Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Pemimpin yang Tuhan ‘Cak Nun’ : Menjadi Pemimpin Beradab

parist  id
Sabtu, April 16, 2022 | 11:26 WIB

 

Foto: Istimewa/CakNun.com


Identitas Buku

Judul buku        : Pemimpin yang Tuhan

Penulis              : Emha Ainun Nadjib

Penerbit            : Penerbit Bentang

Tahun Terbit        : 2019

Kota terbit        : Yogyakarta

Cetakan            : 3

Tebal buku        : viii + 388 halaman

ISBN                 : 978-602-291-512-6

 

Indonesia merupakan negara yang terus mengalami perkembangan. Suatu fenomena yang ada di bangsa ini seringkali menjadi sebuah perbincangan yang hangat. Berbagai isu penting saat ini mulai bermunculan dan menjadi banyak perbincangan oleh masyarakat, seperti persoalan ke-Bhinekaan, Pancasila, Toleransi, Kemajemukan, hingga demokrasi yang saat ini tengah ramai. Isu-isu tersebut bermunculan seiring dengan fenomena yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Seperti yang kita lihat sekarang ini, publik dibuat resah dengan adanya kontestasi politik yang membuat berbagai golongan memanas. Apalagi dengan ramainya provokator bermunculan di ranah media sosial, mengingat media sosial merupakan tempat banyak orang bisa memperoleh informasi mengenai isu atau fenomena yang tengah terjadi. Sayangnya, beberapa orang menggunakan media sosial dengan kurang bijak, seperti memberikan komentar yang kurang berimbang tanpa berpikir secara jernih.

Melalui berbagai isu yang ramai dibicarakan, seperti halnya politik, ekonomi, budaya, agama, sosial, seringkali masyarakat dibuat bingung terkait campur aduk berbagai isu. Sehingga logika menjadi sesak dan sulit untuk melihat mana yang benar dan salah. Tanpa berpikir jernih, seringkali orang memberikan komentarnya dengan bebas di media sosial. Orang-orang saling berdebat mengukuhkan bahwa ketikan jarinya (komentar) yang paling benar. Perselisihan adalah hal yang wajar, tetapi masyarakat semakin tidak cakap dengan merasa dirinya yang paling benar, sedangkan memandang orang lain salah.

Melihat isu dan fenomena yang terjadi, Emha Ainun Nadjib atau yang lebih akrab disapa Cak Nun memberikan refleksi mengenai cara pandang guna menilai persoalan-persoalan Bangsa Indonesia dengan lebih teliti, cermat, dan bijaksana. Melalui bukunya yang berjudul “Pemimpin yang Tuhan”, buku ini terbagi menjadi sembilan bagian, diantaranya: Suara Keledai, Bedhol Negoro, Negeri Khilafah, Makam Pancasila, Pemimpin yang Tuhan, Siklon Jogja Guru Utara, Anak-anak Garuda, Masyarakat Tahlil, dan Kenangan Angon.

“Benar dan salah harus jelas di wilayah hukum. Namun, di wilayah budaya, ada faktor kebijaksanaan. Wilayah politik, ada kewajiban untuk mempersatukan. Agama menuntun kita dengan menghamparkan betapa kayanya dialektika antara sabil (arah perjalanan), syari’ (pilihan jalan), tahriq (cara menempuh jalan), dan shirath (presisi keselamatan Bersama di ujung jalan)” (halaman 15).

Cak Nun mengajarkan kita untuk menjadi sosok manusia yang memiliki pandangan sesuai realita, sehingga dapat membedakan mana yang salah dan benar. Jika melihat keadaan Bangsa Indonesia saat ini, banyak orang menganggap “benar ialah menyalahkan” sebagaimana “menang ialah mengalahkan”. Padahal nenek moyang bangsa ini mempunyai prinsip “menang tanpa ngasorake”. Disinilah kita perlu untuk senantiasa mengkoreksi diri sendiri, jangan-jangan kita lah yang salah dan telah mendzalimi orang lain. Maka jika benar demikian keadaannya dapat disebut sebagai “Pemimpin yang Tuhan”.

Kebijaksanaan

“Kenapa sekarang ini manusia menjadi sangat pemarah? Kenapa orang makin gampang marah dan makin sukar memaafkan? Kenapa manusia sepertinya sedang membawa dendam kepada sesamanya sampai mati?.” (halaman 27)

Itulah pertanyaan yang dilontarkan cak nun terhadap fenomena masyarakat saat ini. Lebih lucunya kita sering melakukan perdebatan yang berujung pada kemarahan dan dendam terhadap perbedaan untuk memilih siapa pemimpin yang baik?.

Kepercayaan terhadap pemimpin memang dianjurkan, karena sebagai rakyat harus patuh kepada ulil amri. Tetapi kepercayaan yang membabi buta tentunya tidak dianjurkan, sebagai rakyat butuh pemikiran yang kritis dan cermat. Cak nun mengajak kita untuk mawas diri, tidak hanya melakukan intropeksi kepada pemimpin tetapi juga kepada diri sendiri selaku rakyat.

Keberadaban di Indonesia

“Negara dan pemerintah tidak menerapkan formula hukuman yang mempermalukan para koruptor di depan rakyat. Bukan karena para koruptor dilindungi dan disembunyikan dari rakyat. Melainkan karena sudah menjadi pengetahuan Bersama bahwa Tindakan mempermalukan hanya efektif untuk mereka yang punya rasa malu.” (halaman 254).

Kasus korupsi yang ada di negeri ini bukanlah persoalan yang baru. Banyak dari pemimpin telah tertangkap menyalahgunakan kuasa wewenangnya. Mereka para pemimpin yang menyalahgunakan uang negara dapat dikatakan mereka tidak mengetahui konsep sebagai seorang pemimpin. Banyak dari mereka memilih menjadi pemimpin karena karier, ambisi pribadi, sumber kekayaan pribadi, dan sebagainya.

Pemimpin dapat dikatakan budaknya masyarakat. Seorang pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan kuat harus mau terjun di tengah-tengah masyarakat, berani merasakan kesusahan yang dialami oleh rakyat. Pemimpin dinyatakan gagal ketika mereka tidak memiliki integritas tinggi dalam kepemimpinan. Sebagaimana pemimpin tidak dapat menguasai topik permasalahan sehingga dia tidak bisa menilai apakah tindakannya benar atau justru keliru.

Sisi gelap yang terjadi pada bangsa ini bukanlah perkara korupsi semata, akan tetapi nilai-nilai keberadaban yang seakan hilang. Jika seorang pemimpin yang memiliki adab, tentu dia mengetahui perbuatan mencuri adalah salah. Jika seorang pemimpin serta masyarakatnya mmeiliki adab, tentu tidak akan terjadi Kasus Korupsi, Tindakan Kriminal, Kekerasan Seksual, Terorisme, Nepotisme, dan Diskriminasi tidak akan terjadi.

Membaca buku “Pemimpin yang Tuhan” dapat menambah wawasan dalam bidang kepemimpinan, Kebangsaan, Kemanusiaan, Agama, dan lainnya. Setiap isi pembahasan disertai dengan dialog dan perumpamaan menjadikan isi pembahasan menjadi lebih menarik. Buku ini dapat memperkaya Khasanah pembaca. Akan tetapi, didalam buku ini terdapat banyak penggunaan bahasa daerah, sehingga sulit untuk dapat dimengerti orang awam.

 

Diresensi oleh Dwi Qotrun Nada, Redaktur Pelaksana LPM Paradigma 2022

 

 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pemimpin yang Tuhan ‘Cak Nun’ : Menjadi Pemimpin Beradab

Trending Now