Syeh Mahir Sampaikan Pesan Damai untuk Umat


Cendekiawan Muslim Syuriah, Mahir Hasan Al Munajjid memberikan sambutan dalam acara halaqah quraniyah
foto: Ulil Albab/Paragraphfoto
KUDUS, PARIST - Perpecahan-perpecahan yang telah lama terjadi di kalangan umat Islam hari ini kembali mencuat. Hadirnya Mahir Hasan Al Munajjid salah satu cendekiawan muslim dari Syuriah. Ia diundang dan memberi sambutan pada acara halaqah quraniyah yang diadakan di aula Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus  (UMK), Jumat (20/1/2017) pagi.

Berkembangnya zaman, fitnah bertebaran dimana-mana sampai kebenaran menjadi kabur. "Perpecahan dan fitnah itu telah lama terjadi, tepatnya selepas Khalifah Umar bin Khatab wafat, kemudian memuncak saat masa Khalifah Usman," ungkap Mahir.Sebagai narasumber tunggal dalam acara bertajuk pesan damai dan cinta tanah air dalam kajian al Qur'an, ulama lulusan Kairo ini menyampaikan pandangan-pandangannya terhadap situasi umat Islam saat ini.

Pemimpin Dzolim
Di tengah gayengnya acara diskusi yang diikuti pelajar-santri serta akademisi, Syeh Mahir melontarkan pertanyaan yang sulit dijawab oleh audien yang datang. "Bagaimana jika ada pemimpin yang dzolim dan memimpin kita, apa yang harus kita lakukan?, apa kita harus memeranginya?, " pancingnya pertanyaan kepada audien dengan bahasa arab yang fasih.

Di dalam pertanyaan tersebut, tak satu pun hadirin yang menjawab. ia kemudian menambahkan, metode ahlussunnah wal jamaah memandang, sedzolim apapun pemerintahan, kita tidak boleh kudeta. Logikanya jika kita melawan, yang terjadi adalah semua jadi penguasa, semuanya jadi hakim. Lalu main hakim sendiri, sehingga tatanan kehidupan akan rusak, maka dari itu Syeh Mahir mengajak kita untuk belajar dari peristiwa di Timur Tengah.

Selain itu Syeh Mahir juga turut berkomentar terkait kelompok-kelompok kecil yang ada saat ini. kelompok kecil atau minoritas itu sebenarnya berbahaya, mereka umumnya menjalin kerja sama dengan luar negeri, karena mereka tak ingin kelompok mayoritas (baca ; ahlussunnah wal jamaah) tumbuh dan berkembang.

"Kita perlu mengajak mereka berdiskusi, karena dengan hal itu kita bisa menjajaki argumen serta dalil yang mereka gunakan, banyak aliran-aliran yang sudah keluar dari jalur," pungkasnya.