Mahasiswa dan Impian Bahagia


Menjadi mahasiswa ibarat berjalan diatas sehelai tali di atas jurang terdalam di dunia. Angan-angan tinggi didukung dengan janji pendidikan dan nama besar “Mahasiswa” sebagai agen perubahan menjadi dambaan setiap orang. Sayangnya hal itu tidak semudah yang dikira.

Wahyu Wibowo (2016) mengisahkan perjalanan Alan dan Farhan sebagai potret mahasiswa yang sebenarnya. Mereka tak sekadar peminta-minta untuk membayar biaya kuliah. Justru terkadang harus rela lapar demi kebutuhan sehari-hari. Mereka harus rela menelan “pil pahit” saban harinya demi menggapai impian bahagia. Meski begitu, menjadi mahasiswa tetaplah menjadi kesempatan yang berharga, sudah sewajarnya bila orang yang berlabel mahasiswa tidak menyia-nyiakan kesempatan istimewa itu. 


Mahasiswa harus berani bermimpi besar, memanfaatkan segala potensi yang tengah dimiliki. Mahasiswa juga harus menentukan pilihan secepatnya, mengakses banyak informasi, dan belajar banyak hal untuk bisa membantu kesuksesanya. Tentu bukan isapan jempol belaka. Melihat kenyataan yang berlaku pada umumnya, kini wadah bagi mahasiswa untuk meraih kebahagiaan pun telah tersedia. Mulai dari organisasi baik intra atau ekstra kampus, juga paket beasiswa baik itu dari pemerintah maupun CSR (Coorporate Sosial Responsibility) perusahaan swasta. 
  
Demikian itu perlu demi mengembangkan skill individunya. Berorganisasi akan melatih daya kepemimpinan seorang mahasiswa, disitu ia juga akan belajar memposisikan dirinya, bagaimana dan sebagai apa ia berperan.

Organisasi ibarat suatu miniatur kehidupan nyata di masa depan, kelak berguna saat terjun dan berkiprah di masyarakat. Sesuatu yang tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa adalah agen bagi kemajuan suatu daerah (baca : masyarakat). Dengan jiwa muda yang mengapi-api serta potensi diri yang terus berkembang, mahasiswa mengemban tanggung jawab besar itu.

Kebiasaan membaca, berdiskusi, dialog, dan menulis adalah ciri orang visioner. Yaitu orang yang tidak gegabah dalam melihat satu persoalan. Orang visioner selalu kritis memandang masalah, melihatnya dengan berbagai sudut pandang. Dalam bertindak ia mengedepankan pikiran, dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Barulah ia akan memberikan solusi yang berguna, bermanfaat bagi kebutuhan masyarakat (boleh dibaca : umat).
Syubban al-yaum, rijaal al-ghada’ , pemuda kini adalah laki-laki kelak dihari berikutnya.  Sebagai pemuda, mahasiswa mau tidak mau kelak akan memegang tongkat estafet kepemimpinan suatu bangsa. Ia adalah generasi yang diharapkan publik untuk merubah nasib suatu bangsa. Dari yang buruk menjadi baik, dari yang baik menjadi maju, dan maju menjadi hebat, bahkan luar biasa, dst. .

Kisah dari Alan dan Farhan yang dituliskan secara kronologis oleh Wahyu Wibowo (2016) dalam bukunya Mendayung Impian Menuju Samudera Bahagia. Inspirasi ditampilkan dalam bentuk cerita yang aktual dan nyata. Dengan latar belakang kondisi yang serba prihatin, kehidupan yang serba pas-pasan, penulis membuka paradigma baru, bahwa mahasiswa memang tidak selalu bahagia. Namun, juga jangan lantas menyerah dan meratapi nasib. Justru hal itu adalah modal utama dalam berjuang mengarungi samudera bahagia.
Dalam kondisi tersebut mahasiswa akan tahan banting dan terbiasa jika menghadapi persoalan sulit. Gambaran rasa prihatin juga membuat mahasiswa lebih tahu diri. Sehingga dalam bertindak ia akan peka dengan sekitarnya, tidak gegabah dan seenaknya.

Bagi saya, itu adalah jawaban bagi orang-orang yang seringkali memandang remeh mahasiswa. Terutama dewasa ini, ketika mahasiswa dianggap tak lagi bertaji. Hanya kuliah, pulang dan meminta “gaji”.
Kita tetap harus menunjukkan bahwa mahasiswa sekarang juga (masih) berpotensi. Inovasi dan karya selalu mewarnai kekayaan dalam maupun luar negeri. Intelektual mereka semakin canggih dengan adanya kemajuan teknologi. Impian mereka terus dipupuk untuk satu tujuan tinggi. Bahagia dan abadi.

Sarjana Pertama

Barangkali kita bisa mengambil contoh juga dari seorang Raden Mas Pandji Sosrokartono, kakak dari Raden Adjeng Kartini. R.M Sosrokartono merupakan sarjana pertama pribumi yang menempuh pendidikan tinggi di Eropa. Selain itu, ia menguasai lebih dari 40 bahasa asing dari seluruh penjuru dunia. Kemampuan dan kecerdasannya itu menjadi kekaguman banyak pihak terutama golongan kompeni. Ia lantas berhasil lolos seleksi menjadi wartawan perang dunia I yang kala itu bertugas di Australia.

Ada ungkapan dan falsafah hidup yang senantiasa dipegang olehnya. Ini patut pula menjadi acuan kita dalam bernegara dan menjalani peran sebagai mahasiswa. Diantaranya ialah,
trimah mawi pasrah, suwung pamrih tebih ajrih. Yaitu menerima ketentuan Tuhan dengan penuh rasa tawakkal, tidak pamrih jika menolong, dan tidak memiliki rasa takut.
Selanjutnya ada ”Nulung pepada ora nganggo mikir wayah, waduk, kantong. Yen ono isi lumuntur marang sesami’’ (Menolong sesama tanpa kenal waktu, perut, dan kantong. Bila ada isinya, diperuntukkan bagi sesama).
Ajaran lain Sosrokartono yang begitu dikenal, yaitu falsafah ‘’Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake’’ (Kaya tanpa harta, sakti tanpa azimat, menyerbu/menyerang tanpa pasukan, dan menang tanpa merendahkan).
Yang tidak kalah penting sebenarnya ialah falsafah hidup ‘’Catur Murti”-nya. Yakni bersatunya Empat hal berupa pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan dalam menjaga keseimbangan hidup.
Bagi saya pribadi, mahasiswa sesungguhnya ya begitu itu. Seseorang yang mau ber-Catur Murti, dengan mengeluarkan (ide/gagasan) pikiran, mengelola perasaan, memilah perkataan serta paham (dengan) perbuatan yang hendak dilakukan.
“Kalau sudah begitu pasti bahagia, gan?”
“Oooo… Kemungkinan besar, iya,”
“Kok bisa?”
“Lho iya, sebab keempat elemen itu sudah mampu dikendalikan. Atau bagaimana?”
“Helleh, Empat elemen, memang kita ini Avatar?”

Muhammad Farid, Pimpinan Redaksi Majalah Paradigma Tahun 2017.