Foto bersama LPM Paradigma dengan LPS Cendekia Mahida setelah study banding di Kampus Barat IAIN Kudus.
PARIST.ID, KAMPUS - LPM Paradigma IAIN Kudus terima kunjungan tahunan dari LPS Cendekia Mahida MA Manahijul Huda  Pati, Jum'at (22/02/2014). Kunjungan ini merupakan salah satu Program Kerja (Progja) dari LPS Cendekia Mahida.

Pembina LPS Cendekia Mahida, Eva Yulia Kolopaking mengatakan maksud kedatangannya untuk melakukan study banding dengan LPM Paradigma.

"Kami bermaksud ingin belajar dan saling sharing bersama dengan kakak-kakak LPM Paradigma," ungkapnya.

Ia juga mengucapkan terimakasih dan berharap ilmu yang didapatkan nanti bisa bermanfaat bagi LPS Cendekia ke depan.

"Dengan study banding ini kami berharap dapat mempraktikkan ilmu-ilmu yang didapatkan nantinya," harap Eva. 

Menanggapi hal tersebut, Pimpinan Umum LPM Paradigma, Ali Murtadho merasa senang dan berharap kegiatan seperti ini bisa terjalin di tahun-tahun berikutnya.

"Tetap semangat dan semoga tahun depan kita bisa belajar bersama lagi," jelasnya. (Fal)


PARIST.ID, KAMPUS - Polisi Resort (Polres) Kudus melalui UKM Resimen Mahasiswa (Menwa) didik mahasiswa untuk membudayakan keamanan berkendara sekaligus menunjang Glorifikasi Millenial Road Safety Festival melalui Seminar Dikmas Lantas di IAIN Kudus pada Kamis, (21/02/2019) di Aula SBSN lantai 2.
Polisi Resort (Polres) Kudus menyampaikan materi pada Mahasiswa IAIN Kudus dalam kegiatan "Millennial Road Safety Festival 2019"

Kepala Bidang Operasional (KBO) Polres Kudus, Upoyo, mengatakan ketertiban lalu lintas di Indonesia terbilang buruk dibanding dengan negara tetangga kita seperti malaysia.

"Masyarakat kita masih banyak yang melanggar aturan tata tertib lalu lintas. Padahal hal itu penting diperhatikan untuk keselamatan sesama pengendara. Sikap tersebut yang membuat berkendara kita masih buruk," tuturnya.

Selain itu, hukuman bagi pelanggar di Indonesia juga masih sebatas mendapat sanksi dan sidang ke pengadilan. Sedangkan di negara tetangga biasanya akan ada sanksi berat seperti larangan membuat visa. "Dengan itu pelanggar tidak bisa bepergian ke luar negeri. Dampaknya mereka akan berpikir beberapa kali jika ingin melanggar marka," jelas Upoyo.

Di sisi lain, Rektor IAIN Kudus, Mundzakir menyampaikan respon positif atas kegiatan ini. "Pendidikan akan berkendara itu perlu. Terlebih bisa mengubah mental agar tidak seenaknya di jalan." Tutur Mundakir.

Tak ketinggalan, para mahasiswa juga menyambut baik kegiatan tersebut. Mereka hadir dan ikut  menyaksikan parade motor oleh pihak kepolisian.

"Jelas sangat baik. Kita mendapat wawasan tentang tata cara berkendara yang aman seperti yang bapak polisi peragakan."Jelas Sholehah, salah satu mahasiswi IAIN Kudus.(Fandi/Intan/Fal)



KAMPUS - Generasi milenial menjadi pemilih terbesar pada pemilu presiden April 2019 mendatang. Maka  dari itu diharapkan para generasi muda  menggunakan hak pilihnya untuk tidak golput serta sudah paham betul dengan calon yang akan dipilihnya nanti.

"Generasi milenial harus cermat dan cerdas dalam memilih. Jangan golput  apalagi mudah termakan hoaks yang beredar di sosial media," kata Ketua KPU Jawa Tengah, Yulianto Sudrajat, dalam sambutannya pada acara Seminar dan Dialog Politik "Milenial Bicara, Muda Memilih" yang diadakan DEMA IAIN Kudus di gedung SBSN lantai 1, Rabu (20/02/2019).

Hoaks, lanjut Yulianto, menjadi masalah serius dalam menghadapi pesta demokrasi di Indonesia sekarang.

"Para milenial tidak boleh terprovokasi dengan hoaks selama menjelang pesta demokrasi. Apalagi sampai menerima uang politik," jelasnya.

Karena itu diharapkan agar generasi milenial menjadi pemilih yang cerdas, ikut melaporkan permainan uang politik, tidak termakan hoaks dan ikut mensosialisasikan serta berkontribusi dalam pemilu.

Senada dengan Yulianto, Wakil Rektor 1, Dr. H. Supaat, M. Pd, berpesan agar generasi milenial tidak mau menerima uang politik dan menjadikannya sebagai budaya yang masih mengakar di Indonesia

"Jangan sampai uang politik dijadikan anugerah dan mempengaruhi hak suara kalian. Pilihlah sesuai hati nurani dan kemantapan hati. Bukan karena uang," jelas Supaat.

Selain itu menurut Supaat, masalah lain yang tak kalah penting dari uang politik adalah partai politik itu sendiri. Masih banyak partai politik di indonesia yang belum mapan dan dewasa tentang idealisme.

"Pada dasarnya partai politik merupakan wujud memperjuangkan idealisme. Maka dari itu tidak sewajarnya seseorang berpindah pindah partai," jelasnya. (Int/Fal)

Postingan Populer

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.