Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Zaman Edan: Sejarah Traumatis tentang Hantu-Hantu Komunis dan para Manusia Paranoid

parist  id
Sabtu, Juni 11, 2022 | 16:57 WIB
 
Foto : Istimewa


Judul Buku             : Kalatidha

Penulis                    : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit                  : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit           : 2019

Kota terbit              : Jakarta

Jumlah halaman   : xi + 240 halaman

ISBN                         : 9786020622842


Buku ini diawali dengan kutipan serat kalatidha yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mahakarya Ranggawarsita seorang pujangga besar budaya Jawa yang hidup di Kasultanan Surakarta pada awal abad 18 Masehi.

Bahkan penulis novel, Seno Gumira Ajidarma mengadopsinya menjadi judul novel ini. Tentu bukan tanpa alasan ide pembuatan novel memiliki kesamaan esensial dengan problematika yang berbeda akan tetapi tetap komplek dan traumatis.

Mengalami zaman gila, hati gelap kacau pikiran
Mau ikut gila tak tahan, jika tidak ikut tak kebagian
Akhirnya kelaparan,sebenarnyalah kehendak Tuhan
Seberuntung-beruntungnya yang lupa, lebih beruntuh yang ingat dan waspada
Ranggawarsita (1802-1873) dalam Kalatidha (Zaman Rusak)

Novel Kalathida karya Seno Gumira Ajidarma merupakan refleksi sejarah kelam bangsa Indonesia. Mengangkat tragedi pembunuhan massal tahun 1965-1966 yang merupakan pembantaian terkejam sepanjang sejarah bangsa ini berdiri. Sejarah getir yang meninggalkan bekas luka yang seakan tidak bisa disembuhkan dari generasi ke generasi. Baik korban dan keluarga di generasi sekarang, ada trauma yang menghantui.

Bahkan generasi sekarang yang tidak ikut menjadi saksi sejarah menjadi takut karena cerita orang tua tentang PKI. Mirisnya lagi, generasi yang tidak tahu-menahu tentang kejadian masa itu, mendapatkan diskriminasi dan pengucilan dari lingkungan sosialnya karena tahu anggota keluarganya adalah seorang gestapu atau gerwani yang merupakan anggota atau dicurigai sebagai PKI.

Penghakiman massa tanpa aturan, pembakaran, pemerkosaan, pembantaian jutaan nyawa manusia dan penganiayaan tanpa dinaungi hukum dan segala pelanggaran Hak Asasi Manusia menjadi catatan hitam yang harus diterima bangsa ini. Tanpa adanya rasa legowo (menerima), trauma sejarah akan terus terhubung dalam mata rantai ingatan kolektif traumatis dan siap meledak saat isu tentang komunis muncul. 

Setiap zaman yang seharusnya ideologi komunis sudah tidak relevan sebagai sebuah ideologi negara atau organisasi, namun sebagai sebuah kajian ilmu pengetahuan. Rasa traumatis tentang hantu-hantu komunis menjadikan banyak orang mengidap gangguan kejiwaan yang membuatnya menjadi paranoid.

Novel ini hadir dalam edisi kritis di tahun 2019 (cetakan kedua dengan cover baru) dan beberapa penambahan ide, seperti kutipan dari bagian-bagian cerpen yang ditulis oleh Nugroho Suksmanto yang berjudul “Petualangan Celana Dalam” pada bab dua buku ini. 

Di edisi terbaru ini juga terdapat kolom komentar tokoh di akhir buku oleh Melani Budianta dan Hilmar Farid untuk membantu pembaca merangkai pesan-pesan, disertai kritik dan pembahasan isi buku. Terdapat banyak hal menarik dalam buku ini pula, seperti dijelaskan di pengantarnya, Seno Gumira Ajidarma menyajikan sebuah karya fiksi namun bukan fiktif belaka.

Seno menjelaskan saat penggarapan buku ini dia melakukan riset dari dokumen kompas, Perpustakaan Nasional, sampai ke Monash University di Melbourne. Alhasil dia memainkan hasil risetnya untuk andil dalam isi buku ini. Sebab itulah kita akan menemui, kliping koran lama yang memberitakan sebelum, saat dan sesudah peristiwa 65 lalu di scene dan di masukan dalam plot ceritanya, diantaranya Koran Kompas, Angkatan Bersendjata, Bintang Timur, dan Berita Yudha.

Sebenarnya novel ini merupakan pesanan Nurgroho Suksmanto sebagai inisiator tentang berbagai pengalaman hidupnya sendiri yang menyaksikan pada 1979 para tahanan politik (tapol) dari Pulau Buru dibebaskan di Stasiun Senen, dan empat orang yang tidak dijemput, dan tidak tau mau kemana. 

Tentang pembakaran rumah calon tapol, saudara kembar yang terpisah, kehidupan rumah sakit jiwa, seorang gila yang membunuh ayahnya, saksi mata perburuan anggota Pemuda Rakyat sampai masuk kelas di sebuah sekolah, kuburan korban semasa pendudukan Jepang di rumpun bamboo, imajinasi mistik yang berhubungan dengan Nyai Rara Kidul, seorang gadis bersenjata panah, pengembaraan dua dunia, dan akhirnya tentang seorang banker terkenal yang masuk penjara.

Buku Kalatidha dibuka dengan kabut tebal yang mengisi seantero cerita, “maka sebaiknya kabut menjadi sebuah dunia yang tiada terdapat dalam dunia nyata dengan segala rahasianya” (hlm.1). Pemilihan diksi kabut, memberikan metafora bahwa ketidakjelasan yang membuka ruang bagi tafsir berbagai kemungkinan. 

Ketidakjelasan memandang sekitar dan melihat suatu peristiwa menjadi samar-samar, namun pasti ada entitas misterius yang menghuni dunia dalam kabut.  Digambarkan lewat tokoh ‘aku’ yang mendengar suara dari balik kabut hutan bambu yang hanya dihuni sebelas kuburan tentara Jepang dan satu kuburan anak kecil.

Penggambaran dan pengibaratan yang pas atas kondisi yang terjadi pada tahun itu. Dan bagaimana cara kita menentukan arah, pijakan dan sikap untuk melangkah kalau melihat saja begitu terbatas. Bagaimana kita melihat kebenaran, kalau fakta itu sebenarnya fiktif lewat propaganda media massa.

*) Diresensi oleh Minanur Rohmanil Mushoffa, Pimpinan Umum LPM Paradigma 2022

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Zaman Edan: Sejarah Traumatis tentang Hantu-Hantu Komunis dan para Manusia Paranoid

Trending Now