Beda Tafsir dan Tafsir Menyimpang


Polemik tentang tafsir surat Al-Maidah 51 masih terlalu hangat sampai saat ini. Ayatnya sama, tetapi yang banyak menimbulkan pertanyaan adalah bagaimana bisa berbeda pendapat dan pemahaman atas ayat yang sama. Apakah perbedaan itu sebagai bentuk adanya penyimpangan penafsiran?
Banyak sekali tafsir qur'an yang beredar di masyarakat Indonesia.

Hal itu mulai dari yang asli Indonesia seperti Tafsir Al-Misbah oleh Al-Habib Prof. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Azhar oleh Hamka, Tafsir Al-Ibriz oleh KH. Bisri Musthofa, dan sederet nama yang jauh mengawali. Abdurrahman Singkel dari Aceh menulis Tafsir Tarjuman Al-Mustafid pada abad ke-16 dan Imam Nawawi Al-Bantany menulis Tafsir Marah Labid pada abad ke-18. Betapa banyak kitab tafsir, baru dari tokoh Islam Nusantara.

Kitab Tafsir di belahan bumi semakin banyak lagi. Kitab populer di pesantren, Tafsir Jalalain misalnya, ditulis oleh guru dan murid yang namanya sama, Jalaludin As-Suyuthi dan Jalaludin Al-Mahally. Terdapat juga Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Thabari, Tafsir Maraghi, Tafsir Qurthuby, Tafsir Munir yang ditulis Syeikh Wahbah Zuhaili, Tafsir Zamakhsary yang berhaluan Mu'tazilah, Tafsir Thaba'thabai yang berideologi Syiah, Tafsir Mir'atul Anwar yang bernuansa Syiah, Tafsir Ashabuny, atau Tafsir Al'Alusy.

Tentu masing-masing berbeda, lalu apakah berbedanya tafsir satu dengan tafsir lainnya menunjukkan ada penyimpangan?

Perbedaan tafsir bisa terjadi salah satunya akibat metode penafsirannya yang bervariasi. Tafsir Jalalain cenderung menggunakan metode ijmaly, yang fokus pada pembahasan struktur tata bahasa dan makna kata dari ayat Al-Qur'an sebagai cara memahami maksudnya. Tentu akan berbeda dengan Tafsir Ibnu Katsir yang menggunakan metode Al-Ma'tsur atau sesuai riwayat-riwayat hadis Nabi yang biasa disebut Asbabun Nuzul, oleh karenanya tafsir ini menjadi banyak digunakan dalam polemik Surat Al-Maidah ayat 51 karena menghadirkan banyak kisah. Kedua tafsir tersebut, akan berbeda dengan Tafsir Al-Kasysyaf yang ditulis oleh Imam Zamakhsary yang mengedepankan pemikiran analisis atau disebut metode Tahlily, dan akan lebih berbeda dengan Tafsir Mir'atul Anwar yang ditulis oleh Maulana Latif Al-Kazarani yang berhaluan Syiah.


Jadi, apakah perbedaan berarti ada penyimpangan? Apakah di satu sisi menyatakan memilih pemimpin non-muslim itu tidak boleh, dan di sisi lain menyatakan boleh menunjukkan adanya penyimpangan?

Imam Dzahabi dalam kitabnya, Al-Ittijah Al-Munharifah fi Tafsir Al-Qur'an menjelaskan adanya kategorisasi penyimpangan tafsir.

Pertama, penulisan tafsir yang membahas sejarah tanpa sanad atau riwayatnya. Misal kisah Nabi Ayub (QS. Al-Anbiya ayat 83-84) dalam Tafsir Khazin dijelaskan adanya Iblis yang memohon pada Allah untuk menggoda Nabi Ayyub. Tentu menjadi kemustahilan bagaimana Iblis masih bisa bercakap dengan Allah, ketika sudah diberikan kemutlakan untuk menggoda bani Adam. Demikian juga kisah-kisah Israiliyat atau bernuansa Bani Israel yang banyak bersinggungan dengan Kitab Perjanjian Lama.

Kedua, Lebih menonjolkan pemikiran akal dan kepentingan aliran politik. Hal demikian tampak dalam penafsiran kaum Syiah dalam ayat Kaf-Ha-Ya-Ain-Shad. Kaf sebagai simbol Karbala yang menjadi lokasi paling bersejarah umat Syiah. Ha sebagai simbol kata Halaka yang berarti kondisi penghancuran keturunan Nabi. Ya sebagai simbol Yazid bin Mu'awiyah yang terlaknat karena telah membantai Husein sebagai cucu Nabi Muhammad bersama dengan keluarganya. Ain sebagai simbol kata Athos (haus) karena Husein dikepung ribuan pasukan Yazid hingga terbunuh. Shod sebagai simbol Sabar bagi seluruh pendukung Ali dalam menegakkan keadilan. Model penafsiran ini cenderung untuk membela kepentingan politik dan aliran, sehingga berorientasi pada kekuasaan yang menyimpang.

Dalam polemik Surat Al-Maidah 51, tentu dapat difahami bahwa memang ada ragam perbedaan dan corak penafsiran Qur'an. Namun yang tidak tepat bukan pada kitab tafsirnya, tapi orientasi praktis (ittijah amaly) yang berbeda antar budaya dan kelompok masyarakat. Maka kedewasaan sikap dalam merespon perbedaan sesungguhnya adalah rahmat.
Sesungguhnya perbedaan itu sangat jauh berbeda dengan pertentangan, apalagi konflik dan perang. Perbedaan adalah dinamika, dan rahmat untuk kita semua.



Muh. Khamdan
Jakarta, 20 Oktober 2016