Postingan Populer

KAMPUS-PARIST.ID - Dalam rangka meningkatkan kreativitas seni dan meningkatkan kompetensi lulusan prodi, HMPS PGMI adakan Gebyar Kreativitas Seni (GKS). Mengusung tema “Nguri-Nguri Budaya Jawa Melestarikan Kearifan Lokal" acara berlangsung di Gor IAIN Kudus, Kamis (27/02/2020). 

 Rektor IAIN Kudus, Mudzakir dalam sambutanya mengatakan, adanya kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa dapat berkreasi dalam bidang seninya.
"Kegiatan semacam ini harus mendukung lahirnya kompetensi prodi untuk meningkatkan kompetensi lulusan PGMI,"  katanya.

Senada, Plt. Bupati Kudus, yang diwakilkan oleh Camat Bae turut mengapresiasi acara GKS. Ia juga berharap acara tersebut dapat mengasah dan memberikan wadah bagi para mahasiswa untuk berkreativitas.

"Berharap kegiatan semacam ini bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas ketika terjun di masyarakat sebagai seorang pendidik," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Dekan III, Agus Retnanto, menyatakan, mahasiswa tidak luput untuk melestarikan budaya Jawa.

"Dengan adanya tema tersebut agar mahasiswa sadar terhadap eksistensi budaya jawa yang wajib untuk dilestarikan," tandasnya.

Ketua HMPS PGMI, M Fikri Abdun Nasir, menjelaskan, acara tahunan GKS HMPS PGMI yang keempat kali ini, mengusung konsep yang berbeda dari tahun sebelumnya.

"Tahun ini, kami memadukan konsep seni tari, drama, musik, dan kaligrafi," kata Fikri. (Fiski,Hasyim/Um)

KUDUS, PARIST.ID -Melalui pertunjukanForum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) edisi Februari kali ini, pemuda Kudus harus bisa belajar dan mencintai budaya Jawa. Sebagai generasi millenial, diharapkan mampu memperhatikan perkembangan sejarah tradisi yang ada di daerahnya. 

Demikian itu disampaikan Ketua Badan Paksana, Arfin Akhmad Maulana, dalam  agenda rutin FASBuK bersama kelompok musik Gubuk Seni. Pertunjukan yang dibawakan bertajuk Kidung Katresnan ini bertempat di Lapangan basket Universitas Muria Kudus (UMK), Selasa (25/02/2019).

"Jangan pernah melupakan bahasa ibu, kita berasal dari Jawa jadi jangan melupakan tradisi Jawa." ujarnya.

Arfin, menambahkan, tema Kidung Katresnan berakar dari kian lunturnya sastra dan kesenian Jawa di Kudus. 

"Saat ini di Kudus, sastra Jawa sangat jarang sekali. Kami datangkan konsep ini dengan tajuk geguritan dan musik tradisional," kata Arfin.

Kidung Katresnan sendiri mempunyai makna musik yang memuat unsur-unsur kasih sayang dan cinta.

Sementara itu, Ketua dari Gubuk Seni, Imam Syafi'i, menjelaskan, cinta manusia tidak hanya satu objek saja. Objek cinta meliputi cinta kepada Yang Kuasa, cinta kepada Negeri, dan cinta kepada lawan jenis. 

"Cinta itu tidak satu objek saja, ada cinta kepada Yang Kuasa, Negara, dan lawan jenis. Cinta tersebut telah kami sampaikan melalui musik." tandasnya. (Zaki,Tin/Um)

KAMPUS, PARIST.ID- Himpunan Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) IAIN Kudus pertama kali mengadakan lomba bercerita tingkat MI se-Kabupaten Kudus dan lomba Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) tingkat mahasiswa IAIN Kudus dalam kegiatan Gebyar Kreativitas Seni Tari dan Musik Jilid 4.

Hal tersebut disampaikan Kaprodi PGMI, Mufatihatut Taubah, dalam sambutannya pada pembukaan lomba bercerita dan musabaqoh tilawatil quran yang berlangsung di gedung SBSN lantai 1, Senin, (24/02/2020). 

"Adanya lomba sebagai ajang silaturahmi mahasiswa PGMI dengan lembaga Madrasah Ibtidaiyah terjalin dengan kuat," katanya.

Tidak hanya sekadar lomba biasa, lanjut Mufa,  lomba bercerita bisa mengasah IQ, SQ dan EQ para peserta.

"Kita memilih lomba bercerita karena bercerita bisa menggali kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual," ujarnya.

Mufa, berpesan, siswa MI harus mulai diajari, berimajinasi, menguasai panggung ketika bercerita.

“Mereka adalah generasi awal yang apabila kemampuannya diasah dengan baik akan mudah meningkatnya, pesan Mufa.

Sementara itu, salah satu juri, Kholidia Evening Mutiara, mengapresiasi seluruh penampilan peserta lomba bercerita. Terlihat persiapan yang matang dalam segi properti, make up, dan isi dongeng.

"Sangat bangga sekali karena saya belum tentu bisa bercerita seperti mereka. Dalam bercerita harus memahami bahasa penjiwaan, kekuatan mental, dan properti yang benar-benar sebagai pendukung bercerita, "jelasnya.

Salah satu peserta lomba bercerita, Rida Maharani, mengaku senang bisa bercerita membawakan cerita Pejuang 1945.

"Senang sekali bisa ikut lomba bercerita dan tampil dengan maksimal meski latihannya hanya empat hari,"katanya. (Nonik/Um)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.