Ilustrasi: suarasurabaya.com

Oleh : Miqdad Niazi*

Disadari atau tidak, virus korona telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan bermasyarakat. Mulai dari ekonomi, sosial, budaya bahkan sampai agama. Adanya virus corona mempengaruhi cara berinteraksi umat muslim dengan sesama muslim.

Salah satu adab dan keutamaan ketika bertemu dengan sesama muslim yaitu dengan saling mengucapkan salam dan saling berjabat tangan (salaman). Sesuai dengan hadis Rasulullah dari al-Bara bin Azib radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah.

Hadis ini menunjukkan keutamaan berjabat tangan ketika bertemu, dan ini merupakan sesuatu yang dianjurkan berdasarkan kesepakatan para ulama, bahkan ini merupakan sunnah yang muakkad (sangat dianjurkan).

Lalu ketika melihat situasi yang sekarang, dimana virus corona masih menghantui masyarakat tidak hanya di Indonesia tetapi masyarakat di seluruh dunia. Apakah tetap bisa melakukan interaksi sesama muslim dengan berjabat tangan?

Seperti yang diketahui, salah satu cara penularan virus corona ini bisa disebarkan melalui kontak fisik. Karena virus corona bisa menular lewat percikan air ludah yang keluar dari penderita Covid-19 saat berinteraksi baik bicara, bersin atau batuk. Selain itu penularan Covid-19 juga bisa melalui kontak fisik secara langsung misalnya bersalaman atau berpelukan.

Dasar Kaidah Usul Fikih

Pada dasarnya bersalaman merupakan suatu kebaikan dan sesuatu yang dianjurkan ketika bertemu dengan muslim yang lain. Hanya saja, saat ini dengan berjabat tangan ternyata menjadi salah satu perantara penularan virus korona. Oleh sebab itu, seorang muslim ketika bertemu dengan muslim yang lain dihimbau untuk tidak berjabat tangan atau kontak langsung. Karena untuk mencegah penularan virus korona yang sedang mewabah. 

Jika dilihat dari perspektif kaidah usul fikih, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, telah menyebutkan sejumlah cabang kaidah yakni

 درع المفسداولى   من جلب المصالح
'Dar'ul mafaasid  aulaa min jalbil mashaalih'  atau dalam versi lain Dar'ul mafaasid muqaddam ala jalbil mashaalih'
Artinya : Mencegah bahaya lebih utama daripada menarik datangnya".  Kaidah ini merupakan kaidah fikih cabang dari kaidah pokok "adh-dhororu yudzlu" yang artinya bahaya harus dihilangkan.

Kaidah ini berlaku dalam segala permasalahan yang didalamnya terdapat pencampuran antara unsur mashlahah dan mafsadah. Jadi bila mafsadah dan mashlahah berkumpul, maka yang lebih diutamakan adalah menolak mafsadah.

Dalam ajaran agama Islam menjauhi penyebab keburukan lebih diutamakan daripada sesuatu yang mendatangkan manfaat. Kondisi saat ini termasuk ke dalam kondisi yang darurat, dan sebagai muslim yang taat kita juga harus taat terhadap peraturan yang pemerintah dan ulama tetapkan serta menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran virus corona.

Umat muslim bisa memberikan ucapan salam tanpa berjabat tangan, karena di dalam ucapan salam memiliki arti doa keselamatan bagi yang mengucapkan dan yang membalas. Serta dengan memberikan salam terdapat doa agar diberikan rahmat serta kasih sayang Allah dan diberikan kebaikan yang melimpah yaitu berupa keberkahan.

*Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Semester 7


Ilustrasi: kompas.com

oleh : Dea Oktaviana*

Manusia tidak terlepas dari emosi yang ada dalam dirinya. Dalam konteks awam, emosi sering dideskripsikan dengan kemarahan saja, namun sebenarnya emosi memiliki arti yang lebih luas dan mewakili banyak perasaan. Emosi diartikan sebagai reaksi seseorang terhadap suatu kejadian, baik berupa reaksi senang, marah, takut, sedih dan lain sebagainya. 

Emosi berasal dari kata emotion dalam bahasa Prancis, dan dalam bahasa latin dikenal dengan istilah emorove yang artinya keluar. Sehingga secara etimologis emosi diartikan “bergerak keluar”. Emosi merupakan suatu reaksi dapat berupa reaksi positif maupun negatif sebagai bentuk rangsangan baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar.

Banyak kasus menyimpang yang terjadi disebabkan emosi yang tidak terkendali. Misalnya kasus pembunuhan, bullying hingga pelecehan seksual. Tentu dampak negatif ini harus segera dicegah sedari dini.

Dilansir dari pendidikan.co.id, emosi bisa disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang memicu timbulnya emosi seseorang adalah perasaan tidak mampu atau merasa bodoh, perasaan kecewa terhadap diri sendiri, persaan sedih karena kurang kasih sayang, rasa iri terhadap seseorang karena diperlakukan tidak adil, dan rasa tidak percaya diri. 

Sedangkan faktor eksternal pemicu emosi ini meliputi, lingkungan sekitar maupun sekolah yang sering terdapat menyalahkan seseorang, perlakuan seseorang di lingkungan sekitar terhadap anak-anak di bawah umur, orang tua terkadang memberi tahu anaknya untuk tidak menjalin hubungan percintaan, dan tuntutan dari keluarga maupun bos terlalu banyak resiko kepada seseorang yang gagal menjalankannya. 

Emosi timbul karena mendapat stimulus dari faktor internal maupun eksternal tersebut. Jika tidak ditangani dengan bik emosi dapat merugikan diri sendiri maupun orang di sekitar.

Perspektif Aisyah Dahlan

Menurut Praktisi Neuroparenting Skill, Aisyah Dahlan, berpendapat, kebanyakan masalah biasanya ditimbulkan oleh emosi-emosi negatif dalam diri seseorang. Emosi negatif itu perlu dinaikkan tingkatannya menjadi emosi positif agar bisa mencegah hal yang merugikan. Ia menuturkan rumus dari permasalahan ini yaitu masalah sama dengan situasi kondisi ditambah emosi negatif.

Kunci dari memanagemen emosi adalah dengan terus bersyukur agar tidak mengalami kondisi terpuruk. Setiap individu harus terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dengan cara itu emosi akan naik ke zona ikhlas dan individu tidak akan terpuruk. 

Dikutip dari laman facebook Aisyah Dahlan, memaparkan ada tingkatan level emosi yang fitrah di miliki oleh manusia, yaitu apatis, sedih, takut, buru-buru, marah, sombong, semangat, menerima, serta damai. Meskipun begitu ia juga menuturkan ada level emosi yang lebih rendah dari apatis, yaitu depresi. 

Cara menghindarinya adalah ketika kita mulai merasa sepi, kita bangkitkan semangat, tarik nafas dalam-dalam dan membaca istighfar agar energinya terus meningkat dan tidak berujung depresi. Depresi akan naik satu tingkat ke level apatis. 

Pada level apatis individu merasa menjadi orang yang paling sedih, mengalami keterpurukan, dan sudah tidak mampu menangis. Cara mengendalikannya bisa dengan orang lain yang menenangkannya, mengusap punggungnya, tanpa perlu banyak bicara.

Sampai di level sedih kita bisa mengalihkan pemikiran kita, mengingat motivasi hidup, membayangkan orang tua dan masa depan. Emosi akan naik ke level takut, ia masih cemas akan terjadinya hal-hal buruk, namun rasa takut dan tingkatan-tingkatan emosi selanjutnya bisa digolongkan hal yang wajar. 

Pada tingkatan semangat inilah seseorang baru bisa diberi saran dan masukan. Dengan masukan-masukan yang diberikan ia mulai menerima keadaan dan kedamaian adalah perasaan yang lapang dan menyenangkan. Penuh dengan hikmah dan rasa aman, sehingga kita enggan pergi karena kita merasa bersyukur.

*Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam


PARIST.ID - Apresiasi merupakan proses penghargaan atau penilaian terhadap sesuatu. Dalam karya sastra, dapat menikmati cerpen atau puisi adalah suatu bentuk apresiasi. Sedangkan, langkah awal untuk dapat menikmati karya sastra yaitu dengan membacanya.

Hal tersebut dikemukakan sastrawan asal Jawa Barat,  Toni Lesmana, dalam wicara daring  atau bincang sastra edisi IV yang diselenggarakan oleh Badan Bahasa Kemendikbud.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Faisal Meinaldy ini menghadirkan narasumber Toni Lesmana dan Puji Santosa. Mengangkat tema “Apresiasi Puisi dan Cerpen” webinar digelar melalui via Zoom dan disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada Rabu, (08/07).

Menurut Toni, sastra bukanlah sesuatu yang rumit, tapi sesuatu yang indah dan dapat dinikmati. Setelah seseorang mampu menikmati karya cenderung muncul minat lain untuk mengkaji dan melahirkan karya baru.

“Apresiasi akan berlangsung dari sekadar menikmati, hingga ke proses kreatif,” tambah sastrawan kelahiran Sumedang itu.

Selain itu, lanjut Toni, diperlukan peran masyarakat untuk terus mengenalkan sastra agar tetap diminati. “Bisa lewat taman baca masyarakat atau membawakan sastra di dalam pertunjukan,” ujarnya.

Sementara itu, Peneliti Badan Bahasa Kemendikbud, Puji Santosa, menyampaikan, pihaknya telah melakukan berbagai program dalam upaya pengembangan sastra.

”Seperti pengiriman sastrawan berkarya ke wilayah 3T, gerakan literasi sastra dan penulisan kembali cerita rakyat," pungkasnya. (Dina)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.