Pesan Penting untuk Dunia Teater Kita


Bedah Majalah : Narasumber berfoto dengan tim redaksi Majalah Paradigma seusai bedah majalah yang berjudul Ironi Panggung Teater Kita.
KUDUS, PARIST.ID - Haflah Ilmiah kembali digelar untuk ketiga kalinya oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma di Gedung Olahraga (GOR) STAIN Kudus. Acara pertama dimulai dengan bedah majalah Paradigma edisi 30, Senin (27/02/2017). Dibedah langsung oleh Yaumis Salam selaku Pimpinan Redaksi majalah tahun 2016 sebagai penanggung jawab.  

Tak lupa dua narasumber yang telah berkompeten dalam bidang teater, yaitu Asa Djatmiko (praktisi teater) dan Muchamad Zaeni (pelaku teater). Kedua narasumber tersebut mengorek secara mendalam isi majalah. Pada edisi 30 ini bertemakan tentang keberadaan teater di Kudus, dengan judul Ironi Panggung Teater Kita

Bedah majalah ini dihadiri oleh teater pelajar, kampus, maupun mandiri. Di antaranya adalah teater El hawa, Lentera Manzulku, Gerak 11, Dewa Ruji, Satoesh, ESA, X Miffa, Obeng, Apotek, Keset dan KSK. Dari berbagai kalangan membaur menjadi satu untuk ikut meramaikan. Ramainya penonton menambah semangat narasumber untuk membedah majalah yang dibuat Paradigma.
Sebelum dibedah langsung oleh kedua narasumber yang ada, Salam menceritakan terlebih dahulu mengenai majalah yang telah dibuat. Keinginan untuk membidik teater di Kudus sudah menjadi harapannya. Mengingat Kudus sendiri memiliki teater yang begitu banyak.

“Teater di Kudus khususnya pelajar begitu banyak, lebih dari 30 teater yang ada juga pernah mengikuti Festival Teater Pelajar 2017,” ungkapnya.

Menurut Muchamad Zaeni, Majalah Paradigma edisi 30 ini patut diapresiasi. Mengingat jarang media yang ingin menulis atau memberitakan teater Kudus sampai saat ini. Majalah Paradigma merupakan pintu bagi para teaterawan untuk mengetahui keadaan semua teater di Kudus. Zaeni membedah satu per satu dari isi majalah yang ada, mulai dari cover, karikatur, editorial sampai bidikan utama.

Kritikan ia lontarkan untuk dua bidikan utama serta editorial majalah. Menurutnya kedua bidikan utama terlalu membawa iklim provokatif bagi pembaca. Sedangkan penulis hanya sebagai kritikus terhadap teaterawan. Sehingga hanya akan menggiring pembaca untuk berpikir negatif terhadap teater Kudus. Dalam rubik editorial, lanjut Zaeni, menjelaskan mengenai ketidakharmonisan teater Kudus, perbandingan kejayaan dari tahun ke tahun, serta potensialnya teater Kudus untuk dikembangkan.

"Mulai tahun 60-an sampai sekarang teater di Kudus ini telah berkembang" ujar Zaeni.

Berbeda dengan Zaeni, Asa Djatmiko berujar baru lima tahun terakhir ini teater Kudus mengalami perkembangan yang sangat baik. Terlihat begitu banyaknya teater yang ada, dari sisi kualitatif maupun kuantitatif.

Kedua narasumber pun berbagi keluh kesah seputar dunia teater. Masih adanya kekurangan yang ada di teater Kudus. Berupa idealisnya kreativitas masing-masing teater, iklim perteateran terlalu sentimentil, kurangnya jaringan serta tak didukung oleh pemerintah.
 
Melalui bedah majalah ini, banyak harapan yang ditujukan bagi seluruh teater yang ada di Kudus. Dengan diangkatnya tema majalah tentang teater akan menjadi pintu bagi para teaterawan untuk mengerti keadaan teater lainnya. Peran masyarakat umum dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk kehidupan teater. Bagi kelompok teater harus bisa menulis kegiatan mereka sendiri untuk memberikan informasi dan perkembangan terkini di teater. [] (Melinda)