Kritik Sastra Mutakhir, Yoseph : Cenderung Abaikan Sifat Akumulatif


PARIST.ID - Ilmu sastra dan kritik sastra merupakan salah satu cabang dari ilmu pengetahuan. Ilmu sastra mempunyai beberapa sifat diantaranya rasional, objektif, empiris, dan akumulatif. Namun, kritik sastra zaman sekarang telah mengabaikan sifat akumulatif tersebut. 

"Saat ini banyak para penulis kritik sastra cenderung membuat teori baru dan meninggalkan teori lama," jelas Yoseph Yapi Tauman, sastrawan dan dosen di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dalam kuliah daring kritik sastra edisi ke 2 yang diselenggarakan oleh  Badan Bahasa Kemendikbud.

Mengangkat tema “Asa pada Kritik Sastra Mutakhir” webinar digelar via live Youtube pada Senin, (06/07) dengan narasumber Yoseph Yapi Taum dan dimoderatori oleh Agus Sri Danardana.

Yoseph menambahkan, sifat akumulatif yang telah diabaikan membuat kritik sastra sedang dalam masalah, hal ini menjadikan kurang menguntungkan bagi perkembangan ilmu sastra di Indonesia. 

"Bahkan tidak ada kesepakatan pendekatan yang jelas mengenai kritik sastra," katanya.

Selain itu, lanjut Yoseph, perkembangan sastra di Indonesia saat ini sudah semakin pesat, bahkan sudah sampai ke pelosok daerah. Namun hal ini membuat kritik sastra mutakhir menjadi paling sepi di Indonesia 

“Ada seorang ahli mengatakan kritik sastra mempunyai 10 pendekatan yang tumpang tindih contohnya saja pendekatan biografis dan pendekatan ekspresif,” jelas Yoseph

Menurutnya, kritik sastra yang sedang dalam masalah perlu dikokohkan kembali supaya peneliti sastra mempunyai orientasi dan gambaran yang jelas mengenai kritik sastra

“Mengokohkan kritik sastra dapat dimulai dari paradigma atau pendekatan ekletik," tandasnya

Terakhir ia berharap, kritik sastra perlu diperbaiki supaya tidak membingungkan dan menguntungkan mahasiwa kedepannya agar bisa menjawab perihal kritik sastra dengan baik sesuai dengan paradigma yang jelas. (Aulia)