Parist.id, KAMPUS - Ketua baru STAIN Kudus periode 2017-2021, Dr. Mundakir, M.Ag menyampaikan ada sebelas program prioritas yang telah disusun. Selain itu ia juga akan tetap melanjutkan program kampus yang sudah baik dari pemimpin sebelumnya.
“Selain program yang sudah berjalan baik dari Pak Mufid, kami juga telah menyiapkan sebelas program kerjasama yang siap dijalankan demi kebesaran STAIN Kudus,” ungkapnya di Gedung Rektorat lantai 2 STAIN Kudus pada Senin (31/07/17).
KETERANGAN : Mundzakir, Ketua Baru STAIN Kudus Periode 2017-2021 sedang membaca secarik kertas yang berisi tentang tuntutan mahasiswa. FOTO : SALIM/PARAGRAPHFOTO

Dari sebelas program yang ada salah satunya yaitu mencetak mahasiswa yang kompetitif dan komparatif. Artinya mahasiswa akan mempunyai kesempatan untuk bersaing secara regional, nasional bahkan internasional secara sehat dan terbuka. Untuk menunjang hal itu ia mengatakan akan terlebih dahulu membenahi kurikulum.

“Banyak dosen yang mengaku tidak mengajar sesuai keahliannya, akhirnya mahasiswa lulus tidak mendapat apa-apa, itu yang akan kita benahi,” ungkapnya.

Selanjutnya, ia juga mewacanakan akan membuka kelas bertaraf internasional. Caranya ialah mengadakan program pertukaran pelajar antar negara. Syaratnya mahasiswa harus mahir berbahasa asing secara aktif. Selain itu juga ia akan siap menerima mahasiswa asing di kelas internasional yang telah dimiliki STAIN Kudus.

“Kalian jangan khawatir, segala kebutuhan mahasiswa akan kita akomodir selama sesuai dengan visi dan misi yang kita usung,” katanya.

Ia juga berkata akan terus menjaga kondusifitas STAIN Kudus dan mengelolanya dengan baik. Disamping itu ia mencanangkan lulusan STAIN Kudus harus benar bermutu dan bermanfaat ditengah masyarakatnya. (Farid)


Parist.id, KUDUS - Iklim kampus yang sempat resah belakangan ini menjadi perhatian mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Peduli Kampus (GMPK). Mereka menuntut pejabat kampus agar suasana kembali kondusif seperti sebelumnya. Tuntutan itu dibacakan dalam aksi damai mahasiswa di depan Gedung Rektorat STAIN Kudus, Senin (31/07/17).
AUDIENSI:Shobirin, Waket III STAIN Kudus memberi keterangan terkait tuntutan yang ditujukan kepada Ketua STAIN Mundzakir. FOTO: SALIM/PARAGRAPH
Ahmad Minhajul Abrori, selaku ketua aksi damai menyampaikan tuntutan supaya seluruh civitas dan staf STAIN Kudus menjaga kondusifitas. Menurutnya pasca ditetapkannya ketua STAIN baru periode 2017-2021 mahasiswa resah sebab isu miring yang beredar.
“Kita merasakan sendiri belakangan ini resah sebab ditetapkannya ketua baru, ada yang pro dan kontra, itu membuat mahasiswa bingung,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua III STAIN Kudus, Shobirin, menerima tuntutan itu dan akan langsung disampaikan kepada yang berwenang. Ia juga meminta agar mahasiswa tetap bisa menahan diri dan bersabar menunggu proses tuntutan yang diajukan.
“Kampus ini adalah milik kita bersama, adik-adik (mahasiswa/red.) dimohon tetap menjaga diri dan tidak anarkis dalam menyampaikan tuntutan,” katanya.
Selanjutnya ia menyampaikan bahwa Ketua STAIN Kudus yang baru sudah ditetapkan dan sah secara legal formal oleh Kementrian Agama Republik Indonesia. Ia juga meluruskan kabar tidak disahkannya Dr. Mundzakir, M.Ag sebagai calon Ketua oleh Senat.
“Sebenarnya itu hanya soal keterlambatan pengajuan berkas, tetapi dari pusat meminta agar tetap mamasukkan pak Mundzakir sebagai calon, maka kami melakukan rapat ulang dan memasukkan nama beliau,” jelas pria yang juga anggota Senat STAIN Kudus itu.
Ditanya soal pelayanan kampus, Shobirin mengatakan semua berjalan seperti biasa. Ia menegaskan bahwa kampus tidak sedang dalam masalah yang serius. Mahasiswa dihimbau agar tetap beraktivitas seperti biasanya.
Menanggapi, Ketua STAIN Kudus terlantik, Mundzakir mengatakan kampus sudah dalam suasana kondusif. Adapun isu miring yang mengakibatkan mahasiswa bingung dan resah tidak perlu ditanggapi secara serius. Ia juga mengatakan akan selalu mengakomodir mahasiswa dan jajaran pegawai STAIN Kudus untuk mencapai kemajuan bersama.
“Sebenarnya tadi sudah ada acara sertijab (serah terima jabatan/red) dan semuanya kondusif, saya salaman dan rangkulan dengan pimpinan lama dan mereka juga mengucapkan selamat dan sukses kepada saya, sudah kondusif sekali jadi jangan khawatir,” bebernya. (Farid/Sal)



Parist.ID, Jepara-Puncak kemeriahan sedekah bumi desa jlegong kecamatan keling kabupaten jepara berlangsung di lapangan jlegong,  Minggu (30/7) kemarin. Kemeriahan ini ditandai dengan kirab ancak yang membawa bermacam-macam hasil pertanian yang dibawa masing-masing RT se desa Jlegong. 

SEMANGAT : Seorang pemuda membawa gunungan dalam kirab yang diadakan pada sedekah bumi desa Jlegong Kec. Keling Jepara, Minggu (31/17). FOTO : ULIL/PARAGRAPHFOTO

Acara yang terselenggara berkat kerja sama pemerintah desa dan karang taruna abdi laksana ini menjadi acara kirab yang pertama di desa Jlegong. Selain kirab ancak hasil pertanian, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan marching band lansia, maupun dari anak sekolah. Serta tak lupa sebagai penghibur ada badut dan jarang kepang yang turut berpartisipasi
Selain menyuguhkan kemeriahan pesta sedekah bumi, acara kirab ini juga dimaksudkan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Kirab ini adalah bentuk syukur kami kepada Tuhan,” terang Supirmanto (48) ketua panitia sedekah bumi.  

Masih menurut Supirmanto, selain ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kirab ini juga sebagai ungkapan terima kasih kepada pemimpin desa yang telah bekerja mengabdi melayani masyarakat desa.

Acara yang melibatkan semua elemen masyarakat desa Jlegong ini, baik pemuda, sampai organisasi masyarakat ini juga diharapkan dapat memupuk semangat gotong royong.

“Acara kirab ini juga sebagai bentuk memupuk kesadaran gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat,” imbuh pria yang juga menjadi modin desa ini. 

Senang

Sementara itu salah satu peserta kirab dari kontingen RT 6, Ahmad Zainuri (35) mengaku senang dan bersemangat dengan kegiatan demikian, serta berharap tahun depan lebih baik dan meriah lagi.

“Kirab seperti ini sangat penting untuk terus diadakan, sebab dapat menumpuhkan semangat masyarakat desa, dan tahun depan harapan saya lebih meriah lagi perayaannya,” ungkapnya.  

Kirab yang diikuti sebanyak 14 kontingen ini mengambil rute perjalanan dari perempatan dukuh cangar, kemudian berjalan ke arah barat di jalan utama desa dan selesai di lapangan desa. Kemudian dilanjutkan dengan sungkeman kepada kepala desa beserta perangkatnya dan penyerahan tumpeng dari ketua RT kepada kepala desa.(Ulil)



Parist.Id, Kudus- Terpilihnya Dr. Mudzakir, M.Ag sebagai Ketua STAIN Kudus periode 2017-2021 menggegerkan publik STAIN Kudus. Persitegangan antar elit STAIN Kudus meluas hingga terdengar masyarakat umum. Menanggapi hal itu banyak mahasiswa yang menginginkan terwujudnya islah dan mengakhiri polemik. Para elit pun diminta agar tidak bersitegang.


Ketua Himpunan Mahasiswa Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) STAIN Kudus, Muhshonun Nafi’ B mengatakan agar polemik ini tidak meluas. Ia menganggap hal itu merupakan urusan internal kampus yang tidak selayaknya diumbar ke publik dan media massa.

“Ini kan urusan rumah tangga tak perlu diumbar sampai mahasiswa maupun masyarakat umum lainnya tahu,” ujar Nafi’ pada Sabtu (29/07/17).

Ia juga menyarankan seharusnya mahasiswa STAIN Kudus tidak perlu terprovokasi media dan politisasi yang mengemuka. Menurutnya yang kabar miring berupa penolakan maupun pembelaan yang dilakukan oknum tertentu telah membuat resah. Hal itu juga mengganggu stabilitas sosial, hubungan antar mahasiswa dan kegiatan yang diagendakan UKM.

“Jujur berita-berita yang ada membuat resah kita sebagai mahasiswa, itu juga mengganggu kegiatan kita,” kata laki-laki yang juga Sekretaris Jendral (Sekjend) Himpunan Mahasiswa PMI Jawa Tengah dan DIY itu.

Senada dengan Nafi’, Ketua Dema STAIN Kudus, Ahmad Minhajul Abrori, menganggap polemik itu sangat mengganggu kegiatan dan stabilitas mahasiswa. Utamanya terhadap kegiatan PBAK yang akan dilaksanakan Agustus nanti.

“Sangat berpengaruh, bagaimana kegiatan PBAK bias lancer kalau ada kisruh kepemimpinan,” ungkap Abror via What’s App.

Selanjutnya, ia berharap supaya mahasiswa STAIN kudus lebih kritis melihat keadaan. Ia sendiri bahkan ingin mendalami polemik untuk menjaga stabilitas sosial mahasiswa.

“Kritis itu penting, sebenarnya saya pribadi ingin mencari tahu kebenaran dari isu yang beredar agar tidak menjadikan teman-teman makin bingung,” katanya.(Ismah/FAR)



Parist.Id, JEPARA – Budayawan Jepara, Hadi Priyanto (58), menyampaikan bahwa masyarakat kita tidak paham atas ritual budaya yang seringkali dilakukan. Hal itu ia katakan dalam acara bedah buku Mitologi Ritual Budaya Lingkar Muria (MRBLM) yang diadakan oleh IPNU-IPPNU Desa Tulakan bekerja sama dengan Pemerintah Desa Tulakan Kecamatan Donorojo Kabupaten Jepara di Balai Desa Tulakan, Jumat, (28/7/17).
(Foto : Ulil/Paragraph)

Menurut Hadi mayoritas masyarakat hanya mengikuti apa yang menjadi kebiasaan orang-orang. Seperti saat hari Kartini, banyak wanita memakai kebaya dan menganggap dirinya telah mengikuti jejak Kartini. Atau saat sedekah bumi banyak yang hanya ikut pesta.

“Padahal mereka hanya sebatas mengenal Kartini itu sebagai pahlawan emansipasi, bukan yang lain” tutur penulis Mozaik Seni ukir ini.

Hadi mengatakan jika krisis pemahaman budaya ini terus berlangsung akan berimbas pada hilangnya budaya. Pemuda Indonesia secara umum akan banyak yang tidak mau dan peduli untuk melestarikan budayanya.

Kearifan sejarah lokal, lanjut Hadi, semestinya bisa diajarkan lewat sekolah dan para pemerhati budaya di masing-masing daerah. Sayangnya, tidak ada ruang dan waktu untuk mempelajari budaya tersebut lebih dalam dan sepesifik.

“Mewariskan budaya itu adalah pekerjaan berat. maka, kita harus bersyukur masih ada pemuda seperti yang tergabung dalam Parist mau mengenal budaya,” katanya.

Muhammad Farid (20), narasumber dari Paradigma Institute Kudus menuturkan bahwa ide membuat buku adalah kegelisahan dari anggota LPM Paradigma STAIN Kudus terhadap generasi sekarang yang kurang mengenal budayanya. Terbitnya buku Mitologi Ritual Budaya Lingkar Muria menjadi alternatif untuk mengenalkan budaya yang tersebar di daerah sekitar Pegunungan Muria.
“Mengenal budaya berarti mengenal dirinya sendiri. Artinya manusia dibesarkan agar tidak lupa dengan sejarahnya,” kata Farid.

Farid menganalogikan bagaimana seorang anak yang sejak kecil sudah mengenal kedua orangnya. Anak tersebut tidak akan disesatkan dan akan selalu mengingat-ingat jasa orang tuanya. Sebaliknya anak yang tidak kenal atau bahkan tidak punya orang tua, ia akan kebingungan untuk menentukan arah tujuan kehidupannya.

Sejarah kearifan lokal harus dipahami sebagai asal-usul sebuah peradaban. Jika generasi kita dijauhkan dari sejarah dan budaya, maka akan terlihat kehancuran pada diri sendiri. Lebih lanjut Farid mengatakan supaya kegigihan merawat budaya ini juga dimiliki oleh mayoritas pemuda, utamanya di Desa Tulakan.

“Budaya dan sejarah harus menjadi kebanggaan yang harus dirawat untuk bersama kita kenalkan pada dunia,” ujarnya.

Sementara itu, Soebekti Sahlan, penulis babad Donorojo, menceritakan asal usul budaya Desa Tulakan dan sekitarnya. Hadir dalam acara tersebut perangkat Pemerintah Desa Tulakan, anggota Karang Taruna, dan beberapa tamu undangan termasuk para penulis buku lainnya. (Salim/FAR)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.