Sebelas partai telah lolos verifikasi dan akan meramaikan PEMILWA 2016
Foto: Melinda/Paragraphfoto

PARIST- Atmosfer pesta demokrasi mahasiswa STAIN Kudus semakin hangat. Sebelas partai dan satu calon ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa dinyatakan lolos verifikasi tanpa syarat oleh Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) di gedung PKM Lantai 1, Senin (28/11) kemarin.

Abrori (22) yang saat ini menjabat sebagai Ra’is Aam UKM Al Izzah, dinyatakan lolos sebagai calon tunggal ketua DEMA 2017. Hal itu dikukuhkan pasca empat partai pengusungnya dinyatakan lolos verifikasi. Empat partai itu merupakan wajah lama partai politik mahasiswa STAIN Kudus yaitu, Partai Nahdlatut Tullab (PNT), Partai Mahasiswa Merdeka (PMM), Partai Kebangkitan Mahasiswa (PKM) dan Partai Pencerah Cakrawala Mahasiswa (PPCM). 

Selain keempat partai tersebut, partai lain juga lolos verifikasi diantaranya adalah PK3, Partai Demokrasi Mahasiswa (PDM), Partai Sahabat Mahasiswa (PSM), Partai Demokrasi Mahasiswa (PDM), Partai Solidarits Mahasiswa (PSK), Partai Insan Cita (PIC), serta Partai Reformasi Mahasiswa (PRM).

Lolosnya semua pendaftar kontestan PELMIWA tersebut mengacu pada peraturan KPUM Nomor 3 tahun 2016. Peraturan tersebut memuat syarat-syarat yang harus dipenuhi partai mahasiswa saat pendaftaran. Berbagai syarat yang telah ditetapkan itu antara lain, jumlah anggota tidak kurang dari 130 mahasiswa aktif dibuktikan dengan fotokopi KTM , memiliki lambang partai, kepengurusan yang lengkap, visi-misi, program kerja dan stampel partai.

Pengundian

Setelah memastikan semua kontestan PELMIWA lolos tanpa syarat, hari itu juga setelah pengumuman KPUM langsung melaksanakan pengundian nomor urut peserta PELMIWA. “Kami memutuskan pengambilan nomor urut dilaksanakan hari ini bersamaan dengan pengumuman verifikasi, sebab tidak ada kontestan yang lolos bersyarat,” jelas ketua KPUM Aning Susilo.
Aning menambahkan, pengambilan nomor urut yang harusnya hari Rabu (30/11). Tetapi karena padatnya agenda dari KPUM, termasuk menjelang masa kampanye, debat, hingga pemungutan suara pada Rabu 7 Desember 2016 mendatang, terpaksa diajukan sekarang.

“Padatnya agenda KPUM membuat kami mau tidak mau harus mengambil keputusan saat ini juga” tegasnya.
Pengambilan nomor urut dilaksanakan dengan sistem undian. Perwakilan partai diberikan kesempatan memilih lintingan kertas berisi nomor urut yang telah disiapkan panitia. Hasilnya, urutan partai disahkan sebagai berikut, PNT (1), PMM (2), PK3 (3), PKM (4), PDM (5), PSM (6), PDM 2 (7), PPCM (8), PSK (9), PIC (10) dan PRM yang menempati urutan terakhir (11).


Melinda Candra Agustina

RESMI : Aning Susilo, Ketua Pemilihan Umum Mahasiswa dan Muhammad Minhajul Abrori saat menyerahkan berkas verifikasi bakal calon Presiden Mahasiswa 2017
Foto: Wilda/Paragraphfoto
PARIST- Bertempat di kantor Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) 2016 STAIN Kudus, Ahmad Minhajul Abrori secara resmi ditetapkan sebagai calon tunggal peserta Calon Presiden Mahasiswa (CAPRESMA) 2017, Rabu (23/11). Abrori akan berkompetisi pada ajang Pemilihan Umum Mahasiswa (PEMILWA) pada tanggal 7 Desember mendatang. Ia mendaftarkan diri langsung ke sekretariat KPUM yang berada di Gedung UKM lantai 1.

Sebagai calon tunggal, Abrori mengaku bahwa ia tidak terlalu minat menjadi Presiden Mahasiswa. Ia ditunjuk dan mendapat dukungan dari anggota UKM Al-Izzah. “Ini sebagai masa pembelajaran untuk saya. Di samping itu juga mendapat dukungan dari anggota UKM Al-Izzah, saya juga didukung teman-teman dari salah satu organisasi ekstra kampus,” jelas Abrori.

Sementara itu, Aning Susilo, selaku Ketua KPUM 2016 menyatakan walau hanya satu CAPRESMA, belum tentu bisa langsung menjadi Presiden Mahasiswa. Masih banyak persyaratan dan tahapan yang harus dilaksanakan. Misalnya, harus diusung oleh minimal tiga partai, lolos verifikasi oleh KPUM dan beberapa aturan lainnya.

“Meskipun hanya satu calon belum tentu bisa menjadi Presiden Mahasiswa,” jelas Aning. Ia menambahkan jika panitia belum bisa memutuskan bagaimana prosedur pemilihan calon tunggal, maka akan didiskusikan oleh Pimpinan STAIN Kudus.

Burhan, sekretaris KPUM juga menyatakan bahwa sampai hari terakhir pendaftaran, panitia telah menetapkan hanya satu CAPRESMA. Selanjutnya, akan dilaksanakan sesuai prosedur, apakah akan melawan kotak kosong atau langsung ditetapkan sebagai Presiden Mahasiswa.

Masa pendaftaran PEMILWA sendiri dibuka mulai tanggal 21 – 23 November 2016. Hingga menjelang penutupan pendaftaran, ada sebelas partai dan hanya satu calon Presiden Mahasiswa yang mendaftar ke KPUM. Jumlah ini menurun bila dibandingkan tahun lalu dengan 15 partai dan tiga calon presiden mahasiswa.

Kesebelas partai tersebut meliputi PSM (Partai Sahabat Mahasiswa), PDM (Partai Daulat Mahasiswa), PRM (Partai Reformasi Mahasiswa), PSK (Partai Solidaritas Mahasiswa), PKKK, PIC (Partai Insan Cinta), PDM (Partai Demokrasi Mahasiswa), PKM (Partai Kesejahteraan Mahasiswa), PMM (Partai Mahasiswa Merdeka), PNT (Partai Nahdlotuththulab), dan PPCM (Partai Pencerah Cakrawala Mahasiswa).


LESEHAN : Seorang calon warga baru Teater SATOESH STAIN Kudus sedang menunjukkan aksinya dalam memerankan naskah dengan judul "Laras Tiga" Karya Dukut MN.
Foto : Mael UB/Paragraphfoto
PARIST - Masa Perekrutan Warga Baru (Sapenwaru) Teater SATOESH STAIN Kudus kembali mengadakan pentas tari dan teater, Kamis (17/11).  Setelah melakukan pendaftaran calon warga baru Teater SATOESH ini dituntut untuk mengenal panggung pertamanya. Pentas yang bertajuk “Abadikan Rasa Dengan Karya” ini menampilkan tiga naskah dan satu pementasan tari.  “Pementasan Sapenwaru ini dimaksudkan untuk mengenalkan panggung kepada calon warga baru sebelum menjalani beberapa workshop,” ujar uud ketua Sapenwaru.

Ketika ditanya tentang mengapa pentas ini diselenggarakan calon warga baru sebelum workshop.Uud menjawab karena ketika nanti calon warga baru melakukan workshop mereka tahu. Bagaimana yang dinamakan aktor, mana saja yang membutuhkan improvisasi. “Karena kami tidak mengajarkan teori dahulu baru praktik melainkan sebaliknya,” jelasnya. “Dengan mengajarkan praktik keadaan panggung ketika workshop nanti diharapkan mereka bisa paham materinya,” imbuh lelaki kurus ini.

Acara yang diadakan di Gedung PKM ini sendiri sukses menghibur penonton yang hadir pada malam itu. Dengan penampilan terakhir tentang naskah laras tiga karya Dukut WN, sastrawan nasional. Mamad, Lurah Teater SATOESH menjelaskan bahwa dipilihnya naskah ini untuk pentas karena naskah ini ringan dipahami. Baik dari penonton maupun para aktor yang memerankan dialognya. “Bahasa dari naskah ini adalah bahasa sehari-hari, jadi para pemeran akan mudah untuk memerankan tugas mereka masing masing,” imbuh Mamad.

Tahap Selanjutnya

Setelah para calon warga baru Teater SATOESH menampilkan pementasan dengan tajuk “Pementasan Sapenwaru”. Dalam tahap selanjutnya calon warga baru akan dihadapkan pada workshop ruang dan workshop alam. Workshop ruang rencananya akan diadakan di kampus STAIN sendiri. Sedangkan workshop alam mereka akan dilatih di alam terbuka.
“Mereka akan dilatih lebih keras untuk menguasai bagaimana keaktoran dan penguasaan panggung,” terang Uud. Setelah lulus dari kedua workshop tadi, maka calon warga baru akan menyandang warga resmi Teater SATOESH. []


Mael UB



RATAP

Kala itu mesra dengan sunyi senyap
Di sebuah gelanggang bangsal yang rentan rapuh
Ada yang terkulai lesu menahan haru
Kau bengong, termangu seorang diri
Meratapi balada tragis nasibmu di medan laga
Terasa tajam mata tombak yang menusuk ulam jantungmu
Perih, pedih, bukan main kau hancur luluh

Ah, masa bodoh!
Ternyata kau tak mau larut
Benar, abaikan saja semua itu!
Bangunlah, Tuhan maha Kuasa
Tak usah patah asa hadapi mereka, sebab itu hanya lidah tanpa tulang, tak jua melihat
Simpan saja rintih ratap tangismu, tetap genggam erat titipan itu
Kau pun tahu itu bertuah
Berhenti bengong, putar otakmu!
Sebelum akhirnya kau terpenggal oleh masa
Tetaplah tegar meski dalam ratapan


SANTRI DESA

Resah menggebu di pojok desa yang lengang
Merasakan perkara yang menjejal benak
Ketidakadilan yang dianggap adil
Bahkan terasa adil, hingga tak berasa 
Terpinggir dari majunya peradaban
Tersisih dari sebutan warga berpendidikan
Tereliminasi dari seleksi calon pekerja
Tak peduli jasa pun terlupakan
Getirnya dianaktirikan negeri sendiri
Hanya dengan alasan yang cuma
Bukan pondok tapi kampus megah
Bukan bai’at tapi wisuda
Bukan santri desa melainkan sarjana
Dan segala yang tak bermakna lebih
Santri desa bertanya tak mengerti;
Kami juga jenius, mengapa mesti mahasiswa?
Apa boleh buat,
Di persimpangan jalan mau apa?
Tak mungkin berteriak; “pemerintah perlu diberontak!”
Ah,,,
Lebih baik ikut arus saja
Meski demi secarik kertas yang katanya amat berharga itu
Karena, santri ingin jadi presiden
Lalu merombak pemerintah negeri yang garong ini


TANGAN TANGAN

Corat-coret,
Coret-corat,
Carut marut.
Tanda tangan lagi,
Lagi-lagi tanda tangan.
Tanda tangan yang rumit
Rumitnya tanda tanganmu.
Serumit tampilanmu.
Tampilanmu yang rumit,
Menegaskan, karaktermu begitu cerdas.
Tapi,
Hatiku bilang lain;
Kau tolol!!!
Tololnya dirimu yang cerdas!
Buat apa kau cerdas?!
Cerdas membuatmu tolol!
Kau begitu tolol,
Tololnya dirimu yang cerdas.
Saat kau rasa paling pintar.
Tampilanmu yang rumit,
Menyiratkan tebakan khusus.
Tebakan yang khusus tertuju padaku.
Tebakan yang rumit.
Serumit tanda tanganmu;
Serumit itu pulakah hidupmu?


Warga terlihat sedang mengatre untuk mendapatkan air bersih.
PARIST- Indonesia merupakan negara yang terletak di daerah tropis. Sehingga memiliki dua musim yakni musim  hujan dan kemarau. Pada tahun 2015 ini terjadi kemarau panjang di Indonesia, tidak terkecuali di Kabupaten Kudus.

Berdasarkan pemaparan ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Bergas C Penanggungan. Beberapa titik lokasi di Kudus yang kekurangan air bersih karena kemarau panjang pada 12 desa yakni, Desa Papringan, Blimbing Kidul, Sidorekso, Kedongdowo, Prambatan Lor, Kutuk, Kesambi, Hadiwarno, Jhojo, Termulus, Sadang dan Bulung kulon.

Kekurangan air bersih pada kemarau ini, menurut Bergas disebabkan sedikitnya cadangan air yang ada di sumur dan sumber air lainnya. “Hal ini terjadi disebabkan menurunnya cadangan air di dalam tanah. Cadangan air menurun karena semakin banyaknya lahan beton dibandingkan lahan hijau. Pada dasarnya air turun meresap ke tanah, karena terhalang lahan beton air tidak bisa meresap,” ungkap Bergas saat ditemui Paradigma di kantornya, akhir September lalu.

Mengatasi kekurangan air bersih tersebut, BPBD mengirim air bersih ke desa-desa tersebut. Pemberian bantuan air bersih berasal dari desa yang mengajukan permintaan bantuan air bersih kepada BPBD.

Droping air itu dipergunakan untuk kebutuhan konsumsi, seperti makan dan minum. Tidak untuk keperluan mandi apalagi digunakan untuk pengairan sawah,” tegas Bergas.

Bergas mengatakan selama ada permintaan bantuan air bersih, pihak BPBD akan melayani. Droping air bersih dilakukan terus-menerus sampai masalah air bersih berakhir. Setiap tahunnya BPBD menganggarkan sebanyak 400 tangki air bersih untuk droping air bersih.

Selain dari BPBD, beberapa pihak juga melakukan droping air bersih, seperti PT Djarum, PDAM ( Perusahaan Daerah Air Minum), PMI (Palang Merah Indonesia), dan beberapa relawan lainnya yang peduli terhadap kekurangan air bersih ini. BPBD juga bisa meminta bantuan air bersih kepada Bandan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Pati, jika dirasa bantuan air bersih yang diberikan masih kurang.

Pola Droping Air

“Sumber air bersih BPBD berasal dari PDAM. Dari PDAM didistribusikan ke wilayah-wilayah yang membutuhkan bantuan air bersih,” terangnya. Untuk yang bertanggung jawab pendistribusian air bersih di wilayah kecamtan Kaliwungu adalah Perusahaan Djarum. Sedangkan yang lainnya oleh BPD dan relawan lainnya.

Ada dua cara untuk melakukan droping air bersih. Pertama, droping air bersih dilakukan dengan mengisi tandon ke lokasi-lokasi yang membutuhkan setiap pagi harinya. Kedua, droping air dilakukan secara ngecer, maksudnya warga dikumpulkan pada titik lokasi yang sudah disepakati. Kemudian warga mengantri di depan truk tangki untuk mendapatkan air bersih.

Droping air bersih dengan cara ngecer dilakukan pada sore hari, mengingat pada waktu itu masyarakat sudah berada di rumah atau pulang dari kerja. Kekurangan droping air bersih dengan cara ngecer adalah menghabiskan banyak waktu -sekitar tiga sampai empat jam. Selain itu juga banyak air yang terbuang karena warga berdesak-desakan saat mengantri.

Berbeda dengan desa yang memiliki tandon. Petugas hanya mengisi tandon-tandonnya saja. Kemudian masyarakan hanya perlu membuka kran pada tandon jika ingin mengambil air bersih. Ukuran tandonnya pun berbeda-beda yakni 2000 liter untuk tandon yang berwarna orange, 1500 liter (biru), 1000 liter (putih).

BPBD hanya memiliki tandon sebanyak 14 buah pada tahun 2015. Tandon-tandon tersebut telah didistribusikan ke berbagai wilayah di Kudus. Seperti Desa Kedungdowo tiga buah tandon, Paringan dua buah, Bulung kulon enam buah (dua milik BPBD, empat milik desa), Hadiwarno satu buah, Jhojo tiga buah, Kesambi tiga buah.

Namun masih ada daerah yang belum memperoleh tandon, salah satunya desa Temulus. Hal ini dikarenakan banyak daerah yang membutuhkan bantuan. Sedangkan pihak BPBD hanya memiliki 14 tandon. “Untuk mengatasi hal ini harapan saya, jika ada orang-orang yang berlebihan air bersih juga ikut menolong  orang yang kekurangan air bersih. Kepala desa, RT dan RW setempat bisa menggalang dana dari orang-orang yang mampu untuk melayani satu dukuh,” ungkap Bergas.

Sawah Ikut Mengering

Selain wawancara dengan pihak BPBD Kudus, Paradigma juga menyambangi kediaman Kepala Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Supardiono, untuk lebih memperjelas apa yang menyebabkan daerahnya tersebut dikatakan krisis air bersih. Desa Kutuk sebagian besar dikelilingi hamparan sawah yang luas. Kondisi geografis lokal kawasan tersebut menjadi faktor banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau.

Di musim kemarau ini Desa Kutuk menerapkan sistem tanam P3 yakni Padi-Padi-Palawija. “Pada musim kemarau ini, keadaan sawah di desa Kutuk memang mengalami kekeringan, namun tidak menghambat proses pertanian palawija. Warga memanfaatkan sawah yang kering untuk proses tanam palawija di penghujung musim kemarau ini. Sistem tanam tersebut dapat memperbanyak jumlah panen untuk palawija,” tutur Supardiono di ruang tamu rumahnya (15/10).

Supardiono juga menjelaskan pihak-pihak yang ikut membantu droping air bersih untuk desanya tersebut. Seperti pihak BPBD, PDAM, PMI, dan relawan lainnya. Pihak BPBD membantu droping air bersih setiap satu hari dua tangki dan itu rutin pada bulan Juli dan Agustus tahun 2015.

Selain droping air bersih, Desa Kutuk juga mendapatkan gelontoran air dari Waduk Kedung Ombo. “Sekarang tidak mendapat bantuan droping air lagi, karena Desa Kutuk sudah mendapatkan gelontoran air dari waduk Kedung Ombo. Selain itu akses jalan untuk menuju desa ini sedang ada perbaikan, sehingga truk pengangkut air tidak bisa melewati jalur satu-satunya yang menuju kesini.” ungkap Supardiono.

Dengan adanya gelontoran air dari waduk, warga Desa Kutuk sudah banyak terbantu. Sumur atau sumber air yang berada di dekat aliran sungai sudah terisi air akibat dari resapan air sungai ke dalam sumur.

Bergas berharap, dalam menanggulangi musim kemarau panjang, sebaiknya pembangunan lahan beton dikurangi. Menurutnya, banyaknya lahan beton menjadikan air susah meresap ke tanah. Sehingga cadangan air untuk tahun-tahun yang akan datang semakin berkurang.

Selain itu, Bergas menyarankan untuk membuka lahan hijau kembali, dengan cara menanam pohon di tempat-tempat yang jarang ditanami pohon atau lahan kosong yang tidak terpakai. Atau dengan cara membuat sumur resapan agar mampu menyimpan dan menyeimbangkan cadangan air yang ada di dalam tanah.[]

Yaumis Salam

MENGISI : Seorang warga sedang mengisi tangki dengan air dari pegunungan muria.

PARIST-Krisis air memang menjadi sorotan utama ketika musim kemarau datang, khususnya di beberapa titik daerah di kota Kudus. Seperti halnya di Kalirejo, Kutuk, Larikrejo, Kalioso, Karangrowo, Medini dan Glagahwaru yang berada di Kecamatan Undaan.

Kekeringan yang melanda sebagaian desa di Kudus memang sudah menjadi bahasan yang tak pernah habis tiap tahunnya. Kekeringan yang melanda seolah menjadi langganan di Kota Kretek ini. Hal inilah yang membuat resah masyarakat, termasuk yang berprofesi sebagai petani.

Terkait dengan masalah kekeringan di Kudus, Direktur PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Kudus Achmadi Safa (43)  mengatakan, bahwa pihak dari PDAM  Kudus telah melakukan penelitian dengan Tim Ahli dari ITB (Institut Teknologi Bandung). Hasil kajian dari ITB menyatakan bahwa Kudus akan mengalami krisis air bersih pada tahun 2032 mendatang.

Pemicunya tak lain karena semakin berkurangnya cadangan air akibat kerusakan hutan yang terjadi di sekitar daerah pegunungan Muria. Semakin berkurangnya pohon di hutan pegunungan Muria berarti berkurang juga daerah tangkapan air dan sedikit pula air yang terserap ke dalam tanah.

“Isu kekeringan ini muncul pada tahun 2012, yang mana kita di dampingi Tim Ahli dari ITB meneliti tentang potensi air baku. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa, tahun 2032 deposit air bawah tanah kritis. Artinya, air bawah tanah yang kita ambil tidak maksimal dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk yang begitu pesat,” jelas Safa saat ditemui Paradigma di kantornya 26/10/2015.

Jika keadaan normal dari 40 sumur yang dimiliki PDAM dapat menghasillkan 10 liter/ detik, di kondisi tidak normal seperti sekarang ini debit air berkurang 30 % menjadi 7 liter / detik air yang dapat dihasilkan. Posisi pompa berada di kedalaman antara 25 – 100 m dan air yang bisa diambil itu pada kedalaman 40 - 50 m.

Eksploitasi Tak Terkontrol

Selain daerah tangkapan air yang semakin berkurang. Penurunan debit air terjadi karena adanya eksploitasi yang tidak terkontrol oleh oknum-oknum tertentu yang masih kita temukan. Jika kita cermati sebagai warga Kudus, khususnya masyarakat yang bertempat tinggal di daerah sekitar pegunungan Muria pasti sering melihat tangki-tangki pengangkut air.

Tangki-tangki berkapasitas 3000-7000 liter air ini pulang-pergi dari gunung Muria. Berdasarkan keterangan Hadi (30), kernet salah satu truk tangki yang sedang mengisi air di pengisian milik Muryanto dukuh Panggang Colo, ia mengisi air dari sana, dengan membayar Rp. 30.000-40.000 per tangki. Kemudian ia menjualnya kembali ke pengusaha air isi ulang dengan harga yang bervariasi.

“Ini mau tak kirim ke Jakenan Pati dengan harga Rp. 460.000. Kalau ke Rembang dan Blora Rp. 480.000. Pokoknya harganya di bawah Rp. 500.000,” jelasnya.
Pengeksploitasian air di sekitar pegunungan Muria kini menjadi masalah yang serius. Tak hanya berdampak pada ekosistem yang tidak seimbang, pengeksploitasian secara tidak terkontrol juga mengakibatkan masalah bagi warga yang bertempat tinggal di sekitar pegunungan Muria.

Kepala Desa Colo, Joni Awang Istihadi mengungkapkan, saat menghadapi musim kamarau masyarakat mulai resah, karena debit airnya mulai berkurang. Apalagi dengan adanya eksploitasi air yang tak terkendali seperti yang terjadi.

Pemerintah desa sendiri berharap adanya payung hukum yang mengatur tentang pemberhentian eksploitasi atau pencabutan izin perusahaan yang sangat meresahkan warga. Karena, selama ini belum ada payung hukum untuk menghentikan eksploitasi air pegunungan itu. Sehingga eksploitasi terus berlanjut dan seakan sulit untuk dikendalikan.

“Kami, Pemerintah Desa Colo dan Kajar telah mendatangi Balai Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kudus untuk menyuarakan aspirasi warga. Kami ingin eksploitasi itu dikendalikan dan juga terukur. Kalau diteruskan tanpa pengendalian, bisa menyebabkan debit air di-sumber-sumber air itu berkurang. Kami sudah menyerukannya berkali-kali, tapi tak pernah ada tindak lanjutnya,” kata  Joni saat ditemui Paradigma.

Meskipun belum mendapat tanggapan yang serius dari pemerintah, Joni berharap dari pihak warganya sendiri sudah ada peraturan kelompok masing-masing untuk mengendalikan eksploitasi air.  Bagi warga yang tidak mengindahkan peraturan kelompoknya, maka ia akan dikenakan sanksi. Sanksi dari setiap kelompok sendiri bervariasi tergantung keputusan kelompok penyalurnya.

Direktur Muria Research Center (MRC) Indonesia Widjanarko berharap adanya peraturan daerah (perda) atau peraturan desa (perdes) untuk mengendalikan eksploitasi. “Iya, sangat perlu ada instrumen yang mengatur, baik itu bentuknya Perdes atau Perda. Jika perdes, maka pihak desa bisa mengatur pemanfaatan air di sekitarnya,” ungkapnya.

Ia juga berharap, perlu ada langkah tegas dari pihak desa, perhutani dan pemerintah kabupaten Kudus. “Segera buat rekomendasi untuk menghentikan eksploitasi air di Desa Colo dengan mencabut ijin pengambilan air yang sudah ada dan menata ulang penggunaan air termasuk untuk kebutuhan peziarah (kamar mandi dan wc yang tersebar di Colo),” pungkasnya.


Afandi & Mahya



 
MENGHINDAR: Peserta Lomba PSHT menampilkan penampilan terbaik mereka pada pagelaran PSHT Cup 2 yang diadakan oleh OLGA STAIN Kudus.
Foto : Ismah/Paragraphfoto



PARIST- Persaudaraan Silat Hati Teratai (PSHT) Komisariat STAIN Kudus bekerja sama dengan Pengurus Cabang (PC) PSHT Kudus mengadakan acara lomba PSHT Cup 2 yang diselenggarakan di GOR STAIN Kudus. Kali ini mengusung tema “Menumbuhkan Jiwa Kesatria dan Semangat Sportifitas melalui Persaudaraan”. Lomba ini berlangsung selama dua hari yakni Jumat (11/11) dan Sabtu(12/11).

Pembukaan disampaikan oleh Shobirin, Wakil ketua 3 STAIN Kudus yang ditandai dengan penabuhan gong. Dalam sambutannya, Waket 3 menuturkan tujuan diadakan acara tersebut agar banyak orang yang mengenal budaya asli Indonesia. “Selain budaya, ini juga dapat mempererat silaturahmi,” tambah Shobirin.

Peserta sendiri terdiri dari pelajar SD, SMP, SMA sederajat, mahasiswa dan umum. Selain mewakili sekolah dan universitas, beberapa peserta mewakili asal daerahnya untuk mengikuti lomba pencak silat ini. Para peserta tidak hanya berasal dari daerah Kudus, tetapi juga kota-kota di sekitarnya.

Begitu pula untuk pemilihan juri. Untuk juri sendiri diambil dari berbagai kota, yaitu Siswanto (Blora), M. Fauzi Ni’am (Demak), dan Ratna Dwi (Kudus). Hal ini untuk menghindari prasangka buruk dari peserta yang mengikuti lomba.
“Jurinya berasal dari berbagai kota  biar tak berat sebelah,” jelas ketua panitia, Nurul Arifin (22).

Meskipun baru diadakan untuk kedua kalinya, harapan besar diungkapkan oleh berbagai pihak. “Semoga agenda ini dapat menginspirasi orang-orang untuk menyukai silat,” harap Arifin. Sama seperti Arifin, Fahrul Hidayat (22) sebagai Ketua PSHT PC Kudus juga menuturkan agar acara seperti ini dapat selalu dilaksanakan setiap tahun secara ritun.

Antusiasme terselenggaranya acara juga dirasakan pelatih pesilat. “Saya senang  ada lomba ini,  saya seolah terbawa dengan suasana dan membuat semangat untuk mengikutinya,” terang Firman pelatih dari SMP satu atap Karanganyar, MTs-MA Wilalung serta Desa Kedungwaru Kidul Karangayar Demak.

Mita El-Mianu/Nurani Ismah

Para peserta melakukan upacara pembukaan pada acara lomba Penegak yang diadakan oleh Racana STAIN Kudus.
Foto : Dokumen Racana

KUDUS- Sebanyak 38 sangga dari berbagai sekolah mengikuti lomba penegak se-Binwil Pati di lapangan Balai Desa Ngembalrejo Kecamatan Bae, Sabtu (5/11). Acara ini diadakan oleh RACANA STAIN Kudus dan telah dilaksanakan sebanyak 4 kali. Rincian peserta yang hadir yakni 5 sanggah delegasi Demak, 1 sanggah delegasi Pati, 2 sanggah delegasi Jepara dan 30 sanggah dari Kudus. Masing-masing sanggah terdiri dari 10 orang.

Para peserta diambil dari undangan RACANA STAIN Kudus seperti pada dua tahun lalu. Acara yang berlangsung dari hari Sabtu hingga Senin diperkirakan berjalan dengan meriah. Adapun lomba yang akan berlangsung diantaranya LCC, Jurnalistik, Pentas seni, PBB, Pionering, dan K3.

Berbeda

Lomba Penegak se-Binwil Pati berbeda dengan tahun-tahun lalu. Hal ini dilihat mulai dari pembukaan acara. Pembukaan yang dihadiri oleh pihak Polsek, Polres, Camat, dan Lurah setempat menjadi salah satu perbedaan dari tahun lalu. 

“Tahun Kemarin hanya dihadiri oleh para dosen STAIN Kudus, maka berbeda dengan tahun ini” Jelas Ahmad Mustagfirin, Sekretaris Dewan RACANA STAIN Kudus.

Untuk menyambut para pejabat tinggi ini, RACANA STAIN Kudus menampilkan senam lalu lintas dari SD dan tari kretek yang dikombinasikan dengan gerakan yang dibuat sendiri.
Perbedaan juga dilihat dari serangkaian lomba yang digelar. Lomba yang menjadi keunikan tahun ini yakni lomba Jurnalistik dan PBB Full variasi.
“Keduanya menjadi lomba yang unik, karena sebelumnya tidak ada lomba jurnalistik dan PBB tahun lalu variasinya sedikit,” ujar Mustagfirin.

Jurnalistik

Adapun adanya lomba jurnalistik tidak lepas dari intropeksi RACANA STAIN Kudus. Mereka mengaca dari perlombaan tingkat nasional di Kendari. Pada perlombaan Nasional tersebut digelar lomba jurnalistik.

RACANA STAIN Kudus menyadari bahwa selain memahami dunia perkemahan juga harus memiliki kemampuan jurnalis. Hasil dari perlombaan ini, tulisan para peserta akan dibuat sebagai buletin. Hal ini dengan tujuan mempromosikan kegiatan RACANA baik kepada mahasiswa STAIN maupun kepada sekolah-sekolah di Kudus.[]

Manik Wulandari

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.