| Mahasiswa KKN UIN Sunan Kudus bersama warga sedang mengoperasikan mesin BSB Pirolisis Generasi ke-5 (11/08) |
Upaya ini merupakan bagian dari pengelolaan sampah di tingkat desa agar sampah yang dihasilkan dapat segera dipilah, diolah, dan dimanfaatkan sehingga tidak menumpuk di lingkungan. Pengolahan dilaksanakan di fasilitas TPS 3R Desa Sidorekso dengan memanfaatkan mesin BSB Pirolisis Generasi ke-5 atau Faspol 5.0. Mesin ini digunakan untuk mengolah limbah plastik melalui proses pemanasan hingga menghasilkan cairan yang kemudian diolah menjadi bahan bakar.
Tidak semua jenis plastik dapat diproses. Plastik yang diprioritaskan adalah jenis non-aluminium foil. Sementara kemasan yang mengandung aluminium foil, seperti bekas kopi dan Nutrisari, tidak digunakan. Jenis plastik seperti mika juga tidak dapat diproses, sedangkan styrofoam dapat dimanfaatkan dengan hasil yang relatif tinggi.
Menurut Rizal, salah satu pihak yang terlibat dalam proses pengolahan, dalam satu kali proses dapat digunakan sekitar 50 kilogram sampah plastik dan menghasilkan sekitar 70–80 persen atau 40–45 liter bahan bakar, tergantung pada jenis dan kondisi plastik.
“Untuk di pengolahan sampah di TPS 3R, khususnya di pirolisis, sampah anorganik plastik itu 50 kg. Dan 50 kg itu kurang lebih jadinya hampir 70–80 persen di angka 40–45 liter,” ujar Rizal.
Cairan hasil pirolisis kemudian disaring dan ditambahkan tanah dari Banjarnegara untuk membantu menjernihkan hasil olahan. Setelah lebih jernih, cairan tersebut dicampurkan dengan aditif. Hasil akhirnya kemudian dibedakan berdasarkan tingkat kekentalannya. Hasil yang lebih cair memiliki karakteristik seperti bensin, sedangkan yang lebih kental memiliki karakteristik seperti solar.
Inovasi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Desa Sidorekso tidak hanya berfokus pada pemindahan atau pembuangan, tetapi juga pada upaya mengurangi dan memanfaatkan sampah sejak dari tingkat desa. Melalui pemanfaatan teknologi pirolisis, Desa Sidorekso berupaya membangun pengelolaan sampah yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan.
Inovasi tersebut sekaligus menjadi langkah untuk mendorong masyarakat agar melihat sampah bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai material yang masih dapat dimanfaatkan apabila dikelola dengan tepat.

