KAMPUS, PARIST.ID – Berbeda dengan wisuda periode bulan Juni kemarin, IAIN Kudus memastikan pelaksanaan Wisuda periode November 2020 mendatang akan digelar secara Offline. Melalui Surat Pengumuman nomor 3927/In.37/R1/10/2020 tentang Pelaksanaan Wisuda XXVIII Program Sarjana (S1) dan Wisuda X Program Pascasarjana (S2) IAIN Kudus Periode November 2020,  Wakil Rektor I mengumumkan pelaksanaan wisuda periode november akan dibagi menjadi tiga gelombang (Hari/jam).

Dengan tetap memerhatikan protokol pencegahan covid-19, wisuda periode ini dilaksanakan tanpa melibatkan orang tua dan keluarga dari wisudawan. Sehingga, dalam prosesi wisuda hanya boleh diikuti oleh peserta wisuda tanpa pendamping atau penyerta.

Terkait batas akhir pendaftaran wisuda, akan diundur sampai hari selasa tanggal 03 November 2020. Untuk ketentuan lebih rinci tentang pelaksanaan wisuda akan ditentukan lebih lanjut oleh pimpinan. ()


KAMPUS, PARIST.ID – Wartawan Tirto.id Zakki Amali menyebut sisi human interest dalam menulis feature tidak hanya berbicara tentang manusia yang dikasihani. Menurut dia, human interest menggambarkan kemanusiaan yang bersifat universal. 

“Semua sisi manusia sering terjadi kontradiksi atau benturan dengan kenyataan. Dari benturan tersebut yang memicu wartawan bisa menulis feature,” kata Zakki dalam Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) yang diselenggarakan LPM Paradigma IAIN Kudus secara virtual, Sabtu (10/10/2020).

Zakki menggambarkan human interest sebagai kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karenanya wartawan tidak boleh menjustifikasi seseorang berdasarkan benar atau salah. “Yang kita perlukan adalah empati terhadap subjek yang ada di lapangan," jelasnya.

Adapun dalam penggalian ide, Redaktur Suara Nahdiyin, Muhammad Farid, lebih menekankan berpikir kritis dalam menanggapi hal yang rasional. Kontributor NU Online ini juga menyarankan agar peserta lebih sering membaca dan menganalisis. 

“Dari hasil analisis nanti bisa dikembangkan menjadi sebuah tulisan feature,”ungkap Farid.

Meskipun digelar secara online, Pimpinan Umum LPM Paradigma, Muhammad Nur Ulyanuddin berharap agar kegiatan dapat berjalan maksimal. “Mari kita maksimalkan acara ini, semoga tidak mengurangi esensi dari pelatihan jurnalistik itu sendiri,”ajaknya.

Tidak jauh beda, Ketua Panitia, Windy Aprilya Pangastutik, berharap agar pelatihan online ini dapat dijadikan perhatian dan kesungguhan oleh seluruh peserta PJTL. “Semoga kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan mengantarkan semua peserta mengikuti kegiatan offline nantinya” harap Windy. (Mir/has)


KUDUS, PARIST.ID – Aksi penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja, melibatkan mahasiswa dan masyarakat berjalan dengan cukup kondusif, diawali long march  dari Alun-alun Kudus ke gedung DPRD Kudus, pada Kamis, (08/10/2020). Demostrasi yang melibatkan ribuan masa ini, mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Kudus (AMPERA). 
Aliansi tersebut merupakan gabungan dari berbagai elemen organisasi mahasiswa dan masyarakat diantaranya PMII, IMM, HMI, PRD, dan LSM KPMP. Orasi bergantian dari perwakilan masing-masing organisasi menggugah semangat masa untuk suarakan tuntutannya terhadap penolakan Omnibus Law.
Koordinator Lapangan (Korlap), Gatot Priambodo Agusta, mengatakan, secara tegas menolak UU Omnibus Law yang sangat merugikan banyak pihak. “Terutama berdampak pada kaum buruh dan institusi pendidikan,” katanya saat diwawancarai reporter Parist.id setelah aksi selesai di depan DPRD Kudus.
Terkait tuntutan aspirasi, lanjut Gatot, empat anggota DPRD Kudus secara langsung menemui masa dan akan memenuhi segala tuntutan yang nantinya akan disampaikan ke DPR RI (Pusat). Sejumlah anggota DPRD tersebut diantaranya, Noor Hadi dan Ali Ikhsan dari fraksi PKB, Ali Muchlisin dari Golkar, Supriyanto dari Nasdem.
“Tuntutan kita sudah ditandatangani dan distempel oleh empat anggota DPRD Kudus, sebagai bentuk legalitas bahwasannya tuntutan kita sudah disepakati,” jelasnya.
Sementara itu, Peserta Aksi, Faridl Kunbara, mengaku alasannya mengikuti demo karena sangat menyayangkan undang-undang yang dikeluarkan oleh pemerintah. Baginya, Omnibus Law adalah undang-undang yang tak masuk akal karena terdapat banyak pasal-pasal yang hanya menyengsarakan rakyat.
“Karena panggilan hati nurani merasakan penderitaan yang dialami para buruh, membuat saya prihatin,” kata mahasiswa Ekonomi Syariah IAIN Kudus semester lima.
Selain itu, menurutnya mahasiswa sebagai agen perubahan sudah menjadi tugas wajib dalam membela kebenaran dan mengembalikan hak-hak mereka (kaum buruh) yang telah dirampas untuk kepentingan oligarki.
“Harus berani melawan untuk membela kebenaran,” tegasnya. 
Berdasarkan pantauan tim Parist.id di lokasi, dalam aksi tersebut sempat terjadi pelemparan botol ke arah anggota DPRD yang sedang menemui masa dan diwarnai pembakaran sampah saat demo baru usai. Namun aparat kepolisian dengan sigap dapat mengkondusifkan situasi sehingga tidak terjadi hal-hal yang anarkis.  (Ftw/*)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.