Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Menempa Diri Melalui Pers, Perjalanan Nuha Bersama LPM Paradigma

parist  id
Jumat, Februari 06, 2026 | 23:49 WIB

Potret Nuhayaus Aunila, alumni LPM yang menyatukan akademik dan organisasi.

Kampus, PARIST.ID - Wisuda Sarjana (S1) ke-40 dan Wisuda Magister (S2) ke-21 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus tak sekadar menandai berakhirnya masa studi mahasiswa. Lebih dari itu, momentum ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang yang ditempuh, baik di ranah akademik maupun organisasi. Dari sekian banyak kisah yang hadir, satu di antaranya datang dari Nuhayaus Aunila, alumni Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma UIN Sunan Kudus.

Wisuda bukan hanya tentang toga, ijazah, dan gelar akademik. Ia juga menjadi titik temu antara proses, perjuangan, serta pengalaman yang membentuk karakter mahasiswa selama bertahun-tahun. Bagi Nuha, capaian akademik yang diraihnya tidak bisa dilepaskan dari keterlibatannya di dunia organisasi, khususnya di LPM Paradigma.

Bergabung dengan LPM Paradigma menjadi ruang pembelajaran yang penting bagi Nuha. Tidak hanya memperluas relasi, lembagsa pers mahasiswa ini juga mengajarkannya banyak hal tentang kerja jurnalistik, mulai dari proses produksi karya hingga tanggung jawab moral atas informasi yang disampaikan ke publik.

“LPM membawa perubahan besar buat saya, terutama dalam hal relasi dan pengalaman di bidang pers. Saat diamanahi menjadi Pimpinan Umum, tanggung jawabnya cukup berat karena bukan hanya soal anggota dan pengurus, tapi juga tentang karya yang kita bagikan ke khalayak,” ujarnya.

Menurutnya, dunia pers memiliki kompleksitas tersendiri. Namun justru dari proses tersebut ia banyak belajar, baik secara teknis maupun mental. Ia juga menyampaikan rasa apresiasi kepada seluruh pengurus LPM Paradigma yang telah berjuang dan berkarya bersama selama masa kepengurusannya.

Dalam menjalani perkuliahan, Nuha menilai bahwa akademik dan organisasi merupakan dua hal yang sama penting dan harus dijalani secara seimbang. Tantangan terbesarnya adalah mengatur waktu serta membagi fokus agar keduanya tidak saling mengorbankan.

“Bagi saya, perkuliahan penting untuk kebutuhan akademik, sedangkan organisasi penting untuk pengembangan soft skill dan relasi. Keduanya sama-sama penting dalam membangun diri,” jelasnya.

Manfaat terbesar yang ia rasakan dari aktif berorganisasi adalah pengembangan soft skill yang menunjang akademik, pengalaman dari berbagai kegiatan, serta relasi yang hingga kini masih terjaga. Pengalaman tersebut juga berdampak langsung pada proses perkuliahan, khususnya dalam hal public speaking dan keberanian menyampaikan gagasan.

“Pengalaman organisasi sangat membantu, terutama saat diskusi di kelas. Mahasiswa dinilai dari critical thinking dan keberanian menyampaikan pendapat. Ide yang kita miliki juga lebih luas karena pengalaman kita tidak hanya di dalam kelas, tapi juga di organisasi,” tambahnya.

Di akhir, Nuha menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar tidak ragu untuk aktif berorganisasi dan memaksimalkan setiap proses yang dijalani.

“Menjadi organisatoris adalah privilege buat kita. Maka lakukan dengan maksimal agar hasilnya maksimal juga. Kesuksesanmu tidak berasal dari orang lain, tapi dari dirimu sendiri,” pungkasnya.

Penulis : Rahni Azaria Maulida 
Editor : Aisya Niken Cahya Salim

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menempa Diri Melalui Pers, Perjalanan Nuha Bersama LPM Paradigma

Trending Now