PPL-KKN Terintegrasi Kompetensi Akan Dilaksanakan Tahun Ini




PARIST.ID, KAMPUS-  IAIN Kudus akan melaksanakan Praktik Perkuliahan Lapangan (PPL) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan konsep terbaru, yaitu KKN Terintegrasi Kompetensi. Konsep tersebut dipaparkan dalam seminar nasional dan rapat bersama puluhan stagholders yang nantinya akan menjadi mitra kerja sama dalam pelaksanaan konsep tersebut, Rabu (11/7/2018) pagi di Aula Rektorat lt. 3.

Supa’at, Wakil Ketua Satu IAIN Kudus Menjelaskan, konsep tersebut merupakan hasil analisis dan evaluasi terhadap pelaksanaan PPL-KKN di tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, konsep KKN lama atau konvensional yang merupakan pengabdian terhadap masyarakat dan terjun langsung di tengah-tengah mereka merupakan konsep yang perlu dibenahi dengan dua alasan mendasar.

Pertama, kata Supa’at, pengabdian tersebut tidak sejalan dengan pendidikan yang telah didapat di kelas-kelas perkuliahan. Ia mencontohkan, realita di perkuliahan mahasiswa Ekonomi Syariah (ES) dibekali dengan teori-teori ekonomi dan akuntansi yang tentu saja tidak seluruhnya sejalan dengan kondisi masyarakat, terutama di pelosok desa.

Kedua, konsep terintegrasi kompetensi lebih efisien dibanding dengan konsep konvensional. Pasalnya, konsep konvensional akan menghabiskan banyak dana yang harus dikeluarkan oleh kampus maupun mahasiswa.

“Yang lebih penting dari evaluasi kami adalah efisiensi terhadap pendanaan dan proses pelaksanaannya yang memakan waktu terlalu lama. Tentu ini menjadi salah satu faktor yang menghambat mahasiswa untuk lulus lebih cepat,” katanya saat memberi sambutan pembukaan seminar.

Speed up kelulusan

Hal lain yang menjadi pertimbangan kampus dalam menerapkan konsep tersebut adalah banyaknya mahasiswa yang tak kunjung lulus. Menurutnya, realita ini tentu menjadi keprihatinan tersendiri bagi pimpinan kampus. Dan hal itu jugalah yang menjadi penghambat tidak mampunya IAIN Kudus mengakomodir banyaknya pendaftar baru di tahun-tahun terakhir.

“Mau tidak mau kita harus menyikapinya dengan langkah-langkah taktis dan strategis. Kami menyebutnya dengan Speed up kelulusan atau mempercepat kelulusan mahasiswa lama. Namun tetap pada prosedur yang telah ada, tidak boleh asal cepat lulus,” imbuhnya.

Terkait dengan konsep terintegrasi itu sendiri, Supriyadi, Kepala Jurusan Syariah dan EI menyebutkan ada dua tahapan yang harus dilalui mahasiswa. Pertama, mahasiswa harus melaksanakan PPL terlebih dahulu selama satu bulan di lembaga keuangan (bagi prodi ES: red), Kantor Urusan Agama (KUA) dan Pengadilan Agama (PA) serta Pengadilan Negeri (PN) (bagi Prodi AS: red), Badan Amil Zakat (bagi Prodi MZW), dan perusahaan-perusahaan bagi Prodi MBS.

Dalam proses PPL, mahasiswa akan menjalankan peran layaknya sebagai karyawan lokasi tempatnya PPL. Misalnya sebagai teller atau pembantu pos-pos lain pada lembaga tersebut dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Kedua, selang 2-3 minggu kemudian baru akan dilaksanakan KKN selama satu bulan di tempat yang sama atau di lembaga lain, namun tetap pada jenis lembaga yang sama. Dalam hal ini, mahasiswa akan didorong dan ditugaskan untuk mengembangkan lembaga yang mereka tempati atau potensi ekonomis dari wilayah di sekitar lembaga tersebut. Selain itu, mahasiswa akan membuat pemetaan terhadap wilayah mana yang menjadi target paling berpeluang ekonomis tinggi.

Bagi Supriyadi, konsep terintgrasi kompetensi tersebut merupakan upaya kampus untuk mensinergikan antara proses PPL dan KKN yang selama ini tidak terlaksana. Hal ini juga merupakan upaya kampus agar nanti mahasiswa yang lulus tidak gagap menghadapi lapangan pekerjaan.

“Harapan besar kami adalah mahasiswa mampu memahami dan memetakan peluang kerja dalam proses integrasi tersebut. Agar mereka tidak gamang terhadap kondisi real lapangan,” pungkasnya.  (Faqih)