Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Setengah Hari Kurang Sedikit

parist  id
Sabtu, Mei 08, 2021 | 11:02 WIB

Ilustrasi: Anam/Paragraph

Oleh: Gibranis*

Hidup dan takdir Tuhan adalah sebuah partikel yang tidak dapat dipisahkan. Bisa jadi kita adalah sebuah unsur zat yang memiliki senyawa, beberapa senyawa yang bertemu hanya mempunyai dua pilihan, akan bereaksi menghasilkan senyawa baru atau tidak bereaksi dan akhirnya hanya saling diam, mungkin orang akan menganggapnya sebuah serendipity.

Aku ingin menulis sebuah narasi, tentang petrichor dan kopi yang dinikmati seorang gadis hari ini. Ada yang sedang ia kalahkan dalam diri, tentang ego, ingin, dan harapan yang telah terkebiri. Gadis itu menikmati melodi alam yang begitu perih jatuh ke bumi, diam mungkin jadi kata paling puisi untuk laratnya rasa yang tak kunjung temui solusi. Ada yang meninggalkan dunianya secara tiba-tiba, ia membawa separuh jiwa yang dibesarkan dengan ketulusan. Di sudut jendela coffe shop ini tempat paling favorit untuk merenungkan yang terjadi, ah! Sial, kenapa aku mendadak jadi peramal untuk gadis ini.

Tidak ada yang dilakukan oleh gadis ini, Ia melihat meja-meja yang dipenuhi pengunjung dengan orang tersayang, mereka tampak bahagia dengan tawa dan canda yang terlepas dari bibirnya. Sesekali tatapan gadis itu juga mengarah ke tempat barista meracik kopi. Gadis pecandu sepi, kopi dan senja ini tidak pernah absen untuk melakukan ibadah ngopi di coffe shop ini. Lihat saja, begitu nikmatnya Ia mencium aroma kopi yang telah ditunggu beberapa menit lalu, maklum saja, coffe shop hari ini begitu ramai. Entah sejak kapan gadis ini jadi pencandu kopi, yang pasti kopi adalah teman terbaik dalam segala perayaan suasana hati.

Beberapa buku yang ia bawa telah tertumpuk rapi di sisi kanan, halaman-halaman yang belum juga diselesaikan terus saja merayu untuk segera dihabiskan. Namun apa daya, hanya kosong yang menjadi penghuni pikiran gadis itu saat ini. Bahkan kopi yang sedari tadi ditunggu tidak lagi membuatnya berselera untuk menikmati kentalnya pahit yang tersisa di tenggorokan. Tampaknya gadis ini sedang patah hati, begitu dalam.

Entah sudah berapa jam Ia duduk di meja ini, menyesap sunyi di antara ramai yang riuh memenuhi, mungkinkah Tuhan akan serta merta menghadirkan apa yang dipikirkan di sini untuk terakhir kali? Sebuah ketidakmungkinan yang selalu disemogakan, bagiku ini adalah kebodohan. Gadis melankolis itu menenggelamkan kepalanya di atas tumpukan buku, sesekali menegakkan kepala dan mencari di mana kopinya, seteguk dua teguk mampu meredakan sejenak kalutnya. Kopi itu hampir dingin, tidak ada lagi hangat yang tawarkan waitress tadi. Sesekali mata sipit itu menyapu ke setiap sudut ruangan, melihat orang-orang yang datang dan keluar, sisanya menenggelamkan dan mengangkat kepala berkali-kali.

Di sudut matanya yang air, kaca itu telah pecah berkeping-keping, aku melihat sebuah bayangan retak bersama ingin. Anak-anak mimpi enggan untuk  bermain, meski sekadar melayarkan perahu kertas bertinta khawatir. Kini gadis itu merasa kerdil di hadapan Tuhan, pada parit-parit yang terbentuk di sisi kanan dan kiri telah mengalir doa yang terkandung di rahim puisi. Ia sedang berdialog dengan Tuhan—tentang apa dan bagaimana, tentang iya atau tidak. Aku tidak tega melihat wajah gadis ini lebih lama lagi, ada yang tertahan di matanya.

Mungkin memang benar kata orang, kalau kita tidak akan tahu seberapa dalam lautan tanpa menyelaminya lebih dulu, jangan hanya memandang sebatas permukaan, terkadang air yang diam itu menyimpan arus yang sangat deras di dalamnya. Dan aku melihat gadis melankolis ini sedang memperlihatkan seberapa dalam lautan yang ia punya. Aku mendengar setiap kata yang diucapkan hatinya. Bukan sebuah hal yang ringan, ini seperti masalah yang amat rumit. Untung coffe shopnya lagi ramai, jadi tidak ada yang memerhatikan gadis ini, semesta memang baik.

            Air mata mulai diseka, meski hatinya belum merasa lega. Kopinya mulai direguk lagi, sudah dingin memang, karena sudah beberapa jam berinteraksi dengan udara. Untung pemilik coffe shop baik hati tidak mengusir gadis ini, bayangkan saja, ia duduk di meja itu sudah beberapa jam dan hanya memesan secangkir kopi yang belum juga habis. Kalau aku jadi pemiliknya mungkin aku sudah mengusirnya dari tadi.

            Tangannya mulai mengambil salah satu tumpukan buku itu, ternyata ia memilih novel, sudah kuduga memang, mana mungkin gadis ini memilih buku yang isinya membuat kepalanya semakin meronta-meronta. Gadis melankolis itu sepertinya memang kebanyakan mikir hingga menumpuk dan ia sendiri yang ribet, terlalu peduli tanpa pernah dipedulikan. Aku tidak habis pikir dengan gadis ini, kenapa ia hanya membolak-balik halamnnya saja, dan lihat saja tatapannya, entah ke arah mana, atau bahkan sudah berjalan-jalan ke kota seberang. Parah memang, gadis ini harus segera mendapat pertolongan.

            Halaman buku yang tadi dibaca sudah tidak lagi dibolak-balik, sekarang ia menenggelamkan kepalanya di atas buku yang tadi hanya dibukanya tanpa dibaca, padahal buku tadi sudah senang karena akan dibaca, ternyata senasib dengan kopi yang sekarang mulai dingin. Gadis itu seperti sedang mengawang-ngawang, kalau boleh aku membaca raut wajahnya, nampaknya aku tahu yang ada di pikirannya. Hanya satu yang sedang ia cari, yaitu solusi. Masalah yang menyangkut keluarga memang berat, apalagi ditambah masalah skripsi dan masalah kecil lainnya. Aih, aku tidak tega melihat raut wajahnya, begitu kalut.

            Sebentar, ada yang memerhatikan gadis ini dari meja sebelah. Dari tatap matanya, seperti menyimpan simpati pada gadis melankois ini. Lihat saja, apakah orang ini mempunyai cukup nyali untuk mendekati gadis yang ada di depanku ini. Gadis melankolis itu masih mnenggelamkan kepalanya, pandangannya masih kosong mengarah ke seberang jalan. Bisa jadi ia kehilangan kesadaran kalau di depannya telah duduk seseorang yang besiap menjadi tempat kesahnya berbagi.

            Firasatku memang benar, tidak selang lama orang itu sudah duduk di depan gadis melankolis itu. Ia seorang pria berkacamata, dari raut wajahnya aku pikir Ia orang baik-baik, tidak ada tanda-tanda orang ini berniat iseng, bahkan Ia seperti iba melihat gadis yang sedari tadi sendiri dan kalut sekali. Hampir tiga menit pria itu duduk dan diam di kursi itu, memerhatikan dengan saksama tingkah gadis yang sekarang ada di depannya. Sepertinya ingin menyapa, tapi Ia sungkan, Ia memilih menunggu gadis itu mengangkat kepalanya.

            Kaget, gadis itu langsung salah tingkah ketika mendongakkan kepala. Mungkin dalam batinnya bertanya, siapa pria berkacamata yang ada di hadapannya ini. Sebab Ia merasa tidak mengenalinya, tapi kenapa berani-beraninya duduk di kursi yang mejanya sama dengannya tanpa ijin terlebih dahulu. Pria itu hanya tersenyum melihat reaksi gadis itu yang tampaak kaget. Mereka saling bersitatap beberapa saat, sebelum pria berkacamata itu memperkenalkan diri.

            Sekarang mereka saling berjabat tangan, saling memperkenalkan nama dengan canggung. Terutama gadis melankolis itu, sikapnya tampak sekali kaku. Sepertinya luka yang ia alami begitu dalam, hatinya enggan untuk terbuka, curuk-curuk luka yang masih menganga masih terlalu sakit untuk sebuah penerimaan. Aku tidak tahu bagiamana gadiss ini sebelumnya, tapi semenjak beberapa jam ia duduk di kursi paling sudut coffe shop ini aku mafhum, gadis ini sedang berusaha menyembuhkan hati, ia terjatuh keras sekali. Mungkin pria ini bisa membantunya.

            Pria itu terlihat bingung harus memulai percakapan darimana setelah memperkenalkan diri, Dengan gugup pria itu membuka obrolan dengan gadis melankolis yang sedari tadi diam, kopinya pun hampir habis. Sepertinya ia tidak berniat memesannya kembali. Mata mereka beradu pandang, satu dua pertanyaan ditanggapai gadis itu dengan baik, tampaknya Ia hanya membutuhkan seorang teman untuk berbicara, aku melihat raut wajanya yang tadi air kini bisa menjadi baik-baik saja seperti yang lain. Obrolan yang semakin nyambung dan menyenangkan memebuat tawa lepas dari bibir gadis itu. Semesta memang baik, Ia menghadirkan orang yang gadis ini butuhkan.

            Aku memerhatikan mereka dengan saksama, ada aroma bahagia yang mulai tercium. Aku senang melihat gadis melankolis itu akhirnya bisa tersenyum. Caffe shop semakin ramai oleh pengunjung, maklum ini memasuki jam istirahat. Gadis melankolis dan pria berkacamata itu juga semakin asyik menikmati obrolan mereka. Tidak ada lagi canggung yang tadi hadir. Sekarang mereka sedang berkongsi cerita tentang buku favorit masing-masing. Kebetulan sekali pria berkacamata itu juga memiliki ketertarikan yang sama dengan dunia gadis melankolis itu.

Aku bukan peramal, tapi aku tahu jika gadis melankolis itu sedang mencari teman yang sefrekuensi denga dirinya. Yang aku lihat, gadis itu susah untuk ditebak dan dipahami. Pria ini mungkin cocok untuknya. Andai aku bisa memotret kebersamaan mereka siang ini. Mungkin sebelum mereka berpisah nanti aka nada kenangan yang tidak terlupa di coffe shop ini.

Tadi aku sempat mendnegar gadis itu bertanya kepada semesta, apakah masih ada bahagia untuknya? Mungkin hidup ini memang tidak melulu tentang siapa, tapi bukankah seseorang juga berhak bahagia dengan orang yang menyayanginya, tentu saja itu di luar keluarga. Buknah suatau saat nanti Tuhan juga akan menghadirkan seseorang yang akan membuat kita menjadi orang yang sangat istimewa? Usianya saat ini mungkin menginginkan hal sama dengan perempuan seusianya  pada umumnya. Masalah yang Ia tanggung sudah cukup rumit, seseorang yang hadir mungkin dapat menjadi penetral rumit yang menyelimuti pikirannya.

Mereka berdua sejenak diam, dan saling bersitatap dengan senyum terkulum di bibir mereka. Lalu sesaat kemudian saling tertawa. Entah apa yang mereka obrolkan, aku tidak erani menguping percakapan mereka. Meskipun aku sekarang sangat dekat dan ada di antara mereka, tapi aku memilih menutup telinga, bukankah tidak baik menguping pembicaraan seseorang? Aku biarkan saja tangan takdir yang akan menyembuhkan hati gadis ini.

Tidak terasa sudah setengah hari kurang sedikit. Sudah banyak jam yang gadis ini habiskan hanya dengan duduk di coffe shop ini. Pria berkacamata yang ada di depan gadis ini juga sepertinya sudah ingin berpamit, karena dari tadi Ia sudah melihati ponselnya. Pria berkacamata itu taampak berat ingin berpamit pergi, mungkin obrolan mereka ada yang belum usai, tapi apalah daya, waktu sudah memberi kode untuk segera pergi. Gadis melankolis itu hanya tersenyum melihat pria berkacamata melihati ponselnya, ia mafhum kalau pria ini akan segera pergi.

Bukankah pertemuan dan perpisahan tidak dapat dipisahkan? Mereka seiring sejalan dengan jalan cerita Tuhan. Jika hari ini kalian dipertemukan, mungkin di lain hari Tuhan mempunyai rencana lagi untuk kisah kalian. Tidak selang lama, pria berkacamata itu berpamit ingin pergi, sungguh kata pergi itu sangat menyakitkan untuk didengar. Aku melihat pria itu sedikit bimbang untuk meninggalkan gadis melankolis itu sendirian lagi.

Kupikir mereka akan bertukar nomor whatsaap agar bisa saling bertukar kabar, tetapi tampaknya tidak demikian. Tidak ada tanda-tanda pria itu akan meminta nomor whatsaap pada gadis itu. Tapi tunggu dulu, ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Pria itu mengeluarkan sebuah kertas ternyata. Dengan senyum termanis, pria itu memberikan selembar kertas kepada gadis melankolis yang masih duduk di tempatnya dan belum beranjak sama sekali.

Gadis itu mengernyit, mungkin ia bertanya apa isi kertas itu. Sebab pria berkacamata itu berpesan dengan lirih di telinganya jika kertas itu tidak boleh dibuka sebelum Ia keluar dari coffe shop ini. Gadis itu deg-degan menerka-nera apa isi kertas itu. Apakah akan berakhir sama dengan sinetron di tv? Entahlah, gadis ini juga masih belum membukanya. Ia melihat pria berkacamat yang berjalan keluar dan hilang di pertigaan. Ia mulai membolak-balik kertas itu.

Sekali lagi gadis itu mengernyitkan dahi setelah membuka kertas yang diberikan pria tadi. Wajahnya yang tadi bahagia kini tidak lagi tampak. Wajahnya kini bercampur kesal, sebenarnya apa yang ditulis pria tadi di kertas itu? Aku menjadi bingung melihat gadis itu. Gadis melankolis itu membereskan bukunya dengan menggerutu. Lalu gadis itu berdiri dan sepertinya Ia ingin keluar dari coffe shop ini. Masih dengan wajah kesal dan rasa tidak terima. Kertas itu pun ditinggalnya di atas maja, dan Ia bergegas menuju kasir untuk mebayar pesanannya tadi.

Langkahnya terlihat tidak baik-baik saja. Laangkah yang tadi sedikit gontai dan tidak ada selera untuk hidup, kini lihatlah langkahnya begitu mantap dan tidak lagi gontai. Aku semakin penasarn dengan isi kertas itu. Gadis itu pun sudah hilang dan berlalu. Aku tidak bisa melihat tulisannya, masih terlipat jadi dua. Sesaat kemudian angin berembus pelan dan membukakan isi kertas itu, sekarang aku bisa melihat tulisannya dengan jelas. Pantas saja gadis itu marah dan kesal, pria berkacamata yang keterlaluan.

“Setengah hari kurang sedikit, aku pamit. Terima kasih untuk obrolan basa-basinya siang ini. aku sudah menjadi teman ngobrolmu kan? Tolong bayarkan pesananku di meja sebelah ya.”

Kupikir cerita mereka akan berakhir seperti Qais dan Laila, ternyata hanya sebatas basa-basi semata. Entahlah, aku semakin bingung. Aku hanya tissue yang masih polos dan sedari tadi membantu gadis itu menghapus air matanya.

 

 *Gibranis, nama aslinya Nuryanti, Mahasiswi Akutansi Syariah Semester Akhir. Seorang gadis melankolisyang rindu dengan kata bebas. Ia lupa bagaimana cara untuk bahagia, tapi ia hanya ingin menjalani hidup secara menyenangkan.

 

 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Setengah Hari Kurang Sedikit

Trending Now