Mahasiswa Masih Keluhkan Fasilitas Kampus

KAMPUS, PARIST.ID - Alih status STAIN Kudus menuju IAIN masih diwarnai dengan keluhan terkait sarana pra sarana. Banyaknya mahasiswa STAIN Kudus yang mencapai angka 12.000 selayaknya menjadi pertimbangan pihak-ihak yang berwenang agar lebih maksimal dalam mengelola kampus STAIN Kudus.
DIBANGUN : Gedung perkuliahan baru yang diproyeksikan rampung Desember mendatang diharapkan mampu menampung mahasiswa yang saat ini berada di ruang darurat. Foto: Salim/Paragraph
Dengan bertambahnya mahasiswa dan dosen berarti menambah ruang kelas dan tempat kerja dosen. Namun, faktanya persiapan pihak kampus mengatur ruang perkuliahan dirasa kurang. Hal itu dikeluhkan oleh mahasiswa semester 7, Taufikur Rahman (21) Jurusan Syariah/MBS.

Menurut Rahman STAIN Kudus harus memperhatikan sarana dan prasarana yang ada sebelum berniat menambah kapasitas mahasiswa. Saat ini banyak fasilitas belajar mengajar mahasiswa yang dirasa tidak sesuai dan terkesan dipaksakan. Ruang kelas misalnya, banyak yang belum ber-AC dan juga proyektor yang bermasalah. 
Mahasiswa disini kan untuk belajar jadi selayaknya mendapat ruangan yang nyaman,” ujar Rohman di kampus barat STAIN Kudus, Senin, (25/9/17).

Hal senada juga diungkapkan oleh Riza Afthoni (21) mahasiswa Jurusan Dakwah/KPI semester 7. Menurutnya, pembagian kelas di STAIN kurang teratur dengan baik.  Jumlah mahasiswa yang melebihi standar membuat proses belajar mengajar tidak maksimal. Yang idealnya satu kelas diisi maksimal 30 orang di STAIN Kudus justru diisi hingga 40 mahasiswa.

“Untuk kalangan mahasiswa, saya rasa jelas tidak ideal. Tidak baik juga,” ujarnya.

Nur Said selaku dosen STAIN Kudus mengatakan bahwa dunia pendidikan perlu mendahulukan kualitas daripada kuantitas. Sebagus apapun kurikulum kalau proses pembelajaran serta sarana dan prasarana tidak mendukung, maka tujuan pendidikan akan sulit tercapai.

“STAIN Kudus harus berani membatasi kuota maksimal mahasiswa dalam (satu) ruangan,” ujarnya. 

Meski begitu, lanjut Said, kapasitas mahasiswa yang overload bukan alasan bagi dosen untuk tidak dapat mengajar secara maksimal. Nur Said yang juga anggota Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) berpesan agar dosen selalu menerapkan pembelajaran yang inovatif. Belajar tidak hanya di kelas, tetapi di luar kelas pun bisa digunakan untuk belajar. 

“Kuncinya adalah inovasi, inovasi dan inovasi,” pungkasnya. (Salim/Far)