Di Ujung Senja

Ilustrasi
“Taukah kamu kenapa senja itu indah?
Karena Tuhan merangkum semua keindahan hari itu pada senjanya
Dan mama beruntung karena bisa melahirkan Senja dari rahim mama.”
Itulah tiga kalimat terakhir dalam surat mama yang sampai sekarang membuatku tak merasa bersalah karena mama merelakan nyawanya demi melahirkanku. Papa tak pernah menganggapku bersalah. Katanya, aku sama seperti mama. Tapi dalam hal kehilangan aku sama seperti papa, sama-sama kehilangan orang yang sangat dicintainya.

Hari ini, hembusan angin menyapaku bersama langit biru itu. Belum lima detik aku tiba di tempat ini, tapi senja langsung menampakkan wajahnya, bagai tahu cara terbaik untuk menghiburku. Sekilas bayangannya muncul, kembali ke waktu itu. Waktu dimana senyum pertamanya terlihat sangat indah, lebih indah dari semua senja yang pernah kulihat.
---
Satu tahun lalu..
“Tumben langit cerah banget hari ini,” gumamku pelan.
“Langit cerah karena dia tahu ada yang lagi nunggu senjanya,” jawab seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul dan duduk disampingku. Aku hanya diam mendengar jawabannya
“Hai, aku Prakasa,” laki-laki seumuranku itu mengulurkankan tangannya untuk bersalaman denganku.
Tapi, aku hanya menatap tangannya dan perlahan melihat wajahnya tersenyum padaku. Meski aku baru pertama kali melihatnya, tapi matanya terasa nyaman bagiku. Inginku menyalami tangannya, tapi dering telepon dari handphoneku mengurungkan niatku dan kuacuhhkan ia untuk menjawab panggilan masuk.
“Iya pa. Bentar lagi Senja kesana kok,” jawabku pada papa diseberang telepon.
Aku hanya diam melihatnya, kutinggalkan ia tanpa sepatah katapun.
---
Seperti biasa, aku yang mengharap senja, duduk di tempat yang sama usai pulang sekolah.
“Baru kali ini aku melihat dua senja sekaligus, dua senja yang sama indahnya,” terdengar suara yang tak asing lagi bagiku. Ternyata,ia kembali lagi.
“Kok tau namaku?” tanyaku sembari menoleh padanya.
“Iya.Aku dengar saat kamu bicara ditelepon kemarin,” jawabnya.
“Ouh iya. Maaf ya soal kemarin, aku ninggalin kamu gitu aja,” sambungku.
“Gak masalah kok, tapi kamu inget kan namaku?” tanyanya.
“Iya, Prakasa,” sambil tersenyum padanya.
“Panggil aku Kasa saja,” katanya sambil tersenyum lagi.
“Iya Kasa.” Kataku.
“Kamu tau nggak gimana asal usul namaku?” suaranya memecahkan keheningan, setelah sekitar 15 menit kami duduk terdiam disini.
“Gimana?” tanyaku ingin tahu.
“Jadi, ibuku itu suka banget nonton film India. Di film itu pemeran utamanya bernama ‘Prakash’, saking sukanya akhirnya aku dinamai ‘Prakash’ deh. Selain itu, ‘Prakash’ juga bermakna ‘cahaya’ dalam Bahasa India, karena ibuku juga berharap aku bisa bersinar terang seperti cahaya, makanya akhirnya ia milih nama itu. Tapi karena menurut ayahku nama ‘prakash’ kurang cocok untuk orang Indonesia, dia ngubah jadi ‘Prakasa’,” jelasnya.
“ouh,”
“Ceritanya nggak sampai itu aja. Dulu, waktu ibuku hamil adikku. Kami pernah punya tetangga janda. Karena masalah apa aku nggak tahu, tapi sejak dia cerai sama suaminya yang Orang India itu, dia jadi benci banget sama mantan suaminya, dan semua hal yang berkaitan dengan India, semuanya dibenci termasuk namaku jadinya dia nggak ramah dengan keluargaku. Setelah beberapa bulan kemudian tetanggaku punya pacar Orang Arab. Akhirnya saat adikku lahir, ibuku ngasih nama adikku Inur, terinspirasi dari Bahasa Arab ‘Nur’ yang artinya Cahaya. Kamu tau nggak alasannya kenapa milih dari Bahasa Arab?” tanyanya.
“Biar sikap tetangga kamu berubah?” kataku.
“Iya bener banget,” katanya sambil tertawa.
“Hahaha, ibumu lucu banget,” kataku sambil tertawa.
Hariku berubah sejak itu. Semua terasa lebih berwarna.Meskipun kami hanya sebatas bertemu di tempat ini dengan waktu yang singkat. Tapi rasanya aku sudah mengenalnya lama sekali jauh sebelum kami bertemu. Dan waktu singkat itu semakin terasa singkat jika kuhabiskan waktu dengannya.
---
Setelah pertemuan itu ia datang setiap hari, dan aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Terbiasa dengan cara bicaranya, caranya berpikir, matanya yang sering melihatku, dan yang pasti senyumnya.
“Senja. Kamu percaya gak sama takdir?” tanyanya serius.
“Iya. Aku percaya,” jawabku.
“Apa yang buat kamu sepercaya itu?” tanyanya lagi.
“Aku gak tau, tapi papa dulu sering bilang kalau kematian mama itu takdir yang harus kami terima. Aku tahu akulah yang menyebabkan mama tiada, dan itu buat aku merasa bersalah. Karena aku nggak mau berlarut-larut dalam kesedihan, aku percaya sama apa yang diomongin papa. Mungkin kata-kata itu hanya pelarianku, tapi lambat laun aku pun sadar bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini itu takdir,” jelasku.
“(termasuk bertemu denganmu, dan aku bahagia akan takdir yang satu ini)” gumamku dalam hati.
“Tapi aku gak percaya sama takdir,” sahutnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kalau ujung-ujungnya takdirlah yang mengatur hidup kita, kenapa kita diberi akal dan hati untuk bermimpi? Kenapa kita diberi kesempatan untuk memperjuangkan mimpi kita? Kenapa? Karena takdir itu hanya ilusi Senja, mimpilah yang harusnya kita percayai. Walaupun kadang mimpi itu bisa jadi semu dan tak pasti.Tapi mimpi bisa merubah hidup seseorang tergantung bagaimana orang itu mempercayainya.Dan kita harus percaya mimpi kita,” jawabnya.

Aku hanya diam melihatnya, ia yang sedari tadi serius dengan ucapannya, matanya lurus menatap sore yang semakin gelap menelan sang surya. Sudah sejak lama hatiku penuh akan dirinya. Tepatnya sejak pertama kali ia menemuiku. Tapi, sore ini aku baru sadar akan rasa itu.
---
Seketika, awan gelap menyelimuti. Tidak hanya menyelimuti langit biru itu, tapi juga menyelimuti hatiku. Tak kusangka, sore itu adalah sore terakhirmu menemuiku. Berhari-hari aku menunggumu, berharap kau kembali datang membawa senyum yang kurindukan. Rindu yang kini sudah bagaikan daun di musim gugur, bertambah seiring bergulirnya waktu.

Hingga suatu hari sepucuk surat kuterima dari adikmu, Inur. Ia membawaku ke gundukan tanah dengan nisan bertuliskan namamu. Tak terasa pipiku basah, sejenak bayangmu menghampiri dengan senyum indah itu. Kubaca suratmu dan kutahu apa yang menyebabkan kau pergi.

Takdir yang tidak kau percaya itu membuatmu harus berjuang dengan penyakit mematikan itu. Kau menulis semuanya dalam suratmu, dari bagaimana kau menemukanku, penyakitmu, dan perasaanmu terhadapku tapi itu semua hanya menambah luka bagiku karena aku yang merasa tak berguna hanya bisa menangisimu tanpa sempat mengungkapkan isi hatiku. Dan pada waktu, aku hanya bisa bicara dengan nisanmu.

Langit cerah ini mengingatkanku pada satu tahun lalu, pada senja pertama kali kita bertemu. Kau dengan percaya dirinya mengajakku berkenalan tapi aku hanya pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sekarang hal itu berbalik kepadaku. Kau yang kunantikan, malah pergi begitu saja tanpa berpamitan.

Senja kini berubah menjadi senja yang paling tak ingin kulihat. Rindu yang bagaikan daun di musim gugur itu berubah beku bagai salju. Senyummu yang selalu ku nanti kini hanya menciptakan air mata yang kian derasnya di pipiku. Tiba-tiba aku ingat apa arti namamu, ‘prakash’ yang berarti ‘cahaya’. Kaulah cahaya yang hilang karena merelakan senja menampakkan dirinya.

Kasa, kau orang pertama yang menyadarkanku bahwa tak selamanya senja itu indah, karena sejak kepergianmu, senja bagai kutukan bagiku. Bagaikan memori yang ingin selalu kuingat indahnya, tapi tanpa sadar juga menyayat hatiku.

Caramu berpamitan mengingatkanku pada mama. Dan kalian sama. Sama-sama meninggalkanku di ujung senja. Di ujung senja ini pula, aku ingat perkataanmu tentang mimpi, dan waktu itu, aku sangat percaya akan mimpi, karena kematianmu adalah mimpi buruk bagiku.

Tapi ada hal yang pernah kulupa waktu itu. Jika senja bisa menghilangkan cahaya dan menciptakan mimpi buruk. Pasti fajar juga bisa datang menepis gelap dan menciptakan mimpi indah, hanya saja perlu waktu untuk fajar itu tiba.[] (shyn)