MALANG - Lagu berjudul "Seindah-Mu" berhasil membawa mahasiswi IAIN Kudus, Hidayatul Muharromah meraih medali perunggu dalam cabang lomba Cipta Lagu Islami di acara Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset IX 2019 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu (17/07/2019). 

Sedangkan untuk posisi juara I diraih oleh Busthomil Karim dari UIN Malang yang berjudul Sang Pemilik Hati, dan juara II diraih oleh Yuliadi Yusuf dari UIN Makassar yang berjudul Memohon Ampun.

Mahasiswi jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Hidayatul Muharromah merasa senang dapat masuk 10 besar dan akhirnya terpilih menjadi juara tiga.

"Saya sudah bersyukur dapat juara tiga. Apalagi untuk masuk 10 besar perlu perjuangan yang tidak gampang," kata mahasiswi semester 6 ini. 

Ida mengaku membutuhkan waktu 5 bulan dari bulan Maret hingga Juli 2019 untuk dapat merampungkan lagunya yang berjudul "Seindah-Mu".

"Untuk membuat lirik lagu saya melakukan penelitian ke 30 orang dan juga mengambil beberapa referensi dari Al-Qur’an dan Hadits, jadi tidak sembarangan membuat lirik," jelasnya. 

Ia juga berterima kasih kepada UKM SMS IAIN Kudus, Eko Budiarto selaku official, dan gab studio karena telah membantu menggarap lagu ciptaannya sendiri.

"Tanpa mereka semua mungkin saya belum tentu bisa dapat medali perunggu," ungkapnya.

Ida juga berharap isi pesan yang disampaikan dalam lagu yang diciptakannya dapat diterima oleh para pendengar dengan baik. 

"Bagi saya, menjadi Juara bukan tujuan utama. Tujuan utama saya sebenarnya menyampaikan isi pesan dari lagu itu dan menjadikan lagu sebagai media dakwah. Juara hanya sebagai bonus," jelasnya.

Selain itu pendamping pelaksanaan lomba Cipta Lagu Islami, Eko Budiarto mengatakan bahwa lagu yang ditampilkan oleh Ida memiliki keunikan tersendiri dan terinspirasi dari kisah kehidupan. 

“Lagu yang dibawakan ber-genre pop balada yang menyentuh hati, sehingga hal tersebut menjadi keunikan tersendiri dan dapat dinikmati oleh banyak orang,” terang Eko.

Wakil Rektor III IAIN Kudus, H. Ihsan mengapresiasi prestasi Ida dalam lomba cipta lagu islami dan berharap hal tersebut menjadi titik awal untuk lebih bersemangat dalam pelaksanaan PIONIR IX 2019 di UIN Malang. 

“Selaku civitas akademika IAIN Kudus, selalu mendukung dan mendampingi setiap perserta yang bertanding. Semoga cabang lomba lainnya mampu meraih prestasi seperti cabang lomba Cipta Lagu Islami ini,” harapnya. (Arum)


MALANG - Tokoh Nahdhatul Ulama', KH. Ahmad Muwafiq atau yang lebih dikenal Gus Muwafiq mengatakan eksistensi Islam sebagai umat yang terbaik di era globalisasi saat ini perlu dipertanyakan. Pasalnya, Islam yang dulu memiliki peradaban yang sangat maju masih bisa terkalahkan oleh bangsa lain yang tanpa disadari telah menguasai pasar dunia. Hal itu menjadi tantangan besar bagi para mahasiswa PTKIN.

"Ternyata Islam ditarik mundur di titik nadir supaya tidak dapat kembali maju ke depan," kata Gus Muwafiq pada acara PTKIN Bersholawat di panggung utama PIONIR IX UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis (18/07/2019).

Kemunduran kejayaan Islam, Gus Muwafiq mencontohkan, bisa disebabkan oleh umat muslim sendiri seperti karena tidak bisa menghargai perbedaan baik dari segi agama, ras, suku dan lain sebagainya. 

"Manusia itu disuruh Allah _Lita'arofu_ untuk mengerti satu sama lain dan harus ada pengertian. Kita umat Islam akan bertemu dengan bangsa lain yang berbeda dari suku, ras, dan agama seperti yang ada di Indonesia. Rasulullah bertemu dengan bangsa yang berbeda saja tidak masalah," jelasnya. 

Oleh karena itu, Gus Muwafiq menambahkan, sebagai negara dengan umat muslim terbesar di dunia, umat muslim Indonesia harus mampu mempertahankan eksistensi Islam negaranya yang beranekaragam bangsa, suku dan budaya untuk perlu dibekali dengan narasi kebangsaan supaya tidak mudah terkejut dengan hal yang berbeda.

"Mari bersama-sama memahami Islam dari tingkat paling dasar sampai menjadi sempurna supaya negara ini menjadi _Baldatun Thoyyibatun_ ," tegasnya. 

Selain itu, wakil rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. H Isroqunnajah mengatakan bahwa Indonesia Punya tantangan yang sangat besar untuk ke depannya. Tantangan itu sebuah hal yg tidak sulit jika kita terus bersama dalam kebhinekaan.

"Sebagai bangsa Indonesia jangan jadikan perbedaan sebagai pemicu untuk tidak bersatu. Apalagi sebagai negara yang mayoritas umat muslim. Umat muslim harus bisa mencontohkan perilaku yang baik di mata dunia nantinya," katanya. (Arum)


MALANG - Rektor IAIN Kudus, Dr. H Mundzakir melakukan kunjungan kepada para peserta lomba PIONIR IX di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa (16/07/2019).

Kunjungannya kali ini merupakan bentuk dukungan dari Rektor untuk para peserta lomba agar secara psikis mereka dapat bersungguh-sungguh dalam mengikuti lomba.

"Saya tidak menargetkan kemenangan, yang penting mereka mempunyai pengalaman karena pengalaman itulah yang lebih berharga. Kalah menang Itu persoalan kedua," kata Mundzakir.

Sedangkan menurut Salah satu official lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) H. Saiful Mujab, mengaku kunjungan rektor IAIN Kudus berpengaruh dan sangat bermanfaat untuk semua kontingen IAIN Kudus agar lebih percaya diri. 

"Keberhasilan anak tak lepas dari doa dan dukungan orang tua," jelas Saiful. 

Menurutnya, perlombaan tidak hanya memperhatikan faktor fisik saja, tetapi pembangunan mental terhadap peserta juga diperlukan. 

"Sebagus apapun latihan, apabila tidak ada mental maka beda hasilnya. Pendampingan dan dukungan baik dari Rektor, pelatih maupun official akan menumbuhkan rasa percaya diri dan mental untuk bertanding," jelasnya.

Senada dengan Syaiful, H. Ihsan M.Ag selaku Warek III IAIN Kudus mengatakan bahwa yang terpenting semua kontingen dapat bertanding dengan maksimal. Karena dengan usaha yang maksimal akan menghasilkan hasil yang maksimal juga. 

"Kalau peserta lomba sudah dibebani dengan target juara yang ada malah membebani mental mereka. Yang penting bertanding secara sportif dan berkualitas", Ungkapnya. 

Sedangkan, M. Saiful Anam Perwakilan lomba MTQ putra juga mengaku bahwa dukungan rektor sebelum ia tampil membawa pengaruh yang besar baginya. 

"Tadi sebelum tampil saya disuruh tenang dan jadikan perlombaan ini sebagai pengalaman. Ketika tampil saya jadi semangat dan percaya diri," katanya. (Arum)

Postingan Populer

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.