Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Benarkah Nama Bisa Menjadi Kutukan?

parist  id
Senin, September 06, 2021 | 13:57 WIB
Foto: Olip/Paradigma

Identitas Buku

Judul               : Arimbi

Penulis             : Anjar Lembayung

Penerbit           : Scritto Books Publisher

Tahun Terbit    : 2018

Cetakan Ke     : Pertama

Tebal               : 13x19 cm, 212 halaman

ISBN               : 978-602-51347-0-8

***

Namaku Arimbi, Wanita yang jauh dari kata beruntung. Begitulah aku mendeskripsikan seluruh diriku. Usia yang tak lagi muda, 28 tahun. Seorang guru seni serabutan di sekolah-sekolah elite di Jakarta. Selalu sulit mengatakan tidak atau bisa dibilang aku seorang ”yesman”. Lebih memilih berdiam diri di pojokan sambil membaca buku daripada bersosialisasi dengan sekitar. Juga, ehmmm... terlalu baik, lebih tepatnya gampang dibodohi oleh orang yang berkamuflase sebagai sahabat.

Nama Arimbi yang Eyang Kakung sematkan padaku sekarang menjadi kutukan ketidakberuntungan hidup yang kujalani. Tentu saja bukan tanpa alasan aku mengatakan itu. Setahuku, Dewi Arimbi dalam tokoh pewayangan itu adalah sosok yang buruk rupa. Itu artinya, Eyang Kakung mendoakanku menjadi itik buruk rupa, ya seperti Dewi Arimbi itu. Dan benar hal itu terjadi dalam hidupku, menjadi itik buruk rupa di antara gemilangnya teman-teman di sekelilingku.

***

Arimbi adalah tipikal manusia yang antisosial, malas berinteraksi dengan orang lain bahkan hampir tidak memiliki teman karena berbagai masalah pelik yang pernah dialaminya. Konflik persahabatan dan rela menerima penghianatan yang dilakukan oleh sahabatnya sendiri ketika SMA, dimana Arimbi merasa dibodohi dan jatuh di level terendah. Namanya yang sama dengan Dewi Arimbi turut membuatnya merasa tidak cantik dan berkecil hati. Sehingga ia berusaha mengubur satu persatu semua masalah yang pernah dialaminya.

Kutukan Berujung Keberuntungan

Dari perjalanan persahabatan dan percintaan Arimbi yang dikisahkan dalam novel tersebut, banyak terdapat lika-liku yang dialami oleh Arimbi. Ia yang mula hanyalah sekedar gadis yang sudah lama melajang dan tak kunjung mendapat pasangan. Menjadi lebih percaya diri dan tidak melulu merasa rendah dan buruk rupa, setelah bertemu dengan Bimasena dan menjalin hubungan romantis dengannya.

Novel Arimbi ini memiliki gaya cerita yang unik dan menarik. Membuat pembaca tidak hanya berhenti di satu bab saja. Alur cerita yang dibuat maju mundur dan dikemas secara cantik. Sosok Arimbi yang digambarkan seperti tokoh wayang Dewi Arimbi, dideskripsikan dalam novel tersebut seperti si itik buruk rupa yang mendapat sebuah kutukan. Namun, hal tersebut berubah ketika Arimbi bertemu dengan Bimasena, polisi tampan yang baik hati. Sehingga membuat para pembaca merasa bahwa cerita tersebut hampir mirip dengan kisah Cinderalla namun versi Arimbi.

”Ajarkan aku bisikan mantra Dewi Kunti, agar aku menjelma menjadi wanita cantik. Dan kamu ... jatuh cinta padaku,” (hlm. 3)

Kesamaan antara Dewi Arimbi yang buruk rupa, akan menjadi pendamping hidup Bimasena yang tampan dan baik hati. Membuat keduanya ingin mewujudkan kisah wayang tersebut dalam dunia nyata.

“Kalau suka, apakah saya boleh menikahinya nanti Eyang ?” tanya Sena (hlm. 196)

Kesungguhan seorang Bimasena yang mencintai Arimbi dengan tulus dan menerimanya apa adanya. Hingga akhirnya mereka dapat bersatu tanpa ada yang berani menghalanginya.

Banyak pesan tersirat yang diselipkan dalam cerita novel tersebut. Selain kamu harus bersyukur dan lebih percaya diri akan siapa dirimu. Pengorbanan dalam persahabatan dan cinta yang terkadang peril dilakukan demi sebuah kebaikan bersama.

Namun, banyak salah pengetikan dalam tulisan novel tersebut. Hanya saja tidak menjadi masalah karena hanya beberapa dan masih bisa dipahami oleh para pembacanya.

 

Kholifatunnisa, Mahasiswi prodi Komunikasi Penyiaran Islam Semester 5

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Benarkah Nama Bisa Menjadi Kutukan?

Trending Now