Mengusung latar kehidupan keluarga sederhana, lakon ini menghadirkan dinamika rumah tangga Pak Slamet, seorang pelaut, bersama istri, ibu, anaknya Riyan, kekasih Riyan bernama Sinta, serta sosok Mbah. Total tujuh aktor terlibat dalam pementasan dengan konsep set rumah yang dibangun langsung di atas panggung, memperkuat kesan realistis dalam setiap adegan.
Salah satu pemeran, Fairus Dwi Apriliani, anggota Sanggar Setu yang memerankan tokoh Wiwi istri Pak Slamet mengungkapkan bahwa tantangan terbesar selama proses latihan adalah menjaga kekuatan vokal dan konsistensi ekspresi.
“Struggle utama itu di vokal. Kami rutin latihan setiap hari Selasa di kampus untuk mengolah vokal dan teknik lainnya. Selain itu, kami juga harus membedah ekspresi dalam setiap dialog agar pesan dan emosinya sampai ke penonton,” ujar Fairus.
Sebagai warga lokal, ia memanfaatkan kedekatan dengan lingkungan desa untuk menggerakkan anak-anak melakukan pawai woro-woro atau pengumuman keliling.
“Untuk meramaikan acara, saya minta bantuan anak-anak di sini keliling desa memberi tahu warga bahwa ada pentas teater di Balai Desa,” jelasnya.
Strategi tersebut membuahkan hasil. Antusiasme warga terlihat dari ramainya penonton yang memenuhi area pertunjukan. Putri, salah satu warga Sidomulyo, mengaku hadir karena penasaran dengan pertunjukan teater yang jarang digelar di desanya.
Tak hanya warga, dukungan juga datang dari komunitas seni lain, salah satunya Teater AS. Perwakilannya menyampaikan apresiasi atas keberanian Teater Satoesh mengangkat realita sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Pentas hari ini sangat berkesan. Hal-hal yang sering terjadi di realita diangkat ke panggung dengan penggarapan yang luar biasa. Saya sangat salut kepada Teater Satoesh,” ungkapnya.
Ia juga berpesan agar mahasiswa yang terlibat dalam dunia teater terus menjaga solidaritas dan kesungguhan dalam berproses.
“Solidaritas adalah kunci agar persaudaraan lebih kuat dan karya yang dihasilkan bisa lebih maksimal,” pungkasnya.
Melalui “Hutang Setengah Rolas”, Teater Satoesh tak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga cermin sosial yang mengajak penonton merefleksikan persoalan utang piutang dalam lingkup keluarga dan masyarakat. Sebuah potret realitas yang disampaikan dengan bahasa seni, namun tetap terasa dekat dan membumi.

.jpeg)
