![]() |
| Dokumentasi Kegiatan |
Kegiatan ini turut melibatkan masyarakat setempat, Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS), mahasiswa KKN UIN Sunan Kudus, mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK), serta sejumlah organisasi mahasiswa, termasuk PPKO. Kolaborasi tersebut dilakukan dalam persiapan hingga pelaksanaan Festival Macak Muria bersama masyarakat Desa Japan.
Festival diawali dengan sambutan Kepala Desa Japan, Sigit Tri Harso, S.E. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan sejarah dan makna nama Desa Japan kepada para peserta dan wisatawan yang hadir.
Menurut Sigit, nama Japan berasal dari istilah bahasa Jawa, yaitu “Jopo” atau “Japani”, yang memiliki arti ucapan doa. Penjelasan tersebut menjadi bagian dari pengenalan identitas Desa Japan kepada wisatawan sekaligus memperkenalkan nilai budaya yang dimiliki masyarakat setempat.
Selain Kepala Desa Japan, sambutan juga disampaikan oleh Titin yang merupakan salah satu anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Japan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan tari tradisional dari Jepang. Pertunjukan tersebut mengangkat kisah mengenai hubungan antara seorang ibu dan anak dan diperagakan langsung oleh wisatawan asal Jepang.
Pertunjukan budaya juga dilanjutkan dengan penampilan gamelan dari Desa Japan yang memainkan lagu “Dhandang Gulo”. Suasana semakin meriah ketika wisatawan asal Prancis turut menyanyikan lagu “Tanah Airku” dengan iringan alat musik biola.
Keterlibatan wisatawan dari Jepang dan Prancis dalam rangkaian pertunjukan tersebut menjadi bagian dari interaksi budaya dalam Festival Macak Muria. Kegiatan tidak hanya menampilkan kesenian lokal, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat dan wisatawan untuk saling mengenal budaya masing-masing.
![]() |
| Dokumentasi Kegiatan |
Setelah rangkaian pertunjukan, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan kuliner khas Desa Japan, yaitu jus pamelo dan lontong pecel. Warga, wisatawan, serta mahasiswa yang hadir menikmati hidangan bersama sekaligus berinteraksi dan bertukar cerita.
Festival Macak Muria kemudian ditutup dengan suasana kebersamaan di Lapangan Guyangan. Para peserta menghabiskan waktu dengan bercengkerama sambil menikmati pemandangan matahari terbenam.
Melalui Festival Macak Muria, Desa Japan memperkenalkan potensi seni, budaya, dan kuliner lokal kepada wisatawan sekaligus menciptakan ruang interaksi antara masyarakat lokal dan pengunjung dari berbagai negara.


