KAMPUS, PARIST.ID - Senat Mahasiswa (SEMA) PTKIN Nasional mengeluarkan surat pernyataan sikap terkait adanya pembatalan kebijakan pengurangan UKT bagi Mahasiswa PTKIN. Surat Pernyataan dilayangkan setelah Direktur Jendral (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis) mengeluarkan Surat Edaran (SE) yang berisi pencabutan kebijakan pemangkasan UKT pada surat edaran sebelumnya, Senin (27/04/20).

Melalui surat ini, SEMA PTKIN Nasional secara tegas menghimbau seluruh mahasiswa agar terlibat dalam memperjuangkan kebijakan pengurangan UKT, baik yang memperoleh UKT golongan tertinggi maupun terendah. Menghimbau dan mendesak Dirjen Pendis dan Forum Pimpinan PTKIN agar ikut serta terlibat dalam memperjuangkan kebijakan UKT dan dengan tegas menuntut  Menteri Agama Republik Indonesia untuk mengeluarkan kebijakan pengurangan UKT semester ganjil 2020/2021 bagi mahasiswa di lingkungan PTKIN dan dimuat dalam Keputusan Menteri Agama.

Surat pernyataan dilayangkan setelah mempertimbangkan berbagai hal, seperti metode Work From Home (WFH) yang berdampak pada penurunan penghasilan wali mahasiswa. Faktanya tidak semua wali mahasiswa berasal dari kalangan mampu secara ekonomi. Adanya penghematan biaya operasional penyelenggaran pendidikan selama kuliah daring dan tidak maksimalnya penggunaan UKT pada semester genap akibat adanya COVID-19.
Surat balasan Senat Mahasiswa (SEMA) PTKIN Nasional terkait surat edaran  Dirjen Pendis

Dalam surat tersebut, Dirjen Pendis juga dinilai telah melakukan maladministrasi dan tidak konsisten dalam membuat kebijakan terkait pengurangan UKT.

Menanggapi surat ini, Ketua SEMA IAIN Kudus, Rosyda Auliya Rahma, mengaku SEMA Institut telah melayangkan surat kepada Pimpinan IAIN Kudus untuk segera menindaklanjuti surat dari Dirjen Pendis terkait pembatalan potongan UKT dan menyampaikan informasi ini kepada publik. 

Selain itu, lanjut Rahma, SEMA juga mengambil langkah virtual untuk menginformasikan tentang yang terjadi saat ini kepada seluruh mahasiswa IAIN Kudus.

”Kami bekerjasama dengan DEMA Institut, secara langsung sejumlah ormawa juga ikut bergerak," jelasnya. (Hasyim)


Tak dipungkiri isu covid-19 yang hingga kini masih masih didengungkan menjadikan hari penting lain pun terabaikan. Termasuk Hari Buku Nasional yang semestinya diperingati setiap 23 April. Sejatinya, hari-hari penting termasuk hari buku bukan melulu tentang seremonialnya, melainkan bagaimana implementasi kita untuk mengilhami peringatan hari buku.

Berbicara mengenai buku bagi sebagian orang memang hal yang membosankan dan cenderung menambah beban pikir. Penting untuk mengubah mindset seperti itu agar menjadikan buku sebagai  gudang ilmu, jendela dunia hingga teman penambal kebosanan di masa pandemi.


Buku atau Gadget 

Sayangnya, ketika melihat minat baca masyarakat Indonesia begitu rendah. Berdasar data UNESCO, menyebutkan, Indonesia menempati urutan ke 2 dari bawah dunia mengenai minat baca buku dengan presentase setiap 1.000 orang, hanya 1 orang saja yang rajin membaca.

Di sisi lain, 60 juta penduduk Indonesia menggunakan gadget dan menjadi negara keempat paling aktif bersosial media. Apalagi di era digitalisasi sebagain orang lebih aktif berselancar di media sosial untuk kegiatan chat, stalk, bahkan hack. Lebih lagi, sering berkomentar tidak jelas di beberapa postingan.

Buku kian tergeser oleh gadget bahkan telah tergantikan. Upaya menyesuaikan pekembangan zaman pula dilakukan demi meningkatkan minat baca buku mulai dari penyediaan ebook, jurnal online, bahkan perpustakaan nasional menyediakan platform khusus dan aplikasi tertentu.

Waktu Bukan Alasan
Sekira sudah satu bulan lebih tiga hari masa pandemi covid-19 dan himbauan pemerintah untuk tetap di rumah saja. Hal ini menjadikan beberapa orang tentu mengalami kebosanan sehingga mereka mengisi hari-hari dengan hal yang berbeda dari biasanya. Ada yang memilih memasak, jogging pagi hari, membuat konten video bahkan membaca buku.

Membaca buku merupakan kegiatan pasif yang sangat berpengaruh dalam proses pembentukan kedamaian di rumah. Membuka lembar demi lembar halaman, memahami satu frasa dengan frasa yang lain, mencermati dan mengkritisi setiap bab demi bab kesemuanya adalah proses menuju kedewasaan berpikir. Dewasa dalam berpikir berdampak kepada laku jiwa dan raga yang baik. 

Proses kecintaan dengan buku minimal bisa dimulai dalam lingkup keluarga. Misalnya dengan orang tua mematri anak-anaknya untuk mencintai buku. Dekorasi rumah gemar membaca atau poster seruan membaca bahkan menjadikan rumah perpustakaan keluarga bisa saja dilakukan, sederhana saja anak mengenali sesuatu dengan knowing  (pengetahuan) setelah itu acting (praktik pengetahuan).

Di masa pandemi seperti ini dorongan membaca dari keluarga menjadi alasan penting demi tercapainya kesuksesan dalam minat baca buku. Bosan di rumah bukan alasan tidak bisa berbuat apapun, mulai dari keluarga untuk senantiasa membaca bisa menjadi alternatif mengisi kebosanan.

Semudah itukah? Iya membaca buku adalah  kegiatan paling mudah dan tidak membutuhkan biaya, cukup diam menikmati lembaran demi lembaran tulisan yang tersusun rapi.

Meningkatkan minat baca menjadi tanggung jawa bersama, dari membaca jendela dunia terbuka. Indonesia butuh orang cerdas dan bijak menyikapi persoalan bangsa, maka mulai bijak dan cerdas dengan membaca buku.

Selamat Hari Buku

Oleh : Muayyadah

Oleh: Umi Zakiatun Nafis

Kesetaraan gender yang sering digaungkan berbagai komunitas memiliki pengaruh pada jumlah tenaga kerja perempuan di pasar tenaga kerja Indonesia. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik menyebutkan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Indonesia pada Februari 2019 sebanyak perempuan hanya 50,5 persen. 

Meski tidak sepenuhnya setara, tapi perempuan masa kini jauh berbeda dengan masa Era R.A Kartini. Batas langkah untuk beraktivitas keluar rumah jauh lebih luas. Di masa lampau, perempuan masih sangat terikat dengan nilai tradisional yang mengakar di masyarakat. Sehingga jika ada wanita yang berkarir untuk mengembangkan keahliannya di luar rumah, maka mereka dianggap telah melanggar tradisi sehingga mereka dikucilkan dari pergaulan masyarakat dan lingkungannya. 

Berbeda zaman sekarang banyak dari perempuan yang memilih untuk berkarir dan meninggalkan pekerjaan rumah tangga. Meski kedua hal tersebut bisa berjalan beriringan namun tak ayal jika salah satunya terbengkalai. Perempuan yang memilih berkarir tidak mulu hanya beralasan ingin memiliki uang sendiri. Bisa karena keadaan ekonomi keluarga yang mengharuskan ia memilih bekerja disamping menjalankan kewajibanya sebagai ibu rumah tangga. Negatifnya, seringkali perempuan berkarir berdampak pada perkembangan anak bahkan pada urusan rumah tangga. Kegagalan rumah tangga seringkali dikaitkan dengan kelalaian seorang istri dalam rumah tangga. Hal ini bisa terjadi apabila istri tidak memiliki keterampilan dalam mengurus rumah tangga, atau juga terlalu sibuk dalam berkarir, sehingga segala urusan rumah tangga terbengkalai.

Berbeda di masa pandemi Covid-19 ini, perempuan pekerja yang dirumahkan tentu  memiliki waktu lebih banyak untuk keluarga. Masa darurat ini memang tidak melulu dipandang negatif, apalagi sebagai perempuan harus bisa mengambil sisi positifnya. Tidak hanya perempuan yang sudah berumah tangga, namun juga bagi mereka yang masih muda justru harus punya gairah mengembangkan diri di masa sulit seperti ini. 

Himbauan di rumah saja bagi kita layaknya manusia yang sering beraktivitas di luar rumah memang bukan hal yang wajar. Tapi bagi R.A Kartini dulu, dirumah saja merupakan belenggu jeruji nya setiap hari dari ayahnya. Sejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya berawal ketika ia yang berumur 12 tahun dilarang melanjutkan studinya setelah sebelumnya bersekolah di Europese Lagere School (ELS) di mana ia juga belajar bahasa Belanda. Larangan untuk Kartini mengejar cita-cita bersekolahnya muncul dari orang yang paling dekat dengannya, yaitu ayahnya sendiri. 

Ayahnya bersikeras Kartini harus tinggal di rumah karena usianya sudah mencapai 12 tahun, berarti ia sudah bisa dipingit. Keputusan ayahnya itu tidak menjadikan Kartini berdiam diri meratapi takdir. Ia terus belajar dan memperjuangkan hak emansipasi wanita kala itu.

Hingga Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Peringatan Hari Kartini tak melulu harus memakai kebaya yang merupakan pakaian tradisional perempuan Indonesia yang terbuat dari bahan tipis dan dikenakan dengan sarung, batik, atau songket.  Keadaan saat ini kita sedang dipingit oleh kondisi alam tentu tak ayal untuk tidak memeringati Hari Kartini. Metode sederhana memeringati Hari Kartini yakni dengan belajar dari kehidupan R.A Kartini ketika di rumah saja.

Bergelut dengan Literasi

Selama masa ia tinggal di rumah dan sebab kefasihan Kartini berbahasa serta pengetahuannya yang luas berkat banyak membaca, Kartini pun berhasil menulis banyak surat kepada sahabat-sahabatnya di banyak tempat. Kumpulan surat-suratnya itu (1879-1904) lantas diterbitkan menjadi sebuah buku lumayan tebal pada tahun 1911 yang diberi judul, “Door Duisternis tot Licht” (Habis gelap Terbitlah Terang).

Tidak menutup kemungkinan RA Kartini pandai menulis karena ia juga rajin membaca. Kartini banyak membaca surat kabar di Semarang. Kartini pun lantas kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Ini hal yang patut kita teladani.

Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar, Surat-Surat Cinta karya Multatuli. Ada juga De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi. Masih ada juga tulisan karya Augusta de Witt yang dibacanya. 

Kartini 16 tahun sudah menulis sebuah esai dengan memakai bahasa Belanda. Tulisannya adalah tentang “Upacara Perkawinan Pada Suku Koja.” Kemudian sekitar tiga tahun kemudian, tulisannya tentang seni Jepara, dalam bahasa Belanda juga diterbitkan di Bijdrage Voor Taal, land en Volkenkunde,sebuah jurnal ilmiah sangat bergengsi di Belanda. 

Kebiasaan membaca dan menulis RA Kartini tentu  bisa kita aplikasikan di masa pandemi ini. Mulailah dengan bacaan buku yang disukai dahulu sebelum membaca buku yang kategori berat pembahasanya. Beruntungnya masa pandemi ini berada pada kehidupan yang teknologinya sudah maju. Tidak perlu jauh-jauh ke toko buku untuk membeli buku, cukup cari di search engine kita bisa mendapat buku yang kita inginkan. Lebih mudah dibanding masa RA Kartini dulu. Patutnya kita bersyukur dengan cara meneladani kebiasaan membaca dan menulis RA Kartini.

Kartini Juga Memasak

Ketekunanya dalam menulis juga dipraktikan RA Kartini di dapur. Kepandaian memasak perempuan kelahiran Jepara itu terungkap dari buku biografi yang ditulis oleh Elisabeth Keesing berjudul "Hidup: Suratan dan Karya Kartini". Dalam buku setebal 226 halaman itu, Keesing menulis Kartini pandai dalam seni membatik, mengukir dan memasak.

Khusus di dunia kuliner, Kartini pernah menulis di beberapa suratnya bahwa dia sering mencoba berbagai resep makanan tradisional Jawa kesukaannya dan masakan khas Eropa. Resep tersebut kemudian dibukukan dalam beberapa jilid oleh adik Kartini, RA Kardinah.

Buku yang diberi judul "Lajang Panoentoen Bab Olah-Olah" terbit dalam huruf aksara Jawa pada tahun 1918. Ternyata, buku tersebut memperoleh banyak sambutan dan pujian. Salah satunya datang dari Ajun Inspektur Pendidikan Pribumi saat itu.

Sebagaimana perempuan, memasak adalah passion bagi mereka bahkan ada pula yang menjadikanya sebagai hobi. Meski sejatinya memasak adalah sebuah kebutuhan. Perempuan dan memasak memiliki kedekatan hubungan dalam keseharianya. Di masa sulitnya, lagi-lagi RA Kartini tetap saja produktif. Halnya di masa pandemi ini, banyak perempuan muda seusia saya yang keseharianya kuliah, sekolah, berorganisasi atau hangout ternyata mengubah kebiasaan mereka secara signifikan. Mereka lebih produktif berkreasi untuk membuat makanan. 
Kondisi seperti ini tidak melulu kita pandang sebagai paradigma negatif. Nilai positifnya justru membuat perempuan lebih produktif dengan meneladani RA Kartini kita bisa menjadi perempuan sejati di masa pandemi. 

KAMPUS, PARIST.ID - Sejumlah mahasiswa perwakilan dari 12 Ormawa Fakultas Tarbiyah IAIN Kudus donasikan 1200 masker yakni di Kantor BPBD Kudus, PMI kudus, Balai Desa Ngembalrejo, Masjid Al Muttaqin Ngetuk dan Masjid Islamic Center pada Senin (20/04). 

Pembagian itu dilakukan oleh 12 Ormawa yakni perwakilan SEMA, DEMA Fakultas Tarbiyah serta 10 perwakilan HMPS IPA, IPS, BIOLOGI, MTK, PIAUD, PGMI, PAI, PBA, BKPI, TBI. 

Ketua DEMA Fakultas Tarbiyah, Rovik Hidayat, mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memutuskan penularan Covid-19 di wilayah Kudus dan sekitarnya yakni dengan mendukung anjuran pemerintah untuk tetap jaga jarak aman dan mengenakan masker.

"Tujuan kami berbagi kepada masyarakat, khususnya yang berada di lingkungan kampus IAIN KUDUS," jelasnya saat dihubungi reporter Parist.id melalui pesan whatsapp. 

Ia juga menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk nyata atas kepedulian mahasiswa IAIN Kudus akan kebutuhan masker di masyarakat, dan tentunya tanpa meninggalkan keselamatan pribadinya. Maka agar tetap mengikuti protokol kesehatan, kegiatan ini dilaksanakan oleh perwakilan ketua Ormawa saja.
"Untuk menghindari kerumunan orang, kami hanya mendelegasikan ketuanya saja," pungkasnya.

Menanggapi hal ini, Ketua gugus tugas penanganan Covid-19 IAIN Kudus, Ihsan mengapresiasi kegiatan positif tersebut. Karena dari sisi target dan tujuan pemberian bantuan sudah sesuai arahan dan prosedur yang sudah ditetapkan.

"Target dan tujuan pemberian bantuan sudah sesuai yang diarahkan," tegas Wakil Rektor III IAIN Kudus.

Ihsan juga mengatakan, ada hal lain yg sedang dipertimbangkan demi percepatan penyaluran bantuan dan partisipasi dari mahasiswa IAIN Kudus kepada masyarakat luas, utamanya bantuan berupa masker. Namun dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada.

"Kita sedang mempertimbangkan langkah alternatif dalam penyaluran bantuan secara langsung kepada masyarakat," tandas Ihsan.
(Yan)


KAMPUS, PARIST.ID - Berangkat pengaruh merebaknya covid-19 terhadap perekomian hingga melonjaknya harga beberapa barang, UKM Palwa 51 dan Resimen Mahasiswa IAIN Kudus mendonasikan masker. Didampingi Satgas Pencegahan Covid-19 IAIN Kudus, penyerahan donasi masker kepada masyarakat melalui PMI Kudus berlangsung pada Selasa, (14/04) di Gedung Rektorat IAN Kudus.

Ketua UKM Palwa, Ikhsan, mengatakan, selain kepedulian, mengingat minimnya kesadaran masyarakat akan bahaya covid-19. "Banyak masyarakat yang memang belum menyadari ataupun belum mengerti akan bahayanya covid-19," katanya.

Ikhsan menambahkan, sebanyak 200 masker kami donasikan melalui Palang Merah Indonesia (PMI) Kudus dan BPBD.

Terkait larangan donasi atas nama lembaga, lanjut Ikhsan, ia mengaku sudah mendapat izin dari kampus.  "Sebelumnya kami minta izin dahulu kepada pihak kampus," jelasnya.

Terakhir, ia berharap, kegiatan ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat akan bahaya merebaknya covid-19.

"Tugas kita sebagai aktivis untuk ikut serta mengedukasi masyarakat,"tandasnya.  (Fiski)


KAMPUS, PARIST.ID - Wakil Rektor III, Ihsan, menghimbau  Organisasi Mahasiswa (Ormawa) IAIN Kudus  untuk menghindari penggalangan dana, donasi atau sejenisnya yang mengatasnamakan lembaga kemahasiswaan. Hal tersebut ia sampaikan via grup whatsapp pimpinan Ormawa, pada Sabtu (06/04).

Ihsan, mengatakan, larangan tersebut dilakukan karena lembaga resmi kampus akan bergerak secara terintegrasi untuk melakukan penggalangan melalui gugus tugas penanganan Covid-19 yang juga melibatkan Ormawa.

Persoalannya, lanjut Ihsan, kita berada pada lembaga negara, ketika atribut lembaga kita turun maka transparansi dan pertanggung jawaban donasi harus aman.

"Dan sampai saat ini, pimpinan tidak mengizinkan untuk penggalangan dana kemahasiswaan," jelasnya.

Ihsan juga berpesan agar pimpinan Ormawa tetap merancangkan kegiatan yang bermanfaat dan memungkinkan.

"Silahkan berkreasi dan menyiapkan kegiatan kemahasiswaan dalam koridor social distancing," pesanya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua SEMA IAIN Kudus, Rosyda Auliya Rahma,  mengatakan, beberapa Ormawa telah berkoordinasi dengan SEMA terkait penggalangan dana. Setelah konsultasi ke Warek III ternyata memang tidak diperbolehkan.

"Jadi penggalangan dana lewat satu pintu di lembaga dengan pembentukan satgas resmi dan ada surat tugas dari rektor," katanya.

Rahma mengaku ia tidak mempermasalahkan hal tersebut asalkan penggalangan dana dapat berjalan secara maksimal.

 "Tidak masalah asal bisa maksimal," harapnya.(Arum)

KAMPUS , PARIST ID-Kantin "Adem Ayem" yang  telah berdiri sekitar 15 tahun terletak di Kampus Barat IAIN Kudus terpaksa digusur. Hal ini disebabkan kurangnya sarana prasarana gedung kampus. Kantin tersebut dialihkan menjadi basecamp Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), seperti UKM Musik yang belum mendapat gedung.

Rektor IAIN Kudus, Mundakir, mengatakan, memang masih ada UKM yang belum mempunyai ruang dan gedung sendiri. Ia merasa prihatin kampus belum dapat  memberikan fasilitas yang layak untuk mengembangkan bakat dan minat mahasiswa. 

“Seperti UKM musik yang belum punya basecamp,” jelasnya saat ditemui reporter Parist.id di Gedung Rektorat lantai 2, pada Kamis,(09/04)

Dalam penggusuran ini, lanjut Mundakir, kampus harus mempertimbangkan banyak hal ketika mengambil keputusan. Menurutnya penggusuran  ini menyangkut nasib orang banyak, terutama penjual kantin.

"Sudah dirapatkan, masalah kantin nanti kita pikirkan sambil jalan," sambungnya.

Mundakir menambahkan, satu bulan sebelum penggusuran, pihak kampus sudah menemui pemilik kantin untuk membicarakannya.

"Sudah dipanggil Warek II dan diberi pengertian," imbuhnya.

Terakhir, Mundakir berharap mahasiswa dapat memahami keadaan dan berkenan membeli jajanan di luar kampus.

"Melihat kondisi seperti ini mahasiswa bisa jajan di luar saja," pungkasnya.(Ni'mah/Hasyim)


KAMPUS, PARIST.ID- Beredarnya surat Kementrian Agama RI Direktorat jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) menyarankan pentingnya inisiasi pengurangan atau diskon Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa PTKIN, pada (06/04). Hal ini berangkat dari penyebaran Covid-19 dan berakibat pada menurunnya kemampuan ekonomi wali mahasiswa.  

Menanggapi hal tersebut, Rektor IAIN Kudus, Mundakir, memilih untuk menunggu rilis surat dari Keputusan Menteri Agama (KMA) untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan.

"Sedang didiskusikan para rektor dan plt sekjen, terkait dasar hukumnya. kalau sekadar keputusan Dirjen ada kekhawatiran terkait dengan pelanggaran hukum," katanya saat di wawancara reporter Parist.id. via whatsapp, Rabu, (07/04).

Dalam surat yang dikeluarkan Dirjen Pendis tersebut berisi tentang pengurangan UKT mahasiswa untuk Diploma dan S1 juga SPP mahasiswa S2 dan S3  dengan besaran nominal minimal 10% dari UKT/SPP untuk semester ganjil tahun 2020/2021.

 Pada Senin kemarin, Mundakir menginformasikan, Dirjen memberitahukan bahwa akan ada rilis surat lagi dari KMA setelah adanya diskusi dengan para rektor tentang dasar hukum tersebut.

 "Insya Allah akan segera dibuatkan KMA nya. Semoga berkah dan memberi manfaat untuk semuanya," kata Dirjen Pendis melalui salinan chat WA Mundakir yang dikirim  kepada reporter Parist.id.

Mundakir, mengaku tetap memerhatikan mahasiswa dengan harus mengikuti dasar hukumnya yaitu menunggu dari KMA agar rektor sebagai Kuasa Penggunaan Anggaran (KPA) tidak terjerumus terhadap pelanggaran hukum.

"Para rektor PTKIN sama-sama sedang memperjuangkan nasib mahasiswa," tandasnya. (Fiski)


KAMPUS, PARIST.ID - Dalam rangka membantu pemerintah dalam menangani virus korona atau covid-19, IAIN Kudus berencana membentuk gugus tugas penanganan covid-19. Bersama Lembaga Pengabdian dan Penelitian Masyarakat  (LP2M), gugus tugas juga akan melibatkan mahasiswa dari sejumlah Ormawa untuk ikut berpartisipasi.


Rektor IAIN Kudus, Mundakir, mengatakan, gugus tugas akan dibentuk dari dua pihak yakni pihak mahasiswa yang dipandu Wakil Rektor III dan pihak pegawai yang dipandu oleh Ketua LP2M.


"Dua-duanya resmi dari kampus dan harus bertanggung jawab kepada kampus," katanya saat dihubungi reporter Parist.id melalui pesan whatsapp, Senin  (06/04).


Mundakir, menjelaskan, gugus tugas ini dibentuk dalam rangka membantu tugas pemerintah mengatasi penyebaran covid-19.


"Sifatnya membantu, kalau ada lembaga yang mengajak kerjasama dan ada signifikansinya terhadap kampus, akan kami pertimbangkan," jelasnya. 


Senada dengan Mundakir, Wakil Rektor III, Ihsan, mengatakan, gugus tugas ditugaskan dalam distribusi bantuan yang ada, seperti penyemprotan disinfektan, sosialisasi kepada masyarakat, menjadi tenaga relawan dan lain-lain sesuai dinamika yang ada. 


"Mahasiswa yang menjadi relawan akan dibekali agar memiliki pemahaman dan kesiapan diri," kata Ihsan. 


Lebih lanjut, Ia menambahkan, gugus tugas akan melibatkan Ormawa sesuai dengan keterkaitan bidang kegiatan masing-masing ormawa. 
"Jadi kita jalankan secara proporsional," pungkas Ihsan. (Hasyim)

KAMPUS, PARIST.ID - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) JQH Asy-Syauq menggelar khataman bersama Ormawa IAIN Kudus dengan tujuan mencapai 55 khataman. Mengambil tema "Berbakti pada Negeri" acara dilaksanakan pada Kamis-Ahad, (02-05/04) di rumah masing-masing. Puncak khataman dan doa bersama di grup whatsapp dipimpin  Saiful Mujab. Sedangkan hadroh khataman dipimpin oleh Gus Chasan Albab.  

Ketua UKM JQH, Ahmad Sobri, mengaku berinisiatif mengadakan khataman bersama dengan ORMAWA untuk menjalin tali silaturahmi. 

"Kita bisa memanfaatkan momen seperti ini untuk merekatkan hubungan antar Ormawa IAIN Kudus," ungkapnya saat dihubungi reporter Parist.id via whatsapp

Tidak hanya itu saja, lanjut Sobri, tujuan diadakan khataman ini dengan harapan kuliah online dapat berjalan dengan lancar dan berharap meredanya wabah Covid-19. 

"Semoga kita tetap mendapatkan manfaat ilmu meski kuliah online dan semoga wabah Covid-19 segera membaik seperti sedia kala," harapnya. (Arum)


KAMPUS, PARIST.ID – Berdasar pada hasil rapat para pimpinan sekaligus menjawab surat aspirasi dari SEMA pada poin keempat, wisuda periode Juni bakal ditiadakan. Hal ini karena melihat kondisi darurat ancaman penularan covid-19 yang belum mereda. 

Rektor IAIN Kudus, Mundakir, mengatakan, wisuda periode ini tidak memungkinkan untuk dilaksanakan. Melalui pesan yang digariskan oleh Direktorat Jendral (Dirjen) memutuskan untuk meniadakan penyelenggaraan wisuda periode ini.

"Wisuda memang ditiadakan, tapi mahasiswa tetap mendapatkan ijazah," jelasnya saat ditemui reporter Parist.id pada Kamis, (02/04/2020) di Gedung V Lantai 2.

Mundakir menambahkan, wisuda memang tidak diundur, tapi ditiadakan. Hal ini karena beberapa pertimbangan diantaranya karena jika diundur akan menambah kuota mahasiswa yang seharusnya 1000 kuota menjadi 2000 kuota. Selain itu, mahasiswa yang wisuda di bulan Juni akan terlalu lama menunggu ijazah hingga November mendatang. 

“Kita juga memikirkan nasib mahasiswa yang seharusnya sudah wisuda tetapi harus menunggu beberapa bulan lagi untuk mendapat ijazah,” tambah Mundakir. 

Untuk saat ini, lanjut Mundakir, lebih difokuskan pada bimbingan skripsi, mengingat belum ada prosedur pasti terkait peniadaan wisuda periode ini.

"Prosedur pasti masih diproses dan digodok," tandasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I, Supaat, menjelaskan, sistem penyerahan ijazah bergantung pada perkembangan situasi kedepan sehingga masih belum dipastikan.

"Kalau situasi sudah memungkinkan akan diberikan secara langsung, kalau belum ya online," ungkapnya saat dihubungi melalui pesan whatsapp.

Ia juga menjelaskan, sesuai aturan yang ada, dalam ijazah harus tertera tanggal lulus dan tanggal penyerahan. Sehingga jika penyerahan ijazah di bulan Juni tidak memungkinkan, maka penyerahanya tetap diberikan pada tanggal pelaksanaan wisuda.

"Untuk teknis penyerahan dan kejelasan akan informasikan lebih lanjut," pungkas Supaat. (Hasyim)

KAMPUS,PARIST.ID – Surat Keputusan Rektor IAIN Kudus Nomor 759 Tahun 2020 Tanggal 30 Maret 2020 Tentang Pedoman Penunjukan/ Pembimbingan/ Persetujuan/ Ujian Skripsi/Tesis Dalam Kondisi Darurat Covid-19 di Lingkungan IAIN Kudus diluncurkan.

Berisi Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait penunjukan pembimbing skripsi online, SOP pembimbingan skripsi online, hingga SOP ujian skripsi online. SK tersebut juga membahas terkait tema dan judul penelitian skripsi. 

Mengingat kondisi pengumpulan data sebagai bahan skripsi di lapangan tidak memungkinkan, maka terdapat empat rumusan terkait tema dan judul penelitian skripsi. Bagi mahasiswa yang sudah mengumpulkan data dan tinggal olah data, maka skripsi tetap jalan sebagaimana telah disetujui oleh pembimbing. Berbeda dengan mahasiswa yang skripsinya sudah disetujui oleh pembimbing tetapi belum proses pengumpulan data di lapangan, maka jenis penelitiannya dikonversi dari field research menjadi library research.

Dalam hal ini, Rektor IAIN Kudus, Mundakir, mengatakan, jika mahasiswa masih konsultasi judul yang mulanya menggunakan metode field research sebaiknya digeser menjadi library research. Jika memang mahasiswa sudah diberi surat izin penelitian, ia  juga tidak bisa ketemu dengan responden karena semua elemen masyarakat harus mematuhi peraturan pemerintah untuk Work From Home (WFH).

“Kita hanya tidak ingin menghambat mahasiswa,” katanya saat ditemui tim LPM Paradigma pada Kamis, (02/04) di Gedung V.

Senada dengan hal itu, Wakil Rektor I, Supaat, menegaskan, mahasiswa hanya memiliki dua pilihan yakni mengganti metode penelitian menjadi penelitian kepustakaan atau menunggu kondisi kembali kondusif.
“Keadaan semacam ini bukan hanya menyulitkan mahasiswa, jajaran dosen dan staf juga mengalamai kesulitan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, staf juga sedang mengupayakan seoptimal mungkin, namun karena WFH sehingga dalam pelaksanaanya layanan penunjukkan pembimbing secara online ini kurang cepat.

“Untuk mekanisme skripsi dalam jaringan memang cukup merepotkan, tapi apa boleh buat. Sekali lagi, dalam kondisi darurat seperti ini jangan bermental cengeng,” jelas Supaat. (Zakiya)

Surat Keputusan Skripsi dalam Kondisi Darurat Covid 19


KAMPUS, PARIST.ID- Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat untuk mencegah penyebaran covid-19, Program Studi Pendidikan IPA produksi hand sanitizer. Dalam pendistribusian, mereka bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kudus yang diserahkan langsung oleh Rektor IAIN Kudus. di Gedung SBSN Lantai 1 pada, Rabu, (01/04/2020).

Produksi hand sanitizer tersebut melibatkan delapan mahasiswa  prodi IPA semester 6. Dalam pembuatanya, mereka tetap memperhatikan komposisi pembuatan hand sanitizer sesuai dengan standar WHO.

"Seperti alkohol dengan kadar 95%,  gliserol 98%, H2O2 2% dan aquades," jelas Toyib Wahyu Nugroho, salah satu pembuat hand sanitizer.

Sementara itu, Rektor IAIN Kudus, Mundakir, mengapresiasi mahasiswa dengan adanya produksi hand sanitizer in sebagai bentuk pengabdian kampus kepada masyarakat  serta sarana edukasi agar masyarakat membiasakan hidup bersih.

Saat ini, lanjut Mundakir, total sebanyak 25 liter dari 50 botol dengan isi 500 ml hand sanitizer telah diproduksi.

"Walaupun sedikit setidaknya bisa bermanfaat untuk masyarakat,"  kata Mundakir.

Senada dengan hal itu, Wakil Rektor III, Ihsan, berharap, adanya produksi hand sanitizer ini sebagai kepedulian kampus dalam mencegah penyebaran covid-19 

"Semoga dapat memaksimalkan peran kita kepada masyarakat untuk memutus mata rantai covid-19," harapnya.

Dalam hal distribusi, Sekretaris PMI Kudus, Imam Santoso, mengatakan, akan membagikan hand sanitizer kepada masyarakat Kudus yang rentan terkena covid-19

"Terimakasih sudah bersedia berdonasi" ujarnya. (Fiski)
Mahasiswa IPA Memproduksi Hand Sanitizer

KAMPUS, PARIST.ID - Kelas rutin Ilmu Islam Terapan  (IIT) yang digagas UKM Komunitas Pecinta Nalar  (KPN) akan berlangsung secara online. Bersama narasumber Prof Muslim A Kadir, kelas akan dilaksanakan setiap Jum’at, (02/04/2020) pukul 15.30 WIB.

Ketua UKM KPN, Itsna Yulia, mengatakan, kelas online ini akan diikuti oleh mahasiwa IAIN Kudus yang telah mendaftar di laman google form dan bergabung di grup whatsapp . 

“Kami juga membolehkan peserta dari luar kampus IAIN dengan syarat bisa konsisten mengikuti kelas IIT,” katanya.

Sebenarnya, lanjut Itsna, kelas rencana dimulai satu pekan setelah acara pembukaan kelas dan bedah buku bulan lalu namun diundur karena kampus lockdown.

“Rencananya dilakukan sejak tanggal 20 Maret di gedung V3 setiap Jum’at,” ujarnya.

Hingga  muncul ide  kelas IIT online yang merupakan usulan narasumber Prof Muslim dan teknis pelaksanaanya dengan  mengikuti kajian dari grup whatsapp. 

"Kedepan,  akan dibuat aplikasi khusus agar dapat mudah diakses semua mahasiswa," jelas Itsna.

Terakhir, ia berharap, mahasiswa yang terkena imbas lockdown kampus dapat mengisi waktu- waktu jenuh dengan hal positif seperti mengikuti kajian kelas IIT online.

"Yang tidak kalah penting mahasiswa juga bisa mengkhatamkan buku IIT tanpa salah tafsir," pungkasnya. (Maya)


Tim Riset LPM Paradigma mengadakan survei terkait efektivitas kuliah online terhadap capaian pembelajaran mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Kudus. Dalam pelaksanaannya kuliah online dirasa belum efektif mengingat mahasiswa belum berpartisipasi secara keseluruhan dalam mengakses kuliah online tersebut. 

Hal ini dikarenakan tidak semua mahasiswa berada dalam forum E-learning secara penuh, selain itu tidak semua wilayah mempunyai akses jaringan internet yang baik.

Kegunaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan solusi dari berbagai masalah yang dihadapi oleh IAIN Kudus dalam melaksanakan kuliah online sesuai dengan capaian pembelajaran. 


Dengan demikian kami berharap anda dapat mengisi kuesioner ini dengan jujur dan sesuai isi hati. (PRC)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.