Halaqoh Kubro TBS Bahas Isu Toleransi


RAMAI : Rebana Es Salafy mengisi disela_sela seminar kebangsaan pada hari puncak Halaqoh Kubro IKSAB TBS, Kamis (6/7/2017) foto:dokumen IKSAB.

Kudus - Parist.ID, - Ikatan Santri Abiturien (IKSAB) Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus menggelar Halal Bi Halal seluruh angkatan bertajuk Halaqoh Kubro di halaman Madrasah TBS pada Kamis (6/7/17). Acara yang dihadiri masyayikh TBS dan alumni yang telah tersebar di Indonesia ini juga membahas tentang kisah sosio-kultur tentang toleransi.

Ketua Panitia, Muhammad Baihaqi, menjelaskan bahwa Halaqoh dalam arti bahasa adalah melingkar. Melingkar dalam artian yang sebenarnya adalah bertatap muka, saling bertemu mamadu rasa, dan saling merekatkan tali persaudaraan. “Ini menunjukkan Alumni TBS adalah alumni yang kompak, dengan melingkarkan merekan maka hubungan mereka semakin menyatu” imbuh remaja abiturien angkatan 1436 Hijriyah tersebut.

Sementara itu Ketua IKSAB angkatan 1438 H, Nur Said, berharap para alumni TBS yang sudah tersebar seantero Nusantara ini dapat mengamalkan ilmunya untuk kemajuan Nusantara. Menurutnya madrasah yang berdiri pada tahun 1928 silam telah melahirkan kiai-kiai besar yang tersebar di seluruh Nusantara. “Dari TBS Kudus untuk Indonesia dan bahkan mendunia,” terangnya.

Sebelumnya peserta IKSAB juga mengikuti bahtsul masail dengan tema yang berkaitan dengan toleransi beragama. Salah satunya membincang bagaimana hukum menggabungkan budaya kristen dalam berdakwah. Misalnya merayakan natal tetapi diisi dengan pembacaan Al-barjaji, dziba’, tahlil atau lain sebagainya.

KH. Arifin Fanani, sebagai pembaca simpulan jawaban soal tersebut menyebutkan bahwa hukum kasus diatas adalah haram. Alasannya sebab ada hubungannya dengan ibadah dan aqidah atau mengandung unsur tasabbuh atau simbol kekufuran. (Mael/Far)