![]() |
| Dokumentasi foto bersama mahasiswa KKN, DPL, dan pihak sekolah STAID Al-Ma’ruf Bali |
Bali, PARIST.ID– Kegiatan Capacity Building dan Studi Tiru yang bertajuk "From Culture to Creative Economy: Membangun Potensi Mahasiswa melalui Inspirasi Kreatif" menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, menggali inspirasi, dan memahami praktik moderasi beragama di tengah keberagaman, pada Rabu, (21/10/26).
Kegiatan ini dilaksanakan melalui kunjungan ke Sekolah Tinggi Agama Islam (STAID) Al-Ma’ruf Bali. Di sana, peserta mempelajari secara langsung pengelolaan pendidikan Islam serta strategi membangun hubungan harmonis di tengah masyarakat Bali yang majemuk.
STAID Al-Ma’ruf Bali berada di bawah naungan Yayasan Al-Ma’ruf Modern yang mengelola jenjang pendidikan mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), hingga perguruan tinggi. Aktivitas akademik di kampus tersebut berlangsung dari siang hingga malam hari dan dipadukan dengan kegiatan keagamaan sebagai bagian dari penguatan karakter mahasiswa.
Salah satu kegiatan rutin yang dijalankan adalah murajaah Al-Qur’an setiap hari Sabtu yang dipimpin oleh mahasiswa penerima beasiswa tahfidz. Selain itu, STAID Al-Ma’ruf Bali juga mengembangkan program penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Bali sebagai bentuk adaptasi dakwah dengan kearifan lokal.
Pihak STAID Al-Ma’ruf menjelaskan bahwa mahasiswa secara aktif dilibatkan dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), termasuk di wilayah terpencil dengan latar belakang agama yang beragam. Dalam KKN tersebut, mahasiswa tidak hanya menjalankan program keagamaan, tetapi juga terlibat dalam kegiatan sosial dan pendidikan, seperti membantu proses pembelajaran di sekolah dasar dan madrasah.
Wujud toleransi juga ditunjukkan melalui partisipasi mahasiswa dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, salah satunya membantu persiapan ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi. Praktik tersebut menjadi bukti bahwa kerukunan antarumat beragama dapat dibangun melalui kepedulian, gotong royong, dan kerja sama.
Kegiatan ini menegaskan bahwa moderasi beragama bukan sekadar konsep teoretis di ruang kelas, melainkan nilai yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan studi tiru ini menghadirkan sejumlah narasumber dari STAID Al-Ma’ruf Bali, yaitu Jumari, selaku Direktur Pendidikan Yayasan Al-Ma’ruf Modern, Novena Ade, selaku Direktur Pascasarjana, Syarof Nursyah Ismail, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana, dan Hy Kusjuniati, selaku Ketua Program Studi Ekonomi Syariah.
Sejalan dengan tema From Culture to Creative Economy, kegiatan ini diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri melalui pemahaman budaya, kolaborasi, dan inovasi, sehingga menjadi generasi yang kreatif, adaptif, serta mampu menjaga nilai toleransi dan kerukunan di masyarakat.


