Posisi duduk para penonton tak beranjak saat menatap gerak tubuh pemain teater. Pandangan mereka menyorot setiap gerakan di panggung. Saat itu, teater yang dipentaskan mengenai kritik sosial masyarakat sekarang dengan judul “Petuah Tampah”. Pementasan Teater Djarum ini sudah memiliki tempat tersendiri di hati penonton. Tak salah jika yang datang untuk melihat pementasan tersebut pun dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pecinta teater, pegawai pabrik, hingga masyarakat umum.

Pandangan masyarakat terhadap teater sudah mulai membaik. Tak seperti dulu yang menganggap bahwa bermain teater cenderung urakan, kotor, tidak rapi bahkan “gila”. Pada akhirnya, masyarakat awam masih susah memahami teater. Pun demikian hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang beranggapan seperti itu.

Akibatnya, apresiasi dari masyarakat mengenai teater masih sangat kurang. Namun kejadian tersebut muncul atas dasar dari pemain teater itu sendiri. Mereka bebas berekspresi tanpa ada yang membatasi. Menurut Edi Purnomo salah satu anggota Keluarga Segitiga Teater (Keset) Kudus, seseorang yang menilai teater dari sisi negatif adalah orang yang masih tahap mencari jati diri.

Edi juga menambahkan, jiwa para seniman memang tidak ingin dibatasi. Berbeda dengan orang yang sudah mapan dalam berteater. Ia mempunyai visi dan misi yang jelas. Untuk mengubah mindset masyarakat awam tidaklah mudah. Semuanya membutuhkan proses yang panjang.

Tim Paradigma menyusuri sepanjang Jalan Ahmad Yani untuk bertemu dengan tokoh teaterawan Kudus. Berhenti di depan kantor pabrik rokok Djarum, kami menemui laki-laki yang berambut gondrong, Asa Jatmiko, pertengahan Oktober 2016. Berbicara tentang stigma, ia berpendapat bahwa pemain teater harus membuktikan bahwa dalam dunia teater itu ada nilai-nilai positif.

“Insan teater harus membuktikan ada nilai kedisiplinan, kesetiakawanan dan keberanian berpendapat,” ungkapnya selaku sutradara “Petuah Tampah” itu.
Menurutnya, ketegasan seorang pemimpin teater akan mempengaruhi kedisiplinan anggotanya. Ketika seorang pemimpin menanamkan sikap–sikap positif, anak buahnya pun akan mengikuti. Selain itu harus ada kerjasama, baik  dari internal maupun eksternal sesama komunitas teater.

Mulai Diminati

Sebagai penikmat teater, Maftuhan (26) melihat teater saat ini sudah berkembang dan mengalami kemajuan. “Banyaknya penonton sekarang dipenuhi dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, wirasuwasta, dan pelaku seni,” ungkapnya.

Pengamatannya terhadap dunia teater pun tak sebatas satu atau dua pementasan. Tercatat hampir 30 lebih Maftuhan menyaksikan pementasan teater. Ia merasa tertarik terhadap pementasan teater ketika pertama kali milihat di SMK Duta Karya Kudus. “Ketika saya melihat pementasan teater di SMK tersebut, jiwa seni saya mulai tergugah. Sehingga saya  menikmati pemestasan teater yang diadakan pada tahun 2014 dulu,” pungkasnya.

Apresiasi penonton semakin menanjak ketika hadirnya pementasan teater yang semakin aktif. Ini dikarenakan informasi-informasi pementasan yang terjamah sampai semua kalangan. Untuk itu adanya inovasi dalam menerapkan strategi penjaringan penonton perlu diterapkan.

Anggota Teater Keset sendiri memiliki ciri khas dalam penjaringan penonton. Kami memiliki jaringan luas antar pemain dan penonton, ungkap Wisnu Bayu Prasetyo selaku Pimpinan Produksi (Pimpro) Keset saat ditemuai di kediamannya, (17/11/2016). Penjaringan penonton mulai dari lingkup sekolah hingga masyarakat umum.

Dengan begitu penonton tidak akan didominasi orang dewasa saja, melainkan dari berbagai kalangan. “Anggota Keset sendiri bervariasi, ada siswa, guru, seniman, bahkan pekerja,” tambahnya.
Wisnu membenarkan jika kalangan pelajar sekarang juga ikut meramaikan dunia teater. Bisa dilihat dari antusiasme mereka dalam mengikuti Lomba Festival Teater Pelajar (FTP) 2016.

Acara tersebut diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora)  Kudus dan Teater Djarum. Kebanyakan penonton teater didominasi oleh para pelajar. Sekali pentas, pernah mencapai angka fantastik. Untuk pementasan teater khusus pelajar bisa menghabiskan tiket 400 lembar,” ungkap Wisnu yang juga hobi mengkoleksi batu akik.

Walaupun ada Harga Tiket Masuk (HTM), teater Keset ini memiliki banyak penggemar di hati penontonnya. Sejak 2009 ketika awal pementasan Keset yang berjudul “Sugeh Mblegedu” banyak penonton yang menikmati pementasan tersebut. Secara umum, HTM di Kudus dibuka dengan harga Rp 5 ribu. “Saya sebagai Pimpro memberikan beberapa inovasi, berupa pre-season, maksudnya untuk memberikan apresiasi kepada penonton yang memesan tiket terlebih dahulu,” ungkapnya.

Wisnu menambahkan Ketika harga tiket Rp 10 ribu, pre-season untuk penonton menjadi Rp 7 ribu. Namun untuk pelajar masih tetap Rp 5 ribu. “Ini bertujuan untuk menghargai mereka yang antusias menonton pementasan Keset,” terang Wisnu seraya menyuruh kami untuk meminum teh yang sudah disuguhkan.

Harapan Nyata

Teater milik semua kalangan, tidak untuk umum ataupun pelajar saja. Semua bersama-sama untuk menjaga dan melestarikan kesenian yang ada di Kudus. Mumpung bangsa ini memiliki kebebasan berapresiasi seluas mungkin. Untuk itu para teaterawan harus mampu menunjukkan kualitasnya sebagai pemain seni.

Aris Junaidi (53) Ketua Dewan Kesenian Kudus berharap kepada seluruh teaterawan untuk semangat berlatih. “Bangkitlah jangan patah semangat, angkatlah tema-tema kekinian yang mudah dipahami masyarakat, agar misi teater sebagai pencerahan masyarakat bisa tercapai,” ungkapnya.

Aris juga berharap kepada pemerintah sekarang untuk lebih memperhatikan teater. “Teaterawan juga butuh pembinaan,” ungkapnya. Di akhir perbincangan, ia menandaskan kembali bahwa “Seni dan budaya adalah investasi jangka panjang untuk generasi selanjutnya.”

Mengutip dari perkataan Najwa Shihab,”teater tak cuma menggambarkan kehidupan, sering pula menjadi agen perubahan”. Teater Kudus mampu menjadi agen perubahan masyarakat, baik kepada pemain atau pun penonton yang menyaksikannya.[]


Yaumis Salam
Mahya Hidayatun Ni’mah


NOBAR: Sejumlah pegendara motor yang melintasi balai desa ikut menyaksikan pertandingan final Piala AFF 2016, Sabtu (17/12) malam.
Foto: Haidar/Paragraphfoto

KUDUS, PARIST - Pagelaran Piala AFF 2016 memasuki final leg kedua di Bangkok antara Thailand melawan Indonesia. Berbagai cara dilakukan oleh sebagian masyarakat dalam mendukung Timnas Indonesia. Tak terkecuali warga Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan ini. Demi mewujudkan kebersamaan antar masyarakat, Pemerintah Desa Undaan Lor mengadakan nonton bareng (nobar) pada leg kedua Piala AFF di balai desa setempat, Sabtu (17/12/2016). Acara dimulai habis maghrib tepat. Puluhan warga, baik orang dewasa maupun anak-anak serta remaja memadati halaman balai desa.

Nobar ini merupakan lanjutan nobar leg pertama final Piala AFF pada (14/12) lalu. Acara diperuntukkan untuk masyarakat umum, terlebih masyarakat Undaan Lor sendiri. Letak balai desa yang dekat jalan raya, membuat pengendara motor yang melintasi jalan pun tertarik untuk ikut menonton bersama.

Menurut Kepala Desa Undaan Lor, Edy Pranoto (33), menuturkan bahwa acara ini bertepatan dengan hari ulang tahun pemerintahannya selama 3 tahun. Momentum AFF dimanfaatkan Edy guna mengumpulkan masyarakat sekaligus sebagai sarana persatuan bersama. “Namanya membangun desa tidak harus secara fisik, acara seperti ini juga perlu untuk membangun kebersamaan, sosial, dan mental masyarakat,” ungkap Edy. Ia mengaku membuat momen yang murah tetapi juga meriah agar masyarakat bisa guyub.

Dalam acara ini, Edy mengatakan tidak ada anggaran khusus yang disediakan desa. Semua biaya diambil dari iuran pribadi, baik karang taruna maupun perangkat desa. Sebagai koordinator lapangan, Ahmad Jamaludin (33) selaku Ketua Karang Taruna Desa menjelaskan, nobar diseleranggarakan atas kerja sama pemerintah dan karang taruna desa. Ia menambahkan bahwa sosialisasi nobar dilakukan lewat media sosial, pamflet, surat undangan dan dari mulut ke mulut. “Bahkan Kapolsek Undaan datang tanpa diundang,” ungkap Jamal.

Di akhir babak pertama, panitia memberikan beberapa dorprize bagi para penonton yang bisa menjawab pertanyaan seputar sepak bola. Disamping itu, sebanyak 150 piring berisi makanan khas Kudus, Lentog Tanjung juga disiapkan guna disantap bersama. Sejumlah terompet warna-warni juga disediakan. Meskipun ada sedikit gangguan kabel terbakar sehingga listrik padam, namun acara tetap berlangsung meriah.

Dalam nonton bareng tersebut, pertandingan final Indonesia harus mengakui keunggulan 2 – 0 dari Thailand. Pada leg pertama Indonesia bisa mengalahkan Thailand dengan skor 2 -1. Unggul agregat 3 – 2, Thailand berhak menjadi juara Piala AFF untuk yang kelima kalinya. Kekecewaan para penikmat bola pun tak terelakaan. “Saya optimis pasti menang, tapi kenyataannya kalah. Saya pun merasa kecewa,” ungkap Muhammad Khorun Nafi salah satu penonton. []



Tim Tamu Komunitas Fiksi Kudus (Kofiku) berfoto bersama dengan Kelas Inspirasi Kudus (KIK) dalam acara bedah Buku (ontologi cerpen) Sekawanan Gagak di Jurang Babi Yar
foto: Haidar/Paradigma



PARIST: Kudus, dalam rangka meningkatkan kepedulian dan pengalaman di dalam dunia pendidikan Kelas Inpirasi Kudus (KIK) menggelar acara Pekan Inspirasi Kudus. Acara ini berlangsung dua hari, yaitu Sabtu dan Minggu tanggal 10-11 Desember 2016 di Kudus Extension Mall lantai 2, (10/12/2016). 

Kegiatan ini dilakukan sebagai follow up kegiatan kelas insprasi dari kegiatan sebelumnya. Acara ini juga bekerja sama dengan komunitas-komunitas di Kudus, meliputi  Komunitas Fiksi Kudus (Kofiku), Bangau Ruyung, Omah Dongeng Marwah dan lainnya. Kegiatan yang dilaksanakan cukup banyak selama dua hari. Dibuka di hari Sabtu, acara dimulai dari kegiatan talkshow, bedah buku, pentas seni, pameran foto, musik akustik. 

Acara lebih ramai ketika Kofiku membedah buku(antologi cerpen) pertamanya yang berjudul Sekawanan Gagak di Jurang Babi Yar. Buku ini ini terasa unik karena penulisnya pun dari berbagai kalangan, baik itu mahasiswa, pekerja, dan pelajar. Demi satu tekat untuk menciptakan karya, sehingga buku antologi cerpen ini bisa terbit. 

Kofiku diundang KIK sebagai bintang tamu untuk membedah buku sekaligus sharing. Rayhan M Abdurrohman sebagai premarkasa dari Kofiku mengatakan bahwa pelaksanaan ini alhamdulillah lancar dan tersampaikan walaupun agak grogi. Tak hanya sebatas itu, pembedahnya pun diundangnya dari penulis fiksi yang karyanya sudah diakui di media cetak maupun online, yaitu Al Mahfud.

Bayu Sutanto salah satu penulis muda kelas 8 SMPN 1 Kudus juga turut membuat cerpen di buku tersebut. Kecintaannya terhadap dunia menulis sudah digemarinya sejak dulu. “Saya sudah hobi menulis dan membaca sebelum masuk komunitas ini,” ungkapnya 

“Saya ikut Kofiku sejak kelas 7 SMP, awalnya diberitahu oleh guru jika ada dunia menulis tentang fiksi. Setelah mendengarnya, kemudia saya segera ikut bergabung dan tertarik di komunitas ini,” tambahnya.  

Peduli Sosial 

Acara yang penuh inspirasi ini dibuat semenarik mungkin, pada acara kedua di hari Ahadnya akan lebih banyak penampilan dari komunitas Kudus. Syafrial Zulmi selaku penyelenggara mengatakan untuk hari Ahad akan ada kegiatan lomba mewarnai, pembacaan puisi dari Komunitas Omah Dongeng Marwah, pameran foto dan pemutaran video kelas insprasi.

KIK juga membuka pendaftaran untuk relawan inspirator dan relawan dokumentator. Zulmi masih membutuhkan beberapa orang untuk ikut membantu program KIK. Sebagai kegiatan sosial, kemandirian dalam komunitasnya pun patut diakui. “Kami melakukan beberapa langkah  kelas inspirasi ini dengan sukarela tanpa biaya dan meminta biaya,” ungkapnya.

Dirinya juga mengungkapkan jika ada atribut-atribut yang membutuhkan biaya, maka akan berpikir bersama dan bergotong-royong untuk menyelesaikannya. Komunitasnya masih bergerak di lingkungan anak Sekolah Dasar (SD).  “Acara ini masih terfokus pada anak-anak SD, untuk kedepannya bisa menyelenggarakan acara yang lebih luas lingkupnya.” pungkas Zulmi yang juga staff  IT Unisula Semarang. []


Haidar A

MENGHITUNG: petugas KPPS menunjukkan kertas suara kepada para saksi. Perhitungan suara dilakukan lebih awal karena sepinya pemilih di TPS III.
Foto: Faqih/Paragraphfoto

PARIST-
Pesta demokrasi mahasiswa STAIN Kudus dalam Pemilihan Mahasiswa (PEMILWA) untuk memilih Dewan Mahasiswa (DEMA) dan Senat Mahasiswa  (SEMA) sepi pemilih. Hal tersebut terlihat dari longgarnya Tempat Pemungutan Suara (TPS) III Jurusan Syariah. Hingga batas akhir pengumpulan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) pukul 13.00 WIB, Rabu (7/12/2016).

TPS III yang berlokasi di bawah gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) terlihat sepi sejak dibukanya acara. Muhammad Nur Salim, koordinator TPS III mengatakan, sepinya pemilih di TPS III karena PEMILWA bersamaan dengan hari tenang menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) Jurusan Syariah. Hingga penutupan pemungutan suara, pemilih yang terdaftar di TPS III hanya 208 mahasiswa. 

Lokasi di bawah gedung PKM ini baru pertama kali dijadikan TPS. Lokasinya yang berdekatan dengan ruang kuliah Syariah, menjadi alasan KPUM memilih gedung PKM. Lokasi ini cukup luas untuk menampung banyak pemilih. “Seharusnya tempat ini cocok untuk Jurusan Tarbiyah, yang mahasiswanya banyak,” pungkas Salim.

Sebelumnya, KPUM telah menyiapkan tiga TPS untuk mengantisipasi banyaknya pemilih. TPS tersebut tersebar di berbagai titik. Khusus untuk Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam nyoblos di TPS I yang terletak di depan Kantor Jurusan. TPS II ditempatkan di lapangan Kampus Timur untuk Prodi PGMI, Prodi PGRA, Prodi PBA, Jurusan Dakwah, dan Jurusan Ushuludin. Masing-masing jumlah kertas suara yang masuk ke kedua TPS tersebut secara berurutan yakni 388 dan 508.

Berbeda

PEMILWA yang dilaksanakan pada tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Antusiasme pemilihan DEMA dan SEMA dinilai rendah. Sebab selain kondisi cuaca yang buruk sejak pagi, ditambah dengan calon Ketua DEMA yang hanya satu, juga berimbas pada partisipasi mahasiswa untuk mencoblos ke TPS. Akibatnya saat pelaksanaan berlangsung, pemilih tidak sebanyak yang diperkirakan panitia.

“Paling-paling yang datang hanya tim sukses calon dan partai, selebihnya dari mahasiswa umum,” ujar Aning Susilo, Ketua KPUM. Pihaknya menjelaskan, hujan yang tidak bisa diantisipasi menjadi salah satu pemicu minimnya pemilih untuk datang ke TPS.

Walaupun begitu, proses pemungutan suara tetap berjalan lancar di masing-masing TPS. Hanya saja di TPS III bagi Mahasiswa Jurusan Syariah lebih sepi dibandingkan dua TPS lain. “Syukurlah, walaupun hujan berlangsung, namun  masih tetap lancar tanpa ada hambatan yang serius,” tambah Aning.

DILANTIK: Prosesi bai'at PC IPNU IPPNU Kudus oleh perwakilan Pimpinan Pusat IPNU IPPNU

PARIST- Sebagai organisasi pelajar terbesar di Indonesia, kader IPNU dan IPPNU memiliki tanggung jawab meneruskan perjuangan ulama. “Ngader, Nyantri, Mandiri” menjadi tajuk pelantikan Pengurus Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kudus di Gedung Olahraga (GOR) STAIN Kudus, Ahad (2/21/2016).

Semua wali yang dilantik menghadiri pelantikan dan Rapat Kerja (Raker) I tersebut. Turut hadir dalam acara tersebut, Kapolres, Kodim, Dinas Pariwisata, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Kudus. Termasuk juga Polsek dan Koramil Kecamatan Bae Kudus.

Tak kalah penting hadir pula seluruh jajaran pengurus IPNU IPPNU dari ranting, komisariat sampai anak cabang se-Kabupaten Kudus. Perwakilan dari STAIN Kudus terlihat hadir yakni Saechan Muchit selaku Wakil Ketua I dan Kisbiyanto sebagai Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kudus sekaligus Ketua Jurusan Tarbiyah.

Lagu Indonesia raya dan mars IPNU IPPNU disuarakan oleh paduan suara MA Banat Kudus, menambah semangat hadirin. Prosesi pelantikan berlangsung dengan khitmad, mulai dari pengucapan syahadat hingga ikrar pertanggungjawaban.

M. Wahyu Saputro (23) dan Khotimatus Saadah (21) dipercaya mengemban amanah Pelajar NU Kudus dalam periode 2016-2018. Ber-IPNU IPPNU asyik menjadi jargon pada tahun ini. Jargon asik diluncurkan agar tidak menjadi organisasi yang monoton. Semboyan asyik ini akan diwujudkan dalam bentuk program terkini seperti workshop. Menurut Ketua IPNU terpilih,  Pelajar NU jangan hanya aktif dalam forum resmi saja. Kader juga harus aktif di media online seperti facebook, twitter, BBM dan yang lainnya. “Memanfaatkan medsos dengan asik untuk tujuan berdakwah,” tutur Wahyu. Selain itu, konsep kerja bagi pengurus baru akan diselaraskan di seluruh kabupaten Kudus.

“Dengan pelantikan ini semoga bisa lebih banyak merangkul, serta lebih bertanggungjawab dalam menjalankan program yang ada, terutama bagi diri saya sendiri,” ungkap Arin Annisatus Sayyidah (20) sekaligus sebagai peserta pelantikan.

Tema Ngader, Nyantri dan Mandiri memiliki makna filosofi menarik untuk dikaji. “Ngader adalah mencari generasi penerus untuk mencetak calon-calon pemimpin yang lebih baik,” ungkap Achmad Syukron, selaku ketua panitia pelaksana.

Menurutnya salah satu cara mencetak calon tersebut adalah dengan nyantri. Nyantri disini tidak hanya dimaknai sebagai anak yang nyantri di pondok. Akan tetapi juga di segala hal seperti pendidikan dan pelatihan (diklat).

“Harapannya, dapat mandiri dengan segala tugas dan tanggung jawab yang telah diamanahkan,” pungkas Syukron. Sehingga pelajar NU bisa berbeda dengan pelajar yang lain, baik dalam ideologi maupun sikap.





Foto: Ulil albab/Paragraphfoto

PARIST - Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus menyelenggarakan Conference on Islamic Education (CIE) 2016 dengan tema "Pendidikan Islam dan Kemanusiaan" di ruang aula Rektorat lantai tiga Kampus Timur, Rabu (30/11/2016). Acara dilaksanakan dua sesi, sesi pertama workshop dengan narasumber Dede Rosyada selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, kemudian dilanjutkan sesi presentasi panel antar peserta Call for Papers.

Pembukaan workshop oleh Kisbiyanto, selaku Ketua Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus, memaparkan laporan acara saat itu. Bisa dipetakan, para peserta yang hadir berasal dari berbagai daerah, mulai dari ujung timur sampai barat. "Pendaftar Call for Papers tidak hanya dari Provinsi Jawa Tengah, namun juga dari beberapa penjuru seperti Surabaya, Malang, Banten dan Jakarta," tuturnya. Ia menambahkan, acara ini juga sebagai ungkapan rasa syukur atas diraihnya beberapa program studi (Prodi) baru khususnya di Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus. Sampai saat ini Jurusan Tarbiyah sudah mempunyai 10 Prodi.

Wakil Ketua I STAIN Kudus, Saekan Muchith, mengungkapkan acara kali ini dihadiri oleh narasumber yang tepat. Pasalnya, Rektor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dede juga pernah menjabat sebagai Direktur Pendidikan Tinggi Islam pada tahun 2011-2014. "Ia adalah figur yang paling banyak memberikan manfaat bagi STAIN Kudus, termasuk memberikan peluang dalam penambahan Prodi hingga mencapai 28 Prodi secara keseluruhan," terangnya.

Saekan juga menanggapi pelaksanaan workshop kali ini. Menurutnya, tema yang dipilih menarik karena akan membahas pentingnya pendidikan Islam bagi manusia. "Setidaknya, manusia mempunyai beberapa aspek berdasarkan maknanya, sehingga wajar jika untuk membimbing mereka diperlukan jalur pendidikan," ungkapnya.

Usai sambutan, workshop secara resmi dibuka oleh Saekan Muchith pada pukul 10.07 WIB. Diikuti acara inti yang diisi oleh narasumber utama, Dede Rosyada.

Refleksi Pemikiran

Materi yang disampaikan Dede Rosyada merupakan salah satu dari solusi baru yang ditawarkan dalam bidang pendidikan Islam. Untuk menjawab tantangan kemanusiaan, ada beberapa indikator yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi bangsa terbaik. Melalui penguasaan terhadap sains dan teknologi, pengembangan peradaban, kemampuan ekonomi, stabilitas politik dan pertahanan keamanan.

"Konsep manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi merupakan konsep lama yang masih up to date. Manusia pada dasarnya bertugas untuk melaksanakan fungsi-fungsi Tuhan dalam konteks kemanusiaan," jelas Dede.

Di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) saat ini, sudah semestinya lulusan sekolah menengah atau sarjana menguasai lima bidang yaitu teknologi-informasi, keterampilan berkarya, komunikasi visual, diversity dan bahasa inggris. Beberapa hal tersebut mencerminkan adanya pendidikan sebagai perubahan berpikir untuk masa depan.

"Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, maka perlu adanya pembenahan dalam konsep pendidikan Islam. Hal itu bisa direalisasikan melalui cara pengajaran guru di sekolah, seperti menggabungkan empat kompetensi ideal yakni thinking skill, multiple intelligence, taxonomy bloom dan habit of mind," pungkasnya.

Sesi workshop berakhir pada pukul 12.30 WIB. Selang waktu satu jam untuk istirahat, acara dilanjutkan dengan presentasi panel. Jumlahnya mencapai 39 paper yang akan dipresentasikan, kemudian dibagi menjadi tiga tempat yang berbeda di Gedung Rektorat lantai tiga, meliputi ruang aula tempat workshop (utama), ruang Senat dan aula samping Perpustakaan Tarbiyah. Untuk beberapa paper terpilih nantinya akan diterbitkan di Jurnal Edukasia STAIN Kudus.[]

Qurrotu A'yun

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.