Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

PORSI JAWARA II 2026 : Ada Apa di Balik Podium?

parist  id
Selasa, September 15, 2026 | 01:46 WIB

Potret PORSI JAWARA II di UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
PORSI JAWARA II 2026 semestinya menjadi ruang bagi mahasiswa PTKIN untuk berkompetisi sekaligus menunjukkan kemampuan, sportivitas, dan integritas. Namun, di balik kemeriahan Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa Madura yang digelar UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada 9–13/9/2026, sejumlah persoalan dalam proses perlombaan justru menyisakan tanda tanya.

Sebanyak 18 kampus PTKIN berpartisipasi dalam ajang tersebut. Kompetisi berlangsung dengan membawa semangat persaudaraan dan persaingan sehat. Sayangnya, sejumlah hasil dan proses penjurian yang dipersoalkan peserta membuat PORSI JAWARA 2026 tidak hanya berbicara tentang siapa yang menjadi juara, melainkan sejauh mana proses menuju kemenangan itu telah berjalan secara adil?

Pada pembukaan kegiatan, Rektor UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Zaenal Mustakim, menyampaikan komitmen agar seluruh perlombaan berlangsung secara adil dan sportif.

“Universitas Islam Negeri KH. Abdurrahman Wahid walaupun menjadi tuan rumah tidak menargetkan juara umum. Akan saya pastikan semua ajang perlombaan yang digelar dilakukan dengan fair dan sportif,” ujarnya.

Pembukaan kegiatan oleh Rektor UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Pernyataan tersebut tentu menjadi harapan bagi seluruh peserta. Sebab, penyelenggara tidak hanya memiliki tanggung jawab memastikan kompetisi berjalan lancar, tetapi juga menjaga kepercayaan peserta terhadap setiap proses yang berlangsung di dalamnya.

Namun, sejumlah persoalan yang muncul justru membuat komitmen tersebut perlu kembali dipertanyakan.

Salah satu persoalan muncul dalam cabang Karya Tulis Ilmiah (KTI). Terdapat perbedaan nilai yang cukup mencolok antara tiga juri. Perbedaan tersebut semakin menjadi sorotan setelah diketahui bahwa salah satu juri berasal dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan memberikan nilai tertinggi kepada peserta dari institusi yang sama.

Perbedaan penilaian merupakan hal yang wajar dalam sebuah kompetisi. Setiap juri tentu memiliki perspektif dan pertimbangan masing-masing. Yang menjadi persoalan bukan terletak pada siapa yang mendapatkan nilai tinggi, melainkan pada seberapa transparan dasar penilaian tersebut dapat dipertanggungjawabkan.


Pertanyaan serupa muncul pada perubahan posisi peserta antara babak penyisihan dan final. UIN Bandung yang pada babak penyisihan berada di peringkat kedua disebut turun hingga posisi kelima pada hasil akhir, sementara posisi tersebut kemudian ditempati UIN Pekalongan sebagai tuan rumah.

Perubahan peringkat tentu tidak serta-merta dapat disebut sebagai bentuk kecurangan. Hasil akhir sangat mungkin berubah karena adanya penilaian pada babak berikutnya. Namun, ketika perubahan tersebut terjadi dalam kompetisi yang juga melibatkan kampus penyelenggara, transparansi penilaian menjadi semakin penting. Publik berhak mengetahui bagaimana angka-angka tersebut diperoleh dan apa dasar perubahan peringkat peserta.

Persoalan serupa juga menjadi perbincangan dalam cabang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Sejumlah peserta mempertanyakan perubahan penugasan salah satu juri yang sebelumnya ditempatkan pada bidang lagu, kemudian dialihkan menjadi juri tajwid hanya beberapa jam sebelum perlombaan.

Perubahan teknis dalam kepanitiaan tentu dapat terjadi karena berbagai alasan. Namun, perubahan yang dilakukan begitu dekat dengan waktu perlombaan semestinya disertai penjelasan yang cukup kepada peserta agar tidak menimbulkan prasangka.

Pada babak penyisihan MTQ Putra, perbedaan nilai salah satu juri asal Pekalongan dengan tiga juri lainnya juga menjadi sorotan. Kembali, persoalannya bukan sekadar siapa yang memberikan nilai tinggi atau rendah, melainkan apakah perbedaan tersebut memiliki dasar penilaian yang jelas.

Persoalan semakin mengemuka pada final MTQ Putri. Hasil yang diperoleh peserta disebut berbeda dengan hasil yang kemudian diumumkan. Peserta yang berdasarkan perhitungan awal berada pada posisi juara tiga justru diumumkan sebagai juara harapan satu.

Jika informasi tersebut benar, kondisi ini tentu membutuhkan penjelasan dari penyelenggara. Sebuah hasil perlombaan tidak cukup hanya diumumkan; proses yang melahirkannya juga harus dapat dipertanggungjawabkan.

Kompetisi bukan hanya tentang siapa yang membawa pulang medali. Kompetisi juga tentang kepercayaan. Ketika peserta merasa proses yang mereka jalani menyisakan pertanyaan, kemenangan sekalipun dapat kehilangan sebagian maknanya.

Terlebih, PORSI JAWARA merupakan ajang yang mempertemukan mahasiswa dari perguruan tinggi keagamaan Islam. Nilai yang dibawa seharusnya tidak berhenti pada prestasi akademik, olahraga, maupun seni. Ada nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab yang semestinya ikut dipertarungkan.

Klarifikasi tidak akan mengurangi wibawa sebuah kompetisi. Sebaliknya, keterbukaan justru dapat memperkuat kepercayaan peserta dan publik bahwa setiap kemenangan diperoleh melalui proses yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebab, kemenangan yang lahir dari proses transparan akan tetap dihormati, bahkan oleh mereka yang kalah.

PORSI JAWARA 2026 telah selesai. Medali dan piala mungkin telah berpindah tangan. Namun, pertanyaan tentang prosesnya belum tentu selesai bersama berakhirnya pertandingan.

Pada akhirnya, yang menentukan martabat sebuah kompetisi bukan hanya siapa yang berdiri di podium, tetapi seberapa adil proses yang membawanya sampai ke sana.

Penulis : M. Fahmil Wafa
Editor : Aisya Niken Cahya Salim

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • PORSI JAWARA II 2026 : Ada Apa di Balik Podium?

Trending Now