Belajar Tangani Covid-19 dari Keberhasilan Jerman Tekan Angka Kematian


Hampir dua bulan virus korona menjadi perbincangan akibat efeknya pada tingkat penyebaran kematian di seluruh negara di dunia. Dilansir dari Liputan6.com, tercatat covid-19 telah menginfeksi 1.282.259 orang di seluruh dunia. Dari total seluruh kasus itu, 269.484 pasien sembuh, sementara 70.172 lainnya meninggal dunia.

Penanganan terhadap covid-19 ini berbeda-beda di masing-masing negara. Ada beberapa negara yang telah berhasil menangani virus korona, seperti Vietnam, Selandia, Taiwan, Korea Selatan dan Jerman.

Di Indonesia, penanganan kasus covid-19 dianggap lebih lambat dari negara lain. Pemerintah Indonesia disebut telah menyangkal penyebaran virus corona selama berminggu-minggu. Kurang dari sebulan sejak kasus positif pertama diumumkan ke publik, jumlah kasus terus melonjak drastis dengan persentase kematian mencapai 8,43 persen.

Selain itu, Indonesia belum memiliki aturan khusus terhadap kedatangan warga asing terutama dari negara terpapar corona. Pemerintah kurang memperketat pintu masuk bandara di daerah-daerah. 

Hingga kini, Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang dilansir pada Kamis sore, 30 April 2020 menunjukkan total jumlah kasus positif korona di Indonesia telah sebanyak 10.118 pasien. Jumlah pasien baru yang terkonfirmasi positif korona dalam 24 jam terakhir hingga pukul 12.00 WIB hari ini tercatat mencapai 347 orang. Dengan penambahan itu, total jumlah pasien yang sembuh dari penyakit Covid-19 saat ini sudah berjumlah 1.522 orang.

Meskipun pemerintah Indonesia sudah memberlakukan himbauan di rumah saja, setidaknya diiringi juga dengan menurungnya angka kematian akibat covid-19. Dalam hal ini Indonesia bisa meniru strategi pemerintah Jerman yang berhasil menekan angka kematian. 

Sebagaimana di beberapa negara lain di Eropa, penyebaran COVID-19 di Jerman terbilang tinggi dengan 150.00 kasus positif. Lain dari Spanyol, Italia, Prancis, dan UK yang jumlah kematiannya mencapai puluhan ribu. Dengan laju kematian (fatality rate) dalam kisaran 10-14%, Jerman sanggup menekan jumlah korban: 5.900 kematian, dengan laju 3,7%.

Menurut data Robert Koch Institut (RKI), lembaga resmi di Jerman yang mengeluarkan statistik Covid-19, tingkat kematian di Jerman berada di bawah 0,5 persen. Bandingkan dengan tingkat kematian di Italia (10 persen), Spanyol (7 persen). Angka infeksi aktual berdasarkan data RKI tanggal 27 Maret adalah 42.288 kasus, dengan angka kematian 253 kasus. Lebih 6.000 orang sudah dinyatakan sembuh.

Pasalnya, Jerman dari awal telah responsif memberlakukan lockdown wilayah. Bahkan, sejak tingkat kasus positif korona di negara itu masih tergolong rendah. Pemerintah juga maksimalkan penambahan jumlah tes, tracking, dan treatment terhadap pasien positif korona.

Tes Swab Besar-besaran
Di masa awal pandemi virus korona hingga saat ini, pemerintah pusat Jerman dan negara-negara bagiannya terus berkoordinasi untuk menambah jumlah kapasitas tes swab bagi penduduk. Jerman juga melakukan tes masif sebanyak dua juta kali atau 24.000 tes per sejuta populasi. Jumlah tes yang digelar Spanyol hanya separuhnya, dengan jumlah kematian nyaris empat kali lipat.

Sistem layanan kesehatan Jerman yang mumpuni, hal ini karena virus korona masuk ke Jerman, pemerintah pun sudah menyiapkan ancang-ancang seperti peningkatan pasokan alat-alat medis. Sejumlah industri, juga didorong untuk menambah stok kebutuhan dalam negeri agar tenaga medis tak kekurangan alat perlindungan diri atau APD.

Pada Januari, Jerman telah memiliki 28.000 tempat tidur khusus perawatan intensif yang masing-masing dilengkapi dengan ventilator atau 340 ranjang untuk setiap sejuta orang—berbeda dari Italia yang hanya memiliki 120 ranjang perawatan intensif per sejuta orang. Fasilitas kesehatan Jerman bahkan sanggup menyerap pasien dari negara-negara lain.

Kepercayaan Publik
Dari hal itu semua, Kanselir Jerman, Angela Merkel berhasil menyampaikan informasi ke publik secara transparan, jelas, dan rutin.

Pada Maret lalu, Merkel tampil di televisi untuk memaparkan tingkat keseriusan pandemi covid-19 secara tenang dan apa adanya. Ia membandingkan krisis covid-19 dengan Perang Dunia II, di mana keduanya butuh solidaritas semua orang lebih besar daripada biasanya.

Merkel menjelaskan tentang angka reproduksi (reproduction number) covid-19. Dengan angka reproduksi di Jerman yang saat itu sebesar 1 (setiap orang dapat menginfeksi satu orang lainnya), ia menjelaskan apa yang akan terjadi jika angkanya meningkat. Jika angka reproduksinya meningkat menjadi 1,1, sistem kesehatan Jerman akan kewalahan pada Oktober. Jika meningkat menjadi 1,2, rumah sakit akan mengalami krisis pada Juli, dan jika meningkat menjadi 1,3, rumah sakit akan mengalami krisis pada Juni.

Respons Merkel terhadap pandemi covid-19 telah membuatnya menerima kepercayaan publik 89% warga Jerman menganggap pemerintah telah menangani covid-19 secara baik.

Merkel mengakui pemerintah tidak dapat bergerak sendiri dan tak boleh berlagak serbatahu. Ia bersandar pada lembaga penelitian dan jaringan universitas negeri untuk menangani krisis. The Berlin Institute of Health, sebuah lembaga penelitian biomedis, bekerja sama dengan pemerintah dan institusi-institusi penelitian lain di Jerman untuk memimpin penelitian virus korona. Pemerintah Jerman pun menghimpun departemen medis di semua universitas ke dalam satuan tugas penanganan virus korona. Informasi yang disampaikan Merkel ke publik terkait covid-19 pun bersandar pada ahli virologi Christian Drosten.

Tinjau Perekonomian
Dalam perkara sosial dan ekonomi, pemerintah Jerman mencegah kedatangan gelombang pengangguran dengan memastikan perusahaan tak mencampakkan para pekerja. 67% upah pekerja dibayarkan oleh negara lewat perusahaan. Para pekerja pun berhak untuk kembali ke pekerjaan mereka seperti semula dengan besaran upah yang sama ketika krisis berakhir. Dana bantuan langsung tunai juga disalurkan ke masyarakat untuk mencegah orang-orang kelaparan dan kehilangan tempat tinggal.

Saat ini, jumlah kasus baru harian di Jerman kian surut. Kebijakan lockdown pun mulai dilonggarkan. Toko-toko dengan luas maksimal 800 m2 diperbolehkan untuk beroperasi kembali sejak Senin dengan tetap menjalankan social distancing secara ketat dan mempertahankan kebersihan. 
Pemerintah Jerman mengatakan aturan social distancing tetap berlaku setidaknya hingga 3 Mei mendatang. Mereka juga menargetkan akan mulai membuka sekolah pada tanggal tersebut.

Keberhasilan Jerman dalam menangani covid-19 turut menjadi acungan jempol dan patut dierapkan di Indonesia. Selain pemerintah, tenaga medis dan tenaga keamanan yang sudah berusaha keras,  perlu adanya kepercayaan dan dukungan rakyat Indonesia dalam bersama-sama menangani virus korona. Harapan besar tentu semoga pandemi wabah virus korona 
segera berakhir.



Umi Zakiatun Nafis,
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, IAIN Kudus Semester 6.