Kontingen IAIN Kudus foto bersama Wakil Rektor III, Abdurrahman Kasdi. 

Purwokerto, Parist.id - Invitasi Pekan Pengembangan Bakat Minat Mahasiswa (IPPBMM) 2018 di IAIN Purwokerto telah resmi ditutup. Dalam ajang dua tahunan itu kontingen IAIN Kudus berhasil meraih total 10 gelar juara dari sembilan cabang perlombaan. 

"Alhamdulillah, kami cukup puas dengan hasil itu," ujar Koordinator Kontingen IAIN Kudus, M. Syaifudin Fuad kepada Parist.ID, Sabtu (28/04/18).

Fuad mengatakan, meski belum berhasil meraih juara umum setidaknya ini bisa jadi pengalaman berharga untuk meraih sukses di event-event selanjutnya. 

"Teman-teman sudah berusaha maksimal, dan semoga kedepan bisa lebih baik lagi," imbuh mahasiswa Ma'had al-Jami'ah IAIN Kudus itu. 

Sepuluh gelar juara yang diperoleh IAIN Kudus itu terdiri atas tiga juara dari cabang olahraga dan tujuh lainnya dari cabang seni dan karya ilmiah. Sementara nama-nama atlet peraihnya yaitu, Angga Dwi Cahya (Juara 2 Bulutangkis tunggal putra), Nusrotuz Zulfa (Juara 2 Kaligrafi Dekor Putri), Miftahul Huda (Juara 3 Tenis Meja Tunggal Putra), Iqbal Mubarok (Juara 3 Kaligrafi Dekor Putra), Noor Sofiyana Mayasari (Juara Harapan 1 Kaligrafi Naskah putri), tim silat IAIN Kudus (Juara Harapan 2 Pencak Silat Ganda Putri), Muhammad Farid (Juara Harapan 2 Musabaqah Menulis Kandungan al-Quran), M. Awwalul Ibriz (Juara Harapan 2 Panjat Dinding), Ahmad Syahid (Juara Harapan 3 Musabaqah Qiraatil Kutub) dan Sirojul Mustaghfirin (Juara Harapan 3 Musabaqah Tilawatil Qur'an).

Sementara, Kontingen Debat Bahasa Inggris, Fandi Ahmad Fajar, mengaku tidak begitu kecewa dengan hasil yang ia peroleh. Menurutnya banyak pengalaman yang ia dapat sebagai bekal pada event lainnya. 

"Alhamdulillah, saya banyak belajar dari IPPBMM kali ini, selanjutnya saya akan lebih rajin mengasah kemampuan untuk lomba-lomba lainnya," kata pria yang akrab disapa Mr. Fandi ini. (falis)


PARIST.ID, KAMPUS - Pilkada serentak yang dihelat  tanggal 27 Juni mendatang, KPU Kudus meminta mahasiswa agar tidak golput. Mahasiswa harus cerdas dalam memilih. Meski pilkada mendatang menjadi pengalaman pertama dari kebanyakan mahasiswa. 



Hal itu disampaikan oleh komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kudus, Deni Kurniawan, dalam acara sosialisasi Pilkada di Rektorat lantai 3 IAIN Kudus, Selasa (24/4/18). Acara yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) tersebut mengambil tema "Peran Mahasiswa Dalam Pilkada 2018”.

Menurutnya, sebagai mahasiswa jangan sampai terpengaruh hal-hal irasional, politik uang dan tidak asal menggunakan hak pilih. Justru mahasiswa bisa ikut berperan dalam menyukseskan  pilkada.

Mahasiswa juga bisa turut andil dengan mendaftar KPPS kepada PPS. Bila KPU, PPK, dan PPS sudah ditetapkan pengurusnya.

"Kemungkinan tahun depan membutuhkan sekitar 13419 KPPS," tuturnya.

Tahun ini KPPS juga mengalami regulasi, bila tahun sebelumnya pendaftar KPPS minimal 25 tahun, sekarang menjadi 17 tahun.

"Jadi nantinya mahasiswa bisa ikut berpartisipasi dalam penyelenggara pemilihan," katanya.

Sementara itu, Ketua DEMA, Yudhistira Pradipta berharap agar mahasiswa dapat berperan aktif, sekaligus menjadi tauladan bagi masyarakat dalam pilkada.

"Sebagai mahasiswa kita wajib lebih tahu karena sudah mengikuti sosialisasi ini," katanya. (Fird/Fal)


PARIST.ID, BANDUNG- Sebelum menjadi seorang barista profesional, seorang calon barista harus mampu menguasai metode manual brewing terlebih dahulu. Hal itu disampaikan salah satu mentor dari East Indische coffe Iqbal Purba, saat memulai kelas manual brew. Selasa (24/04/2018) di Lembang Bandung.

"Manual brew itu hal dasar yang harus dikuasai seorang barista atau calon barista" tuturnya

Menurut Iqbal, seorang barista selain harus tahu Coffe knowledge dia juga harus bisa manual brew atau membuat kopi secara manual terlebih dahulu.

"Kalau seorang barista tidak bisa manual brew itu perlu dipertanyakan, karena manual brew adalah pijakan awal seorang barista"

Iqbal juga menjelaskan bahwa dalam manual brew juga ada beberapa metode yang wajib dipelajari untuk bisa mengenal rasa tiap kopi.

"Ada lima metode dalam manual brew diantaranya French press, V60, Aero Press, Chemex dan Siphon yang masing-masing metode ini akan menghasilkan rasa yang berbeda," tuturnya.

Baginya, membuat kopi tidak hanya masalah teknik tapi juga menggunakan perasaan.

"Seorang barista itu jangan mau di patok sama angka, tapi juga rasa. Karena rasa kopi yang dibuat bergantung pada perasaan orang yang membuatnya," katanya. (Dlowi)



PARIST.ID, KAMPUS- Dibanding mahasiswa zaman dulu,  dinamika pergerakan mahasiswa saat ini telah mengalami pergeseran khususnya dalam berkiprah di suatu organisasi dan itu terkesan mulai melemah. Organisasi sebagai wadah mahasiswa untuk menyalurkan beragam ide dan berjuang keras meraih cita-cita bangsa.

Demikianlah pernyataan yang disampaikan oleh Rektor IAIN Kudus, Mundakir, dalam sebuah seminar bertajuk “Pandangan Tokoh Nasional Terhadap Gerakan Mahasiswa Terkini” yang dilaksanakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dalam raingkaian gelaran Dies Natalis IAIN Kudus ke 21 di Gedung SBSN Lt.1, Senin (23/4/2018).

“Dulu, mahasiswa tidak takut dengan tantangan apapun. Idealisme lah yang menguatkan setiap pergerakan mahasiswa saat itu dalam  menegakkan keadilan dan melawan kebijakan rezim yang tidak memihak kepada rakyat,” ingatnya.

Namun, lanjut Mundakir,  mahasiswa saaat ini jauh berbeda. Misalnya, banyak dari mereka yang lebih memilih fokus kuliah saja dibandingkan dengan menjalani kuliah sekaligus menjadi aktivis kampus dalam lingkaran-lingkaran organisatoris.  Padahal, dengan mereka menjadi aktivis kampus, maka daya kekritisan akan lebih unggul dibandingkan dengan yang tidak menjadi aktivis.

“Sekarang mahasiswa sangat ketakutan dengan ancaman-ancaman sepele di ruang kelas. Misalnya peringatan-peringatan dari dosen yang tidak jarang hanya sebagai geretakan saja,” ujarnya.

Mundakir menambahkan, tantangan mahasiswa hari ini adalah berani atau tidak keluar dari ketakutan-ketakutan tersebut. Selain itu, saat ini mahasiswa juga tengah tersandera dalam pemikiran yang pragmatis. Padahal, mahasiswa adalah salah satu elemen bangsa yang cukup strategis posisinya untuk memberikan kritik dan opini kepada pemerintah dengan kebijakan-kebijakannya.

Sejalan dengan Mundakir, Noor Achmad, anggota Komisi VIII DPR RI bidang Agama, Sosial, dan Keagamaan mengatakan, pergerakan mahasiswa saat ini tidak boleh kalah dengan mahasiswa zaman dulu dalam hal kekritisannya dalam hal mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak bijak.

Menurutnya, apapun kegiatan daya analisis dan daya kritis mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat. Mahasiswa harus dapat menjadi konduktor bagi masyarakat dengan menjadi pemimpin walau hanya di tingkat terkecil.

"Jangan merasa bahwa apa yang telah kita lakukan tidak menghasilkan apapun," jelas dewan rakyat kelahiran Kudus tersebut.

Daya kritis dan analisa terhadap realita dikaitkan dengan cita-cita tanah air Indonesia dalam situasi dan kondisi apapun. Hal ini penting dilakukan supaya mendobrak daya analisa mahasiswa agar terus dilatih supaya menjadi bekal ketika sudah lulus dari perguruan tinggi.

"Semoga kedepannya mahasiswa maupun mahasiswi IAIN Kudus dapat kritis terhadap situasi yang ada untuk melakukan perubahan," harapnya. (Arum/lis)


PARIST.ID, PURWOKERTO - Menghadapi revolusi industri generasi keempat, mahasiswa harus memiliko tiga poin utama berupa karakter, kompetensi dan literasi. Hal itu disampaikan Direktur Jendral Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin, dalam pembukaan Invitasi Pekan Pengembangan Bakat Minat Mahasiswa (IPPBMM) ke VII 2018 di IAIN Purwokerto, Selasa (24/04/18).

"Yang pertama, mahasiswa harus memiliki karakter untuk bisa bersaing," tuturnya.

Menurut Kamaruddin, ada dua karakter yang harus dimiliki mahasiswa, yaitu karakter moral dan karakter kinerja. Karakter moral memuat sifat-sifat baik untuk menunjang prestasi seperti kejujuran dan tanggung jawab. Sedangkan karakter kinerja memuat sikap (perilaku) seperti, ketekunan dan kreatif.

"Yang kedua, mahasiswa harus punya kompetensi," imbuh profesor asal Makasar itu.

Alumni Universitas Bonn Jerman itu menjelaskan kompetensi merujuk pada keahlian yang terus menerus ditempa untuk meningkatkan kualitas diri. Mahasiswa generasi keempat hendaknya mulai melatih kompetensinya dengan instrumen dan ukuran yang pas.

"Itu disesuaikan dengan kemampuan serta target yang ingin dicapainya," jelasnya.

Yang ketiga, kata Kamaruddin, mahasiswa harus memiliki kemampuan literasi, baik sosial maupun digital. Literasi sosial penting dimiliki untuk membangun jaringan dan literasi digital berguna untuk menambah wawasan secara global.
"Ketiga hal itu harus dimiliki agar kita mampu memenangi persaingan global," katanya.

Kamarudin didaulat membuka acara dengan pemukulan gong yang disambut riuh tepuk tangan peserta yang hadir. (rid)


PARIST.ID, BANDUNG - Kementerian ketenagakerjaan (Kemnaker) adakan pelatihan barista kopi, melalui Balai Besar Pengembangan Pasar Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (BBPPK dan PKK), Senin (23/4/2018) di Lembang Bandung.  Pelatihan ini diikuti 60 peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Kepala bidang program Kemnaker, Hj. Ayi Latifah, mengatakan pihaknya sudah mendatangkan pemateri dan fasilitator yang sudah handal dibidang kopi. Ia ingin para peserta memaksimalkan kesempatan ini dengan baik.

"Saya berharap peserta tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini dan mau belajar dengan baik," harapnya.

Menurut Ayi, dengan menaiknya minat bisnis di bidang kopi sekarang, diharapkan akan mampu membuka lapangan pekerjaan sekaligus melakukan persaingan kerja.

"Generasi muda sekarang ini harus berdaya. Siapa tahu setelah pelatihan ini, teman teman bisa membuka kafe-kafe di daerah masing-masing, ya minimal warung kopilah," ujar Ayi.

Sementara itu, Hery Sudarmanto, Dirjen pembinaan penempatan tenaga kerja dan perluasan kerja, mengatakan pihaknya telah menyiapkan kurikulum standar profesi barista untuk para peserta.

"Saya berharap peserta bisa maksimal dalam menyerap materi yang disampaikan dengan kurikulum yang sudah kami sesuaikan dengan standar profesi barista," katanya.

Acara pelatihan barista ini adalah agenda tahunan. Tahun ini dibuka 3 angkatan yang akan dilatih selama 5 hari mulai 23-27 April 2018. (Dlowi/Falis)



Oleh: Ade Achmad Ismal*

Ada sebuah meme yang menurut saya mengusik jiwa “nasionalisme” saya terhadap IAIN Kudus. Meme itu menyandingkan logo terbaru kampus hijau kita itu dengan bolu kukus dengan keterangan yang cukup menggelitik. Sekilas memang ada kemiripan, tetapi meme tersebut juga tidak bisa dianggap wajar atau hanya sekadar guyonan. Saya memandang ada beberapa hal yang harus segera kita benahi dalam persoalan ini.

Logo adalah jati diri yang tidak ternilai harganya. Ia memuat definisi lembaga : yang tentu saja bermakna mutlak dan tidak bisa dibantah, apalagi dicela karena alasan apapun. Logo juga merupakan cermin kolektif bagi setiap individu yang ada didalamnya. Logo memuat makna semangat, energi serta visi misi sebuah lembaga yang sedang bergerak dan berproses. Itu sekaligus menjadi citra yang harus terjaga wibawanya sehingga tidak ada seorangpun bisa mengusiknya.

Kendati sebuah hal yang mutlak sebuah logo perlu pengkajian mendalam agar tidak mengurangi wibawa lembaga. Saya pernah menemui beberapa kasus serupa hingga akhirnya membuahkan keputusan yang mengubah sebuah logo. 

Tahun 2015 silam, persoalan tentang logo dialami oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang menuai kritik netizen sebab memunculkan “Drawa” sebagai logo dan maskot Asian Games 2018. Sebagaimana dilansir oleh detiksport.com, Drawa dianggap terlalu kuno dan tidak memenuhi ekspektasi publik yang modern dan digital. Drawa yang merupakan gambar burung cendrawasih berkostum pencak silat itu bahkan dianggap lebih mirip ayam dan tidak memiliki nilai jual (detiksport.com, 2015).

Eveline.co.id mencatat sepanjang Desember 2015 terdapat lebih dari tigapuluh ribu tweet yang membincangkan logo tersebut. Mereka menganggap panitia Asian Games 2018 tidak bisa bertindak semestinya dan minim kreatifitas. Akhirnya, Presiden dan Wakil Presiden menggelar rapat tertutup dan meninjau ulang serta merevisi logo itu dengan yang lebih elegan seperti yang kita lihat sekarang.

Era Digital
 
Kembali pada tataran Logo IAIN terbaru yang sudah beredar itu, saya kurang begitu setuju sebab beberapa alasan yang hampir serupa dengan kasus “Drawa”. Gabungan konsep bola dunia, menara dan putik bunga saya kira telah ada sejak sebelum kemerdekaan dan amat klise digunakan oleh lembaga dimanapun. Pun logo IAIN Kudus yang baru tersebut juga tidak ramah posisi (multiplace) sehingga bisa digunakan dalam berbagai olah digital.

Sebagai perbandingan, logo IAIN Tulungagung menyelaraskan antara aksara jawa dengan olah digital kekinian yang elegan. Desainnya juga simpel dan mudah diaplikasikan di semua media olah digital. Contoh lain, kita bisa melihat logo IAIN Pekalongan yang juga sangat dinamis dan elegan dengan memadukan aksen khas Kufi (Iran). Begitulah memang, desain visual adalah keharmonisan antara sentuhan budaya dan kecanggihan teknologi yang memuat visi besar sebuah lembaga.

Berkaca dari kedua Institut tersebut logo IAIN Kudus seharusnya bisa dikemas lebih sederhana. Tentu pengaplikasian Menara, bukan secara utuh langsung ditempel begitu saja. Melainkan diolah kembali sedemikian rupa agar menghasilakan desain yang simpel dan mudah diaplikasikan berbagai media. Selain itu masih banyak ciri kota Kudus yang dapat diaplikasikan kedalam sebuah logo. Misalnya mengolah kata kudus itu sendiri, mengolah digital rumah joglo dan lain sebagainya. Atau seperti mengolah khat (kaligrafi) dalam bentuk yang simpel dan enak dipandang dengan nilai seni yang tinggi. 

Libatkan Mahasiswa

Meski logo itu sudah tersebar di beberapa sudut desain grafis, baik dunia nyata maupun maya. Tanpa mengurangi rasa hormat pada sang kreator logo, saya menyarankan agar para pejabat kampus meninjau ulang logo tersebut. Terlebih kita memiliki ribuan mahasiswa yang saya kira beberapa diantara mereka memiliki keahlian desain grafis. Melibatkan mahasiswa adalah salah satu cara untuk mencari desain terbaik demi citra IAIN Kudus kedepan. 

Sebenarnya di IAIN Kudus sendiri ini bukan lah hal baru. Ketika Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) diubah namanya oleh Kementerian Agama menjadi Senat Mahasiswa (Sema) pada tahun 2015 mereka mengadakan sayembara logo. Hasilnya pun tidak mengecewakan, logo Sema kini terlihat lebih berwibawa daripada sebelumnya. 

Logo memang bukan segalanya, karena ia juga tidak lebih penting dari kualitas birokrasi di dalamnya. Akan tetapi mengabaikan peran mahasiswa juga bisa jadi malapetaka yang berujung pada rusaknya citra kampus bahkan negara.

 )*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Syariah dan EI, Prodi Ekonomi Syariah Semester 8




PARIST.ID, DEMAK- Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Demak memperingati Hari Kartini dengan menggelar festival seni DKD On Stage bertajuk “Perempuan” (Besok Aku Cantik), Minggu (22/4/2018) di Hotel Citra Alam. Dalam festival itu, dari pagi hingga malam (08.00-23.00 WIB) masyarakat yang hadir disuguhi berbagai pementasan dari beragam jenis kesenian.

Terkait dengan tema, Sutikno, Panitia penyelenggara mengatakan, saat ini perempuan bukan hanya ingin tampil menarik, melainkan juga ingin selalu terlihat cantik setiap saat saat. Makna dari “Besok Aku Cantik” adalah bahwa meskipun hari ini ia telah terlihat cantik, bagaimanapun caranya esok hari ia harus lebih terlihat cantik lagi. 

“Begitulah wanita, selalu ingin terlihat paling cantik sendiri. Bukan hanya cantik parasnya, melainkan hatinya juga. Itulah esensi tema yang kami angkat kali ini,” paparnya.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, sambung Sutikno, peran wanita yang paling utama adalah merawat dan mendidik keluarga, khususnya bagi anak-anaknya. Untuk itu, kecantikan sifat dan hati Kartini yang  menjadi dasar tereselnggaranya festival tersebut harus benar-benar ditiru oleh para wanita masa kini. Sebab, selama hidupnya, Kartini terkenal sebagai wanita yang memiliki kecantikan lahir batin. Hal itu terlihat dari kisah-kisah perjuangannya dalam mendidik keluarganya dan masyarakat.

Dalam sesi pembacaan puisi, pengunjung yang hadir dipersilahkan untuk membacakan satu karya puisinya di panggung utama. Puisi-puisi yang telah dibacakan  akan dijadikan buku antologi puisi oleh pihak  panitia.

Hamdanah, salah satu penampil puisi mengatakan, kalau dilihat dari sejarah, perempuan-perempuan yang berprestasi selain RA. Kartini sangat banyak. Namun kebanyakan anak-anak sekarang telah melupakannya. Seperti Dewi Sartika di Bandung, Rohana Kudus di Padang, Cut Nyak Dien, Teuku Fakinah, Cut Mutia, Malaha Yati, dan masih banyak lagi yang lainnya di Aceh. Mereka juga memberikan sumbangsih besar dalam dunia pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah untuk pendidikan wanita di kampung halamannya.

Hamdanah yang berprofesi sebagai guru Bahasa Indonesia di salah satu SMA di Kabupaten Demak itu menyampaikan pesan kepada seluruh wanita di Indonesia lewat puisi narasi berjudul “Wanita-wanita Indonesia Mau Kemana?”. Melalui puisinya itu,  ia berpesan bahwa wanita itu adalah bagian dari tiang bangsa. Jadi wanita harus menjaga harga dirinya. Karena jika wanita itu baik, maka citra wanita sebagai bagian bangsa akan terlihat baik. Begitu juga sebaliknya, citra bangsa akan buruk jika wanita yang di dalamnya bersifat buruk juga.
 
“Lewat puisi yang saya ciptakan ini, saya mengajak seluruh wanita Indonesia, Kartini-Kartini masa kini untuk mewarisi laku RA. Kartini. Melakukan berbagai hal positif yang dapat meningkatkan mutu dan citra wanita,” ujarnnya.

Selain pembacaan puisi, dalam festival tersebut, DKD Demak juga menyuguhkan  Gelar Lukis dan Fotografi, Live Mural, Live Akustik, Pantomim Jalanan, Bedah Buku, Musik, Performance Art, Pragmen Teater Demak, dan ditutup dengan Orkes Keroncong. Dan yang spesial dari orkes keroncong (OK) kali ini yaitu kehadiran OK Badami dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Jawa Barat dan OK Citra Alam. (Arif/qih)


il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.