KAMPUS, PARIST.ID – Berbeda dengan wisuda periode bulan Juni kemarin, IAIN Kudus memastikan pelaksanaan Wisuda periode November 2020 mendatang akan digelar secara Offline. Melalui Surat Pengumuman nomor 3927/In.37/R1/10/2020 tentang Pelaksanaan Wisuda XXVIII Program Sarjana (S1) dan Wisuda X Program Pascasarjana (S2) IAIN Kudus Periode November 2020,  Wakil Rektor I mengumumkan pelaksanaan wisuda periode november akan dibagi menjadi tiga gelombang (Hari/jam).

Dengan tetap memerhatikan protokol pencegahan covid-19, wisuda periode ini dilaksanakan tanpa melibatkan orang tua dan keluarga dari wisudawan. Sehingga, dalam prosesi wisuda hanya boleh diikuti oleh peserta wisuda tanpa pendamping atau penyerta.

Terkait batas akhir pendaftaran wisuda, akan diundur sampai hari selasa tanggal 03 November 2020. Untuk ketentuan lebih rinci tentang pelaksanaan wisuda akan ditentukan lebih lanjut oleh pimpinan. ()


KAMPUS, PARIST.ID – Wartawan Tirto.id Zakki Amali menyebut sisi human interest dalam menulis feature tidak hanya berbicara tentang manusia yang dikasihani. Menurut dia, human interest menggambarkan kemanusiaan yang bersifat universal. 

“Semua sisi manusia sering terjadi kontradiksi atau benturan dengan kenyataan. Dari benturan tersebut yang memicu wartawan bisa menulis feature,” kata Zakki dalam Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) yang diselenggarakan LPM Paradigma IAIN Kudus secara virtual, Sabtu (10/10/2020).

Zakki menggambarkan human interest sebagai kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karenanya wartawan tidak boleh menjustifikasi seseorang berdasarkan benar atau salah. “Yang kita perlukan adalah empati terhadap subjek yang ada di lapangan," jelasnya.

Adapun dalam penggalian ide, Redaktur Suara Nahdiyin, Muhammad Farid, lebih menekankan berpikir kritis dalam menanggapi hal yang rasional. Kontributor NU Online ini juga menyarankan agar peserta lebih sering membaca dan menganalisis. 

“Dari hasil analisis nanti bisa dikembangkan menjadi sebuah tulisan feature,”ungkap Farid.

Meskipun digelar secara online, Pimpinan Umum LPM Paradigma, Muhammad Nur Ulyanuddin berharap agar kegiatan dapat berjalan maksimal. “Mari kita maksimalkan acara ini, semoga tidak mengurangi esensi dari pelatihan jurnalistik itu sendiri,”ajaknya.

Tidak jauh beda, Ketua Panitia, Windy Aprilya Pangastutik, berharap agar pelatihan online ini dapat dijadikan perhatian dan kesungguhan oleh seluruh peserta PJTL. “Semoga kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan mengantarkan semua peserta mengikuti kegiatan offline nantinya” harap Windy. (Mir/has)


KUDUS, PARIST.ID – Aksi penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja, melibatkan mahasiswa dan masyarakat berjalan dengan cukup kondusif, diawali long march  dari Alun-alun Kudus ke gedung DPRD Kudus, pada Kamis, (08/10/2020). Demostrasi yang melibatkan ribuan masa ini, mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Kudus (AMPERA). 
Aliansi tersebut merupakan gabungan dari berbagai elemen organisasi mahasiswa dan masyarakat diantaranya PMII, IMM, HMI, PRD, dan LSM KPMP. Orasi bergantian dari perwakilan masing-masing organisasi menggugah semangat masa untuk suarakan tuntutannya terhadap penolakan Omnibus Law.
Koordinator Lapangan (Korlap), Gatot Priambodo Agusta, mengatakan, secara tegas menolak UU Omnibus Law yang sangat merugikan banyak pihak. “Terutama berdampak pada kaum buruh dan institusi pendidikan,” katanya saat diwawancarai reporter Parist.id setelah aksi selesai di depan DPRD Kudus.
Terkait tuntutan aspirasi, lanjut Gatot, empat anggota DPRD Kudus secara langsung menemui masa dan akan memenuhi segala tuntutan yang nantinya akan disampaikan ke DPR RI (Pusat). Sejumlah anggota DPRD tersebut diantaranya, Noor Hadi dan Ali Ikhsan dari fraksi PKB, Ali Muchlisin dari Golkar, Supriyanto dari Nasdem.
“Tuntutan kita sudah ditandatangani dan distempel oleh empat anggota DPRD Kudus, sebagai bentuk legalitas bahwasannya tuntutan kita sudah disepakati,” jelasnya.
Sementara itu, Peserta Aksi, Faridl Kunbara, mengaku alasannya mengikuti demo karena sangat menyayangkan undang-undang yang dikeluarkan oleh pemerintah. Baginya, Omnibus Law adalah undang-undang yang tak masuk akal karena terdapat banyak pasal-pasal yang hanya menyengsarakan rakyat.
“Karena panggilan hati nurani merasakan penderitaan yang dialami para buruh, membuat saya prihatin,” kata mahasiswa Ekonomi Syariah IAIN Kudus semester lima.
Selain itu, menurutnya mahasiswa sebagai agen perubahan sudah menjadi tugas wajib dalam membela kebenaran dan mengembalikan hak-hak mereka (kaum buruh) yang telah dirampas untuk kepentingan oligarki.
“Harus berani melawan untuk membela kebenaran,” tegasnya. 
Berdasarkan pantauan tim Parist.id di lokasi, dalam aksi tersebut sempat terjadi pelemparan botol ke arah anggota DPRD yang sedang menemui masa dan diwarnai pembakaran sampah saat demo baru usai. Namun aparat kepolisian dengan sigap dapat mengkondusifkan situasi sehingga tidak terjadi hal-hal yang anarkis.  (Ftw/*)

KAMPUS, PARIST.ID- Adanya KKN DR yang berjalan selama 2 bulan kemarin memang bisa menjadi alternatif meningkatkan skill di bidang illustrasi. Salah satunya KKN IK DR IAIN Kudus kelompok 62 yang menciptakan animasi edukasi "Yusuf dan Alana". Guna mengapresiasi hak kepemilikan, KKN DR 62 turut mengajukan hak cipta maskot Yusuf dan Alana. 

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 62, Pancaningrum, mengatakan, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) saat ini sedang diajukan. Langkah ini diambil untuk melindungi hak cipta atas Yusuf dan Alana serta demi kebaikan Prodi PIAUD sehingga bisa menambah poin saat mengajukan akreditasi Prodi lagi.  "Semoga bisa diterima dan keluar sertifikatnya," harapnya

Sebagai DPL, ia sangat mengapresiasi kreativitas mahasiswa KKN 62. Selain menghasilkan karya, mereka juga memiliki nilai-nilai positif yang mau terus berkembang dan saling berbagi ilmu dan belajar bersama.

Sejak awal, lanjut Pancaningrum, selalu menekankan agar di KKN ini tidak tertinggal oleh zaman dengan menggunakan keterampilan IT sehingga produk yang dihasilkan bisa luar biasa.

"Mahasiswa KKN kelompok 62 yang saya bimbing ini termasuk anak-anak yang responsif dan mau belajar. Apalagi ternyata memang ada yang sudah menguasai IT lebih dari teman-temannya," tambahnya.

Ia juga mengatakan, Alana dan Yusuf adalah milik tim jadi akan tetap milik tim. "Ke depan Alana dan Yusuf bisa tetap eksis memberikan edukasi kepada masyarakat baik melalui youtube atau instagram," tandasnya.

Ketua Kelompok KKN DR 62, Satriani Qurrota A'yun,  menjelaskan, inisiatif awal dari adanya pembuatan animasi ini karena ingin memunculkan karakter khusus dari prodi Piaud. 

"Target awal kita tidak hanya anak-anak, tetapi juga ibu-ibu dengan tujuan menarik minat mereka ketika melihat-lihat media sosial kita," jelas A'yun.

Kebetulan, lanjut A'yun, KKN DR ini waktu yang tepat untuk meningkatkan skill pembuatan animasi kartun anak-anak.  Ia mengaku, animasi Alana dan Yusuf memang tidak secanggih seperti Nussa dan Rara ataupun kartun Indonesia lainya. "Masih bentuk 2D karena memang masih tahap belajar," tambah Mahasiswa PIAUD itu.

Ia juga menambahkan, arti nama Alana dalam bahasa adalah gadis cantik dan berharga, tapi dalam filosofi  Kelompok 62 memiliki harapan yang sangat indah dan suatu saat bisa bermanfaat bagi semua orang.

"Sedangkan yusuf adalah tampan maka kedua nama tersebut menjadi suatu harapan bagi karya kami adalah karya yang bagus indah dan bermanfaat bagi semua orang," bebernya. (Umi Zn)

 


KAMPUS,PARIST.ID- Menjelang ulang tahun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Palwa “51” yang ke 25 tahun, sederet kegiatan virtual maupun non virtual bakal digelar.

Diantara even virtual yakni lomba desain logo anniversary, seminar online bertema Peluang Usaha Hidroponik dan talkshow seputar Kesalahan dalam Pendakian Gunung. Sementara itu, even non virtual terdiri dari santunan anak yatim di Yayasan Darul Ulum Alqudusy dan Bakti sosial pengadaan tempat sampah dan tasyakuran.

Adapun kegiatan tersebut digelar dari 9-25 September hingga diakhiri bakti sosial pada 24-25 Oktober 2020. (*)


KAMPUS,PARIST.ID- Seminar literasi dengan tema “Febi Melek Literasi” sekaligus menjadi inti acara digelarnya sederet even kekinian dalam rangkaian Febi Fair 2020.

Mendatangkan narasumber Wakil Dekan 3 UIN Sunan Ampel Surabaya, Nur Kholis dan Dosen Febi IAIN Kudus, Ekawati Rahayu Ningsih, acara digelar secara virtual melalui Zoom pada Selasa, (29/09).

Dipanitiai oleh Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), sederet even kekinian yang juga digelar yakni Tik tok challange, Vlog competition, Sharia Economic Quiz, Bussiness Plan dan Library Online. (*)

Ilustrasi: patinews.com

Oleh: Muayyadah*

Belakangan ini kerap muncul isu radikalis dan komunis yang terus berkembang di tengah masyarakat indonesia. Esktrem kanan paham PKI mencuat di permukaan. Alih-alih ingin mengajak menonton film justru berujung pada pemahaman membangkitkan PKI di bumi pertiwi. Belum lagi persoalan tentang kisruh pendakwah bersertifikat dan label  agamis dengan indikasi memakai 'celana cingkrang'  menjadi polemik baru di lini masyarakat. Polemik yang tiada henti memunculkan konflik berkepanjangan sehingga stabilitas hidup beragama terganggu.

Isu tentang agama dan ideologi kerap dijadikan kambing hitam oleh sebagian pihak yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat awam pun tak luput jadi sasaran pembenturan oleh pihak yang merasa diuntungkan. Memberikan jawaban atas kisruh radikalis dan liberalis ataupun komunis moderasi menghadirkan ruang baru bagi pemecah diantaranya.

Moderasi yang diempukan sebagai solusi juga memiliki tantangan tersendiri bagi bangsa ini. Sejatinya sikap moderasi sudah memiliki landasan hukum Al-Qur’an di Al-baqarah: 143. Rasulullah telah meneladani sikap moderasi beragama dari salah satu hadis riwayat ibn Abbas. Rasulullah SAW bersabda

”Janganlah kalian berlebihan dalam agama. Sungguh umat sebelum kalian binasa karena berlebihan dalam agama”

Berbicara tentang sunah moderasi murni ajaran Nabi Muhammad Saw. Lalu santri menempatkan dirinya sebagai orng yang mencari dan memperdalam ilmu agama kepada kiai untuk terus mengawal jalannya moderasi di bumi Indonesia seperti diajarkan rasulullah, sahabat, tabi'in dan ulama ahlussunnah wal jamaah.

Potret santri yang punya peran strategis dalam memaksimalkan fungsi moderasi juga mendapatkan tantangan tersendiri. Tantangan ini bersifat internal sebagai kaum santri dan  kedua tantangan eksternal yang terjadi di tengah masyarakat.

Kata santri mencuat ke permukaan dan digadang-gadang memiliki peranan strategis dalam pembangunan bangsa. Sejak diterbitkannya hari santri nasional pada tanggal 22 Oktober 2017 oleh presiden ke 7 Bapak Joko Widodo dengan tujuan mengingatkan kiprah santri dalam memperjuangkan bangsa ini.  Sampai detik ini kontribusi santri masih dinantikan.

Label istimewa telah disandang oleh para santri,  sikap jumawa kerap meracuni para santri sendiri, oleh sebab itu agar tak terjerumus pada jumawa atas apresiasi luar biasa ada benteng pertahanan yang berasal dari diri seorang santri. Suatu benteng berarti memberikan pencegahan agar sesuatu buruk tak berhasil menimpanya, santri telah dibekali ilmu agama yang kompleks. Selain itu terdapat tasawuf sebagai pembersihan hati santru serta adab sebagai tindak laku santri.

Bentengi dengan Adab

Dijelaskan dalam kitab Minhajus Showi s.197-198 bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Pegangan ini yang dimuat oleh santri agar tak merasa paling benar dan bisa ketika telah menguasai suatu bidang ilmu yang dimiliki.

Di sisi lain tawadhu dan sendhiko dawuh dari para kiai kerap memunculkan prilaku skeptis dan primordialis. Ia bisa jadi tak merasa paling benar tapi ia merasa bahwa tempat dan kiainya yang paling dan paling dari siapapun. Ta'dhim tak berlaku untuk melemahkan justru saling menghormati ahli ilmu. Ilmu harus diimbangi dengan adab dan adab harus diimbangi dengan sikap tipa slira.

Isu agama sangat kental dipresisikan pada kaum santri sebagai tafaqquh fid diin. Analogi sederhananya, api akan cepat menyambar bila terkena api lainnya. Agama akan semakin diperdebatkan bila dibenturkan sesama agama.  Agama memiliki ideologi, sebagai pedoman pemeluknya untuk mengarahkan diri kepada hal baik.

Namun agama terus dijadikan tunggangan mengejar kepentingan. Santri sebagai benteng harus mampu melawan arus ekstrem kanan maupun kiri. Pagari ilmu dengan adab, pagari pengetahuan dengan adab. Orang boleh sealim apapun tanpa adab ia hanya nama belaka.

Untaian ini bukan dijadikan pengayom bahwa tak ada ilmu juga tak masalah asal punya adab yang baik. Padahal ibadahnya orang alim lebih baik daripada ibadahnya orang bodoh. Setelah tantangan internal diatasi santri juga punya benteng atas tantangan global salah satu di antaranya adalah memutuskan berkembangnya paham radikalis.

Kaum santri bukan waktunya didikte oleh ilmu agama dengan terang tapi juga analogi sebagai ajang perkembangan diri yang solih. Tradisi ngaji sorogan dan bandongan harus dipertahankan. Ajaran para salaf punya kesan tersendiri baik bagi santri maupun luar santri.

Tradisi ini bahkan diikuti oleh para pemuda ansor yakni mengaji kitab risalah ahlussunah wal jamaah karya mbah hasyim Asy’ari tujuannya agar moderasi neragama kian melekat pada tiap para santri. Banyak penerapan dari prinsip moderasi yakni tawasuth, tawazun, i'tidal, tasamuh.Manfaat yang didapatkan dari moderasi beragama. Ajaran kitab risalah ahlussunah wal jamaah memang sangat relevan untuk dipelajari baik kalangan santri dan awam. Apalagi di zaman seperti ini, penting untuk bersikap proporsional dalam menyikapi perbedaan dan ajaran ahlussunah wal jamaah.

*Mahasiswi Program studi Ilmu Pendidikan Sosial IAIN Kudus sekaligus santri Cendono, Dawe, Kudus


KAMPUS, PARIST.ID- Menjelang beberapa minggu sebelum pelaksanaan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL), LPM Paradigma IAIN Kudus menggelar Pra PJTL yang pada kesempatan kali ini digelar secara virtual via Google Meet. Materi kepenulisan features yang diisi Pimpinan Redaksi LPM Paradigma Umi Zakiatun Nafis ini diikuti 18 calon peserta PJTL, pada Sabtu, (27/09).

Dalam hal ini, Ketua Panitia, Windy Aprilia mengapresiasi semangat peserta PJTL. "Meski di masa pandemi seperti ini, mereka tetap semangat," ujarnya.


Ia juga menambahkan, pra PJTL kali ini memang berbeda karena digelar secara virtual. Namun, karena pentingnya adanya pra PJTL, kondisi apapun tetap dilaksanakan.  "Penting sekali karena PJTL digelar guna menyampaikan materi dasar ke peserta, istilahnya pemanasan," tambah Windy.


Peserta PJTL, Shofiana Mariana, mengaku dengan adanya pra PJTL ia idak lagi awam dengan penulisan feature. "Jadi siap untuk pelaksanaan kegiatan PJTL selanjutnya," katanya.

KAMPUS, PARIST.ID –  Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Kudus menggelar Forum Grup Discussion (FGD) Evaluasi KKN-IK DR 2020 secara offline. Untuk menghindari kerumunan, evaluasi dibagi menjadi tiga sesi dengan mengundang setiap ketua/perwakilan masing-masing kelompok. Dipandu oleh Ulfah Rahmawati, acara yang dihadiri 204 mahasiswa dari  perwakilan setiap kelompok KKN ini bertempat di Gedung SBSN Lantai 2 yang dibagi menjadi 3 sesi, Jumat (25/09).

Dalam sambutannya, Ketua LPPM, Mohammad Dzofir menganggap sangat penting atas pelaksanaan evaluasi secara tatap muka ini. Meskipun sebelumnya telah melakukan evaluasi dan monitoring secara online, Dzofir merasa perlu mengadakan FGD evaluasi ini untuk mengetahui kondisi secara langsung dari perspektif mahasiswa. “Dari hasil monitoring sebelumnya, cukup memuaskan, ada tahapan-tahapan yang dilakukan baik oleh mahasiswa maupun DPL” ujarnya.

Padahal, sebelum menyusun program KKN-IK DR, ia mengaku pesimis karena menabrak norma pengabdian kepada masyarakat yakni terjun langsung ke lapangan. Namun, untuk melanjutkan speed up kelulusan, ia memutuskan untuk merubah model KKN-IK menjadi KKN-IK DR. “dari hasil survei berjalan dengan baik, harapannya semoga bisa menyelenggarakan KKN tahun depan sebaik mungkin” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor I Supaat menekankan kepada mahasiswa agar tidak membandingkan KKN tahun ini dengan parameter KKN normal.

Selanjutnya, terkait miskonsepsi antara Dosen Pembimbing Lapangan dan Mahasiswa, Supaat memakluminya dan mengggap kegiatan KKN yang tidak sesuai sebagai hiburan atau untuk situasi yang mencekam akibat pandemi ini.

Supaat mempersilahkan mahasiswa untuk memberi masukan dan mendudukkan persoalan sejelas-jelasnya. “kita cari di mana titik masalah itu ada, nanti akan diperbaiki untuk kedepannya” ujarnya. (syim)


KUDUS, PARIST.ID, – Sekelompok pelaku seni Pimpimpoh mementaskan naskah bertajuk “Moriah” dan pameran instalasi seni pada Sabtu (19/09/2020) di Eks Mall Matahari Kudus. Intalasi seni yang dijadwalkan akan rampung pada tanggal 23 September 2020 ini  memuat isi tentang kecintaan seseorang terhadap apapun. “Cinta seseorang atau apapun bisa dibuktikan dengan usaha dan ikhtiarnya,” terang Elang, Ketua Pimpimpoh. 


Dicontohkan seperti cinta Abraham bin Terah, tokoh yang diceritakan dalam alkitab dari kejadian 22: 1-14. Abraham yang baru dikaruniai anak ketika umurnya menginjak 100 tahun, diperintahkan mempersembahkan anaknya kepada Moria. Bagaimanapun itu adalah wujud kecintaan Abraham kepada semesta.


Elang juga menceritakan bahwa pameran instalasi seni ini lebih diutamakan untuk video visual yang dapat disaksikan di laman youtube.com dari akun “Wiki Puisi”. “Penonton dan pecinta seni tidak susah-susah mengakses ke lokasi pameran, karena sejatinya kita sudah siapkan video visual untuk dinikmati,” jelasnya.


Hal ini juga menghindari kerumunan yang ditakutkan akan menimbulkan kegaduhan dibelakang. “Karena kita baru menghadapi pandemi ini, jadi kita putar otak cari aman dan nyaman untuk menikmati sebuah kesenian," kata Elang.


Salah satu penonton pameran, Syarif, merasa bahwa dirinya semakin terasing dengan tanah yang iya pijaki selama ini. “Saya tinggal di Jepara, wilayah yang juga sebagian kaki muria, tetapi saya terganggu ketika menyaksikan pesan dari instalasi seni ini. Saya merasa tidak tahu apa-apa tentang kota ini dan sekitarnya," ungkapnya.(Ade)


KAMPUS, PARIST.ID - Pihak kampus IAIN Kudus merilis kuota internet gratis untuk mahasiswa IAIN Kudus dengan kisaran antara  40 sampai 50  GB per-bulan. Pasalnya, kuota gratis ini ditujukan untuk semua provider internet. Adapun sistemnya, mahasiswa diminta untuk segera dapat mengecek nomor di laman sikadu dengan mengupdate nomor yang digunakan untuk internet dengan batas update hingga Jum'at, (18/09).

Dalam hal ini, Wakil Rektor III, Ihsan mengatakan, kouta yang diberikan ini juga bisa digunakan untuk mengakses semua segala kebutuhan pembelajaran seperti browsing, google classroom, zoom, dan lain- lain. "Ini sedang kami koordinasikan dengan semua provider," katanya saat ditemui Tim Parist.id di Gedung Rektorat Lt 2 IAIN Kudus pada Rabu, (16/09) kemarin.

Ihsan juga menghimbau kepada para mahasiswa untuk benar-benar mengecek nomor dengan benar karena dijelaskan dalam surat tersebut bahwa keterlambatan dan kesalahan input nomor telah menjadi tanggung jawab masing-masing mahasiswa. "Ini merupakan antisipasi dari kita, agar tidak terjadi dengan sesuatu yang tidak kita inginkan," ujarnya.

Mengenai perealisasian program ini, lanjut Ihsan, pihak kampus akan memberikan pengumuman lebih lanjut mengenai verifikasi nomor mahasiswa.
"Untuk sementara ini, kita masih proses pada tahap melakukan pendataan mengenai nomor mahasiswa terlebih dahulu," pungkasnya.

Adanya peluncuran program kouta gratis tersebut, Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Zakiyatussariroh, merespon positif karena dapat membantu meringankan dalam proses pembelajaran pada masa pandemi ini. "Merasa terbantu, jika kouta tersebut dapat berjalan baik ke depannya," bebernya. (Fiski)


KAMPUS, PARIST.ID – Meskipun PBAK pada tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, tetapi kita harus tetap bersyukur.  Hal tersebut disampaikan Rektor IAIN Kudus, Mundakir, dalam acara penutupan dan pemukulan gong di hari terakhir PBAK 2020 dengan cara virtual melalui streaming Youtube dan Instagram pada , Senin (07/09).


Dalam sambutanya, Mundakir juga turut membacakan puisi yang digubahnya. "Dunia kampus dunia pikir, dunia pikir berkontemplasi. PBAK digelar segera berakhir, berakhir dengan bersenang hati. Rasa sedih untuk panitia, karena tak temu dengan mahasiswa baru. Terimakasih kepada seluruh ORMAWA yang telah sadar new era baru. Pergi ke Batang menjahit baju, baju maron tanda khusus. Selamat datang mahasiswa baru, di kampus hijau IAIN Kudus," ucapnya.


Melalui puisinya Mundakir mengucapkan terimakasih kepada seluruh Ormawa yang telah sadar new era baru. "Meskipun disituasi yang berbeda kegiatan PBAK masih tetap bisa berjalan dengan baik secara virtual," tandasnya.


Sementara itu, Subbag Kemahasiswaan Kementrian Republik Indonesia, Rohman Basori mengapresiasi kreativitas mahasiswa yang bisa menyesuaikan keadaan ditengah pandemi. "Mengutip kata dari Charlis Darwin Orang yang hebat bukan orang yang cerdas secara fisik, tetapi orang yang bisa menyesuaikan diri,"  katanya.


Ia menambahkan, agar mahasiswa baru tidak berkecil hati meskipun PBAK tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. "Justru  kalian adalah orang-orang yang hebat yang bisa menyesuaikan diri dengan baik," tambah Basori.


Sebagai Mahasiswa Baru Fakultas Ushuluddin, Duriyanti, mengaku senang mengikuti PBAK sampai akhir penutupan. Meskipun PBAK di tahun ini jauh berbeda, terlebih dalam pelaksanaannya. "Terhibur sekali dengan suguhan di akhir kegiatan PBAK yang menghadirkan hiburan dari UKM musik dan Teater Satoesh," tandasnya. (Aida)

KAMPUS, PARIST.ID - Tiktok menjadi media  yang banyak digandrungi oleh anak muda termasuk mahasiswa. Tidak heran, tiktok dijadikan sebagai challange untuk memeriahkan puncak agenda PBAK online  pada malam inagurasi.


Challange yang ditujukan kepada peserta PBAK online ini bertujuan untuk memberikan dukungan semangat kepada peserta setelah mengikuti kegiatan PBAK daring selama tiga hari. 


"Mungkin dengan challange ini bisa sedikit mengurangi kejenuhan dan memberikan warna sendiri untuk peserta PBAK," kata Ketua SC PBAK 2020, Muhammad Fikri Abdun Nasir, melalui pesan WhatsApp kepada reporter Parist.id, Selasa (08/09).


Challange ini, sambung Fikri, tiktok dipilih karena saat ini banyak sekali anak muda termasuk mahasiswa yang menggandrungi aplikasi ini. Namun, dalam pembuatan video, peserta diminta untuk tetap memperhatikan etika mahasiswa. "Karena kita mencoba melek dunia yang saat ini sedang digandrungi anak muda," imbuhnya.


Fikri berharap challenge ini dapat memicu kreativitas peserta PBAK. Hadiah berupa marchandise akan diberikan untuk peserta yang videonya menarik.


"Semoga banyak mahasiswa baru yang berpartisipasi, sehingga kami dapat menyeleksi video seperti apa yang layak dipublikasikan," harapnya.


Sementara itu, Peserta PBAK Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, Dicky Maulana Firdaus, mengaku senang dengan adanya Tiktok Challange. Menurutnya, challange ini tidak hanya membuat peserta PBAK bahagia, tetapi juga bisa meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam membuat dan mengedit video.


"Entah mengapa kalau mendengar lagu tiktok rasanya pengen berbuat sesuatu dan terngiang-ngiang di pikiran," ujarnya. (dewi/syim)


KAMPUS, PARIST.ID – Meskipun pengenalan UKK dan UKM melalui virtual tidak dapat dilakukan dengan leluasa sehingga tidak dapat memperkenalkan UKM dengan sebaik-baiknya, hal ini dapat memanfaatkan teknologi yang ada sekarang untuk menjadikan pengenalan UKM menjadi lebih menarik.


Hal tersebut diungkapkan,  Wakil Ketua UKM Al-Izzah, Abdul Wahab, dalam rangkaian acara Pengenalan UKK (Unit Kegiatan Kemahasiswaan) dan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di hari ketiga PBAK IAIN Kudus  secara daring melalui Zom pada Senin, (07/09). 


Senada dengan Abdul Wahab, Ketua Menwa, M Choirul Umam mengatakan, pengenalan UKK-UKM yang dilakukan melalui video profil kurang maksimal karena tidak ada interaksi langsung dengan mahasiswa. “Kami tidak bisa lebih dekat dengan mahasiswa baru," katanya. 


Ia juga menjelaskan, pembuatan video profil ditengah situasi pandemi ini tidak dapat dilakukan secara serempak dengan anggota yang lengkap karena tidak semua anggota MENWA berdomisili di Kudus.  “Yang menjadi hambatan ada beberapa anggota yang masih sulit untuk keluar dari wilayahnya,” jelasnya. 


Lain halnya dengan, Ketua KOPMA, Tika, mengeluhkan mengenai waktu persiapan pembuatan video profil yang hanya satu minggu. “Setidaknya kami diberi waktu satu bulan untuk persiapan, dan juga tidak ada sesi tanya jawab nya, sehingga kita tidak bisa tau minat maba itu dimana,” ungkapnya.


Lebih lanjut, terkait video profil KOPMA IAIN Kudus menampilkan kegiatan unggulan seperti expo dan pendidikan mengenai kopma, serta usaha yang dikembangkan di kopma. Ia berharap untuk para mahasiswa baru supaya lebih semangat lagi. 


“Dalam situasi pandemi ini, bukan menjadi alasan untuk tidak menambah kualitas diri tapi bagaimana berinovasi dalam aksi yang berbeda," imbuhnya. 


Sementara itu, Mahasiswa Baru Fakultas Tarbiyah, Amaliya, mengungkapkan, jika video profil dari UKK-UKM menarik untuk dilihat, tetapi ada kendala server saat pemutaran video sedang berlangsung “Videonya bagus semua, pasti dari pihak UKK-UKM sudah menyiapkannya dengan sebaik mungkin, tapi sayang tadi videonya macet-macet,” ungkapnya. (Aulia)

KAMPUS, PARIST.ID – Pentingnya moderasi beragama disampaikan dalam sambutan Abdul Jalil pada Pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2020 IAIN Kudus, Senin (07/09).

Dalam sambutannya, Jalil memberikan cerita sekaligus motivasi kepada mahasiswa untuk menganggap pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan. Sebab, setiap individu mempunya pola pikir yang berbeda, jadi setiap individu akan merespon ajaran Allah juga dengan cara yang berbeda.


“Adapun kualitas beragama ditunjukkan dengan dan seberapa tulus kita berserah diri kepada Allah” tuturnya.


Jalil juga menjelaskan, ada halnya ketika melakukan sesuatu jangan lupa untuk diniatkan kepada Allah. Karena dengan demikian, jika kita melakukannya semata-mata karena Allah, maka insyaalah akan mendapatkan pahala yang berkah. “Sedekah itu tidak harus kepada orang, memberi makan terhadap hewan juga termasuk sedekah," 


Selain itu, lanjut Jalil, ketika ada orang tua yang tidak sengaja melakukan kesalahan, maka kita boleh mengingatkan. Tentu saja dengan cara pendekatan normatif, yaitu menegur dengan halus sehingga tidak menyinggung perasaannya. Karena bagaimanapun, kita harus tetap hormat kepada yang lebih tua.


Sementara itu, Mahasiswa Baru Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI), Mufatimatuzzahro, menyebutkan, bahwa toleransi dan menghargai penting diterapkan dalam kehidupan. 


“Saya sangat antusias sekali mengenai kajian ini, bahwa kita harus dapat menerima perbedaan yang ada, saling toleransi dan menghargai. Namun juga perlu contoh yang baik sebagai tauladan, pungkasnya.

(Mirna)


KAMPUS, PARIST.ID – Pengenalan Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) di hari kedua PBAK IAIN Kudus yang dihadiri 2.257 mahasiswa baru dilakukan secara daring melalui Zoom, Minggu, (6/09). Pengenalan Senat Mahasiswa (SEMA), Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), dan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) yang disampaikan lewat video profil, kepengurusan, dan latar belakang dengan durasi waktu maksimal 10 menit.  


Ketua SC, M Fikri Abdun Nasir, mengaatakan, adanya pengenalan Ormawa yaitu untuk memperkenalkan serta menarik mahasiswa baru agar mengikuti organisasi-organisasi sesuai skill yang dimiliki. 


Lebih lanjut, ia mengapresiasi kreativitas para Ormawa dalam menampilkan video profil organisasi mereka. Menurutnya, meski pengenalan ormawa dilakukan secara daring lewat video, ini tak mengurangi kreativitas para ormawa. "Video yang dibuat pun sangat menarik semua,” tambahnya.  


Meskipun PBAK tahun 2020 dilaksanakan secara daring, Fikri berharap mahasiswa baru dapat menerima materi secara maksimal. “Untuk adik-adik mahasiswa baru IAIN Kudus, nikmatilah prosesnya, jangan hanya sekedar kuliah kos pulang, tapi ciptakanlah lingkungan yang mampu membantumu merealisasikan mimpimu,” harapnya. 


Hampir senada dengan Fikri, Ketua Dema Fakultas Tarbiyah, Rovik Hidayat, menjelaskan, peran organisasi kemahasiswaan sangat penting dalam membentuk generasi yang kritis, kreatif, dan inovatif. Ia berpendapat,  mahasiswa adalah agen of change yang harus memiliki sikap aktif, berpikir kritis, dan tanggap terhadap lingkungan dan masyarakat. 


“Menjadi mahasiswa tidak cukup hanya datang, duduk, dan diam mengikuti proses pembelajaran selama dibangku perkuliahan," jelasnya.


Melalui organisasi, tambah Rovik, tidak hanya ilmu saja yang didapatkan, namun juga pengalaman-pengalaman yang tidak ditemukan dibangku perkuliahan.


Sementara itu, Mahasiswa Baru Fakultas Tarbiyah, Marfu'atul Mahiroh, mengapresiasi  kreativitas video ormawa yang menarik. "Saya tertarik untuk mengikuti beberapa Ormawa, meski belum tau Ormawa mana yang sesuai passion saya," ungkapnya melalui pesan Whatsapp. (Vina)


KAMPUS, PARIST.ID - Pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2020 hari kedua yang berlangsung secara virtual turut menghadirkan Ketua DPRD Kabupaten Kudus, Masan, pada Ahad (06/09).


Dalam sambutannya, Masan yang didampingi oleh Wakil Rektor III memberikan cerita sekaligus motivasi untuk mahasiswa agar menjadi sukses di masa mendatang dengan memanfaatkan potensi yang ada. 

"Sebagai mahasiswa harus dapat melihat potensi yang ada disekitar kita dan tahu bagaimana cara berinovasi, berkreasi serta mengembangkannya" tuturnya.


Masan juga menuturkan, sekolah favorit tidak menjamin kesuksesan di masa depan. Namun usaha untuk selalu belajar adalah modal untuk mampu berkomunikasi dan bersosialisasi dalam masyarakat.


Sementara itu, Mahasiswa Baru Prodi PGMI, Ayuna Rizqi, menyetujui apa yang disampaikan Ketua DPRD Kudus tersebut. Bahwa suskes lahir atas usaha diri sendiri bukan orang lain.

"Yang menjamin kesuksesan salah satunya ialah kerja keras diri sendiri, jangan hanya mengandalkan fasilitas yg orang tua berikan," jelasnya.


Selain itu, lanjut Ayuna, sebagai mahasiswa harus bisa menyiapkan planning untuk masa mendatang dan mengetahui spesifikasi diri serta mampu menjadi sukses seperti yang diharapkan. "Harus ada rencana, jangan hanya mengalir," pungkasnya. (Muna)

 
KAMPUS, PARIST.ID- Pemukulan gong oleh Plt Bupati Kudus, M Hartopo menjadi simbolis dibukanya Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Kudus pada Sabtu, (05/09) kemarin. PBAK yang akan diselenggarakan selama Sabtu-Senin (05-07/09) secara virtual melalui aplikasi Zoom.

Dalam sambutanya, Plt Bupati Kudus, M Hartopo, menyayangkan, ribuan mahasiswa baru memulai masa perkuliahan di tengah-tengah pandemi covid-19. Meski demikian, Rektor dan semua jajaran bisa diusahakan agar mahasiswa baru melewati masa perkuliahan tidak lewat virtual saja.  “Boleh diadakan temu muka pada kuliah umum tapi tentu dengan dislipin protokol kesehatan,” ujarnya.

Ia juga memotivasi mahasiswa baru agar jika menginginkan kesuksesan di bangku kuliah, jangan hanya mengandalkan belajar saja,  tapi harus berkreasi dan berinovasi ditambah dengan hormat dan patuh kepada orang tua. 

Dalam kesempatan yang sama, Rektor IAIN Kudus, Mundakir, mengatakan, ada sekitar 3000 mahasiswa baru yang terdaftar, adapun jika ditotal dengan mahasiswa yang lama berjumlah 17 ribu. “Satu sisi membanggakan dan sisi lain merupakan tanggung jawab yang amat berat dalam proses pendidikan,” katanya.

Adapun jumlah mahasiswa, lanjut Mundakir, tahun ini agak sedikit menurun secara jumlah namun, secara nasional jumlahnya masih sangat tinggi. Meskipun begitu ada berkah lain adanya pandemi korona ini. Bahwa PTKIN sering dipandang sebagai perguruan tinggi yang kurang melek teknologi, tapi PMB PTKIN bisa mendapat rekor muri. “Pada faktanya kita bisa menyeimbangkan dengan perguruan tinggi lain,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III, Ihsan, menyampaikan, PBAK tahun ini menjadi luar biasa dan berbeda karena dilaksanakan secara daring. Dengan panitia yang berjumlah 170 mahasiswa dari DEMA SEMA, Fakultas dan UKM ada hal baru, teknik  baru, dan suasana baru yang harus disikapi bersama.  “Sebab dijalankan serba virtual masih ada beberapa mahasiswa yang running, belum mendaftar tapi tetap kita bagikan link PBAK,” ungkapnya. 

Ia juga menjelaskan, PBAK akan dilaksanakan selama tiga hari ke depan, yakni hari ini pembukaan dan dilanjutkan materi ke IAIN-nan yang akan disampaikan Rektor IAIN Kudus. Selanjutnya, PBAK hari kedua akan disajikan materi ke-fakultas-an dan hari ketiga akan digelar pula malam inagurasi. 

“Walaupun PBAK dilaksanakan secara daring, tentu teman-teman ingin berekspresi di malam inagurasi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,” jelasnya. (Umi/Kholil)


KAMPUS, PARIST.ID - Ribuan mahasiswa baru IAIN Kudus mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2020 secara daring. Berbeda dari tahun sebelumnya, PBAK tahun ini dilaksanakan secara Virtual lewat aplikasi Zoom berskala besar, Senin (05/09)


Ketua Panitia, Muhammad Fikri Abdun Nasir mengatakan, dari total 2590 mahasiswa baru, sudah ada 2381 mahasiswa mendaftar PBAK. Menurutnya ada berbagai kendala yang menyebabkan beberapa mahasiswa belum mendaftar PBAK sampai saat ini. 


"Ada beberapa mahasiswa yang terkendala di registrasi, ada yang belum bayar UKT, ada yang telat bayar, dan sebagainya," jelasnya saat dihubungi reporter Parist.Id


Fikri juga menjelaskan mahasiswa yang belum mendaftar tetap bisa mengikuti PBAK lewat nomor yang telah disediakan panitia 

"Ada alternatif supaya bisa ikut, linknya tetap dibagikan," ujarnya.


Meskipun secara daring, peserta PBAK harus mengikuti seluruh kegiatan dengan tertib dan kondusif. Setiap peserta wajib mengikuti peraturan halnya model pakaian, etika berkomunikasi, dan aturan-aturan yang dibuat panitia.


"Saya berharap peserta bisa mengikuti dengan baik dan tertib hingga hari terakhir. Sehingga dari kegiatan ini mereka tak sekedar mendapatkan peralihan status dari siswa menjadi mahasiswa, tetapi juga mendapatkan kesadaran dalam cara pandang, cara berpikir, dan perubahan sikap termasuk dalam menata masa depan," harapnya.


Sementara itu, Nazla Jayyidah, salah satu peserta PBAK dari Prodi KPI, mengaku belum bisa menyesuaikan dengan pelaksanaan PBAK ini. Ia merasa kesulitan di awal karena gerogi dan kurang percaya diri.


"Butuh tenaga ekstra dan harus sabar menunggu. Kesal juga saat tiba-tiba kuota habis saat belum di acc host nya," ujarnya. (Olip/Hasy)


KAMPUS, PARIST.ID – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) menggelar acara penutupan KKN IK DR melalui aplikasi zoom dan streaming YouTube. KKN IK diikuti oleh 2409 mahasiswa dan dibagi menjadi 204 kelompok. 


Selama 2 bulan pelaksanaan, mahasiswa banyak menghasilkan karya yang patut untuk di apresiasi. Total dari produk KKN IK DR Juli – Agustus diantaranya 6015 poster edukatif, 2107 video kreatif, 605 seminar, 195 Kerjasama Kelembagaan, dan 199 produktivitas keilmuan, Senin (01/09).


Walaupun dilaksanakan secara daring, tidak membatasi pengabdian kepada masyarakat dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang luar biasa dalam bentuk webinar. Selain itu, juga banyak melaksanakan sosialisasi terhadap bentuk kepedulian covid-19 dan pelaksanaan lomba dengan tema moderasi keberagamaan. 


Dalam hal ini, Rektor IAIN Kudus, Mundakir mengapresiasi atas DPL dan seluruh mahasiswa KKN yang telah menghasilkan karya-karya yang luar biasa.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak/Ibu dosen yang sudah mendampingi mahasiswa selama kegiatan KKN berlangsung," tuturnya.


Selanjutnya, Mundakir menyampaikan, mengenai konten keagamaan seperti pengajian perlu diterapkan terus untuk generasi milenial.

“Karena sekarang zamannya digital, maka konten keagamaan perlu di pertahankan untuk disuguhkan kepada masyarakat terutama generasi milenial," tuturnya.


Ketua LPPM IAIN Kudus, Muhammad Dzofir mengatakan, dari sekian banyak karya, tidak ada yang bersinggungan dengan SARA dan melanggar UU.

“Karena sebelum membuat karya atau konten, mahasiswa berkoordinasi dengan pihak DPL,” ungkapnya.


Terakhir, Wakil Rektor 1, Supaat menyampaikan, setelah terlaksananya KKN, pihak kampus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan layanan secara offline dalam tugas akhir (skripsi/tesis).


“Silakan mahasiswa untuk datang dan berkomunikasi dengan dosen pembimbing. Kami berharap, mahasiswa dapat menyelesaikan studinya dalam 8 semester dan menjadi bagian wisuda di bulan Juni yang akan datang," pungkasnya.(Mirna)


Judul : Sister Fillah, You'll Never Be Alone

Penulis : Kalis Mardiasih
Cetakan : 1, April 2020
Penerbit : Qanita (PT. Mizan Pustaka)ISBN : 978-602-402-177-1
Halaman : 126 Halaman
Resensator : Muayyadah

Jika Kartini adalah hak perempuan, perjuangan kesetaraan gender, dan nasionalisme Indonesia di akhir abad ke-19, maka Kalis Mardiasih adalah generasi tokoh feminisme di era sekarang. Selain memperjuangkan kesetaraan gender melalui oral approach, ia juga mendominasinya dengan scriptual approach. 

Obrolan perempuan justru menjadi menarik jika yang mendominasi dan mengawali juga perempuan. Setelah menerbitkan buku berjudul "Muslimah yang Diperdebatkan", belum lama ini ia juga merilis buku "Sister Fillah, You'll Never Be Alone". Dalam buku terbarunya tersebut, Kalis membuka fenomena masih banyaknya kasus keseteraan gender di sekitar kita.  Belum lagi, perempuan dititikberatkan pada kekurangan. Terlebih diskursus kekurangan yang membuka jalan kesalahan dan kekhilafan bagi perempuan. 

Di balik kekurangan perempuan tersemat kelebihan salah satunya dari penulis itu sendiri. Kelebihannya dalam mengemas buku dengan bahasa teks yang ringan, sedang bahasa konteks mencengangkan. Cover merah jambu menambah corak identitas warna kebanyakan perempuan yang tampak manis ditambah quote khas di setiap bagian awal sub bab.

Pada bab awal pembaca sudah dikejutkan  kata pengantar oleh Nur Rofiah, penulis yang juga aktivis kesetaraan gender sekaligus Dosen di Perguruan Tinggi Ilmu Alquran Jakarta. Memberikan ulasan tentang bagaimana perempuan bertanya balik dengan segala apa yang dituduhkan padanya. Bahkan seringnya mendapat perhatian soal agama yang digemborkan para da'i menuai kritik pedas bahwa dakwah bukan soal kebenaran tetapi etika dan tepa selira.

Halaman demi perlahan dibuka, pembaca perlu memerhatikan bagian kemanusiaan yang dipaparkan. Eksistensi perempuan adalah kemanusiaan. Mengapa? Status perempuan diperdebatkan tak boleh memimpin dan tugas wajibnya adalah sebagai ibu rumah tangga. Ia menjawab bahwa perempuan multitasking.

Adapun yang dicatat Shelina Janmohammed dalam bukunya Generation M, keseimbangan keluarga, diri dan tempat kerja, serta pergeseran dalam dinamika gender di rumah. Sebuah jajak pendapat yang diadakan oleh koran Guardian dan lembaga pemikir Demos pada warga muslim di Inggris 2015, menemukan, kebanyakan anak muda muslim Inggris menolak pandangan bahwa perempuan yang sudah menikah mesti tinggal di rumah, sedangkan suami mereka pergi bekerja. dalam riset tersebut, 50% responden usia 55 tahun setuju dengan pernyataan tersebut.

Selain membahas secara status dan perannya juga tentang lahiriyah perempuan apalagi kalau tidak hijab atau kerudung. Ada kurang lebih dua sampai tiga sub bab yang membicarkan keduanya. Bagaimana jilbab di Indonesia dan luar negeri oleh Jacinda Ardern, temannya.

Ia berbicara bahwa jilbab tidak dihayati oleh kesalehan pribadi tetapi juga identitas politik yang melekat pada gerakan massa tertentu. Sekarang masih bisa diperdebatkan soal menyikapinya.

 Lalu, yang menarik adalah pembahasan tentang masihkah zaman sekarang perempuan belum setara sehingga butuh kesetaraan? beliau kembali menjawab dengan realita secara nyata di kehidupan masyarakat.

Akhir kata perempuan makhluk unik, kilas baliknya bisa ditemukan di setiap cerita keseharian, salah satunya karya Kalis Mardiasih ini. Fenomena sederhana diulik dengan bahasa renyah. Namun terkadang pembaca pemula masih terasa keberatan bila antar bab tiada relasi tekstual. Sekiranya itu sedikit kekurangan buku ini. 

Mau tahu lebih banyak tentang perempuan? silakan baca buku ini. Terima kasih

KAMPUS, PARIST.ID - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Kudus menggelar pelatihan editing, layouting, dan penerbitan buku. Dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan covid-19, sebanyak 25 peserta yang lolos seleksi mengikuti pelatihan yang berlangsung di Aula  Lantai 3 Gedung Rektorat, Jum'at (24/07)

Mengusung tema "Dunia Penerbitan dan Diseminasi Ilmu Pengetahuan", acara yang dipandu oleh Aat hidayat ini berlangsung secara offline maupun online lewat aplikasi Zoom. 

Ketua LPPM IAIN Kudus, Muhammad Dzofir, mengatakan, pelatihan editor ini bertujuan untuk mencari bibit handal dalam hal editing dan layouting di IAIN Kudus Press.
"Tujuan utamanya adalah melakukan recruitment calon editor  untuk bekerja sama dengan IAIN Kudus press," ungkapnya.

Melalui pelatihan ini, ia berharap IAIN Kudus  press dapat menjadi membackup karya-karya penelitian dosen dan menerbitkannya dalam bentuk buku dan targetnya di tahun ini.

Senada dengan Dzofir, Wakil Rektor I Supaat menyampaikan, IAIN Kudus press harus menjadi media yang dapat menampung dan mewadahi karya-karya dosen. 

Supaat menekankan, buku-buku yang diterbitkan harus reputable dan memiliki kualifikasi yang dipercaya orang.
"Reputable dalam arti apa yang kita kerjakan betul-betul memiliki manfaat yang bagus untuk kampus," jelasnya. 

Terakhir, ia berpesan kepada calon editor untuk memaafkan kesempatan ini sebaik-baiknya.
"Perbarui niat, bekerja sepenuh hati. Semoga tahun 2020 ada naskah yang diterbitkan IAIN Kudus Press," pungkasnya. (Maya/hasyim)

Ilustrasi: liputan6.com

oleh : Umi Zakiatun Nafis*

Minat baca bangsa Indonesia memang sangat memprihatinkan, terbukti melalui hasil survey "Most Littered Nation In the World" oleh Central Connecticut State Univesity Maret 2016 yang menempatkan Indonesia jatuh di peringkat ke-60 dari 61 negara, Posisi Indonesia persis berada di bawah Thailand peringkat 59 (Kompas, 29/8/2016).

Sementara itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2012, mengungkapkan, banyak anak di Indonesia Timur menghadapi tantangan multisektoral, salah satunya adalah kesenjangan pendidikan dan kemampuan dasar. Keterbatasan itulah yang membuat empat dari 34 provinsi di Indonesia, terutama di Indonesia Timur memiliki tingkat literasi terendah, yakni Papua (36,1 persen), Nusa Tenggara Barat (16,48 persen), Sulawesi Barat (10,33 persen), dan Nusa Tenggara Timur (10,13 persen). 

Ada beberapa problematika bangsa Indonesia yang menyebabkan budaya membaca tidak lagi digandrungi, misalnya kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran yang berbasis literasi masih rendah, buku bacaan yang ada masih minim, kurang memadainya kondisi perpustakaan, siswa sulit mengakses buku-buku yang bisa menarik minat baca atau bahkan guru dan orang tua sendiri mempunyai minat baca yang rendah.

Disamping itu, upaya pemerintah dalam meningkatkan pendidikan–termasuk minat baca-- memang sudah dilakukan antara lain berupa naungan payung hukum di bawah UU. No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Pencanangan Gerakan Membaca. Disusul dengan Permendikbud No. 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti, bentuk implementasinya berupa penggunaan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran. 

Sayangnya, upaya tersebut tidak menjadikan masyarakat Indonesia sadar mengedepankan pentingnya baca buku. Lalu bagaimana dengan negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, Cina, Italia atau bahkan Jerman dan negara lainya yang masyarakatnya berbudaya membaca. 

Mulai Sedari Dini

Menurut hasil studi terhadap 24 negara di dunia, menghasilkan bahwa Jepang merupakan negara dengan kemampuan literasinya yang terbaik. Penelitian yang dilaporkan OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) terhadap 166.000 partisipan yang berumur 16-65 tahun mengungkapkan bahwa orang dewasa Jepang mempunyai kemampuan super ketimbang mereka-mereka dari negara lain.

Dilansir dari TribunJogja.com, ada beberapa kebiasaan masyarakat Jepang tentang kebiasaan membaca mereka salah satunya yakni membaca di tempat umum. Di Jepang, terdapat banyak sekali ruang publik yang umumnya dibuat untuk membaca. 

Jika di Indonesia kerap kali banyak orang selalu sibuk dengan gawainya saat berada di transportasi umum, maka kita akan disuguhi pemandangan yang berbeda saat berada di Jepang. Sekalipun sambil nongkrong ataupun minum kopi, masyarakat kerap memanfaatkan fasilitas publik itu untuk membaca. Termasuk pula di dalam alat transpostasi umum.

Rupanya kebiasaan membaca Jepang memang diawali sejak di bangku sekolah dasar. Menurut Yoshiko Shimbun, sebuah harian nasional Jepang terbitan Tokyo, para guru mewajibkan para siswa untuk membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Kebijakan ini telah berlangsung selama 30 tahun ini, diakui ahli pendidikan Jepang terlalu bersifat behavioristik, di mana terdapat reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) dalam pelaksanaan aturan tersebut. Namun, kebijakan tersebut berpengaruh besar dalam mengatur kebiasaan membaca masyarakatnya.

Selain itu,  ada salah satu kegiatan membaca gratisan yang dilakukan sambil berdiri di toko buku Jepang yang disebut dengan Tachiyomi. Di Jepang, banyak toko buku yang menyediakan buku-buku yang plastik pembungkusnya sudah terbuka, sehingga dapat dimanfaatkan oleh banyak orang untuk melakukan kegiatan tachiyomi ini.

Beberapa kebiasaan negera Jepang memang tidak mudah untuk diaplikasikan di Indonesia. Namun, setidaknya kebiasaan membaca masyarakat Jepang yang memang dilakukan sedari dini menjadi contoh buat para orang tua, guru, dosen, mahasiswa ataupun diri kita sendiri bahwa membaca memang harus dipaksa. Diawali paksaan yang kemudian menjadi kebiasaan dan berlanjut sebagai kebutuhan.

Yuk budayakan membaca !

*Pegiat Literasi Mahasiswa IAIN Kudus



Bapak izinkan ku bersyair laiknya dikau meskipun tak akan pernah bisa.
Syairmu mematriku akan ketabahan di bulan juni

"Tak ada yang lebih tabah dari  hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu.

Izinkan aku membalasnya
"Tak ada yang lebih sakit dari duka bukan juli
Dikabarkannya pulangmu kepada hadirat ilahi robbi"

Dikau melanjut dengan bait
"Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu"

Aku melanjutnya dengan bahasa kalbu

"Tak ada yang lebih sedih
Dari duka bulan juli
Dihampirinya kepingan kasih cinta
Yang kini tinggal kenangan belaka"

Seakan tak bungkam begitu saja
Kau merintik sajak

"Tak ada yang lebih arif Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu.

Tertegun, apa yang bisa kukata 
"Tak ada yang lebih ridho
Dari duka bulan juli
Dibiarkannya pergi bertemu kekasihnya
Dijemput dengan rasa damai"

Bapak Sapardi Djoko Damono
Selamat jalan
Jalan baik menyertai
Doa baik menghiasi duka bulan juli.

Kudus, 19 Juli 2020
Azzahra Muza

[Telah terbit]

Anggota Detik LPM Paradigma proudly present 🥳


Buletin Detik Edisi April 2020

Buletin detik merupakan hasil karya dari anggota Detik LPM Paradigma IAIN Kudus yang membahas tentang  isu yang beredar seputar kampus dan informasi menarik lainya.

Pada edisi kali ini, 3 buletin detik membahas dinamika kampus di masa pandemi. Simak selengkapnya pada file di bawah ini.









[Telah terbit]

Anggota Detik LPM Paradigma proudly present 🥳


Buletin Detik Edisi Juli 2020

Buletin detik merupakan hasil karya dari anggota Detik LPM Paradigma IAIN Kudus yang membahas tentang  isu yang beredar seputar kampus dan informasi menarik lainya.

Pada edisi kali ini, buletin detik membahas sistem perkuliahan online, layanan wa center, maupun trend gowes yang masih dalam suasana pandemi. Simak selengkapnya pada file di bawah ini.





Penanggung Jawab : M Nur Ulyanuddin
Pimpinan Redaksi : Umi Zakiatun Nafis
Reporter : Vina, Aulia, Mirna
Opini : Muna Khoirun Nisa, Ummesiyah 
Sastra : Muayyadah, Kholifatun
Editor : Hasyim 
Layouter : Mahfudz


Ilustrasi: suarasurabaya.com

Oleh : Miqdad Niazi*

Disadari atau tidak, virus korona telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan bermasyarakat. Mulai dari ekonomi, sosial, budaya bahkan sampai agama. Adanya virus corona mempengaruhi cara berinteraksi umat muslim dengan sesama muslim.

Salah satu adab dan keutamaan ketika bertemu dengan sesama muslim yaitu dengan saling mengucapkan salam dan saling berjabat tangan (salaman). Sesuai dengan hadis Rasulullah dari al-Bara bin Azib radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah.

Hadis ini menunjukkan keutamaan berjabat tangan ketika bertemu, dan ini merupakan sesuatu yang dianjurkan berdasarkan kesepakatan para ulama, bahkan ini merupakan sunnah yang muakkad (sangat dianjurkan).

Lalu ketika melihat situasi yang sekarang, dimana virus corona masih menghantui masyarakat tidak hanya di Indonesia tetapi masyarakat di seluruh dunia. Apakah tetap bisa melakukan interaksi sesama muslim dengan berjabat tangan?

Seperti yang diketahui, salah satu cara penularan virus corona ini bisa disebarkan melalui kontak fisik. Karena virus corona bisa menular lewat percikan air ludah yang keluar dari penderita Covid-19 saat berinteraksi baik bicara, bersin atau batuk. Selain itu penularan Covid-19 juga bisa melalui kontak fisik secara langsung misalnya bersalaman atau berpelukan.

Dasar Kaidah Usul Fikih

Pada dasarnya bersalaman merupakan suatu kebaikan dan sesuatu yang dianjurkan ketika bertemu dengan muslim yang lain. Hanya saja, saat ini dengan berjabat tangan ternyata menjadi salah satu perantara penularan virus korona. Oleh sebab itu, seorang muslim ketika bertemu dengan muslim yang lain dihimbau untuk tidak berjabat tangan atau kontak langsung. Karena untuk mencegah penularan virus korona yang sedang mewabah. 

Jika dilihat dari perspektif kaidah usul fikih, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, telah menyebutkan sejumlah cabang kaidah yakni

 درع المفسداولى   من جلب المصالح
'Dar'ul mafaasid  aulaa min jalbil mashaalih'  atau dalam versi lain Dar'ul mafaasid muqaddam ala jalbil mashaalih'
Artinya : Mencegah bahaya lebih utama daripada menarik datangnya".  Kaidah ini merupakan kaidah fikih cabang dari kaidah pokok "adh-dhororu yudzlu" yang artinya bahaya harus dihilangkan.

Kaidah ini berlaku dalam segala permasalahan yang didalamnya terdapat pencampuran antara unsur mashlahah dan mafsadah. Jadi bila mafsadah dan mashlahah berkumpul, maka yang lebih diutamakan adalah menolak mafsadah.

Dalam ajaran agama Islam menjauhi penyebab keburukan lebih diutamakan daripada sesuatu yang mendatangkan manfaat. Kondisi saat ini termasuk ke dalam kondisi yang darurat, dan sebagai muslim yang taat kita juga harus taat terhadap peraturan yang pemerintah dan ulama tetapkan serta menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran virus corona.

Umat muslim bisa memberikan ucapan salam tanpa berjabat tangan, karena di dalam ucapan salam memiliki arti doa keselamatan bagi yang mengucapkan dan yang membalas. Serta dengan memberikan salam terdapat doa agar diberikan rahmat serta kasih sayang Allah dan diberikan kebaikan yang melimpah yaitu berupa keberkahan.

*Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Semester 7

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.