PARIST.ID, SEMARANG - Mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Kudus berhasil meraih juara satu dalam lomba Festival Film FORKOMNAS KPI Wilayah III Jawa Tengah-DIY di Auditorium kampus 1 UIN Walisongo Semarang pada kamis malam (25/10/18). 

Lomba yang berlangsung selama empat hari (23-26/10/18) tersebut diikuti oleh beberapa kampus se-Jateng DIY yang tergabung dalam FORKOMNAS KPI Wilayah III. Dalam kesempatan tersebut, Prodi KPI IAIN Kudus berhasil mengalahkan tuan rumah UIN Walisongo Semarang yang meraih juara dua dan IAIN Surakarta yang meraih juara tiga. 

Film yang berjudul “Merawat Petuah Emas” ini sangat diapresiasi oleh Adjang selaku dosen UIN Walisongo Semarang. Menurutnya, ide yang ada di film para pemenang sederhana tetapi mampu mengemasnya mejadi suatu film yang menurutnya ciamik. “Juri yang menilai juga memiliki beberapa kriteria penilaian yang akhirnya terpilih-lah para pemenang Lomba,” jelasnya. 

Sementara itu, Ma’ruf selaku salah satu crew dari WTV mengatakan alasannya memilih karya Mahasiswa IAIN Kudus menjadi juara satu. “Ada beberapa kriteria yang menjadi penilaian dari para juri. Diantaranya ketepatan dalam memilih karakter pemain film, audio dalam film, dan lain sebagainya,” terangnya. 

Lebih lanjut ia menerangkan, Juri yang menilai film para peserta juga diambil dari juri yang memang benar-benar sudah kompeten dalam bidangnya. “Juri sudah dari jauh-jauh hari menilai karya film dari para peserta lomba festival film sebelum akhinya memilih tiga terbaik,”tambahnya. 

Ma’ruf berharap, lomba festival film ini kedepannya tidak hanya berhenti sampai disini. “Lomba festival film ini dapat menjadi acara tahunan, sehingga meningkatkan minat dan bakat para mahasiswa khususnya mahasiswa KPI dalam berkarya untuk membuat film,” harapnya. 

Hal senada juga disampaikan oleh Irma selaku ketua panitia kegiatan tersebut. Ia menyampaikan, lomba festival film yang baru pertama kali diselenggarakan ini diharapkan dapat lebih baik untuk kedepannya.

“Semoga dengan adanya festival film ini, para mahasiswa dapat mengembangkan kreativitasnya, meningkatkan daya saing yang sehat dengan Universitas lain se-Jateng dan DIY serta menjadi bekal sebelum benar-benar terjun di masyarakat,” pungkasnya.(Riza/Waf)

PARIST.ID, KUDUS – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko delapan dan sembilan Jurusan Ushuluddin IAIN Kudus mengelar Gebyar Hari Santri Nasional yang diikuti seluruh lembaga TPQ Desa Gondoharum Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus pada minggu (28 /10/2018). 

Kegiatan yang melibatkan tujuh Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) tersebut berhasil membuat para peserta antusias untuk mengikutinya. Dalam kegiatan tersebut diisi dengan perlombaan Cerdas Cermat, Adzan dan, Tartil Al-Qur'an sesuai dengan kompetensi dari peserta TPQ di Desa Gondoharum. 
PEMENANG: Para Pemenang Lomba Antar TPQ Se-Desa Gondoharum
Pada kesempatan tersebut, masing-masing lembaga TPQ Desa Gondoharum mengirimkan lima peserta untuk mengikuti perlombaan. Di antara TPQ tersebut ialah, TPQ Al-huda Tampung, TPQ Salafiyyah Safi’iyyah Tompe, TPQ Al-anwar Jajar, TPQ Sabilul Huda Tompe, TPQ An-Nur Plambungan, TPQ Miftahul Ulum Tlogo, dan TPQ Nurul Khusna Kaliwuluh. 

Siradj Jumilal, salah satu peserta lomba adzan mengaku sangat senang dengan adanya lomba yang diadakan mahasiswa-mahasiswi KKN IAIN Kudus tersebut. “Senang bisa mengikuti lomba ini, dan saya optimis bisa menang. Selain itu juga bisa punya teman baru,” katanya. 

Sementara itu, Masfiatun salah satu Juri dalam kegiatan tersebut mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan Gebyar Hari Santri yang diadakan oleh tim KKN IAIN Kudus. “Saya salut dengan adanya kegiatan ini, karena siswa-siswi TPQ dari beberapa Dukuh Desa Gondoharum dapat berkenalan satu sama lain. selain itu, melalui kegiatan ini mereka dapat menyalurkan potensi bakat yang dimiliki,” katanya. 

Khusni Mubarok selaku ketua panitia kegiatan tersebut mengaku senang dengan antusiasme peserta lomba. Meskipun pihaknya mengaku persiapannya sangat singkat. “Kegiatan ini mendapat respon positif dari semua lembaga TPQ yang telah mengikuti dan berpartisipasi memeriahkan Gebyar Hari Santri walaupun dengan persiapan yang singkat dan kurang matang,” terangnya. 

Lebih lanjut Khusni menerangkan, kegiatan tersebut juga dibantu oleh organisasi keagamaan dan kemasyarakat yang ada di Desa setempat. “Organisasi masyarakat seperti Ansor, Banser dan IPNU IPPNU Desa Gondoharum turut mendukung berjalannya kegiatan Gebyar Hari Santri Nasional yang diadakan oleh tim KKN posko 8 dan 9 IAIN Kudus. Bentuk dukungan ini salah satunya berupa keamanan,” pungkasnya. (Ifa/Waf)




PARIST.ID, KAMPUS- Wisuda yang sedianya dilaksanakan satu tahun dua kali terpaksa dilaksanakan satu kali kini telah mempunyai kepastian. Tahun ini, kampus terpaksa mengundurnya hingga  27 Oktober mendatang. Hal ini disebabkan imbas dari peralihan status  dari STAIN ke IAIN yang menyebabkan adanya aturan baru dalam penandatanganan Ijazah dan beberapa sistem yang lain. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor I (Senin, 15/10/18) saat di temui reporter Parist.id  di gedung Rektorat lantai II  IAIN Kudus.


"Penandatanganan Ijazah yang harus ditandatangani oleh pejabat terkait dan harus disebutkan dalam peraturan yang disebut Organisasi dan Tata Kerja (Ortaker) yang ada dalam sebuah lembaga negara,"  Kata Supa'at.

Pihaknya menambahkan, Ortaker merupakan salah satu piranti utama yang menjadi keabsahan dari sebuah lembaga pendidikan negara yang di dalamnya terdapat Rektor dan dekan yang sayangnya hingga hari ini belum keluar sampai karena prosesnya panjang.

Peralihan status STAIN menjadi IAIN menghasilkan peraturan presiden yang  masih bersifat global, belum rinci operasionalnya. Maka, ada nomenklaktur kelembagaan yang asalnya jurusan berubah menjadi fakultas, ketua jurusan menjadi dewan kemahasiswaan yang semuanya belum diketahui secara pasti nomenlaktur tersebut. Oleh karenanya wisuda ditunda dengan alasan menunggu hasil Ortaker agar ijazah menjadi sah dan legal.

Pihaknya bersama jajaran petinggi kampus sudah meminta masukan kepada pihak-pihak Direktoral Jendral Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) untuk bagaimana mengantisipasi hal ini. Selain itu kampus juga telah mendesak kepada Kementrian Agama untuk segera membuat aturan perpres tersebut.

"Supaya kita ada dasar untuk menandatangani ijazah itu akhirnya turun aturan turunan itu berupa surat edaran dari Dirjen Pendis hari jumat jam dua. Surat edaran itu kemudian menjadi pedoman kita untuk bekerja dalam yang menerbitkan transkip yang ditandatangani oleh kajur dan kaprodi, yang seharusnya rektor dan dekan. Mengapa kami mendesak karena semua ini demi pelayanan  terbaik untuk mahasiswa kami agar bisa mengejar pencalonan PNS,” Pungkasnya. (Khafsoh/Arum)





                                                                                           




PARIST.ID, JEPARA - Aktivitas mendidik siswa dapat menghilangkan dosa. Sekiranya guru dengan ikhlas dan tawakal dalam menjalani dunia pendidikan, niatnya jangan membuat anak pintar, karena kepintaran itu datang dari Yang Maha Memberi (Allah). Niatkan saat ngulang (mengajar: red) itu mengajak-ajak untuk kebaikan. 

Hal tersebut disampaikan oleh KH. Rojih Ubab Maimoenn saat menghadiri acara Khaul KH. Rosyidi, pendiri yayasan Islam Nurul Ilmi ke-31 di Aula MA Nurul Ilmi Bategede Nalumsari Jepara, Kamis (11/10/2018).

Gus Rojih sapaannya, merupakan cucu dari KH. Maimun Zubair, ulama kharismatik asal Rembang. 

Ia menyampaikan, seorang pendidik tidak perlu mencari pupularitas dalam mengajar. Justru, pendidik zaman dulu tidak menonjolkan kealimannya. Tetapi mendapat berkah yang dapat dirasakan oleh orang banyak.

Kemudian Gus Rojih menceritakan mbahnya  bernama Mbah Zubair. Ia dulunya tidak mempunyai gedung untuk mengajar ilmu,. Akan tetapi orang yang pernah diajar oleh Mbah Zubair, selalu bilang ia pernah "mondok" di pondoknya Mbah Zubair.

"Mbah saya niatnya hanya ngajar tanpa mengira-ngira muridnya kelak jadi apa," ungkapnya.

Keikhlasan Mbah Zubair, ternyata memberkahi murid termasuk keturunannya dapat membangun Pondok Pesantren sendiri. Hal itu tidak pernah terpikirkan oleh Mbah Zubair kalau muridnya dapat membangun gedung untuk ngulang.

Oleh sebab itu, Gus Rojih menghimbau kepada seluruh pendidik untuk terus menerus mengajar anak didiknya tanpa lelah. Karena mengajar "ngulang" dapat menghapus dosa dan meringankan beban kita di akhirat kelak.

"Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat berkah atas apa yang kita amalkan sebagai seorang pendidik," tambah Gus Rojih.

Sementara itu, Slamet selaku Ketua Panitia me gungkapkan bahwa haul ini dimaksudkan untuk mendoakan KH. Rosyidi beserta para pembantunya yang telah mewariskan pendidikan Islam Nurul Ilmi kepada generasi penerus. Walaupun, tidak secara langsung melihat jerih payah mereka, namun bukti atau hasil usahanya dapat dirasakan sampai saat ini dengan adanya yayasan ini.

Hadir dalam acara tersebut yakni seluruh Dewan Guru dari RA, TPQ, MTs dan MA Nurul Ilmi serta BP3 yayasan. (Salim)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.