Merokok Membunuhmu?

 oleh : Ahmad Afandi*

Sudah lazimnya sebagian besar laki-laki khusunya dewasa perokok, baik perokok aktif maupun pasif. Karena disadari atau tidak ketika kita (para laki-laki) sedang berkumpul, ngobrol sambil ngopi, pasangan tepat dan nikmat adalah rokok. Terlepas entah itu rokok kretek atau filter. Tidak tahu mengapa ketika kita ngopi sambil ngokok serasa selalu ada ide-ide cemerlang untuk menginspirasai setiap perbincangan.

Saya bukan perokok aktif hari ini, namun ketika saya melihat teman-teman atau orang disekitar saya merokok, saya ikut senang. Meski terkadang saya terganggu dengan kepulan asap yang selalu mengarah pada saya namun itu tidak menjadi masalh yang berarti bagi saya. Saya cukup menikmati kopi yang sudah siap saya sruput didepan saya. Setiap saya ngopi sambil ngobrol dengan teman-teman saya perokok aktif pasti selalu tersedia minimal sebungkus rokok dan jajan ringan (kacang, gorengan, keripik). Namun saya memilih jajan-jajan ringan itu saja. Bukan saya tidak suka rokok, namun karena belum terbiasa aktif merokok saja.

Berbicara masalah rokok, kita tidak bisa menafikkan berbicara mengenai H. Djamhari yang mungkin tak seterkenal Nitisemito di Kudus, kota yang terkenal dengan kota kretek itu. Tidak diketahui pasti apakah penemu formula kretek itu dia atau sebelum dia. Yang jelas menurut penelitian yang dilakukan oleh Edi Supratno (Sejarawan Kudus) bahwa H Djamhari waktu itu pernah menggunakan minyak cengkeh untuk mengoles-oles dadanya yang sakit, kemudian ia merasakan perubahan siknifikan dari sakit yang dideritanya.

Konon setelah itu ia meramunya dengan tembakao kemudian dibungkus dengan kelobot (kulit jagung yang sudah diproses). Saat ia merasa kesakitan atas penyakit yang dideritanya, ia menyulut ramuan tadi dengan api, kemudian ia menghisapnya hingga timbullah bunyi dari ramuan tersebut yang berbunyi “kretek,kretek,kretek’ itulah awal mula kata kretek itu terkenal.

Sebuah penemuan fenomenal oleh H Djamhari yang waktu itu harus hengkang dari Kudus dan pindah ke Tasikmalaya. Entah kepentingan bisnis atau kalah dalam persaingan perdagangan di lokal Kudus. Yang jelas, dialah penemu kretek yang sangat bermanfaat dan sebetulnya menjadi obat segala penyakit.

Sebelum itu ada sebuah kisah yang telah kita dengar sampai hari ini, pada waktu itu ada seorang kakek yang mendaki Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah. Didekat puncak gunung kakek tua itu menemukan sebuah tanaman liar yang waktu itu belum dibudidayakan oleh petani, tenaman yang waktu itu menggelantung di dahan-dahan, ranting-ranting, dan batu-batu. Kakek tesebut berteriak Iki tambaku (ini obatku).

Kata tambaku berubah bunyi menjadi tembako yang oleh orang Jawa menyebutnya Mbako. Kemudian seiring berjalannya waktu, nama itu terkenal dengan sebutan tembakau.

Begitu fenomenal tembakau yang sebagian besar tumbuh di Temanggung, Jawa Timur, Lombok dan tempat-tempat sejuk lainnya itu sekarang berubah seakan-akan menjadi sebuah ancaman kehidupan manusia. Tembakau yang secara medis telah dibuktikan sebagai obat herbal, kini kampanya itu diputarbalikkan faktanya oleh oknum yang tidak tau menyebutnya apa.

Tidak tahu seberapa uang yang dikucurkan kepada orang-orang berpengaruh di negeri ini untuk membuat pernyataan bahwa merokok itu berbahaya. Mereka para peneliti, pakar, akademisi, birokrat, parlemen, kesehatan, media dan lain sebagainya ikut menikmati kucuran dana yang dikeluarkan oknum tersebut.

Bahkan lebih ekstim lagi, oknum tersebut mungkin telah menembus dewan pemberi sertifikasi halal agar tidak mengeluarkan sertifikat halal pada bungkus rokok. Ia memaksa para produsen rokok untuk memberinya semacam peringatan berbahaya dengan menuliskan “merokok dapat menyebabkan kangker dst” pada bungkusnya.

Kemudian semakin berjalannya waktu, dan dirasa peringatan tersebut tidak mempan, tanpa ada konfirmasi perubahan tiba-tiba peringatan yang bertuliskan merokok menyebabkan ini itu, mengganggu ini itu dirubah menjadi sangat ekstrim ‘merokok Membunuhmu’. Kita semua tahu bahwa rokok terbuat dari tembakau yang manfaatnya sebenarnya tidak diragukan lagi. Sampai peringatan ini terbit, sebenarnya kelakuan politik anti tembakau macam apa ini? Pada dasarnya gerakan anti tembakau adalah gerakan perang dagang. FCTC (Framework Covention on Tobacco Control) menjadi instumen yang kelihatannya paling luhur, dan ditelan mentah oleh perumus kebijakan kita dibidang kesehatan.

Maka kepada siapakah sebenarnya para perumus kebijakan dan jaringan pendukungnya berpihak? Mereka harus berpihak kepada kebanaran dan mengekspose temuannya tentang manfaat tembakau dengan sebenar-benarnya. Jangan sampai karena kepentingan politik tertentu, kepentingan oknum tertentu menjadi salah satu cara untuk membunuh secara perlahan para petani yang notabene kelas menengah kebawah.

Karena ketidak benaran ‘merokok membunuhmu’ sudah dikampanyekan secara masif oleh pihak tertentu hingga kemudian menafikkan kebenaran ‘merokok Tidak Membunuhmu’. Maka benarlah kebohongan yang disampikan berulang-ulang, akan menjadi kebenaran yang dipercaya. Maka dari itu, sudah saatnya mengkampanyekan kebenaran sebagai kebenaran. Kebenaran itu adalah ‘Merokok Tidak Membunuhmu’ sudah saatnya dikampanyekan. Jika tidak percaya merokoklah, sekali lagi merokoklah. []


*) Penulis ialah Mahasiswa STAIN Kudus, tinggal di Jepara