Oleh: Janifatur Rohmah Mustika Yanti*


Ilustrasi: http://tribunnews.com
Seonggok songkok beragam corak
Kuborong, lalu kutenteng di muka Bapak
Berharap salah satu kan tersemat di puncak kepalanya
Tika hari raya tiba
Siapa yang tak ingin mencecap harsa?
Pun menyaksikan senyum nan mengulum
Pada wajah yang usianya menjelang senja,
Sang pemilik punggung tangan yang tak pernah jemu kucium
Impian sederhana itu, kini tak lebih sebatas akara
Sebab raga terbentang aksa
Menuju tempat pulang pun tak kuasa
Tinggalah nestapa hinggapi atma

Badai corona membubarkan cita-cita hari rayaku
Pupuslah sudah angan-angan menuju tanah asal
Harapan tuk menimpakan songkok di atas insan terkasih jua gagal
Kendati keluarga menanti, mustilah kurelakan bersama selimut sendu

*Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris Semester 4

Oleh: Anisa Rahmawati*

Ramadhan adalah bulan yang istimewa, diantara keistimewaan bulan Ramadhan adalah dilipat gandakan amal ibadah kita oleh Allah. Banyak umat Islam yang berbondong-bondong melaksanakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Mulai dari shalat tarawih berjamaah, puasa ramadhan, shadaqah, tadarus Alquran dan berbagai macam ibadah lainnya. 

Namun, berbeda dengan ramadhan  kali ini yang tiba di masa pandemi masih berlangsung. Pelaksanaan ibadah bulan ramadhan yang terkait dengan kerumunan banyak orang memiliki peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. 

Salah satu kebijakan pemerintah yakni tidak diperbolehkannya shalat berjamaah di masjid maupun mushala, baik itu sholat fardhu maupun tarawih. Selain itu, masyarakat juga dilarang melakukan pertemuan yang mengakibatkan adanya perkumpulan massa. Sehingga acara keagamaan seperti pengajian, tausiyah, maupun tadarus di masjid terpaksa ditiadakan untuk sementara.

Masa pandemi ini memang menangkal hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Penetapan aturan pemerintah mengenai ritual keagamaan bulan ramadan mengakibatkan munculnya budaya baru. Meskipun begitu, masyarakat tetap menjalankan ibadah rutin bulan ramadhan meski via online. Salah satunya yakni khataman online. Khataman online muncul sebagai tradisi keagamaan baru di masa pandemi ini. Tidak hanya dilakukan oleh masyarakat umum, beberapa komunitas atau organisasi pun turut melaksanakan khataman online.

Begini Perspektif Fikih

Pelaksanaan khataman yang dilakukan secara online seringkali memanfaat media grup WhatsApp atau Telegram dengan membagi 30 juz terhadap 30 orang dengan masing-masing orang membaca 1 juz. Setelah khatam, salah satu anggota ada yang berdoa, baik secara live streaming atau voice note. 

Dalam tinjauan fikih, praktik demikian dikenal dengan istilah Idaroh (membaca Alquran bersama dengan cara membagi bacaan untuk dibaca sendiri-sendiri). Imam an-Nawawi menjelaskan:

فَصْلٌ فِي الْاِدَارَةِ بِالقُرْآنِ وَهُوَ أَنْ يَجْتَمِعَ جَمَاعَةٌ يَقْرَأُ بَعْضُهُم عَشرا أو جُزٰءًا أَو غَيْرَ ذَلِكَ ثُمَّ يَسْكُتُ وَيَقرَأُ الْآخَرُ مِنْ حَيْثُ انْتَهَى الأوَّلُ ثُمَّ يَقْرَأ الآخَرُ وَهَذَا جَائِزٌ حَسَن 

“Pasal menjelaskan praktek Idaroh Alquran yaitu perkumpulan sebuah golongan yang mana sebagian dari mereka membaca sepuluh juz, satu juz, atau selainnya kemudian yang lain membaca kelanjutan dari bacaan sebagian yang lain. Hal ini diperbolehkan bahkan termasuk kebaikan.” (At-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an, hlm. 103)

Syekh Khatib as-Syirbini juga menegaskan:

وَلَا بَأْسَ بِالْإِدَارَةِ لِلْقِرَاءَةِ بِأَنْ يَقْرَأَ بَعْضُ الْجَمَاعَةِ قِطْعَةً، ثُمَّ الْبَعْضُ قِطْعَةً بَعْدَهَا
“Tidak ada masalah dengan praktek Idaroh Alquran yaitu sebagian kelompok membaca bacaan Alquran tertentu kemudian sebagian yang lain membaca bacaan yang lain setelahnya.” (Mughni al-Muhtaj, VI/348)

Bahkan Imam ash-Shan’ani mengutarakan:

وَيَصْدقُ عَلَى جَمَاعَةٍ كُلٌّ يَتْلُو لِنَفْسِهِ عَلَى الٰاِسْتِقْلَالِ
“Dan (termasuk mudarosah) ialah sekelompok orang yang membaca Alquran sendiri-sendiri secara mandiri.” (At-Tahbir li Idhah Ma’ani at-Taysis, VI/554)

Berdasar pada keterangan tersebut, praktik khataman Alquran online melalui grup media sosial dapat dibenarkan karena tergolong Idaroh Alquran yang bernilai pahala. Yang tentunya dalam praktik Idaroh tidak memerlukan perkumpulan dalam tempat tertentu serta tidak memerlukan proses saling menyimak sebagaimana dalam tadarus. [] waAllahu a’lam.

Referensi : Ngaji Rutin Jumat oleh Kyai Aniq Abdullah, Piji Dawe Kudus

*Mahasiswa Pendidikan Agama Islam semester 6



KUDUS, PARIST.ID - Pesantren Al Mawaddah menggelar Seminar Nasional Online berjudul “Menulis Buku Semudah Chatting” dengan narasumber Amir Faisal, penulis 13 best seller buku Kompas Gramedia. 

Seminar yang diselenggarakan selama dua hari yaitu pada tanggal 14-15 Mei 2020. Telah mencatat rekor baru Leprid, dengan jumlah peserta terbanyak. Penghargaan tersebut diserahkan di Pesantren Entrepreneur Al-Mawaddah, Honggosoco, Jekulo, Kudus. Minggu, (17/05/2020)

Seminar tersebut dilaksanakan secara live streaming di Youtube dan 31 grub Whatsapp dan diikuti dengan jumlah peserta sebanyak 7.777 yang berasal dari 27 provinsi di Indonesia.

Dilansir dari Muria News, penghargaan tersebut tercatat dalam Rekor Indonesia Dunia dengan nomor prestasi 582. Adapun penghargaan tersebut ditujukan kepada Sofiyan Hadi, selaku pemrakarsa dan pembicara seminar. Dan juga kepada Mawaddah Center for Training and Coaching sebagai penyelenggaranya.

Dilansir dari Sindonews.com, Sofiyan mengungkapkan alasan dengan digelarnya seminar dengan judul menulis buku semudah chatting  tersebut  agar dapat diterima semua orang, baik dari kalangan anak-anak  sampai dengan orang dewasa.

"Karena sampai hari ini dari anak TK hingga embah-embah pegang HP dan bermain WA untuk sekedar update status," ujarnya.

Pada seminar tersebut, Sofiyan menyampaikan tentang etika menulis yakni hati-hati bertutur kata bisa jatuh pada dusta, fitnah, bohong hinga hoaks. Begitu juga pada tulisan bahkan taruhlah kita tidak ngetik sendiri dan sekadar share.

"Kita bertanggung jawab atas hal itu karena bisa berurusan dengan UU ITE bahkan akhirat," imbuhnya. (Fiski)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.