Narasumber Santoso dan Suparwi sedang menyampaikan materi pada acara tersebut. (Dok. Arif/Parist)

KAMPUS- Beberapa fungsi kerja Senat Mahasiswa (SEMA), diantaranya mulai dari fungsi kontrol, fungsi legislatif, dan fungsi anggaran. Hal itu disampaikan Suparwi dalam dialog pendidikan yang bertema “Pendidikan Politik Melalui SEMA STAIN Kudus”, yang digelar SEMA hari ini (27/10/16),bertempat di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Kampus Barat.


Acara dialog sederhana ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa, terutama bagi mereka yang tertarik dengan perpolitikan kampus. Terlebih dihadiri oleh narasumber Santoso dan Suparwi yang juga alumni SEMA−dulu bernama Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). 

Acara ini berlangsung bertepatan satu bulan dengan acara sebelumnya, yakni seminar kebangsaan yang diadakan pada tanggal 27 September di gedung yang sama. Menurut Latif Asror (22), selaku ketua SEMA, dialog yang diadakan kali ini bertujuan mengenalkan SEMA selaku lembaga legislatif kampus kepada Mahasiswa. “Dulu, waktu OPAK ada salah satu mahasiswa yang bertanya, SEMA itu seperti apa? Dari pertanyaan itulah acara ini diselenggarakan,” tuturnya. 

Sementara itu Santoso mengungkapkan, politik itu identik dengan kekuasaan. Ia menyoroti sedikit tentang pemimpin. “Ada tiga poin penting dari seorang pemimpin. Pertama, pemimpin itu dilahirkan bukan diciptakan. Kedua, pemimpin itu diciptakan bukan dilahirkan. Dan ketiga, pemimpin itu selain dilahirkan juga diciptakan,” pungkasnya.[] 

 Arif


HUT PALWA 51

PARIST- Memperingati ulang tahun ke-21 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pencinta Alam Mahasiswa (Palwa) 51 STAIN Kudus galakkan gerakan peduli sosial donor darah.  Menjalin kerja sama dengan PMI Kabupaten Kudus, kegiatan itu dilaksanakan di Gedung Laborat lantai 1 STAIN Kudus, pada Senin (24/10).

Ketua Palwa 51 STAIN Kudus, Khoirul Mustaqim (24), mengutarakan harapannya agar kegiatan ini turut menjadi bagian dari misi kemanusiaan. Dia juga merasa miris ketika mengetahui banyak dari manusia yang membutuhkan darah. Dengan ini Palwa 51 memperlihatkan bahwa perhatiannya tidak hanya kepada alam saja, tetapi juga sesama manusia.

“Disini Palwa 51 bukan hanya peduli dengan alam saja, sesama manusia juga harus saling peduli dan tolong menolong. Bukankah manusia juga bagian dari alam?” tutur pria yang biasa disapa Genjik itu.
Sebenarnya kegiatan donor darah ini telah direncanakan setahun yang lalu. Namun karena kendala kerjasama dengan Korps Suka Rela (KSR) STAIN Kudus yang mengadakan agenda serupa maka baru bisa terlaksana tahun ini.

Sejauh ini, pendonor yang datang tidak hanya dari kalangan anggota Palwa “51” saja. Tetapi juga mahasiswa dan pegawai STAIN Kudus juga berantusias dan turut ambil bagian. Salah satunya, Yahmin (38), anggota satpam STAIN Kudus itu mengaku senang bisa ikut serta dalam kegiatan donor darah untuk bakti sosial. “Badan terasa enak sekali (karena) bisa mendonor,” tuturnya.

Ia bahkan mengapresiasi kegiatan ini yang dirasa menguntungkan dan membantu mereka yang membutuhkan darah. Terkait dengan target yang ingin dicapai, Palwa 51 berharap sampai pada pencapaian 100 kantong darah.

Harapan lain disampaikan oleh salah satu anggota Palwa 51, Herlina, bahwa terlaksananya kegiatan ini, supaya bisa memajukan UKM Palwa 51. Selain itu juga nantinya mampu menjadi jalan peningkatan soliditas antar anggota. “Semoga donor darah yang pertama kali dilaksanakan, bisa membuat UKM Palwa 51 semakin jaya,” ungkapnya.

Kegiatan lain sebagai rangkaian dari hari jadinya itu, Palwa 51 juga memainkan dolanan tradisional. Namun kegiatan itu hanya dilakukan secara sederhana saja. Sebagai puncaknya kemeriahan hari jadi itu di tutup dengan khataman Al-Quran.[]


                                                 Wilda Adi Pratama

Foto-Foto : Mael/PARAGRAPHFOTO

PARIST.ID, KAMPUS - Siapa yang tak kenal dengan Abu Nawas. Tokoh humoris dan cerdas ini terkenal pada zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid. Abu Nawas, setelah meninggal pun masih bisa membuat orang tertawa. Di depan makamnya ada pintu gerbang yang terkunci dengan gembok besar. Namun, di kanan kiri pintu gerbang itu pagarnya bolong, sehingga orang bisa leluasa masuk untuk berziarah kepadanya. Apa maksudnya dia berbuat demikian?

Mungkin itu adalah simbol watak Abu Nawas yang sepertinya tertutup tetapi sebenarnya terbuka. Ia sepertinya bukan orang biasa, bahkan dari kesederhanaannya, ia adalah seorang guru sufi, namun ia tetap dekat dengan rakyat jelata, bahkan konsisten membela mereka yang lemah dan tertindas. 

Meskipun kini makam tersebut sudah terlihat kumuh, tidak terawat, dan tidak diperhatikan. Namun yang paling penting ialah pelajaran yang bisa diambil dari sikap Abu Nawas.

Hal itu mencuat saat diskusi mingguan yang dilakukan oleh LPM Paradigma STAIN Kudus, Kamis (20/10). Selain para anggota LPM Paradigma, hadir pula dalam diskusi tersebut seorang motivator yakni Juan Siregar. Acara tersebut bertempat di halaman depan rektortat STAIN Kudus. Pada diskusi kali ini, Muhammad Nur Salim selaku narasumber mengambil tema “Belajar dari Abu Nawas”.

Siapa yang tidak mengenal cerita seorang penyair bernama Abu Nawas? Ia hidup pada masa khalifah Harus Ar Rasyid. Selain sikapnya yang konyol, ia juga terkenal dengan kecerdikannya. Ketika itu baginda Raja (Harun) bertanya tentang lebih banyak mana bintang di langit dengan ikan di laut. Abu Nawas menjawab banyak ikan dilaut.

Alasannya karena ikan di laut meski pun terus di ambil tetapi jumlahnya masih tetap banyak. Sedangkan bintang di langit tidak pernah di ambil, sehingga wajar saja bila masih tetap banyak. Sikap seperti ini sering di maknai nyleneh tetapi masuk akal.

Dilihat dari sudut pandang kepemimpinan, Indonesia membutuhkan pemimpin yang seperti itu. Bukan hanya nyleneh tetapi juga bijaksana dan dapat mengemban amanah dengan rasa tanggung jawab. AbdurrahmaN Wahid yang sering di sapa Gusdur, ia adalah sosok yang seperti itu. Disamping itu pula seorang pemimpin harus memiliki cakrawala yang luas sehingga dapat menjawab setiap problematika yang datang. Seperti Abu Nawas, dia selalu mempunyai jalan keluar untuk menjawab semua tantangan-tantangan dari baginda raja, meskipun dengan cara yang tidak biasa tetapi dapat diterima rasio. Semoga bermanfaat!!!



il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.