UNDAAN, PARIST.ID - Pemerintah Desa (Pemdes) Medini, Kecamatan Undaan saat ini mulai gencar melakukan pengembangan potensi-potensi  yang dimiliki. Hal ini dilakukan dalam rangka upaya untuk membangun desa mandiri sesuai dengan kearifan lokal setempat. Mulai dari potensi produk-produk unggulan, kesenian, potensi wisata, hingga cerita sejarah yang dirasa unik.

Kepala Desa Medini Agus Sugiyanto mengungkapkan, Desa Medini memiliki cukup banyak potensi yang bisa diangkat dan dikembangkan. Namun diakuinya memang belum banyak yang benar-benar fokus digarap.

"Di sini sudah sempat dikembangkan kerajinan akrilik oleh ibu-ibu PKK. Namun sekarang  terhenti karena ada problem pemasaran. Tapi ada juga satu potensi, yang tetap kami lestarikan" katanya saat membuka acara bedah buku Yang Asing Di Kampung Sendiri kemarin.

Terbang papar menjadi salah satu potensi kesenian yang sampai saat ini masih eksis di desa ini. Bahkan dalam acara yang diselenggarakan di aula balaidesa Medini kemarin, terbang papat dihadirkan.

"Saya ucapkan terimakasih yang tak terkira kepada Islakhul Muttaqin yang sudah bersedia mendokumentasikan cerita Desa Gabus yang dulu memang merupakan bagian dari Desa Medini," katanya.

Pihak desa mengapresiasi terbitnya buku bergenre prosa jurnalisme yang di garap oleh pemuda Kudus. Menurutnya, sejarah merupakan bagian dari aset desa yang perlu dilestarikan. Ia juga berharap pemuda setempat agar bisa giat berliterasi.

Pegiat kesenian dan tradisi lokal Sutiono yang juga menjadi pembedah dalam acara itu juga mengapresiasi karya yang turut mendokumentasikan cerita desanya.

"Menurut saya buku ini memiliki esensi bahwa  generasi muda di Kudus ingin berkembang dan memajukan desanya. Ini yang perlu kita apresiasi," ujarnya.

Ia berharap momen kelahiran buku ini juga bisa digunakan untuk menggarap desa wisata melalui potensi-potensi yang sudah ada. Tentunya dengan kerjasama dengan pihak-pihak yang berkompeten.

"Umpan yang baik untuk membangun desa mandiri sesuai dengan kearifan lokal", imbuhnya.

Salah satu penulis Noor Syafaatul Udhma menjelaskan penulis sengaja memilih genre jurnalisme naratif karena saat ini genre ini cukup diminati pasar. 

"Model tulisan seperti secara penyajian lebih luwes. Tapi semuanya berdasarkan fakta yang keabsahannya bisa dipertanggungjawabkan," tandasnya. (Red)

PARIST.ID, KAMPUS - Kudus kedepannya diharapkan dapat lebih dikenal dengan literasinya, bukan hanya dari segi industry maupun kreteknya. Kira-kira begitulah harapan kami yang menggarap buku yang asing di kampung sendiri ini. Hal tersebut disampaikan oleh Ade Ahmad Ismail selaku moderator mengawali bedah buku pada senin (10/12/18) di Gedung SBSN lantai dua IAIN Kudus. 

Buku yang dieditori Afthonul Afif ini terdapat 13 tulisan dengan sembilan penulis. Yang mengambil seting tulisan berbeda-beda. Zakki mencontohkan kisah keseharian yang bisa dijumpai di Kudus seperti orang puasa dalail, buruh kretek, situs patiayam dan tradisi nganten mubeng. 

“Buku ini merupakan buah kasih sayang dari para penulisnya,” kata Zakki Amali mengawali diskusi dan bedah buku yang diseleggarakan oleh LPM Paradigma IAIN Kudus dan Paradigma Institute Kudus. 

Lebih lajut Zakki menerangkan, Buku ini memang belum sempurna, tapi menjadi tonggak awal dalam mengabadikan Kudus melalui teknik jurnalisme naratif. Semoga ke depan semakin banyak yang meminati, karena respon pembaca sangat bagus. 

“Tidak seperti narasi yang lainnya, Pembaca akan langsung puas dengan satu berita atau cerita singkat. Tapi dengan prosa jurnalisme, pembaca akan ditarik hanyut ke dalam cerita penulis. Metodenya memang sama, tapi cara menulisnya beda," ujar alumni IAIN Kudus ini. 

Sementara itu, Zaenal Abidin selaku Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Kudus masih menyayangkan belum dieksposnya sosok Sosrokartono. Padahal menurutnya kakak dari Raden Ajeng Kartini tersebut merupakan salah seorang tokoh legendaris di Kudus. “Belum cukup bagi kita untuk untuk melihat Kudus dari buku ini saja, yang ada di sini cuma sebagian kecil dari Kudus,” terangnya. 

Arif Maulana, Pimpina Umum LPM Paradigma berharap, semoga dengan terbitnya buku yang asing di kampung sendiri ini bisa menjadikan pelecut semangat buat teman-teman berani menciptakan suatu karya dan lebih kreatif lagi. Karena sebagian besar penulisnya pun masih berstatus Mahasiswa, walau ada beberapa yang sudah lulus wisuda. 

“Dengan membaca buku ini, saya yakin pembaca dapat lebih tergugah lagi untuk memperhatikan sejarah dan potensi yang ada di daerahnya. Biar tidak serasa asing di kampung sendiri seperti judul buku tersebut. Karena sejauh apapun kita pergi pasti akan balik lagi pulang ke kampung sendiri,” ungkapnya 

Rektor IAIN Kudus, Mudakkir mengatakan dalam sambutannya, buku ini telah membuatnya terhibur. Sehari-hari, ia berkutat pada penelitian yang ciri penulisannya kaku dan datar. 

"Saya baca di awal ini sudah asik. Saya sempat terkecoh juga, karena pada awal tulisan tak menjelaskan. Tapi penjelasan ada di akhir. Tidak seperti karya tulis lainnya. Ini unik dan membangkitkan kegairahan untuk terus membacanya," pugkasya. (Anam/Waf)

Panitia, Dewan Juri, an seluruh peserta berfoto bersama usai pengumuman juara, Serpong (6/12)
PARIST.ID, SERPONG, TANGERANG- Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) oleh Ditjen PTKI telah menghasilkan para juara setelah proses seleksi dan presentasi. Hasil tersebut diumumkan langsung usai presentasi peserta di Hotel Lemong, Serpong, Tangerang, (6/12) kemarin.

Bertema Moderasi Agama untuk Peradaban dan Kemanusiaan, panitia bermaksud untuk memunculkan pemikiran-pemikiran baru tentang persoalan keberaagamaan di era modern ini. Dari 1000-an karya yang masuk, panitia hanya mengundang 23 karya saja untuk dipresentasikan. 

Dari tahap presentasi itu dewan juri mengumumkan karya-karya yang menjadi juara apa empat kategori yang dilombakan. Berikut adalah hasil detail juara kompetisi:

Katagori Essay Kelompok: Juara I: UIN Sunan Ampel Surabaya atas nama Muhyiddin, Siti Khoirotil Ummah, dan Siti Maryam. Juara II: IAIN Kediri atas nama Iktafi Muzayana Mahiroh, Maretha, dan Septa. Juara III: IAIN Kediri atas nama M. Taufik, Galuh Meida Yustria, Emei Nilam dan Karina S. Sedangkan juara Harapan I : IAIN Kudus atas nama Novita Nur Aini, Anifatur Rosyidah, dan Erna Safitri Yana. Harapan II: UIN Yogyakarta atas nama Dicky Candra Firmansyah, Hadriana Sulni, dan Muhammad Rizal.

Katagori Essay Individu: 
Juara I: Zulfa Ulyah Kartika dari UIN Gunungjati Bandung. Juara II: M. Rifqi Ibnu dari UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta. Juara III: Saiful Bahri dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sedangkan juara Harapan I: Badru Soleh dari Univ Nurul Jadid Probolinggo, Harapan II: Nailatur Rohmah dari IAIN Kediri dan Harapan III: Muhammad Afif dari IAIN Tulungagung

Katagori Artikel Kelompok:
Juara I: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta atas nama Shalsabila Ananda, Muhammad Abdul Qoni’. Juara II: IAIN Manado atas nama Annisa Ismail, Jenita Silinaung, dan Lisa Abdullah. Juara III: STIT Alquran Ogan Ilir atas nama Mudrik & Budi Hartono. Sedang juara Harapan I: IAIN Metro Lampung atas nama Alvin Ma’viyah, Atin Risnawati, dan Diaz Maulidya. Harapan II: IAIN Surakarta atas nama Lina Lutfiana dan Anis Monika dan Harapan III: UIN Sunan Ampel Surabaya atas nama Lailatul Maghfiroh, Muchammad Chaqiqi dan Siti Khoirunnisa.

Katagori Artikel Individu:
Juara I: Ahmad Husen Al Absi dari Universitas Ibrahimy Situbondo. Juara II: Muhammad Radya Yudantiasa dari UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Juara III: Nur Fitriyani dari IAIN Tulungagung. Sedangkan Harapan I: Sa'adatul Kholili dari Universitas Nahdlatul Ulama Jepara. Harapan II : Nirwana dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau dan juara Harapan III: Emily Faridatul Faiqoh dari IAIN Salatiga. 
Ruchman Basori, Kasi Kemahasiswaan, sekaligus panitia penyelenggara menyatakan kebanggaannya kepada seluruh peserta yang telah berkompetisi. Dari kompetisi ini, dia berkeinginan untuk mempublikasikan hasil dari pemikiran-pemikiran peserta untuk didiskusikan di ruang-ruang publik yang lebih luas.

Sementara itu Syafriansyah, Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan berharap kepada mahasiswa untuk menjadikan kompetsisi ini sebagai titik awal menggeluti dunia kepenulisan. “Kalian harus bangga karena kalian telah mempuyai karya yang dilombakan dalam even nasional”, tuturnya.

Menambahi Syafriansah, Imam Safe’i, Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Islam saat membuka kegiatan Presentasi Nominator KKTM PTKI, sangat mengapresiasi pemikiran-pemikiran para peserta yang dianggapnya telah memiliki kemauan dan potensi yang hebat dalam menulis. “walau baru duduk di semester muda, kalian telah menguasai tema-tema moderasi beragama dengan baik”, ujar Imam.

Imam berharap semoga karya tulis terkait moderasi beragama ini dapat dijadikan masukan kebijakan dan program bagi Ditjen Pendidikan Islam dalam melakukan kerja-kerja mengedepankan beragama yang moderat untuk mengembangkan pendidikan Islam.

Adapun yang menjadi dewan juri adalah  Asrori S. Karni Redaktur Majalah Gatra dan Dosen UNUSIA Jakarta, Hamami Zada kolumnis dan Dosen UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta dan Abdulloh Ibnu Tholhah kartunis dan Dosen UIN Walisongo Semarang. (RB/red)

Nominator KKTM 2018 sedang mempresentasikant tulisannya di depan seluruh peserta dan dewan juri pada (4-6/12) kemarin.
PARIST.ID, SERPONG, TANGERANG- Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Ditjen PTKI) memberikan apresiasi kepada intelektual-intelektual mahasiswa dengan mengadakan kompetisi Karya Tulis Mahasiswa tingkat nasional. Sebanyak 23 nominator dari berbagai kampus Islam diundang untuk mempresentasikan hasil karya mereka di Hotel Lemo, Serpong, Tangerang, (4-6/12) kemarin.
Imam Safe’i, Sekertaris Direktur Ditjen Pendis mengaku bangga dan memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada para nominator yang hadir. Ia juga sangat mengapresiasi aktivis-aktivis mahasiswa yang di era milineal ini masih mau berkecimpung di dunia kepenulisan.
“Gagasan yang hanya dipikirkan akan lenyap ditelan waktu. Gagasan yang ditulis akan tetap abadi dan dikenang oleh pembaca. Dan gagasan yang dikerjakan akan dikenang sepanjang zaman,” tuturnya saat memberikan sambutan di depan para nominator.
Orang hebat itu, lanjut Imam, dapat diukur dalam dengan dua hal. Yaitu kemampuan dia berbicara dan menulis. Kedua kemampuan itu tidak akan bisa diraih tanpa memperbanyak bacaan-bacaan. Baik membaca teks ataupun konteks realita dunia.
Doktor riset Universitas Negeri Jakarta ini menyarankan kepada mahasiswa bahwa untuk memulai memulai menulis bisa berangkat dari empat aktivitas. Yaitu berfikir, menulis yang dipikirkan, mengerjakan yang ditulis, dan menulis yang dikerjakan.
“Kalau idea tau gagasan itu dijalankan oleh banyak orang, maka anda-anda semua inilah yang layak disebut sebagai the real leader,” tegasnya.
Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan, Syafriansyah, mengatakan panitia menerima hampir seribu artikel dan essay. Dari sekian pengirim itulah, panitia melalui dewan juri yang telah menyeleksi ketat seluruh karya akhirnya memutuskan mengambil 23 karya yang masuk nominasi. Yang terbagi dalam empat kategori, yakni artikel individu, artikel kelompok, essay individu, dan essay kelompok.
Adapun nominator-nominator yang masuk babak final adalah mahasiswa dari UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta, UIN Bandung, UIN Surabaya, UIN Pekanbaru, IAIN Kudus, IAIN Salatiga, IAIN Surakarta, IAIN Tulungagung, IAIN Kediri, IAIN Metro Lampung, IAIN Manado, FAI Universitas Ibrahimi Situbondo, UNISU Jepara, STIQ Al-Quran Ittifaqiyah Ogan Ilir Sumsel, dan Universitas Nurul Jadid Probolinggo.
“Selamat kepada para pemenang. Tetaplah menjadi intelektualis mahasiswa yang mampu memberikan kontribusi postitif terhadap kampus dan masyarakat,” pungkasnya. (RB/red)

KAMPUS, PARIST.ID - Mahasiswa sekarang ini harus mulai sadar lingkungan. Karena Indonesia sekarang ini berada diperingkat dua dalam penggunaan plastic setelah China. Maka dari itu saya menghimbau untuk lebih memperhatikan lingkungan hidup, terutama di kota Kudus ini. 

Hal ini ditegaskan oleh Abdurrahman Aldila seorang pegiat lingkungan hidup dari Djarum foundation saat memberikan materi dalam Seminar bertajuk “Shalawat Sains dan Lingkungan” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa IPA pada Jum'at (30/11/18) di lantai satu Gedung SBSN IAIN Kudus. 
MENYAMPAIKAN MATERI : Abdurrahman Aldilla menyampaikan materi dam seminar Hima IPA

Aldila mengajak para mahasiswa untuk mengingat kembali akan peristiwa kematian seekor paus di perairan Wakatobi, dimana ditemukan ada sekitar 6 kg sampah plastik yang ada di perutnya. 

“Di Indonesia banyak sekali dampak buruk yang ditimbulkan dari lingkungan yang tercemar oleh polusi dan sampah non-organik. Salah satunya, yaitu global warming yang menyebabkan puncak gunung Jayawijaya diperkirakan akan meleleh pada tahun 2020. Selain itu, kasus ditemukannya paus yang terdampar dan mati di pinggir perairan Wakatobi disebabkan karena banyaknya sampah plastik yang berada di tubuh paus tersebut,” terangnya. 

Lebih lanjut ia menuturkan, Tak hanya itu, kabar telah dinyatakannya punahnya spesies badak putih dan juga dampak Global Warming atau pemanasan global terhadap lingkungan hidup tidaklah baik, banyak aspek yang dipengaruhinya; diantaranya air, udara, pangan, dan juga kesehatan. 

Oleh karena itu, perlu beberapa langkah untuk menyelamatkan lingkungan, seperti halnya dengan menanam pohon, mengurangi penggunaan kertas, efisien dalam berkendara, mengurangi penggunaan plastik, menghemat penggunaan listrik, menghemat penggunaan air. 

“Untuk mahasiswa IAIN Kudus, saya berpesan untuk mengurangi penggunaan sedotan plastic. Karena sedotan plastik menjadi salah satu penyumbang limbah sampah yang paling banyak. Oleh karena itu, kalau kalian nanti beli es atau minuman lainnya usahakan tidak usah pakai sedotan,” katanya 

Mijahidus shofa, peserta seminar mengaku bahwa ia baru sadar bahwa hal kecil seperti sedotan di warung-warung sangatlah berpengaruh bagi kehidupan kita. “Baru sadar bahwa sedotaan merupakan barang yang sangat lama diuraikan oleh tanah tinimbang sebuah kantong plastik,” ujarnya. 

Sementara itu, Indah Sri Utami, salah seorang panitia dalam kegiatan tersebut berharap, dengan adanya seminar ini dapat membuat kita lebih peka terhadap lingkungannya. “Supaya Mahasiswa IAIN KUDUS terutama mahasiswa program studi IPA untuk mulai peduli dengan lingkungan mereka masing-masing,” pungkasnya.(Anam/Waf)

KAMPUS, PARIST.ID - Himpunan Mahasiswa IPA IAIN Kudus menggelar seminar dengan tema "Shalawat sains dan lingkungan hidup" dalam serangkaian acara Gebyar Sains. Acara ini digelar dalam rangka memperingati Maulid nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam di gedung SBSN lantai satu pada Jumat (30/11/2018). 

Dalam seminar tersebut, Yuniar Fahmi Lathif selaku penulis buku Shalawat Sains menjelaskan mengapa perlu menerapkan metode pembelajaran melalui shalawat sains pada para siswa maupun mahasiswa yang sedang menempuh studi di bidang sains dan juga manfaat dari shalawat sains itu sendiri. 

“Shalawat sains sama dengan shalawat yang kita dengarkan sehari-hari namun liriknya diubah dengan konsep-konsep yang berisi tentang materi sains,” katanya dihadapan puluhan Mahasiswa IAIN Kudus 

Lebih lanjut, Kepala Sekolah MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an ini mengatakan bahwa Shalawat sains ini terinspirasi saat melihat muridnya belajar. “Para murid yang memiliki waktu belajar yang terbatas dan banyaknya mata pelajaran yang dipelajari sehingga perlu adanya pembelajaran IPA yang memotivasi dan menggugah semangat belajar murid lewat shalawat,” terangnya. 

Shalawat sains ini pun sebagai salah satu bentuk integrasi antara ilmu pengetahuan dengan agama. Karena di zaman sekarang ini, keduanya dirasa dipisahkan dan dianggap tidak ada hubungannya. “Sebenarnya ilmu pengetahuan dan agama tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, saya mencoba meng-islamisasikan sains dengan shalawat sains,” jelasnya. 

Yuniar mengungkapkan, shalawat memiliki banyak keutamaan dan juga banyak manfaat. Diantaranya, shalawat dapat membuat hidup kita lebih mudah, lebih indah, lebih terarah, prestasi meningkat, Ilmu manfaat dan mendapat Syafaat. 

“Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya prestasi yang telah diukir oleh beberapa murid di TBS maupun di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an yang belajar dengan shalawat sains, seperti juara 1 NCC (National Creativity Competition) tahun 2016, Juara 1 lomba KIR (Karya Ilmiah Remaja) LPB 2016, dan juga mengikuti perlombaan sains di bengkulu yang berhasil mendapatkan medali perunggu,” tandasnya.(Arum/Waf)


PARIST.ID, PATTANI, THAILAND- Indonesia merupakan negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia. Meski berdampingan dengan banyak agama dan etnis, Islam tetap menjadi agama yang tidak egois dan merasa paling memiliki Indonesia sendiri. Islam Indonesia lebih memilih memposisikan diri sebagai pemersatu bangsa. Indonesia adalah salah satu wujud dari Ummatan Wahidah.

Pernyataan itu disampaikan oleh Rektor Universitas Fatoni Assoc. Prof. Dr. Ismail Lutfi Japakiya saat menerima kunjungan mahasiswa Studen Mobility Program Kementerian Agama pada Kamis (29/11), kemarin.  Ia mengaku kagum dengan konsep keumatan yang ada di Indonesia.

Sanjungan Ismail Luthfi bukanlah tanpa alasan. Menurutnya, Indonesia berhasil mempersatukan beribu-ribu pulau, etnik, suku, dan bahasa menjadi satu kesatuan bangsa (nation state) dan itulah Islam yang sesungguhnya. Tidak ada negara di dunia seperti Indonesia dalam hal keberhasilannya menyatukan bangsanya. “Indonesia adalah negara besar dan saya selalu kagum ketika mengunjungi Indonesia”, kenang Ismail Luthfi.

Luthfi mengatakan, pihaknya berkeinginan untuk melakukan riset serius terkait rahasia keberhasilan para tokoh Indonesia dalam mempersatukan bangsanya yang mayoritas beragama Islam.

“Kami di Thailand ini masih berjuang agar Islam mampu dipahami dan di anut oleh bangsa kami,” imbuh Ketua Majelis Agama-Agama di Thailand ini.

Dihadapan rombongan Student Mobility Program Kementerian Agama Luthfi mengaku selama ini mengajak orang untuk memahami Islam dengan cara-cara damai, hikmah, dan lemah lembut. Dengan cara itulah masyarakat Thailand kini mulai banyak yang masuk Islam.

“Islam membawa misi rahmatan lil ‘alamin dan menunjukkan siratal mustaqim, karenanya kita harus berhati-hati dan mengamalkannya dengan baik. Kita harus mencontoh Nabi Muhammad yang mengajarkan akhlak yang agung atau khuluqun’adzim, terutama dalam hal dakwah,” demikian pesan Luthfi.


Safriansyah, Kasubdit Sarpras dan kemahasiswaan atas nama Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang tinggi kepada civtas akademika Universitas Fatoni Thailand yang selama ini telah bekerjasama dengan sejumlah PTKIN di Indonesia.

Syafri berharap semoga para mahasiswa mampu mengambil banyak pelajaran atas perjuangan Universitas Fatoni dalam mengembangkan perguruan tinggi di Thailand. “Kita bisa belajar dari kampus ini bagaimana berjuang ditengah-tengah kompleksitas persoalan umat, dan universitas ini berhasil eksis sampai sekarang,” ujarnya.

Program Student Mobility Program dilaksanakan pada tanggal 25 November-1 Desember 2018 dan diikuti oleh Ketua DEMA, SEMA dan Wakil Rektor/Wakil Ketua PTKIN se-Indonesia. Kunjungan SMP juga dilakukan ke Pendidikan Tinggi Al-Zuhri Singapura, Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Selangor Malaysia. (RB/red)


PARIST.ID, MALAYSIA - Nabi Muhammad SAW. adalah pemimpin dan pendidik yang revolusioner. Beliau telah menggerakkan umatnya untuk melakukan perubahan masyarakat.

Hal itu dikatakan DR. KH. Mohammad. Hasan, M.Ag, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja sama IAIN Madura saat didaulat memberikan hikmah maulid Nabi Muhammad di komunitas masyarakat Madura yang bertempat tinggal di Syah Alam Selangor Malaysia pada Rabu (28/11).

Moh. Hasan mengingatkan kepada jama'ah agar di negeri orang lain jangan hanya mencari uang saja, tetapi juga cari ilmu pengetahuan dengan belajar di perguruan tinggi, atau bisa juga di tempat pendidikan-pendidikan lainnya.

"Nabi mengajarkan akhlak dan karakter umatnya melalui pendidikan dan kita umatnya harus mengikuti beliau sebagai sang pendidik," jelasnya.

Pesan lain yang disampaikan kyai asal Madura ini adalah pentingnya memahami hijrah nabi secara luas, yaitu dalam rangka melakukan dakwah dan membangun masyarakat.

Peringatan Maulid Nabi warga Indonesia di Selangor diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) dan diikuti oleh sekitar 400 orang yang ditempatkan di Rumah KH. Kadir Syafii asal Bangkalan Madura, di Jalan Kebun Sekzen No. 30 Syah Alam.

Pengajian Maulid ini juga merupakan rangkaian agenda Student Mobility Program (SMP) oleh Direktorat Pendidikan PTKI ke tiga negara, yaitu Malaysia, Singapura, dan Thailand. Hadir juga Waryono Abdul Ghofur, Wakil Rektor (WR) Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Wahidul Anam WR III IAIN Kediri, Abdul Aziz Kepala Bagian Kemahasiswaan UIN Maliki Malang dan Ruchman Basori Kasi Kemahasiswaan Kemenag RI.

Kegiatan SMP diinisiasi oleh Kementerian Agama diikuti oleh 75 civitas akademika PTKIN berlangsung tanggal 25 November hingga 1 Desember 2018.

Peringatan Maulid nabi ini dimulai dengan tahlilan yang dipimpin oleh Dr. Wahidul Anam, WR III dan Kerja Sama IAIN Kediri, dan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan maulid. (RB/red)


PARIST.ID, MALAYSIA- Mempelajari budaya akademik kampus negara lain merupakan hal yang sangat penting sebagai upaya perbandingan dan perbaikan budaya akademik dalam negeri. Selain itu, era globalisasi juga menuntut setiap kampus di setiap negara untuk membuka diri terhadap kebudayaan-kebudayaan negara lain agar tidak terjadi cultur shock (kekagetan budaya: red).

Pernyataan itu disampaikan Mashitoh Ya’qub, Pemangku Pengarah Institut Islam Hadhari Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) saat menerima kunjungan civitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di bawah nauangan Kementerian Agama, Selasa (27/11) di Kampus UKM Bangi Malaysia.

Mashitoh menyambut baik kegiatan Student Mobility Program dari Kementerian Agama karena sangat penting untuk memperkuat jaringan antar perguruan tinggi lintas negara dan dapat memperkuat pendidikan, penyelidikan dan giat kepada masyarakat.

“UKM memiliki pusat Student Mobility Program antar pelajar yang di sebut Global UKM dan telah menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi antar negara-negara Asean dan Eropa”, kata Mashitoh.

Selain persoalan akademik, isu-isu kemahasiswaan yang cukup menarik juga diperbincangkan dalam kunjungan tersebut. Di antaranya ialah soal organisasi kemahasiswaan, suksesi organisasi, anggaran kegiatan, isu radikalisme dan terorisme, tata cara berpakaian, dan penghargaan kepada aktivitas kemahasiswaan.

Terkait dengan optimalisasi aktivtas kemahasiswaan, UKM memadukan antara kegiatan co kurikuler (non akademik: red) dan akademik. Mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kemahasiswaan (non akademik) diberikan pengakuan dalam sistem kredit kurikulum yang mencapai 120 SKS.

Mashitoh juga memaparkan, untuk jurusan non profesional seperti politik dan sosial humaniora dapat mencapai 40 kredit, sedangkan jurusan profesional, sains misalnya diakui 30 kredit. Oleh sebab itulah, mahasiswa dapat termotivasi untuk mengambil kursus-kursus akademik dan non akademik seperti seni budaya, fotografi, kursus motor gede dan lain-lain.

Ia menambahkan, sejak tahu 2011, Kementerian Pelajaran Malaysia telah menjadikan sistem terpadu ini sebagai model pembelajaran bagi seluruh perguruan tinggi di Malaysia.

Terkait pembiayaan kegiatan kemahasiswaan, mahasiswa mencari anggaran dana untuk membiayai dirinya sendiri dengan pihak tertentu (sponsorship: red) dan terdapat anggaran dari kampus UKM sendiri. Tetapi tidak mudah menerima begitu saja, harus dengan mengajukan proposal yang akuntabel dan realistis.

Syafriansyah, Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam berharap agar mahasiswa termotivasi dan terinspirasi dan dapat mengambil manfaat dari kegiatan student mobiity program di UKM.

“Mahasiswa sebagai calon para pimpinan tertinggi diharapkan mampu mengambil banyak hal sebagai sesama bangsa serumpun dalam mengembangkan dunia kemahasiswaannya,” harapnya.

Kegiatan studen Mobility Program dilaksanakan pada tanggal 25 Noveber sampai dengan 1 Desember 2018 dan diikuti oleh Pimpinan Organisasi kemahasiswaan dan Wakil Rektor/Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama PTKIN. Selain ke UKM, kegiatan ini juga ke Institut Pengajian Tinggi Al-Zuhri, Unversitas Selangor dan Universitas Fathoni Thailan. (RB/red)



KAMPUS, PARIST.ID - Guna ikut menyokong perkembangan sholawat sains dalam dunia pendidikan, Himpunan Mahasiswa Tadris IPA IAIN Kudus akan selenggarakan Gebyar Maulid Sains, Jum’at (30/11/2018) mendatang. Kegiatan ini mempunyai dua acara yaitu seminar dan maulid Nabi dengan tema “Sholawat Sains sebagai Sarana Revolusi Mental”.

Adapun kegiatan akan dimulai dengan seminar di gedung SBSN yang akan dihadiri oleh Yunan Aditya dari PT Djarum dan Yuniar Fahmi Lathif, M.Pd. selaku penulis buku Sholawat Sains. Serta akan dilanjutkan pada malam hari dengan Maulid Nabi di Gedung Olahraga (GOR) bersama Gus Nada, Asy-Syauq, Parade 99 Terbang, dan Al-Jabar Sains.

Ketua panitia, Eny Mustafidah, mengatakan Generasi milenial dewasa ini sedang senang-senangnya terhadap seni keislaman khususnya sholawat. Sholawat saat ini terus berkembang mengikuti perkembangan zaman yang dikemas dengan wujud dan corak beraneka ragam, namun mempunyai aspek yang sama tanpa kehilangan jati dirinya. 

“Sholawat adalah seni Islami yang didalamnya terdapat jiwa religius, nasionalisme dan patriotisme,” tuturnya.

Menurut Eny, dengan adanya perkembangan sholawat saat ini, sholawat semakin mudah diterima generasi milenial, sholawat juga dikembangkan dalam dunia pendidikan yang dinamakan sholawat sains.

“Penerapan sholawat sains dalam dunia pendidikan merupakan salah satu ikhtiar revolusi mental untuk generasi milenial, supaya mereka dapat terarah sesuai perintah Allah SWT dan tuntunan Rasulallah SAW,” jelasnya.

Fungsi sholawat sains sendiri untuk mempermudah peserta didik menerima pembelajaran khususnya mata pelajaran IPA. “semoga kegiatan ini dapat menambah cinta kita untuk selalu bersholawat dan menjadikan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik,” harapnya. (Falis)


SINGAPURA, PARIST.ID - Belajar dan berinteraksi bisa dengan siapa saja dan di mana saja. Nabi Muhammad Saw mengajarkan untuk belajar walau sampai ke negeri China. Kementerian Agama RI mengajak 75 civitas akademika untuk banchmarking melalui student mobility program.

Kunjungan pertama dilakukan ke Institut Pengajian Tinggi Al-Zuhri, sebuah lembaga pendidikan berbasis komunitas yang berada di Singapura.

Fathurrahman Daud atas nama Pimpinan Institut Pengajian Tinggi Al-Zuhri mengatakan umat Islam Singapura adalah minoritas. Untuk menjaga eksistensinya di bentuk wadah fungsional untuk mengembangkan dakwah melalui Amla (adminstrasi of muslim) dan Majlis Ugama Islam.

"Kami bersyukur dalam struktur pemerintahan Singapura umat Islam memiliki menteri urusan agama Islam" kata Fathurrahman. Pemerintah memfasilitasi pengadaan tanah untuk lokasi pembangunan masjid dan masjid menjadi aktifitas pembinaan pendidikan Islam yang efektif.

Fathurrahman menerangkan saat ini ada enam madrasah di Singapura yang menawarkan pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, yaitu, Aljunied Al-Islamiah, Irsyad Zuhri Al-Islamiah, Al-Maarif Al-Islamiah, Alsagoff Al-Arabiah, Al-Arabiah Al-Islamiah, dan Wak Tanjong Al-Islamiah. Empat di antaranya merupakan madrasah ko-edukasional, sedangkan dua lainnya merupakan madrasah yang menawarkan pendidikan secara eksklusif untuk anak perempuan.

Sistem dan metode pendidikan di Singapura adalah simultan, terprogram, bertahap. Materi pendidikan Islam diorientasikan pada ibadah praktis, tidak menjejali siswa dengan materi yg bersifat teoritik yg rentan pada perbedaan, terang Fathur.

Syafriansyah Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan atas nama Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada Al Zuhri. "Semoga mahasiswa dapat termotivasi dan terinspirasi dalam kunjungan studen mobility program", kata Syafri.

Mas'udin Syarifuddin Executive Director at al-Zuhri Institute of Higher Education mengatakan guna menghindari faham radikal dan intoleran masyarakat muslim Singapura membentuk Asatizah Recognition Schema. Hal ini sejalan dengan kondisi sosial politik Singapura yg mefokuskan pada pembangunan keamanan dan stabilitas nasional.

Terkait dengan kegiatan kemahasiswaan diarahkan untuk pengembangan akademik seperti KKN dan pendelegasian ke luar negeri. "Di sini tidak ada demonstrasi mahasiswa karena orientasi kami pada persoalan pragmatis untuk pengembangan SDM" kata Mas'udin.

Diantara Wakil Rektor/Wakil Ketua PTKIN yang ikut serta adalah dari IAIN Salatiga, IAIN Pekalongan, IAIN Padangsidempuan, STAIN Bengkalis, IAIN Bone, IAIN Parepare, IAIN Madura, IAIN Kerinci, IAIN Kediri, IAIN Curup, IAIN Tulungagung, IAIN Metro Lampung, IAIN Gorontalo, UIN Maliki Malang, UIN STS Jambi, UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, dan UIN Ar-Raniry Aceh.

Rihlah ilmiyah SMP dipimpin oleh Syafriansyah Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan dan didampingi Ruchman Basori Kasi Kemahasiswaan, Otisia Arinindiyah Kasi Sarpras PTKIS dan Nur Yasin Kasi Sarpras PTKIN. (RB/Red)

PARIST.ID - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mendesak Kepolisian Jawa Tengah untuk segera melimpahkan kasus pelaporan portal media Serat.id ke Dewan Pers. Bukan sebaliknya melakukan pemanggilan untuk kedua kalinya kepada jurnalis Serat.id Zakki Amali pada tanggal 13 November 2018. 

AJI berpandangan pelaporan terhadap produk jurnalistik mengancam kebebasan pers dan prinsip-prinsip demokrasi. Pelaporan yang dilakukan oleh Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini juga, menunjukkan orang nomor satu di Unnes tidak memahami semangat kebebasan pers dan Undang-Undang Pers. 
Istimewa
Rektor Unnes semestinya menggunakan cara yang diatur UU Pers jika merasa dirugikan oleh pemberitaan Serat.id. UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 menjelaskan, bila sengketa pemberitaan tidak bisa selesai dengan mekanisme hak jawab, bisa diselesaikan melalui mediasi di Dewan Pers. 

Hal tersebut juga sesuai nota kesepahaman antara Dewan Pers dan Polri Nomor: 2/DP/MoU/II/2017 dan Nomor: B/15/II/2017 tentang Koordinasi dalam Perlindungan Kemerdekaan Pers dan Penegakan Hukum Terkait Penyalahgunaan Profesi Wartawan. 

Adapun pelaporan terhadap jurnalis Serat.id didorong oleh berita investigasi dugaan plagiat Rektor Unnes dalam empat laporan yang terbit pada 30 Juni 2018. Kemudian, secara kontinu, Serat.id memberitakan sanggahan dari pihak Unnes. 

Lalu pada 21 Juli 2018, Rektor Unnes melaporkan Zakki Amali jurnalis Serat.id ke Polda Jawa Tengah terkait Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. 

Atas dasar tersebut, AJI mendesak Polda Jawa Tengah untuk tidak menindaklanjuti pelaporan yang disampaikan Rektor Unnes dan segera melimpahkan sengketa pemberitaan ke Dewan Pers. Selanjutnya Mendesak Rektor Unnes mencabut laporannya yang bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan kebebasan pers.


KAMPUS, PARIST.ID – Aksi Seruan Mahasiswa IAIN Kudus untuk mengevaluasi kinerja Senat Mahasiswa (SEMA) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) berjalan lancar. Meski sempat terjadi sedikit kegaduhan, namun acara yang berlangsung di depan kantor DEMA pada Rabu (14/11/2018) siang itu akhirnya berhasil menyepakati tiga hal penting.

SEMA, DEMA dan Para Perwakilan UKM sedang melakukan diskusi bersama
Tiga hal tersebut adalah transparansi anggaran bersama seluruh Organisasi Kemahasiswaan (OK), rencana mewajibkan seluruh OK untuk mempresentasikan progam kerjanya di awal periode selama satu tahun kedepan, dan pemilu mahasiswa (pemilwa) tidak boleh mengganggu UAS. Ketiga hal tersebut akan dikaji ulang bersama seluruh ketua OK yang rencananya akan dikumpulkan besok, Kamis (15/11) sore.


Taufik Nur Aziz,  Ketua SEMA mengatakan, acara-acara seperti ini cukup bagus ketika dilihat hasilnya membuahkan hal-hal yang baik untuk kedepan. Namun ia menyayangkan cara untuk menyampaikan aspirasi kurang tepat bagi mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi yang terkesan agresif.

“Acara ini kalau dilihat dari hasilnya bagus, tapi kalau dilihat dari caranya, kurang tepat. Karena kalau ingin diskusi modelnya ya nggak seperti tadi, itu lebih mirip persekusi. Sampai ada yang melepas baju, nantang, berteriak, itu kurang tepat kalau menyampaikan aspirasi. Kalau aspirasi itu ya disampaikan lewat tulisan ke DEMA atau SEMA, nanti bisa didiskusikan bersama,” jelasnya.

Sementara itu Muhammad Abduh, salah satu mahasiswa yang menyampaikan aspirasi mengaku, diskusi untuk mengevaluasi kinerja SEMA dan DEMA ini tercipta karena memang kurangnya sosialisasi dari DEMA dan SEMA, sehingga menjadikan prasangka-prasangka yang negatif dari teman-teman OK dan seluruh mahasiswa. Namun ia merasa puas karena hal-hal yang menjadi aspirasi mahasiswa tersampaikan kepada pengurus SEMA dan DEMA.

“Yang diinginkan teman-teman itu adalah transparansi kinerja selama satu periode. Insyaallah akan dibahas besok, nunggu kesepakatan dari semua OK. Yang kedua, masalah keuangan. Karena posisinya agak sensitif, kita ingin adanya LPJ terbuka, jadi tidak hanya sesuai struktural dalam, tapi sebagai mahasiswa biasa juga bisa melihat,” terangnya.

Selanjutnya, mahasiswa semester sembilan ini mengaku tidak mempunyai kepentingan apapun dalam mengikuti acara ini selain hanya untuk melihat kampus lebih baik lagi. Dengan adanya acara seperti ini ia cukup puas, dan ia berharap kemajuan kampus yang sudah menjadi IAIN akan segera terwujud, terutama dari seluruh aktivis-aktivisnya.

“Tidak ada kepentingan selain tahun depan bisa lebih baik. Karena aku merasakan selama disini 4 tahun memang agak kering, kering kegiatan, kering event. Karena citra kampus akan terlihat dari kegiatan-kegiatan. Kalau kering kaya gini ya kampus tidak akan terlihat. Keseluruhan, kita cukup puas dengan acara ini, karena poin kita tersampaikan. Walaupun tadi sempat ada sedikit gejolak, ya wajar saja. Karena kita mendengarkan jawaban-jawaban yang kurang pas. Tapi intinya sudah ketemu, kita kesepakatan, kita cukup puas,” pungkasnya. (Arif)

PARIST.ID, KUDUS - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Jurusan Ushuluddin IAIN Kudus posko 10 dan 11 bekerja sama dengan Jam’iyyah Ruqiyah Aswaja (JRA) tim Laskar Joyokusumo menyelenggarakaan Ruqiyah Massal di Pondok Pesantren Tahfidz Darus Salam Tanjungrejo Jekulo Kudus pada Rabu (7/11/18).
Foto Bersama: Panitia foto bersama usai kegiatan Ruqiyah

Muhammad Asya'ari, ketua panitia mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu program dari posko 10 dan 11. “Atas usul dari salah satu anggota KKN, kemudian kami bersmusyawarah untuk melaksanakan kegiatan tersebut,” terangnya.

Lebih lanjut mahasiswa semester tujuh ini menerangkan, Ruqiyah ini sengaja diselenggarakan di Pondok Tahfidh Darus Salam karena Kiyai Huda selaku pengasuhnya mendukung penuh dan menfasiliitasi kegiatan kita. “Mulai memberikan kamar khusus KKN, memberikan berkat kepada semua anggota KKN dan anggota JRA sampai memberikan air mineral dan plastik bagi peserta ruqiyah yang lupa membawa dari rumah,” katanya.

Sementara itu, salah satu peserta mengaku senang bisa mengikuti kegiaan tersebut. “Alhamdulillh senang sekali bisa mengikuti kegiatan ini, rasanya tidak sia-sia saya datang jauh-jauh dari Jepara,” ungkap Dewi wulandari seperta asal Kalinyamatan Jepara.

Kegiatan Ruqiyah tersebut dimulai pukul 19.30 WIB. Diawali dengan tahlil oleh Ustadz Ali Ustmani, dilanjutkan dengan sambutan, setelah itu penyampaian materi tentang ruqiyah oleh kiyai Abdul Latif hingga sampai pukul 01.00 WIB. Dalam kesempatan ini peserta yang hadir mencapai 198 orang, dengan didominasi oleh perempuan.(Kholiq/Waf)

Sosialisasi Empat Pilar oleh DPR RI, H. Fathan Subchi


DEMAK, Parist.ID – Persatuan dan kesatuan adalah spirit Sumpah Pemuda yang tidak boleh padam. Begitu pula nasionalisme terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia harus kita rawat dalam sanubari masing-masing. Hal itu di sampaikan oleh Anggota DPR RI, H. Fathan Subchi dalam acara Sosialisasi Empat Pilar di Desa Kakung Kecamatan Mranggen, Demak, Selasa (30/10/18).
Menurut Fathan, persatuan para pemuda pada 90 tahun lalu adalah tonggak penting lahirnya Indonesia. Masing-masing pemuda dari berbagai daerah di Indonesia itu membawa ide dan gagasan perjuangan dengan semangat kebersamaan satu tanah air, satu bangsa dan bahasa. Tekad itu lah yang kemudian mampu membakar lagi semangat pergerakan secara nasional.
“Seperti kata Cak Imin, jika tanpa perjuangan, ide dan semangat pemuda pada waktu itu mungkin tidak akan ada yang namanya Indonesia,” ujarnya.
Dihadapan 150 lebih peserta sosialisasi itu Fathan mengatakan peran pemuda sangat vital dalam mewujudkan Indonesia yang maju dan sejahtera. Tentunya itu harus ditopang dengan semangat persatuan dan inovasi karya yang mumpuni.
“Semangat persatuan pada momentum sumpah pemuda harus kita ingat kembali untuk terus menjalin kerjasama dan kolaborasi untuk membangun Indonesia,” katanya.
Saat ini pemuda sedang dihadapkan pada anomali dibidang teknologi dan informasi. Pada satu sisi hal itu bisa menunjang kreativitas dan inovasi, akan tetapi disisi lain juga bisa mengancam moral remaja yang sulit dikendalikan. Untuk itu diperlukan kekompakan semua pihak untuk mengaktualisasikan empat pilar dalam kehidupan sehari-hari.
“Dalam kondisi seperti ini lah aktualisai nilai-nilai Pancasila menjadi sangat penting,” katanya.
Di tangan para pemuda kita masa depan Indonesia harus gemilang. Pemuda harus menghidupkan lagi sumpahnya untuk selalu menjaga Negara Kesatuan Indonesia dari ancaman perpecahan. Sedini mungkin kecintaan kepada tanah air ini harus selalu disemai dalam jiwa setiap pemuda Indonesia.
“Saya selalu ingatkan agar pemuda terus berinovasi dan berkarya demi Indonesia, bukan demi kepentingan pribadi. Artinya mari kita terus saling asah, asih, asuh merawat rasa persaudaraan kita untuk keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia,” tegasnya. (rilis/fal)

PARIST.ID, SEMARANG - Mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Kudus berhasil meraih juara satu dalam lomba Festival Film FORKOMNAS KPI Wilayah III Jawa Tengah-DIY di Auditorium kampus 1 UIN Walisongo Semarang pada kamis malam (25/10/18). 

Lomba yang berlangsung selama empat hari (23-26/10/18) tersebut diikuti oleh beberapa kampus se-Jateng DIY yang tergabung dalam FORKOMNAS KPI Wilayah III. Dalam kesempatan tersebut, Prodi KPI IAIN Kudus berhasil mengalahkan tuan rumah UIN Walisongo Semarang yang meraih juara dua dan IAIN Surakarta yang meraih juara tiga. 

Film yang berjudul “Merawat Petuah Emas” ini sangat diapresiasi oleh Adjang selaku dosen UIN Walisongo Semarang. Menurutnya, ide yang ada di film para pemenang sederhana tetapi mampu mengemasnya mejadi suatu film yang menurutnya ciamik. “Juri yang menilai juga memiliki beberapa kriteria penilaian yang akhirnya terpilih-lah para pemenang Lomba,” jelasnya. 

Sementara itu, Ma’ruf selaku salah satu crew dari WTV mengatakan alasannya memilih karya Mahasiswa IAIN Kudus menjadi juara satu. “Ada beberapa kriteria yang menjadi penilaian dari para juri. Diantaranya ketepatan dalam memilih karakter pemain film, audio dalam film, dan lain sebagainya,” terangnya. 

Lebih lanjut ia menerangkan, Juri yang menilai film para peserta juga diambil dari juri yang memang benar-benar sudah kompeten dalam bidangnya. “Juri sudah dari jauh-jauh hari menilai karya film dari para peserta lomba festival film sebelum akhinya memilih tiga terbaik,”tambahnya. 

Ma’ruf berharap, lomba festival film ini kedepannya tidak hanya berhenti sampai disini. “Lomba festival film ini dapat menjadi acara tahunan, sehingga meningkatkan minat dan bakat para mahasiswa khususnya mahasiswa KPI dalam berkarya untuk membuat film,” harapnya. 

Hal senada juga disampaikan oleh Irma selaku ketua panitia kegiatan tersebut. Ia menyampaikan, lomba festival film yang baru pertama kali diselenggarakan ini diharapkan dapat lebih baik untuk kedepannya.

“Semoga dengan adanya festival film ini, para mahasiswa dapat mengembangkan kreativitasnya, meningkatkan daya saing yang sehat dengan Universitas lain se-Jateng dan DIY serta menjadi bekal sebelum benar-benar terjun di masyarakat,” pungkasnya.(Riza/Waf)

PARIST.ID, KUDUS – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko delapan dan sembilan Jurusan Ushuluddin IAIN Kudus mengelar Gebyar Hari Santri Nasional yang diikuti seluruh lembaga TPQ Desa Gondoharum Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus pada minggu (28 /10/2018). 

Kegiatan yang melibatkan tujuh Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) tersebut berhasil membuat para peserta antusias untuk mengikutinya. Dalam kegiatan tersebut diisi dengan perlombaan Cerdas Cermat, Adzan dan, Tartil Al-Qur'an sesuai dengan kompetensi dari peserta TPQ di Desa Gondoharum. 
PEMENANG: Para Pemenang Lomba Antar TPQ Se-Desa Gondoharum
Pada kesempatan tersebut, masing-masing lembaga TPQ Desa Gondoharum mengirimkan lima peserta untuk mengikuti perlombaan. Di antara TPQ tersebut ialah, TPQ Al-huda Tampung, TPQ Salafiyyah Safi’iyyah Tompe, TPQ Al-anwar Jajar, TPQ Sabilul Huda Tompe, TPQ An-Nur Plambungan, TPQ Miftahul Ulum Tlogo, dan TPQ Nurul Khusna Kaliwuluh. 

Siradj Jumilal, salah satu peserta lomba adzan mengaku sangat senang dengan adanya lomba yang diadakan mahasiswa-mahasiswi KKN IAIN Kudus tersebut. “Senang bisa mengikuti lomba ini, dan saya optimis bisa menang. Selain itu juga bisa punya teman baru,” katanya. 

Sementara itu, Masfiatun salah satu Juri dalam kegiatan tersebut mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan Gebyar Hari Santri yang diadakan oleh tim KKN IAIN Kudus. “Saya salut dengan adanya kegiatan ini, karena siswa-siswi TPQ dari beberapa Dukuh Desa Gondoharum dapat berkenalan satu sama lain. selain itu, melalui kegiatan ini mereka dapat menyalurkan potensi bakat yang dimiliki,” katanya. 

Khusni Mubarok selaku ketua panitia kegiatan tersebut mengaku senang dengan antusiasme peserta lomba. Meskipun pihaknya mengaku persiapannya sangat singkat. “Kegiatan ini mendapat respon positif dari semua lembaga TPQ yang telah mengikuti dan berpartisipasi memeriahkan Gebyar Hari Santri walaupun dengan persiapan yang singkat dan kurang matang,” terangnya. 

Lebih lanjut Khusni menerangkan, kegiatan tersebut juga dibantu oleh organisasi keagamaan dan kemasyarakat yang ada di Desa setempat. “Organisasi masyarakat seperti Ansor, Banser dan IPNU IPPNU Desa Gondoharum turut mendukung berjalannya kegiatan Gebyar Hari Santri Nasional yang diadakan oleh tim KKN posko 8 dan 9 IAIN Kudus. Bentuk dukungan ini salah satunya berupa keamanan,” pungkasnya. (Ifa/Waf)




PARIST.ID, KAMPUS- Wisuda yang sedianya dilaksanakan satu tahun dua kali terpaksa dilaksanakan satu kali kini telah mempunyai kepastian. Tahun ini, kampus terpaksa mengundurnya hingga  27 Oktober mendatang. Hal ini disebabkan imbas dari peralihan status  dari STAIN ke IAIN yang menyebabkan adanya aturan baru dalam penandatanganan Ijazah dan beberapa sistem yang lain. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor I (Senin, 15/10/18) saat di temui reporter Parist.id  di gedung Rektorat lantai II  IAIN Kudus.


"Penandatanganan Ijazah yang harus ditandatangani oleh pejabat terkait dan harus disebutkan dalam peraturan yang disebut Organisasi dan Tata Kerja (Ortaker) yang ada dalam sebuah lembaga negara,"  Kata Supa'at.

Pihaknya menambahkan, Ortaker merupakan salah satu piranti utama yang menjadi keabsahan dari sebuah lembaga pendidikan negara yang di dalamnya terdapat Rektor dan dekan yang sayangnya hingga hari ini belum keluar sampai karena prosesnya panjang.

Peralihan status STAIN menjadi IAIN menghasilkan peraturan presiden yang  masih bersifat global, belum rinci operasionalnya. Maka, ada nomenklaktur kelembagaan yang asalnya jurusan berubah menjadi fakultas, ketua jurusan menjadi dewan kemahasiswaan yang semuanya belum diketahui secara pasti nomenlaktur tersebut. Oleh karenanya wisuda ditunda dengan alasan menunggu hasil Ortaker agar ijazah menjadi sah dan legal.

Pihaknya bersama jajaran petinggi kampus sudah meminta masukan kepada pihak-pihak Direktoral Jendral Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) untuk bagaimana mengantisipasi hal ini. Selain itu kampus juga telah mendesak kepada Kementrian Agama untuk segera membuat aturan perpres tersebut.

"Supaya kita ada dasar untuk menandatangani ijazah itu akhirnya turun aturan turunan itu berupa surat edaran dari Dirjen Pendis hari jumat jam dua. Surat edaran itu kemudian menjadi pedoman kita untuk bekerja dalam yang menerbitkan transkip yang ditandatangani oleh kajur dan kaprodi, yang seharusnya rektor dan dekan. Mengapa kami mendesak karena semua ini demi pelayanan  terbaik untuk mahasiswa kami agar bisa mengejar pencalonan PNS,” Pungkasnya. (Khafsoh/Arum)





                                                                                           




PARIST.ID, JEPARA - Aktivitas mendidik siswa dapat menghilangkan dosa. Sekiranya guru dengan ikhlas dan tawakal dalam menjalani dunia pendidikan, niatnya jangan membuat anak pintar, karena kepintaran itu datang dari Yang Maha Memberi (Allah). Niatkan saat ngulang (mengajar: red) itu mengajak-ajak untuk kebaikan. 

Hal tersebut disampaikan oleh KH. Rojih Ubab Maimoenn saat menghadiri acara Khaul KH. Rosyidi, pendiri yayasan Islam Nurul Ilmi ke-31 di Aula MA Nurul Ilmi Bategede Nalumsari Jepara, Kamis (11/10/2018).

Gus Rojih sapaannya, merupakan cucu dari KH. Maimun Zubair, ulama kharismatik asal Rembang. 

Ia menyampaikan, seorang pendidik tidak perlu mencari pupularitas dalam mengajar. Justru, pendidik zaman dulu tidak menonjolkan kealimannya. Tetapi mendapat berkah yang dapat dirasakan oleh orang banyak.

Kemudian Gus Rojih menceritakan mbahnya  bernama Mbah Zubair. Ia dulunya tidak mempunyai gedung untuk mengajar ilmu,. Akan tetapi orang yang pernah diajar oleh Mbah Zubair, selalu bilang ia pernah "mondok" di pondoknya Mbah Zubair.

"Mbah saya niatnya hanya ngajar tanpa mengira-ngira muridnya kelak jadi apa," ungkapnya.

Keikhlasan Mbah Zubair, ternyata memberkahi murid termasuk keturunannya dapat membangun Pondok Pesantren sendiri. Hal itu tidak pernah terpikirkan oleh Mbah Zubair kalau muridnya dapat membangun gedung untuk ngulang.

Oleh sebab itu, Gus Rojih menghimbau kepada seluruh pendidik untuk terus menerus mengajar anak didiknya tanpa lelah. Karena mengajar "ngulang" dapat menghapus dosa dan meringankan beban kita di akhirat kelak.

"Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat berkah atas apa yang kita amalkan sebagai seorang pendidik," tambah Gus Rojih.

Sementara itu, Slamet selaku Ketua Panitia me gungkapkan bahwa haul ini dimaksudkan untuk mendoakan KH. Rosyidi beserta para pembantunya yang telah mewariskan pendidikan Islam Nurul Ilmi kepada generasi penerus. Walaupun, tidak secara langsung melihat jerih payah mereka, namun bukti atau hasil usahanya dapat dirasakan sampai saat ini dengan adanya yayasan ini.

Hadir dalam acara tersebut yakni seluruh Dewan Guru dari RA, TPQ, MTs dan MA Nurul Ilmi serta BP3 yayasan. (Salim)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.