Menjadi mahasiswa ibarat berjalan diatas sehelai tali di atas jurang terdalam di dunia. Angan-angan tinggi didukung dengan janji pendidikan dan nama besar “Mahasiswa” sebagai agen perubahan menjadi dambaan setiap orang. Sayangnya hal itu tidak semudah yang dikira.

Wahyu Wibowo (2016) mengisahkan perjalanan Alan dan Farhan sebagai potret mahasiswa yang sebenarnya. Mereka tak sekadar peminta-minta untuk membayar biaya kuliah. Justru terkadang harus rela lapar demi kebutuhan sehari-hari. Mereka harus rela menelan “pil pahit” saban harinya demi menggapai impian bahagia. Meski begitu, menjadi mahasiswa tetaplah menjadi kesempatan yang berharga, sudah sewajarnya bila orang yang berlabel mahasiswa tidak menyia-nyiakan kesempatan istimewa itu. 


Mahasiswa harus berani bermimpi besar, memanfaatkan segala potensi yang tengah dimiliki. Mahasiswa juga harus menentukan pilihan secepatnya, mengakses banyak informasi, dan belajar banyak hal untuk bisa membantu kesuksesanya. Tentu bukan isapan jempol belaka. Melihat kenyataan yang berlaku pada umumnya, kini wadah bagi mahasiswa untuk meraih kebahagiaan pun telah tersedia. Mulai dari organisasi baik intra atau ekstra kampus, juga paket beasiswa baik itu dari pemerintah maupun CSR (Coorporate Sosial Responsibility) perusahaan swasta. 
  
Demikian itu perlu demi mengembangkan skill individunya. Berorganisasi akan melatih daya kepemimpinan seorang mahasiswa, disitu ia juga akan belajar memposisikan dirinya, bagaimana dan sebagai apa ia berperan.

Organisasi ibarat suatu miniatur kehidupan nyata di masa depan, kelak berguna saat terjun dan berkiprah di masyarakat. Sesuatu yang tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa adalah agen bagi kemajuan suatu daerah (baca : masyarakat). Dengan jiwa muda yang mengapi-api serta potensi diri yang terus berkembang, mahasiswa mengemban tanggung jawab besar itu.

Kebiasaan membaca, berdiskusi, dialog, dan menulis adalah ciri orang visioner. Yaitu orang yang tidak gegabah dalam melihat satu persoalan. Orang visioner selalu kritis memandang masalah, melihatnya dengan berbagai sudut pandang. Dalam bertindak ia mengedepankan pikiran, dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Barulah ia akan memberikan solusi yang berguna, bermanfaat bagi kebutuhan masyarakat (boleh dibaca : umat).
Syubban al-yaum, rijaal al-ghada’ , pemuda kini adalah laki-laki kelak dihari berikutnya.  Sebagai pemuda, mahasiswa mau tidak mau kelak akan memegang tongkat estafet kepemimpinan suatu bangsa. Ia adalah generasi yang diharapkan publik untuk merubah nasib suatu bangsa. Dari yang buruk menjadi baik, dari yang baik menjadi maju, dan maju menjadi hebat, bahkan luar biasa, dst. .

Kisah dari Alan dan Farhan yang dituliskan secara kronologis oleh Wahyu Wibowo (2016) dalam bukunya Mendayung Impian Menuju Samudera Bahagia. Inspirasi ditampilkan dalam bentuk cerita yang aktual dan nyata. Dengan latar belakang kondisi yang serba prihatin, kehidupan yang serba pas-pasan, penulis membuka paradigma baru, bahwa mahasiswa memang tidak selalu bahagia. Namun, juga jangan lantas menyerah dan meratapi nasib. Justru hal itu adalah modal utama dalam berjuang mengarungi samudera bahagia.
Dalam kondisi tersebut mahasiswa akan tahan banting dan terbiasa jika menghadapi persoalan sulit. Gambaran rasa prihatin juga membuat mahasiswa lebih tahu diri. Sehingga dalam bertindak ia akan peka dengan sekitarnya, tidak gegabah dan seenaknya.

Bagi saya, itu adalah jawaban bagi orang-orang yang seringkali memandang remeh mahasiswa. Terutama dewasa ini, ketika mahasiswa dianggap tak lagi bertaji. Hanya kuliah, pulang dan meminta “gaji”.
Kita tetap harus menunjukkan bahwa mahasiswa sekarang juga (masih) berpotensi. Inovasi dan karya selalu mewarnai kekayaan dalam maupun luar negeri. Intelektual mereka semakin canggih dengan adanya kemajuan teknologi. Impian mereka terus dipupuk untuk satu tujuan tinggi. Bahagia dan abadi.

Sarjana Pertama

Barangkali kita bisa mengambil contoh juga dari seorang Raden Mas Pandji Sosrokartono, kakak dari Raden Adjeng Kartini. R.M Sosrokartono merupakan sarjana pertama pribumi yang menempuh pendidikan tinggi di Eropa. Selain itu, ia menguasai lebih dari 40 bahasa asing dari seluruh penjuru dunia. Kemampuan dan kecerdasannya itu menjadi kekaguman banyak pihak terutama golongan kompeni. Ia lantas berhasil lolos seleksi menjadi wartawan perang dunia I yang kala itu bertugas di Australia.

Ada ungkapan dan falsafah hidup yang senantiasa dipegang olehnya. Ini patut pula menjadi acuan kita dalam bernegara dan menjalani peran sebagai mahasiswa. Diantaranya ialah,
trimah mawi pasrah, suwung pamrih tebih ajrih. Yaitu menerima ketentuan Tuhan dengan penuh rasa tawakkal, tidak pamrih jika menolong, dan tidak memiliki rasa takut.
Selanjutnya ada ”Nulung pepada ora nganggo mikir wayah, waduk, kantong. Yen ono isi lumuntur marang sesami’’ (Menolong sesama tanpa kenal waktu, perut, dan kantong. Bila ada isinya, diperuntukkan bagi sesama).
Ajaran lain Sosrokartono yang begitu dikenal, yaitu falsafah ‘’Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake’’ (Kaya tanpa harta, sakti tanpa azimat, menyerbu/menyerang tanpa pasukan, dan menang tanpa merendahkan).
Yang tidak kalah penting sebenarnya ialah falsafah hidup ‘’Catur Murti”-nya. Yakni bersatunya Empat hal berupa pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan dalam menjaga keseimbangan hidup.
Bagi saya pribadi, mahasiswa sesungguhnya ya begitu itu. Seseorang yang mau ber-Catur Murti, dengan mengeluarkan (ide/gagasan) pikiran, mengelola perasaan, memilah perkataan serta paham (dengan) perbuatan yang hendak dilakukan.
“Kalau sudah begitu pasti bahagia, gan?”
“Oooo… Kemungkinan besar, iya,”
“Kok bisa?”
“Lho iya, sebab keempat elemen itu sudah mampu dikendalikan. Atau bagaimana?”
“Helleh, Empat elemen, memang kita ini Avatar?”

Muhammad Farid, Pimpinan Redaksi Majalah Paradigma Tahun 2017.

 oleh : Ahmad Afandi*

Sudah lazimnya sebagian besar laki-laki khusunya dewasa perokok, baik perokok aktif maupun pasif. Karena disadari atau tidak ketika kita (para laki-laki) sedang berkumpul, ngobrol sambil ngopi, pasangan tepat dan nikmat adalah rokok. Terlepas entah itu rokok kretek atau filter. Tidak tahu mengapa ketika kita ngopi sambil ngokok serasa selalu ada ide-ide cemerlang untuk menginspirasai setiap perbincangan.

Saya bukan perokok aktif hari ini, namun ketika saya melihat teman-teman atau orang disekitar saya merokok, saya ikut senang. Meski terkadang saya terganggu dengan kepulan asap yang selalu mengarah pada saya namun itu tidak menjadi masalh yang berarti bagi saya. Saya cukup menikmati kopi yang sudah siap saya sruput didepan saya. Setiap saya ngopi sambil ngobrol dengan teman-teman saya perokok aktif pasti selalu tersedia minimal sebungkus rokok dan jajan ringan (kacang, gorengan, keripik). Namun saya memilih jajan-jajan ringan itu saja. Bukan saya tidak suka rokok, namun karena belum terbiasa aktif merokok saja.

Berbicara masalah rokok, kita tidak bisa menafikkan berbicara mengenai H. Djamhari yang mungkin tak seterkenal Nitisemito di Kudus, kota yang terkenal dengan kota kretek itu. Tidak diketahui pasti apakah penemu formula kretek itu dia atau sebelum dia. Yang jelas menurut penelitian yang dilakukan oleh Edi Supratno (Sejarawan Kudus) bahwa H Djamhari waktu itu pernah menggunakan minyak cengkeh untuk mengoles-oles dadanya yang sakit, kemudian ia merasakan perubahan siknifikan dari sakit yang dideritanya.

Konon setelah itu ia meramunya dengan tembakao kemudian dibungkus dengan kelobot (kulit jagung yang sudah diproses). Saat ia merasa kesakitan atas penyakit yang dideritanya, ia menyulut ramuan tadi dengan api, kemudian ia menghisapnya hingga timbullah bunyi dari ramuan tersebut yang berbunyi “kretek,kretek,kretek’ itulah awal mula kata kretek itu terkenal.

Sebuah penemuan fenomenal oleh H Djamhari yang waktu itu harus hengkang dari Kudus dan pindah ke Tasikmalaya. Entah kepentingan bisnis atau kalah dalam persaingan perdagangan di lokal Kudus. Yang jelas, dialah penemu kretek yang sangat bermanfaat dan sebetulnya menjadi obat segala penyakit.

Sebelum itu ada sebuah kisah yang telah kita dengar sampai hari ini, pada waktu itu ada seorang kakek yang mendaki Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah. Didekat puncak gunung kakek tua itu menemukan sebuah tanaman liar yang waktu itu belum dibudidayakan oleh petani, tenaman yang waktu itu menggelantung di dahan-dahan, ranting-ranting, dan batu-batu. Kakek tesebut berteriak Iki tambaku (ini obatku).

Kata tambaku berubah bunyi menjadi tembako yang oleh orang Jawa menyebutnya Mbako. Kemudian seiring berjalannya waktu, nama itu terkenal dengan sebutan tembakau.

Begitu fenomenal tembakau yang sebagian besar tumbuh di Temanggung, Jawa Timur, Lombok dan tempat-tempat sejuk lainnya itu sekarang berubah seakan-akan menjadi sebuah ancaman kehidupan manusia. Tembakau yang secara medis telah dibuktikan sebagai obat herbal, kini kampanya itu diputarbalikkan faktanya oleh oknum yang tidak tau menyebutnya apa.

Tidak tahu seberapa uang yang dikucurkan kepada orang-orang berpengaruh di negeri ini untuk membuat pernyataan bahwa merokok itu berbahaya. Mereka para peneliti, pakar, akademisi, birokrat, parlemen, kesehatan, media dan lain sebagainya ikut menikmati kucuran dana yang dikeluarkan oknum tersebut.

Bahkan lebih ekstim lagi, oknum tersebut mungkin telah menembus dewan pemberi sertifikasi halal agar tidak mengeluarkan sertifikat halal pada bungkus rokok. Ia memaksa para produsen rokok untuk memberinya semacam peringatan berbahaya dengan menuliskan “merokok dapat menyebabkan kangker dst” pada bungkusnya.

Kemudian semakin berjalannya waktu, dan dirasa peringatan tersebut tidak mempan, tanpa ada konfirmasi perubahan tiba-tiba peringatan yang bertuliskan merokok menyebabkan ini itu, mengganggu ini itu dirubah menjadi sangat ekstrim ‘merokok Membunuhmu’. Kita semua tahu bahwa rokok terbuat dari tembakau yang manfaatnya sebenarnya tidak diragukan lagi. Sampai peringatan ini terbit, sebenarnya kelakuan politik anti tembakau macam apa ini? Pada dasarnya gerakan anti tembakau adalah gerakan perang dagang. FCTC (Framework Covention on Tobacco Control) menjadi instumen yang kelihatannya paling luhur, dan ditelan mentah oleh perumus kebijakan kita dibidang kesehatan.

Maka kepada siapakah sebenarnya para perumus kebijakan dan jaringan pendukungnya berpihak? Mereka harus berpihak kepada kebanaran dan mengekspose temuannya tentang manfaat tembakau dengan sebenar-benarnya. Jangan sampai karena kepentingan politik tertentu, kepentingan oknum tertentu menjadi salah satu cara untuk membunuh secara perlahan para petani yang notabene kelas menengah kebawah.

Karena ketidak benaran ‘merokok membunuhmu’ sudah dikampanyekan secara masif oleh pihak tertentu hingga kemudian menafikkan kebenaran ‘merokok Tidak Membunuhmu’. Maka benarlah kebohongan yang disampikan berulang-ulang, akan menjadi kebenaran yang dipercaya. Maka dari itu, sudah saatnya mengkampanyekan kebenaran sebagai kebenaran. Kebenaran itu adalah ‘Merokok Tidak Membunuhmu’ sudah saatnya dikampanyekan. Jika tidak percaya merokoklah, sekali lagi merokoklah. []


*) Penulis ialah Mahasiswa STAIN Kudus, tinggal di Jepara



PARIST.ID-KUDUS,Spanduk bertuliskan bahasa tubuh sebagai bahasa perdamaian terbentang di salah satu sudut Taman Wergu Kudus. Dalam rangka memperingati hari pantomime sedunia, Komunitas Pantomime Kudus (KOMPAK) mengadakan street mime pada Rabu malam (22/03/17)

Kegiatan itu diikuti beberapa komunitas teater dan pelajar di Kudus. Mereka berupaya menghibur masyarakat Kudus dengan pertunjukan pantomime secara live di alam terbuka. Meski awalnya banyak masyarakat yang bingung namun pada akhirnya menerima dan mengapresiasi.

Panitia penyelenggara, M. Ulul Azmi (24) menyampaikan niatan itu dilatar belakangi adanya peringatan World Mime Day yang jatuh pada 22 Maret. Selain itu juga turut mengkampanyekan perdamaian seiring dengan ancaman disharmonisme yang kini sedang memanas. 

“Selain ingin kembali menggaungkan dunia pantomime maksud lain dari event ini yaitu sebagai deklarasi perdamaian,” kata lelaki yang akrab disapa Citul itu.
Ulul menambahkan bahwa bahasa tubuh yang dihasilkan dengan berpantomime merupakan semacam ajakan secara halus. Maksudnya orang tidak perlu takut dibentak atau diingatkan dengan suara dan ucapan, tetapi cukup dengan perbuatan. Ajakan untuk damai menurutnya tidak patut jika berkoar-koar dengan nada yang keras dan mengganggu.
BERSAMA : Para aktor mime dari berbagai kelompok teater berfoto bersama dan mendeklarasikan mereka sebagai Komunitas Pantomime Kudus (KOMPAK) berfoto bersama usai melakukan street art pada Rabu malam (22/3).


“Mending kita hibur masyarakat, biar mereka sendiri yang menilai dan merasakan kedamaian dari perbuatan kita,” tuturnya.

Sementara itu, Wildan (24), salah satu pengunjung dan penikmat seni mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Citul dkk. Menurutnya pantomime bisa menjadi alternatif yang bisa menumbuhkan benih-benih perdamaian lewat kejenakaannya. Masyarakat Kudus harus tahu bahwa pantomime merupakan dunia asyik yang dekat dengan suasana damai dan menyenangkan.
“Pantomime tidak hanya gerak dan melucu dengan make up ala badut, tetapi juga memiliki pesan yang amat dalam,” ungkapnya.

Mengenai masa depan pantomime di Kudus, Arfin Ahmad Maulana, Ketua Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) optimis dunia pantomime akan pesat berkembang. Penilaian itu didasarkan pada semangat anak-anak muda yang menggelora untuk menekuni bidang seni ini. Selain itu dukungan dari berbagai komunitas juga menjadi tolok ukur atas terwujudnya optimisme tersebut.

“Saya melihat antusiasme yang luar biasa. Minat anak-anak, remaja dan orang tua saling mendukung dalam berpantomime,” tukasnya.
Arfin juga berharap supaya ada event lagi yang serupa bahkan lebih meriah dengan tema yang relevan. “Lanjutkan spirit ini dan selamat hari pantomime dunia, 22 Maret 2017,” ucap Arfin.(Far)


“Bagaimana cara tercepat untuk menemukan jati diri ?” tanya seorang pemuda kepada Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe “Letto”).

Lagi-lagi terlihat bahwa manusia lebih tertarik kepada jalan pintas yang tercepat. Instan. Kita tidak pernah ingin merasakan “kemesraan” dalam proses. Pikir kita kebahagiaan ialah hasil dari tercapainya suatu tujuan dan tidak bisa diciptakan. Karena hal itu orang seringkali mengabaikan keselamatan. Akibatnya kita suka mengambil resiko terbesar. “Contoh kecilnya saat hujan kita lebih rela mempertaruhkan nyawa daripada basah sebab rahmat hujan yang diturunkan-Nya untuk kita,” kata Sabrang.

Pencarian jati diri ibarat usaha memelajari apa yang sudah kita kuasai sejak lama. Jati diri adalah nafs yang kehadirannya tak bisa kita rasakan dan lihat. Ia berbeda dengan ruh. Nafs adalah sisi lain diri kita. Ia merupakan gabungan dari pengetahuan, rasa dan keinginan (baca : ambisi).

Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mendefinikan nafs sebagai gabungan dari syahwat, amarah dan emosi. Ia mempunyai sifat yang halus (lathifah) untuk menelisik dan mengendalikan aliran darah. Muara dari itu semua biasa disebut sebagai qalb (hati). Maka sebagaimana hadist shahih, ada satu bagian tubuh manusia jika itu baik maka semuanya akan baik. Dan jika itu buruk maka semua tubuh akan buruk. Bagian tubuh itu ialah hati.

Jati diri seringkali disinggung Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dengan suatu hal yang sudah diketahui dan tertanam dalam benak kita. Jati diri manusia Indonesia adalah individu yang ramah, sopan, dan nerima ing pandum. Lebih dalam lagi bahwa jati diri manusia pada dasarnya hanya paham tentang kebaikan. Segala perbuatan buruk manusia sebab dipengaruhi oleh pengetahuan keinginan tak terbatas dan kebiasaan lingkungannya. Itu didorong oleh sifat dasar manusia sebagai tempatnya salah dan lupa.

Jika kita kembali pada hadits shahih tentang hati, maka disitulah tempatnya jati diri. Hati (qalb) merupakan bagian suci tak bertepi, itulah mengapa ia berkesampatan secara langsung bisa bertemu dengan Allah SWT. Karena kesucian itu juga hati memiliki kans untuk melihat hakikat suatu persoalan, benda dan perbuatan. Hati memiliki ruang tak terhingga untuk dapat memuat apa saja yang dirasakannya.

Yang menjadi masalah ialah tanpa tepiannya itu. Akibatnya, seringkali hati tersakiti oleh hal-hal sepele yang seharusnya tidak layak untuk masuk ke dalam ruangannya. Maka diciptakanlah akal sebagai manajer yang membatasi “gerak” hati. Akal (‘aql) merupakan muara pengetahuan benar-salah, baik-buruk sebagai bekal dan penyeimbang hati.

Jika jati diri menjadi bagian dari nafs, maka perlu kita renungi bahwa sebenarnya ia telah lama kita temukan. Kehidupan sehari-hari kita tidak luput dari jati diri kita. Tabi’at kita. Hanya saja, sebab ia tak bertepi itu kemudian mendorong kita melakukan apa saja dengan semaunya. Terlebih ia dekat kepada syahwat. Ini yang menjadikan seseorang suka mengira-ngira tentang segala yang dicurigainya. Misalnya, jati diri yang feminis memungkinkan seseorang menangis atas persoalan yang ia yakini sulit.

Persoalannya ialah kita seringkali lupa untuk menyeimbangkan keduanya. Antara ‘aql dan nafs mempunyai hubungan yang saling menyeimbangkan. Dengan ‘aql, jati diri feminis tadi akan mendapat edukasi tentang kebenaran dan kepatutan untuk menangis. Sejauh itu memungkinkan kesucian itu dapat dijaga demi kelestarian positif individu (diri) kita.

Konteks diatas bisa kita qiyaskan dengan pemanfaatan air untuk mensucikan badan. Sebagaimana sifat dasar nafs itu suci, maka kesucian itu perlu dijaga dengan tidak membuatnya keruh. Konotasi air yang suci dan mensucikan salah satunya ialah air mutlak. Yaitu air yang mengalir langsung dari mata airnya. Tidak tercampur barang apapun. Asli. Tidak berubah baik itu rasa, bau dan warnanya. Dalam kondisi yang lebih dari dua bak (kulah) itu sah sebagai alat untuk bersuci. Atau jika terpaksa tidak mencukupi jumlah itu air tersebut harus dialirkan kepada bagian yang hendak disucikan.

Maknanya, kemurnian nafs (jati diri) sudah menjadi ketetapan Sang Khaliq yang diberikan pada makhluk-Nya. Selanjutnya menjadi tugas masing-masing makhluk itu menjaganya untuk membersihkan dirinya sendiri dari pengaruh (kotoran) luar dirinya. Yaitu dengan cara menjaga ideologi, prinsip dan kesejatian nuraninya. Jika tidak bisa maka dianjurkan untuk selalu berpikir, mengalir untuk mencari pemahaman yang mendekatkan kepada kesucian tersebut.

Menyangkut ideologi berbangsa dan bernegara, yang konon Indonesia sedang mengalami darurat akan hal itu, jati diri pun tidak perlu dipersoalkan. Pertanyaan besarnya ialah bagaimana kita berdiri sebagai bangsa sebesar ini bila tanpa jati diri. Tentu saja tidak mungkin. Adanya kita sebab jati diri yang melekat sejak lahir. Itu merupakan bagian dari anugerah Tuhan untuk makhluk-Nya. Jati diri merupakan pedoman bagi seseorang dalam mengambil langkah dan keputusan.

Kita perlu menegaskan bahwa jati diri Indonesia adalah Kepulauan Nusantara. NKRI adalah Indonesia itu sendiri. Sejumlah wilayah dengan tanah gemah ripah loh jinawi. Sebuah negara yang ditopang oleh perjuangan kerakyatan, dipupuk dengan kemandirian, dan digagas atas nama persatuan. Holupis kontul baris semboyan kita bertahan dari ancaman (kotor) sebuah pemahaman. Ideologi Indonesia baru yang tanpa tujuan atau kemenangan satu golongan patut kita lawan!

Jika kita kembalikan pada pertanyaan seorang pemuda diawal pembahasan ini, kiranya jelas bahwa jati diri tidak perlu dipertanyakan kembali. Ia sudah ada, menjadi bagian dari kita sejak lahir.
Nggeh a? Ndak ya? Yaudah….
Oleh : Muhammad Farid,
Pimpinan Redaksi Majalah Paradigma 2017.




Berada di ketinggian sekitar 1.200 Mdpl, Desa Bategede tak hanya menyimpan pesona alam asrinya. Pun dengan adat istiadat masyarakatnya, nggantalan adalah budaya khas. Bagi masyarakat Bategede, pembuatan gantal tak sekadar tradisi, itu juga senjata sekaligus peneguh jati diri. 
 
NGGANTALAN : Terdiri dari daun sirih kapur dll. yang dibentuk sedemikian rupa untuk tradisi di Bategede Nalumsari Jepara.
Senyum ramah tersirat dari raut wajah seorang laki-laki separuh baya saat membuka daun pintu berwarna kuning kembang durian. Pak Kusdi (50) namanya. Sambil mempersilahkan kami, di tangannya terdapat sebatang rokok siap ia hisap. Suasana pegunungan yang sejuk membuat perbincangan kami nyaman. Semakin jauh mulailah kami pada pertanyaan tentang nggantalan yang erat akan tradisi pernikahan.

Mimik wajah serius memulai ceritanya pagi itu. Kusdi mengatakan banyak mitos yang dipercaya oleh masyarakat Bategede. Banyak juga petilasan dari leluhur desa yang saling terkait dengan daerah lain yang hingga saat ini masih banyak versi kisahnya. “Panjang sekali sejarahnya Bategede ini,” ungkap juru kunci makam Simbah Resobumi itu.

Sembari duduk bersila di atas kursi berwarna merah muda dan menikmati beberapa pisang, sesekali menghisap pelan rokok dia mulai bercerita dengan nada pelan, kata Bategede berasal dari bahasa Jawa, yakni Bate berarti batu dan Gede berarti besar. Dahulu, ada seorang yang bernama Resobumi sedang bertapa di wilayah Bategede. Sampai suatu saat lewatlah rombongan iring-iringan pengantin menaiki seekor gajah, reog dan jaranan. Rombongan itu dari daerah Menawan Kudus menuju daerah Pancur melalui jalur Bategede. 

Namun, rombongan tersebut tidak meminta izin kepada sang petapa (Simbah Resobumi), sehingga menyulutkan api kemarahan. Mereka dianggap tidak memiliki etika dan kesopanan saat melewati wilayah orang lain. Kemudian Resobumi membuat senjata yang terbuat dari lima lembar daun sirih berisi aphu (kapur sirih) dilinting dan diikat dengan benang putih. Itulah yang disebut nggantal.

Dengan perasaan marah itu, konon, Resobumi melemparkan gantal-nya ke arah gajah hingga saat itu juga tubuh gajah terpecah menjadi tiga bagian. Bagian kepala berada di wilayah Menawan, bagian perut di bumi Bategede dan bagian ekor berada di daerah Pancur. Bagian perut yang berada di bumi Bategede itu kemudian berubah menjadi batu, yang hingga kini di kenal dengan watu ploso. Berawal dari kisah itulah tradisi nggantalan dipercaya. Masyarakat meyakini bahwa tradisi tersebut sangat dianjurkan oleh Simbah Resobumi sebagai perintah leluhur yang harus ditaati. 

“Tradisi yang telah diakui oleh sebagian atau seluruh masyarakat biasanya dianggap sebagai suatu keharusan dan akan terjadi apa-apa kalau tidak dilaksanakan. Begitu pula dengan nggantalan oleh masyarakat Bategede dianggap sebagai syarat wajib saat akan melakukan sesuatu,” Pak Udi bercerita.

Masyarakat Bategede biasanya melaksanakan nggantalan itu tujuh hari atau seminggu sebelum acara pernikahan. Hal tersebut juga berlaku bagi warga Bategede yang meskipun telah berdomisili di daerah lain, bahkan luar pulau sekalipun. Masih tetap harus melaksanakan tradisi nggantalan dengan alasan masih tersemat kepercayaan tertimpa bala’ jika tidak melakukan Nggantalan. Akan tetapi tidak harus pulang ke Bategede, melainkan bisa dengan memesan kepada keluarga untuk meminta bantuan kepada sesepuh desa untuk dibuatkan gantal.

Biasanya pengantin atau keluarganya akan mendatangi sesepuh desa untuk dibuatkan gantal. Sebab memang tradisi gantal ini memang hanya boleh dibuat oleh orang yang dianggap paling sepuh di desa. Sampai saat ini hanya tersisa satu orang, yaitu Suminah yang dimintai bantuan membuat nggantalan dan seluruh sesaji yang diperlukan. Yaitu setiap mempelai pengantin yang merupakan warga asli Bategede harus menyiapkan jarik tawatu, cething jeporo, tebu rejuno, seekor ayam jantan dan seratus linting gantal. Setelah siap semuanya, selanjutnya barulah dibacakan hadlarah dan bacaan-bacaan seperti sholawat dan dzikir.

Setelah prosesi penyiapan nggantalan dan sesaji sudah selesai, gantal yang ada ditempatkan di tempat-tempat tertentu seperti di perempatan jalan, sudut-sudut ruangan rumah serta di sekitaran peralatan dan perlengkapan acara pernikahan. Hal tersebut dilaksanakan dengan maksud meminta perlindungan dari tuhan agar terhindar dari bala’ (musibah).

Konon jika tidak melakukan prosesi nggantalan sudah pasti ada kejadian yang tidak terkira dan tidak diharapkan. “Pada umumnya mempelai yang tidak nggantalan, kehidupan rumah tangganya tidak harmonis dan tidak bertahan lama, salah satu mempelai atau keduanya akan mengalami gangguan jiwa, dan yang lebih parah lagi ada yang sampai meninggal dunia dengan cara yang tidak wajar” paparnya.

Senjata Identitas

Selain untuk acara pernikahan, tradisi  nggantalan juga banyak dilaksanakan oleh masyarakat Bategede untuk acara khitanan, namun tidak wajib selayaknya acara pernikahan. Ada juga warga yang banyak menggunakan nggantal sebagai “pegangan” atau “senjata” bagi warga yang merantau keluar daerah atau kampung halaman.

Menyambung cerita Kusdi, Sutrisno (28), warga Desa Bategede membenarkan bahwa warganya tidak ada yang berani meninggalkan nggantalan. Sebab, pernah ada kejadian pernikahan tanpa nggantalan.”Saat itu malah diselnya meledak dan menghantam orang sampai meninggal seketika,” terangnya.
Lebih jauh, dia mengaku membuktikan bahwa sebab nggantalan kehidupannya tidak direpotkan dengan ujian hidup yang berat selama empat tahun berkeluarga. Namun hal itu juga tidak menjadi tujuan utama untuk percaya dengan nggantalan sebagai suatu yang memudahkan. Alasan lain ialah melestarikan budaya dan tradisi yang sudah ada. ”Ini hanya persoalan melestarikan budaya mas, supaya tidak luntur tergerus arus zaman,” pungkasnya.[]

                                                                                    Faqih Mansyur Hidayat
                                                                                    Eri Susanti

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.