana,” jelasnya.

Tak Hanya LPM Paradigma, antusiasme pada acara Haflah Ilmiah 3 bisa dibilang cukup bagus. Pada acara pembukaan, Saekan Wakil Ketua Satu STAIN Kudus berharap acara Haflah kali ini bisa menjadi simbol power science atau kekuatan ilmu. Sebagai tanda pembukaannya beliau bersama panitia melakukan acara potong tumpeng sebagai tanda diresmikannya rangkaian acara Haflah Ilmiah 3 selama 4 hari.

Dimeriahkan juga Tari Kretek khas Kudus yang dibawakan oleh UKM Racana. Sedangkan pementasan alat musik angklung yang berkolaborasi dengan kulintang dimainkan oleh Gema Nusantara dari PGMI STAIN Kudus.

Acara ini akan mengusung beberapa agenda. Seperti bedah majalah yang dilaksanakan setelah opening ceremony, seminar nasional dan call for paper yang dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 28 Februari, dan sebagai acara terakhir pada hari Kamis 2 Maret berlangsung bedah buku yang berjudul Mitologi Ritul-Budaya Kaki Muria dan penampilan dari UKM Music dan UKM Teater.

Pada hari kedua, acara seminar nasional call for paper akan dihadiri Agus Hendratno, seorang geologi dari UGM dan Mohammad Rosyid dosen STAIN Kudus. Keduanya akan menjadi pembicara dalam diskusi tentang Kudus dalam Berbagai Aspek. Di acara bedah buku Mitologi Ritual-Budaya Kaki Muria, akan hadir budayawan Anies Sholeh Ba’asyin dan Edy Supratno, sejarawan Kudus.

Pada acara ini juga diramaikan bazar buku yang siap menunggu para mahasiswa untuk memburu buku-buku yang telah disiapkan. Azis salah satu pemilik stand bazar menuturkan buku-buku yang ada disipakan untuk para mahasiswa dan masyarakat umum. Untuk koleksi buku yang dibawa pun dari berbagai penerbit. Tak lupa harga diskon pun turut mewarnai bazar tersebut, mulai harga Rp 5 ribu hingga harga reguler (normal).

“Biasanya mahasiswa mencari bazar buku yang berhubungan dengan perkuliahan, sehingga saya memilih buku yang berhubungan dengan kemahasiswaan,“ ungkapnya. Kesadaran berliterasi, lanjutnya, sudah seharusnya tumbuh di hati para mahasiswa.

“Melalui bazar buku yang bekerjasama dengan paradigma ini, semoga banyak mahasiswa yang datang dan meramaikan,” pungkasnya.[] (Alim/Laila/Zati)




Hari kedua Haflah Ilmiah #3

 
Mendengarkan paparan : Panitia Haflah Ilmiah sedang mendengarkan usulan dari salah satu rekan (doc. Paragraph)
KAMPUS, PARIST.ID - Mendekati akhir Februari masyarakat Kudus, khususnya Mahasiswa akan dimanjakan dengan kegiatan ilmiah selama seminggu penuh. Pasalnya hari kedua Haflah Ilmiah jilid 3 hendak membedah potensi Kudus dan sekitarnya di Aula Rektorat lantai tiga STAIN Kudus pada Selasa (28/02/17).

Muhammad Nur Salim (22), ketua penyelenggara mengatakan hendak mendiskusikan persoalan serta kearifan Kudus sebagai suatu kota. Menurutnya sebagai salah satu kota kecil di Jawa Tengah, Kudus sebenarnya kaya akan potensi yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Mulai dari sumber daya manusia, alam dan budayanya Kudus sangat menarik untuk dibicarakan.

“Kudus punya potensi untuk menjadi kota besar meski memiliki daerah bisa dibilang sempit,” katanya.

Seminar Nasional tentang “Kudus Berbagai Aspek” menjadi salah satu rangkaian kegiatan itu. Salim menambahkan dalam seminar bergengsi itu Kota Kudus akan dibahas dari berbagai sudut pandang. Mulai dari pendidikan, ekonomi, budaya sampai persoalan geologisnya.

Koordinator Seminar, Kholidia Evening Mutiara (21) bahkan telah mengundang ahli geologi dari Universitas Gadjah Mada, Agus Hendratno sebagai pembicara. Panitia mengklaim bahwa kegiatan itu nantinya akan berlangsung menarik. Agus akan memaparkan kondisi geologi Kudus yang patut untuk dimaknai sebagai pedoman untuk menentukan kebijakan pembangunan. Dalam kesempatan itu juga akan hadir perwakilan dari Forum Lintas Agama Kudus. Mereka nantinya memaknai Kudus menurut pandangan agamanya masing-masing.

“Ini akan menarik karena dihadiri oleh orang-orang dari berbagai golongan dan bidang. Kita akan bersama membicarakan Kudus lebih dalam,” paparnya.

Selain Agus Hendratno dan perwakilan Forum Lintas Agama seminar itu juga menghadirkan peneliti dan akademisi, Moh. Rosyid yang akan memaparkan sisi religiusitas dan sosial masyarakat Kudus dan sekitarnya.(Far)




 Persiapan H-1 Haflah Ilmiah #3
Semangat : Panitia Haflah Ilmiah jilid 3 berfoto bersama. (Dari kiri : Salim, Kholidia, Mita, Ismah, Adi, Ayun, Arif. Bawah : Yaumis Salam)
KAMPUS, PARIST.ID - Haflah Ilmiah jild 3 telah di depan mata. Salah satu kegiatan yang diadakan LPM Paradigma itu bertujuan mengajak mahasiswa untuk mencintai literasi. Hal itu disampaikan oleh Tim Litbang LPM Paradigma, M. Agus Iqbal di STAIN Kudus pada (26/02/17). 

Menurutnya itu menjadi bukti keseriusan LPM Paradigma mendorong atmosfer kajian keilmuan untuk masyarakat, khususnya mahasiswa STAIN Kudus. Dari rangkaian acara yang hampir semuanya berhubungan dengan literasi Ia berharap mahasiswa mau memanfaatkan moment ini.

“Mulai dari bedah majalah, bedah buku, seminar nasional dan diskusi semuanya untuk masyarakat Kudus, khususnya mahasiswa, pelajar dan akademisi,” tuturnya. 

Demi suksesnya rangkaian kegiatan, panitia tengah bersibuk diri dengan tugas yang telah dilimpahkan kepada masing-masing anggota. Mulai dari penataan dekorasi panggung, administrasi, konsumsi dan lainnya. Qurrotu Ayun sebagai seksi konsumsi mengkoordinir para anggotanya untuk mempersiapkan hidangan tamu dan pengunjung.
“Sejauh ini persiapan dari bagian konsumsi sudah 80 persen beres”, katanya.

Beberapa persiapan juga dilakukan mulai dari keperluan konsumsi serta persiapan para pengisi acara seperti petugas MC dan pembaca puisi. Ayun menambahkan dengan dipilihnya Gedung Olahraga (GOR) STAIN Kudus sebagai pusat kegiatan diharapkan dapat menampung tamu undangan dan pengunjung dengan jumlah yang banyak. Pernyataan itu juga disetujui oleh Muhammad Nur Salim selaku ketua panitia. (Alim/Laila/Far).



Oleh : Faqih Mansyur Hidayat*

PT Freeport Indonesia (FI) menyatakan tidak dapat menerima syarat-syarat yang diajukan pemerintah dan tetap berpegang teguh pada kontrak karya. Penyelesaian sengketa di Mahkamah Arbitrase Internasional akan menjadi pilihan jika tidak ada jalan keluar, (Kompas, 21/2). 

Sejak terbitnya Peraturan Menteri (PERMEN) Energi dan Sumber Daya Mineral (MESDM) Nomor 1 Tahun 2014 yang mulai berlaku 12 Januari 2017 membuat hubungan pemerintah Indonesia dan FI memanas. Dalam peraturan itu disebutkan perusahaan pertambangan hanya dibolehkan mengekspor konsentrat (mineral hasil pengolahan) sampai 11 januari 2017.

Namun pemerintah cukup baik hati dengan memberikan solusi berupa penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2017 yang berlaku sejak 11 Januari 2017. Dengan PP itu Freepot Indonesia (FI) tetap bisa mengekspor konsentrat sampai lima tahun kedepan dengan syarat bersedia mengubah status operasi dari kontrak karya (KK) menjadi ijin usaha pertambangan khusus (IUPK). 

Dalam IUPK, FI dikenai kewajiban membangun smelter, wajib divestasi saham sedikitnya 51 persen dalam masa 10 tahun ke depan dan mengikuti ketentuan perpajakan yang berlaku (prevailing). Divestasi tersebut naik dari sebelumnya 30 persen. Dan hingga saat ini Freepot Indonesia baru melepas 9,36 persen saham. 

Ketentuan itu yang membuat FI cukup berat hati. Keberatan itu terutama pada syarat kewajiban divestasi 51 persen dan skema perpajakan prevailing. Dalam siaran pers, FI menyebutkan permintaan pemerintah agar mereka mengakhiri kontrak karya tahun 1991. Selanjutnya akan digantikan dengan izin operasi yang tidak pasti dan persetujuan ekspor 1,1 juta ton konsentrat dari Januari 2017 sampai Februari 2018 dengan syarat Freepot Indonesia memenuhi persyaratan di dalam PP. 

Ketidaksetujuan itu membuat wacana bahwa FI akan menggunakan hak untuk arbitrase serta meminta ganti rugi kepada pemerintah di Mahkamah Arbitrase Internasional sebagai lembaga yang berwenang. 

Menariknya, Menteri ESDM Ignasius Jonan merespon dan meladeni Freepot Indonesia. Menurutnya langkah arbitrase sebagai jalan yang lebih baik ketimbang menggunakan isu pemecatan karyawan sebagai alat untuk menekan pemerintah. 

Jika seperti itu Pemerintah nampaknya perlu membuka kembali memori bahwa Indonesia juga pernah menempuh jalur arbitrase di Mahkamah Arbitrase Internasional. Yaitu antara PT Pertamina dan Karaha Bodas Company (KBC) yang berakhir kekalahan di pihak PT Pertamina. 

Berawal dari adanya dua kontrak mengenai Proyek PLTP Karaha yaitu proyek pengembangan listrik panas bumi 400 mega waatt yang ditandatangani pada 28 November 1998 dalam bentuk dua kontrak. Pertama, Joint Operation Contract yang melibatkan Karaha Bodas Company (KBC) dengan Pertamina. Dan, kedua, Energy Sales Contract yang melibatkan Pertamina, Karaha Bodas Company dengan PLN. Dalam kontrak ini PLN bertindak sebagai pembeli tenaga listrik yang dihasilkan. 

Sayangnya, karena terjadi krisis ekonomi di Indonesia Proyek PLTP Karaha itu ditangguhkan melalui Keputusan Presiden Nomor 39/1997. Saat itu lah Pertamina menghentikan kegiatan yang berhubungan dengan Proyek PLTP Karaha. 

Hingga pada April 1998, KCB menggugat Pertamina melalui Arbitrase Internasional di Swiss. Meski pada kenyataannya tindakan itu dilakukan oleh Pertamina sebab daya paksa atau forje majeure akibat adanya Keputusan Presiden. Namun KBC tidak memedulikan hal itu sebab kontrak telah disepakati. 

Akhirnya pada tahun 2000 Mahkamah Arbitrase International Swiss mengabulkan gugatan KBC dengan menghukum Pertamina membayar ganti rugi US$ 111,1 Juta untuk kerugian pengeluaran dan US$ 150 Juta untuk kerugian keuntungan (lost of profit) ditambah bunga 4% per tahun sejak 1 Januari 2001. 

Kita tentunya tidak menginginkan hal serupa terjadi lagi. Kalau kita amati, ada dua alasan mendasar penyebab kekalahan Pertamina. Pertama, kurang memperhatikan kondisi ekonomi dalam negeri saat menyetujui kontrak. Kedua, lemahnya kapabilitas kuasa hukum yang diajukan. Ketiga, kurangnya konsolidasi dan kekompakan antar lembaga yang terlibat, yaitu BUMN, Kementrian ESDM dan Legislatif. 

Kalau memang jalur hukum arbitrasi sudah menjadi pilihan utama pemerintah. Pemerintah harus memperhatikan segala aspek, termasuk kelemahan hukum Indonesia itu. Patut diingat juga bahwa PT Freepot Indonesia telah memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi masyarakat Indonesia, khususnya Papua. FI juga termasuk “pemain lama” dalam percaturan bisnis di Indonesia. Maksudnya, ada kemungkinan bahwa FI juga telah banyak mengetahui peta politik, sosial dan ekonomi masyarakat kita. 

Dalam hal ini pemerintah harus lebih jeli dalam menyiapkan langkahnya. Selain itu, pemerintah juga tetap harus waspada dengan tangan-tangan “hantu” yang bisa merugikan pihak Indonesia. Ketegasan tetap diperlukan sebagai upaya mempertahankan keutuhan dan kedaulatan Indonesia sebagai suatu Negara.[]

*) Faqih Mansyur Hidayat, Mahasiswa Jurusan Syariah dan E.I. STAIN Kudus, bergiat di Paradigma Institute Kudus di Divisi Pusat Data dan Dokumentasi

Tulisan ini dimuat di Tribun Jateng, Kamis (22/02/17) rubrik forum mahasiswa. http://jateng.tribunnews.com/epaper/index.php?hal=2




Foto Bersama : Panitia Haflah Ilmiah bersama Pengasuh Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba'asyin. Dari kiri Ahmad Afandi, Anis Sholeh Ba'asyin, M. Nur Salim, Yaumis Salam.
KUDUS, PARIST.ID - Budayawan asal PatiAnis Sholeh Ba’asyin, dijadwalkan hadir dan membedah buku dalam kegiatan Haflah Ilmiah Jilid 3 di Gedung Olahraga STAIN Kudus pada Kamis (02/03/17) mendatang. Habib Anis akan membedah buku Mitologi Ritual-Budaya Kaki Muria yang diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma STAIN Kudus. 

Ketua panitia penyelenggara, Muhammad Nur Salim (21) menyampaikan kehadiran Pengasuh Suluk Maleman Pati itu bisa dipastikan. Pasalnya panitia telah dua kali datang kerumah Habib Anis dan beliau meng-iyakan. “Kepastian itu didapatkan saat sowan kerumah Habib Anis,” terangnya. 

Salim menambahkan bahwa Habib Anis juga ikut menulis di buku yang nantinya akan dibedah itu. Buku Mitologi Ritual-Budaya kaki Muria itu merupakan kumpulan reportase dan esai budaya yang membahas pelbagai hal seputar mitos, tradisi dan budaya di semenanjung Muria. Menurutnya hal itu perlu ditulis untuk mendokumentasikan salah satu kekayaan bangsa Indonesia.

“Buku Mitologi Ritual-Budaya Kaki Muria memuat makna, nilai dan filosofi mendalam tentang keseharian masyarakat semenanjung Muria. Yaitu meliputi Kudus, Pati, Jepara dan Demak,” tuturnya.

Kegiatan bedah buku itu juga mengundang Bupati Kudus, H. Musthofa dan Sejarawan, Edy Supratno. Pimpinan Umum LPM Paradigma, Ade Achmad Ismail mengatakan pihaknya telah mengirimkan permohonan menjadi narasumber kepada keduanya.

“Pak Edi dan Bupati Kudus sudah kami undang dan keduanya juga mendukung,” katanya.
Bedah buku itu, lanjut Ismail, akan diselenggarakan sebagaimana talkshow di televisi. Dengan obrolan yang santai tapi bermakna. Lewat pers realisnya ia mengundang siapapun, khususnya masyarakat Kudus, untuk menghadiri kegiatan itu. (Far)


Julianto Ketua HMJ Syariah STAIN Kudus (Dok. Pribadi).
KUDUS. Parist.id Penguasaan ilmu hukum dan advokasi menjadi salah satu bidikan program kerja Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Syariah dan Ekonomi Islam (EI). Ketua HMJ Syariah dan EI, Julianto mengatakan program tersebut dirancang sebagai wadah pengembangan kualitas mahasiswa STAIN Kudus yang bergelut di bidang hukum.

“Ke depan kita akan mengupayakan program pengembangan kualitas mahasiswa itu dengan serius, karena ini komitmen kami sebagai pengurus HMJ,” terangnya di Gedung G Kampus STAIN Kudus pada Rabu (22/02/17).

Program pelatihan advokasi itu, lanjut Julianto, telah dikonsultasikan kepada pembina HMJ dan dosen-dosen yang ahli di bidangnya. Dalam program itu nantinya mendatangkan para advokat dan ahli hukum untuk mengisi seminar kepada mahasiswa STAIN Kudus. Setelah itu HMJ akan menyediakan wadah diskusi secara intensif sebagai langkah lanjutan.

“Saya sudah konsultasi dengan dosen-dosen dan mereka menyetujuinya bahkan memberi saran,” katanya.

Julianto berharap terlaksananya program itu nanti bisa menjadi semangat bagi mahasiswa STAIN Kudus untuk bersaing menjadi yang terbaik. Ia yakin hal itu bisa terwujud jika ada komitmen dan kerjasama dari semua pihak.

“Yakin bisa jika mau dan mampu bergandengan tangan dan kerjasama, karena ini juga demi kemajuan kita bersama,” tegasnya. (Far)




Daftar Peserta Presentator Call For Paper dan Seminar Nasional ‘’ Kudus Berbagai Aspek’’ yang diselenggarakan LPM Paradigma STAIN Kudus dalam rangka Haflah Ilmiah Jilid 3

No
Nama
Lembaga
Judul Paper
Email
1
Andi Setio Budi

STAIN Kudus/ Ushuluddin
Manajemen Kerukunan Antar Agama Islam dan Agama Budha di Desa Colo

2
Ainul Athiyah

IAIN Surakarta/ IQT
Rokok Kretek Sebagai Nadi Perkonomian Masyarakat Kudus dan Kontribusinya Terhadap Pemerintah

3
Fatikhatun Nur
IAIN Surakarta/ Ushuluddin/ IQT

Perspektif Hukum Islam Terhadap Rokok Sebagai Aset Ekonomi Terbesar Kota Kudus


4
Achmad Ulil Albab
STAIN Kudus/ Tarbiyah/ PAI
Semangkuk “Pesan Toleransi” Soto Kudus


5
Kholidia Efining Mutiara
STAIN Kudus/ Tarbiyah/ PGMI
Pendidikan Toleransi Beragama Ala Syaikh Ja’far Shodiq
6
Nurul Awalu Dyah Puji Rahayu dan Kholidia Efining Mutiara
STAIN Kudus/ Syariah dan Tarbiah/ ES dan PGMI
Mengembangkan Body Smart Anak Penyandang Tuna Netra Melalui Karyawisata Stasiun Wergu dan Gerbong Kereta Api Wergu Kudus
7
Suryadi
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember,
Jawa Timur, Indonesia
Islam in South Thailand: Acculturation values of Islam in the Malay Culture


il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.