Merasakan Getir Cinta Dalam Suasana Perang

Kita tentu masih ingat dengan sejarah pertempuran lima hari di Semarang. Pertempuran oleh rakyat pribumi dengan penjajah Jepang itu ternyata tidak hanya meniggalkan bekas luka. Tetapi juga ada kisah cinta dan romantisme yang terekam secara nyata dalam novel karangan Sayfullan ini.
Buku Cinta Untuk Perempuan dengan Bulir-bulir Cahaya Wudhu di Wajahnya
Novel bergenre sejarah ini menjadi salah satu karya sastra yang menarik. Sebab, di dalamnya tidak hanya berkisah soal fiktif belaka, melainkan benar-benar berdasarkan fakta dan realita. Novel ini bercerita tentang Ali, Avifah, dan Baruji, tiga sekawan yang berbeda kasta. Ali merupakan anak angkat dari Kasripan atau Den Baguse, seorang lurah, pengusaha dan tuan tanah di Kampung Kulitan, Semarang. Kasripan sendiri adalah tokoh yang terkenal di kampung sebab kekayaan dan kebijaksanaannya. Ia juga berlaku sebagai satu-satunya orang yang dipercaya oleh penjajah Jepang di Kulitan. Sedangkan Avifah, gadis cantik dari kalangan menengah kebawah yang diam-diam disukai oleh Ali. 

Bagian awal dibuka dengan sederhana, pengenalan karakter tokoh-tokohnya dengan latar keadaan Semarang tahun 1944. Ketiga tokoh utama juga digambarkan dengan masing-masing karakter yang jelas dan kuat. Ali misalnya, yang sedari awal cerita memiliki tabiat bandel tetapi juga cerdas dan memiliki jiwa nasionalis yang tinggi. 

Itu digambarkan dalam dialog dalam bab 3, saat Ali bergumam dengan Baruji tentang ketidaksetujuannya terhadap pemberlakuan aturan hormat kepada matahari (saikeirei). Ali merasa bahwa aturan itu tidak sesuai dengan syariat yang dianutnya. Ia pun tak segan untuk membangkang kepada pemerintah Jepang, meski berkali-kali harus dipukuli dan dilucuti pakaiannya (Hal 30).

Buku ini terbagi atas 26 bab yang setiap babnya berisi konflik-konflik dan romantika yang saling berkaitan. Pada bab satu hingga tiga, penulis menyajikan awal romantisme Ali dan Afivah secara diam-diam. Memasuki empat, lima hingga bab delapan, kita akan menyelami getirnya perjuangan cinta Ali terhadap Afivah yang tidak direstui oleh Den Baguse dengan alasan perbedaan strata sosial. “Tentu saja, Ali. Karena itu, bapak ingin kau bahagia dengan gadis yang lebih baik dari sekedar Fah!,” (hlm. 80).

Jugun Ianfu

Meski begitu, cinta yang dinanti Ali pun nyatanya terkabul. Dikisahkan dalam bab sepuluh, saat itu Den Baguse berupaya menyelamatkan Avifah dari tentara Jepang yang ingin menjadikannya sebagai Jugun Ianfu atau budak pemuas nafsu tentara Jepang. Ali dan Baruji sesungguhnya tidak menyangka jika ayah Ali akan melakukan hal itu.

Dan benarlah, menjelang wafatnya, Den Baguse kemudian menikahkan mereka sebagai permintaan terakhir. “Itu permintaan Bapak terakhir, tolong kabulkan keinginan orang tua yang hampir menemui ajal, kumohon, Li. Menikahlah hari ini, di depan Bapak sekarang. Karyo akan menyiapkan segalanya. Iya kan, Yo?,” (hlm. 155).

Namun cinta itu ternyata tak sebagaimana yang diharapkan. Seminggu setelah menikah, Ali harus pergi berperang melawan Jepang di pertempuran Ambarawa. Itu sekaligus menjadi ujian bagi Avifah yang akhirnya harus merelakan Ali yang gugur di medan pertempuran. Seketika itu, Ali berwasiat kepada Baruji untuk menikahi Avifah. Butuh waktu delapan bulan untuk Afivah menghilangkan bayangan Ali dan memaksa hatinya untuk mencintai Baruji. Namun, akhirnya Afivah tersadar untuk mencintai Baruji untuk hidup bahagia dan sejahtera. 

Buku ini memberi pengalaman getir dan mengharukan soal cinta dalam medan peperangan. Nilai perjuangan, kesetiaan dan ketulusan mendalam tergambar jelas. Membaca buku ini juga memberikan pengalaman menarik soal kondisi Semarang era penjajahan Jepang. Pemilihan diksi dan gaya penulisan yang komunikatif membuat novel ini mudah dipahami.[]

Judul : Cinta Untuk Perempuan dengan Bulir-bulir Cahaya Wudhu di Wajahnya
Penulis : Sayfullan
Cetakan : I, April 2017
Tebal : 256 Halaman
Penerbit : Diva Press
ISBN : 9786026116086

Diresensi Oleh Faqih Mansyur Hidayat, Mahasiswa STAIN Kudus, bergiat di LPM Paradigma Kudus