KUDUS, PARIST.ID – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) kembali tampilkan pertunjukan menarik di bulan ini. Mengangkat tema “Tanpa Batas”, FASBuK tampilkan pertunjukan musik dan diskusi di Lapangan Basket Universitas Muria Kudus, Sabtu (29/09/2018) malam.

Grup musik Amburadul, satu-satunya penampil di FASBuK kali ini membawakan tiga aransemen lagu dengan komposisi yang berbeda. Setidaknya ada beberapa genre musik yang diaransemen menjadi lantunan musik indah untuk dinikmati. Seperti pada lagu terakhir, mereka memasukkan unsur nuansa arab dan jawa khas suluk-suluknya.

“Hal ini tentu sangat membuat telinga kita menjadi risih jika kita tidak terbiasa mendengarkan musik-musik kontemporer. Ketika mendengar suluk arab disejajarkan dengan suluk dalang dan tembang macapat jawa, belum lagi aransemen genre yang kita garap malam ini kurang lebih ada enam genre; Campursari, kroncong, jazz, pop, rock, jawa, dan timur tengah,“ Kata salah satu personil Amburadul pada saat sesi diskusi.

Grup musik Amburadul sendiri adalah salah satu grup musik yang ada di Kudus yang berdiri sejak tahun 2016 dibawah pimpinan Edi lulusan UNNES dengan beberapa anggota seorang musisi dan pemusik yang sudah melanglang buana di beberapa kota juga daerah.

Arfin Akhmad Maulana, Ketua Badan Kerja FASBuK mengatakan, lewat tema “Tanpa Batas” fasbuk ingin mengajak musisi musisi dan seniman muda Kudus agar dapat berkreasi mengkolaborasikan antara musik tradisi dan modern, demi menjaga keeksistensian kebudayaan jawa di jaman sekarang. Artinya sebuah karya kreatif itu tidak boleh terpaku oleh sebuah sekat genre dan terbatas oleh satu jenis saja.

“Seperti yang kita ketahui generasi-generasi sekarang ini bahkan anak kecil saja lebih banyak menyukai musik kekinian dari barat dan dangdut, jika kita tidak kreatif maka kita sebagai orang jawa akan kehilangan musik tradisi kita” katanya.

Sementara itu salah seorang seniman teater Kudus, Mbah Joko sapaan akrabnya mengapresiasi penampilan dari Grup Musik Amburadul di FASBuK kali ini. Menurutnya membuat perpaduan aransemen genre tidak mudah, dan Amburadul mampu melakukannya dengan baik.

“Saya tadi hendak ke kota, namun karena jalanan macet dan ramai jadi saya ambil arah untuk menonton FASBuK, dan saya mengapresiasi penampilan dari Amburadul malam ini,” terangnya.(arf)

PARIST.ID, KAMPUS – Unit Kegiatan Mahasiswa Kelompok Pecinta Nalar (UKM KPN) memberikan tugas khusus kepada puluhan anggota baru sebagai bagian dari bukti keseriusannya untuk aktif di UKM KPN. 

Hal ini disampikan oleh Khoirun Nisak, ketua umum UKM KPN dalam kegiatan penerimaan anggota baru (PAB) tahun 2018 di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Kampus Barat IAIN Kudus pada minggu (23/09/2018) 
Anggota baru UKM KPM foto bersama usai kegiatan PAB
“Bahwa dalam rangka melihat keseriusan mereka, sertifikat tidak diberikan secara cuma-cuma. Bahkan bagi yang tidak mengikuti kegiatan PAB secara utuh, akan mendapat tugas tambahan,” kata Mahasiswi asal Kabupaten Blora ini. 

Lebih lanjut Nisak menerangkan, Karena PAB kita bertepatan dengan kegiatan lain, beberapa peserta ada yang minta ijin. Nah bagi yang ijin, ada beberapa persyaratan apabila masih ingin mendapatkan serifikat. Seperti membuat Karya Tulis Ilmiah. 

Ada sekitar 100 pendaftar PAB UKM KPN 2018. Namun hanya sekitar 50 mahasiswa yang hadir menjadi peserta. Sebagai wujud agar tidak terjadi kecemburuan sosial dengan yang megikuti PAB, dengan tegas pengurus memberikan tugas membuat KTI sebanyak 10 lembar. 

“Hal ini sebagai wujud perjuangan anggota baru. Lebih jauh, dengan ini juga bisa menambah arsip KTI dan data yang dimiliki UKM KPN,” tuturnya. 

Hal senada juga diterangkan oleh Wafi, selaku ketua panitia Steering Committee (SC) PAB UKM KPN tahun 2018. Menurutnya anggota baru nantinya diwajibkan untuk mengikuti tiga kegiatan dalam seminggu. 

“Ada tiga kegiatan rutin yang akan dijalankan sebagai agenda rutin mingguan. Diantaranya diskusi yang akan diselenggarakan setiap hari Rabu, pelatihan Karya Tulis Ilmiah (KTI) setiap hari Selasa dan pelatihan menari setiap hari Jum’at,” katanya. 

Wafi menambhakan, Pada setiap pertemuan anggota baru juga diwajibkan meminta tanda tangan dari ketua panitia SC, ketua panitia Organizing Committee (OC), dan ketua umum UKM KPN. “Hal ini sebagai bentuk pembuktian keseriusan anggota baru dalam mengikuti UKM KPN dan menjadi syarat wajib untuk mendapatkan sertifikat PAB,” pungkasnya.(Fandi/Waf) 




Rindu yang Ditemukan

Bawakan sekotak hujan
Berkunci kesetiaan
Pada angin malam bekas pelukan
Pukul nol nol, seluruh fikiran terbang

agar kau tahu,
bahwa rindu yang hilang
kini telah ditemukan

2018




Rindu yang Ditandatangani

Dan sampailah ranting-ranting pada kepatahannya
dedaun yang tetiba pergi dihempas ego angin
akar yang taklagi perkasa bagi tanah
bebunga yang memilih layu
buah tak lagi berasa
kemudian sampailah aku
membawa berkas rindu
yang seharusnya kau tandatangani
lantas kau berlari tapi bukan di fikiranku
menjauh mencari pupuk yang hilang
untuk membangkitkan pohon mati
Ah tidak usah repot-repot
Aku masih tersenyum
Dan itu mantra

2018




Rindu di Lengan Jalan

Rinduku di lengan jalan
Seperti kendaraan-kendaraan yang padat
serta kata-kata memenuhi buku-buku
menyesaki rak-rak pikiranku
sebelum detik-detik dari sebuah jam
biarkan peluhku mendekat pada dada langit
pada titik senyummu

2018


*Firdashoma, Seorang ballerina puisi yang masih merangkak. Penulis merupakan Mahasiswa Semester 5, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Jurusan Dakwah dan Komunikasi, IAIN Kudus.


KUDUS, PARIST.ID – Satu bulan setelah dimulainya perkuliahan, pengurus Ikatan Mahasiswa Pati (IKMP) wilayah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus menyelenggarakan Malam Keakraban (MaKrab) untuk mahasiswa baru angkatan 2018 pada Sabtu-Minggu (22-23/09/2018). Acara tersebut menjadi wadah penyatuan mahasiswa dan pencarian kader-kader baru IKMP.

Indri, ketua panitia MaKrab IKMP 2018 mengatakan berapapun orangnya, MaKrab IKMP harus tetap jalan. Tidak ada kata bubar dan biarlah ini menjadi awal perjuangan menumbuhkan regenerasi baru. 

"Saya berharap tumbuh kader-kader baru dari penyatuan di MaKrab ini. Dengan begitu regenerasi bisa berlangsung dengan baik," harapnya.

Lebih lanjut, para mahasiswa baru yang mengikuti MaKrab mulanya berkumpul di Balai Desa Ngembalrejo sebelum berangkat ke lokasi MaKrab di gedung Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK) desa Colo Dawe Kudus. Dengan membawa mobil, para mahasiswa baru berangkat ke PPRK diiringi konvoi sepeda motor beberapa pengurus IKMP. 

"Untuk Mahasiswa baru nanti naik mobil. Yang nyupir mas Agus dan yang lain naik motor," tutur Indri. 

Riska, mahasiswa baru prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) juga mengatakan, banyak sekali mahasiswa dari Pati di IAIN Kudus namun mereka kurang mengenal satu sama lain.

"Saya tahu banyak orang dari pati yang kuliah di sini. Namun rata-rata kurang begitu kenal satu sama lain. Maka dari itu diperlukan wadah untuk menyatukan. Mungkin bisa dengan IKMP mengadakan MaKrab seperti ini," jelasnya. (Fandi)


KAMPUS, PARIST.ID - Bagi sebagian orang, Bahasa Inggris menjadi momok yang cukup menakutkan dalam beberapa hal, misalnya tuntutan kerja. Padahal, ada banyak cara mudah untuk menguasainya. Antara lain yaitu Belajar bahasa Inggris menggunakan tipe belajar sendiri. Hal itu disampaikan Lina Kushidayati dalam seminar bilingual Inggris-Arab di gedung SBSN IAIN Kudus pada Selasa (19/9/18).

Lina menjelaskan, belajar bahasa Inggris akan semakin mudah jika menggunakan tipe belajar sendiri. Karena menurutnya, tipe belajar orang berbeda-beda, dan setiap tipe memiliki kemampuan untuk mempercepat pemahaman dalam belajar.

“Masing-masing orang punya tipe belajar yang berbeda. Jadi penting untuk mengenali tipe belajar setiap individu, barulah nanti belajar bahasa Inggris menggunakan tipenya masing-masing,” jelasnya.

Selanjutnya, ia juga menambahi tentang pentingnya mengingat dan menghafalkan kosa kata bahasa Inggris. “Belajar bahasa Inggris itu memang tidak jauh-jauh dari vocabulary, jadi mau tidak mau harus menghafal, agar vocab yang dipakai banyak,” tambahnya. Ia juga menyarankan agar mengingat dan menghafal menggunakan metode sendiri.

Selain menghafal, member penekanan pada diri sendiri juga sangat diperlukan agar dapat mencapai target yang ditetapkan. “Yang ketiga ini push your self, adakalanya member penekanan pada diri sendiri, itu penting agar kita bias mencapai batas kemampuan kita,” katanya.

Immerse your self atau menenggelamkan diri dalam bahasa Inggris ini adalah langkah keempat,  yang bias dimulai dari hal sekitar. “Start with your gadget, bias dengan mengubah tampilan bahasanya menjadi bahasa Inggris. Atau ada yang suka nonton film seperti saya? Juga bias mengubah subtitle-nya menjadi English subtitle,” imbuhnya.

Dalam berbagai pembelajaran, praktik menjadi penyempurna. Karena itulah pentingnya pengaplikasian bahasa Inggris yang harus dilakukan secara berkala dengan rileks dan  enjoy. Whenever you learning english, you must to rileks and enjoy,” jelasnya

Setelah semua dilakukan,  hasil kadang dijadikan sebagai patokan untuk mengetahui kemampuan. Begitu juga dengan bahasa Inggris, banyak orang yang berpikiran demikian. Tapi, hal ini berbeda dengan apa yang diungkapkan Lina. Menurutnya hasil akhir tes, seperti TOEFL contohnya tidak menentukan kemampuan seseorang karena hanya menggunakan kemampuan writing dan listening. Padahal kemampuan bahasa Inggris diukur dengan reading dan speaking juga.

If you get C, D or E it’s doesn’t matter because the key of good English has nothing to do the result of the test,” katanya.
Dan terakhir adalah melakukan ya sekarang. Do it now,” tambahnya. Menurutnya hal terpenting dari seminar pagi itu adalah melakukan apa yang sudah didapatkan. (Cindi)

PARIST.ID, KAMPUS – Dua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, STEC dan Al-Izza, berkolaborasi mengadakan Festival Bahasa. Kegiatan yang tidak direncanakan sebelumnya ini berlangsung, Rabu-Kamis (19-20/09/2018) di IAIN Kudus.

Nuria, ketua panitia Festival Bahasa, mengatakan setelah adanya percakapan antara UKM bahasa Inggris (STEC) dan bahasa Arab (Al-Izza), mereka akhirnya melakukan kesepakatan untuk membuat agenda bersama tingkat se-Karesidenan Pati.

Salah satu peserta mengikuti lomba Sing a Song
“Awalnya kami hanya ngobrol-ngobrol biasa. Tapi ternyata percakapan berlanjut sampai akhirnya memutuskan untuk mengadakan forum bersama,” kata Nuria yang juga selaku pengurus STEC.

Senada dengan Nuria Hamzah, pengurus UKM Al-Izzah, membenarkan bahwa tidak ada pembicaraan serius sebelumnya.

”Awalnya kami hanya ngobrol-ngobrol biasa, dan kebetulan Al-Izzah memang punya Program Kerja (Progja) lomba. Jadi akhirnya kita satukan saja.” tutur Hamzah, wakil ketua panitia Festival Bahasa.

Dari agenda tersebut, lanjut Hamzah, diharap ke depan kedua UKM ini nantinya bisa melakukan kegiatan bersama lagi. Acara ini juga termasuk strategi promosi pengenalan UKM berbasis bahasa untuk para siswa sebelum masuk ke jenjang perkuliahan.

“Semoga para siswa bisa lebih mengembangkan bahasa, khususnya bahasa Inggris dan bahasa Arab nantinya,” harapnya.

Kegiatan yang mengundang para siswa tingkat SMA sederajat di Kudus, Pati, Jepara, Grobogan dan Kabupaten Rembang, yang semuanya masuk dalam wilayah se-Karesidenan Pati. Menawarkan lomba-lomba di antaranya, lomba menyanyi bahasa Inggris (Sing a Song) diselenggarakan di GOR IAIN Kudus, lomba menyanyi bahasa Arab (Ghina) di gedung PKM, pidato Bahasa Inggris (Speech) di gedung Ushuluddin, ceramah Bahasa Arab (Khitobah) di gedung SBSN, dan lomba menulis essay atau insya’ di gedung Rektorat lantai 3 IAIN Kudus. (Fandi)

PARIST.ID, KAMPUS – Jurusan Tarbiyah IAIN Kudus tahun ini bakal melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Terintregasi Kompetensi di Madrasah. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jurusan Tarbiyah H. M. Dzofir, M.Ag. di Gedung SBSN IAIN Kudus pada Jumuah (14/9/2018).

Dzofir menjelaskan, model KKN-K pada tahun ini disesuaikan dengan kompetensi masing-masing jurusan dan kompetensi prodi. “Karena Tarbiyah bergelut di bidang pendidikan, maka lokasi KKN di lembaga pendidikan,” katanya di hadapan ratusan Mahasiswa Tarbiyah. 
H. M. Dzofir, M.Ag. (Pegang Mikrofon) mejelaskan tentang KKN-K
Lebih lanjut ia menerangkan, Bedanya PPL dengan KKN-K adalah, mahasiswa PPL berkontribusi untuk pengalaman dalam mengajar di kelas. Sedangkan KKN-K, porsinya lebih besar, yaitu lebih pada pengabdian kepada Madrasah. “KKN-K bertujuan untuk melakukan pendampingan dan mensupport dalam hal penataan dan administrasi kependidikan,” terangnya.

Dzofir menambahkan, Karakteristik sekolah yang ditempati PPL berbeda dengan KKN, yakni di madrasah yang belum baik administrasinya agar menjadi lebih baik sekolahnya. Adapun sekolah yang terakreditasi 'A' serta tatanan administrasi sudah baik, tidak dijadikan tempat KKN. 

”Untuk tempat pelaksanaan KKN dirotasi dengan pelaksanaan PPL. Sedangkan mengenai kelompok KKN di voting dan hasinya unggul memilih ganti, sehingga kelompok KKN-K berbeda dengan kelompok PPL,” imbuhnya.

Selain itu, KKN-K di Madrasah juga dapat dimanfaatkan Mahasiswa untuk mempersiapkan pengajuan judul sekripsi, bahkan semester delapan sudah bisa wisuda. “Untuk Dosen pembimbing sekripsi Jurusan Tarbiyah akan diumumkan di sela-sela pelaksanaan KKN,” pungkasnya.(Aris/Waf)

PARIST.ID, KAMPUS – Dewasa ini banyak sekali kelompok-kelompok yang muncul dan melakukan gerakan-gerakan transnasional sehingga menimbulkan sikap radikalisme dan intoleransi antar sesama Manusia. Maka, pemahaman Islam yang Moderat perlu ditanamkan kepada generasi muda khususnya Mahasiswa sebagai upaya menjaga keutuhan dan kesatuan NKRI.

Hal ini ditegaskan oleh Ruchman Basori, M.Ag, selaku Kasie Kemahasiswaan Subdirektorat Sarana, Prasarana dan Kemahasiswaan Diktis Kemenag RI saat menjadi narasumber dalam acara Studium General dengan tema “Moderasi Beragama pada Era Revolusi Industri 4.0” di GOR IAIN Kudus Rabu, (12/09/2018).
Para Mahasiswa ( tampak dari belakang ) antusias mengikuti kegiatan Studium General
Lebih lanjut ia menerangkan, kelompok-kelompok radikal dan intoleransi tersebut mempuyai tujuan untuk mendirikan Khilafah Islamiyah di Indonesia. “Hal tersebut sangat bertentangan dengan pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara Indonesia. Khilafah Islamiyah tidak cocok diterapkan di Indonesia, tegasnya dihadapan ribuan Mahasiswa baru IAIN Kudus.

Maka dari itu, beliau berpesan kepada para Mahasiswa untuk belajar mengenai agama Islam dari sumber-sumber yang otoritatif dan dapat dipertanggung jawabkan. “Mahasiswa PTKI perlu memiliki bekal agama dan jangan sampai apa yang dipelajari menyimpang dari Al Qur’an dan Hadist,” terangnya.

Selain itu, tambahnya, Mahasiswa dituntut untuk aktif mengikuti UKM yang ada di dalam kampus, sebagai upaya untuk dapat meningkatkan Critical Thinking. Jika minat Mahasiswa untuk mengikuti UKM tinggi, maka kampus pun akan mendapatkan feedback yang baik. Karena semakin tinggi kreativitas dari mahasiswa makin banyak pula prestasi yang akan diraih,” katanya.

Terakhir, beliau berpesan agar Mahasiswa agar memperbanyak membaca buku dan melanjutkan studinya hingga Strata 3.Banyak beasiswa yang dibuka oleh pihak kampus maupun dari Kemenag RI yang dapat diikuti oleh para mahasiswa supaya mereka memiliki minat yang tinggi untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” pungkasnya. (Arum/Waf)

PARIST.ID, KAMPUS – Para Mahasiswa PTKI perlu memiliki daya saing global, sehingga setelah lulus dapat meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan siap berkontribusi untuk membangun bangsa Indonesia menjadi lebih baik. 

Hal itu ditegaskan oleh Prof. Dr. Arskal Salim, GP, MA, selaku Direktur Pendidikan Tinggi Kementerian Agama RI pada acara Studium General dengan tema “Moderasi Beragama pada Era Revolusi Industri 4.0” di GOR IAIN Kudus Rabu, (12/09/2018). 
Prof. Dr. Arskal Salim, GP, MA, (Dua dari kiri) saat mengisi Studium General Mahasiswa baru IAIN Kudus
“Dengan daya saing global yang tinggi, para Mahasiswa dapat menciptakan tantangan tersendiri sebagai langkah untuk menempa diri. Banyak lulusan PTKIN telah melalang buana dimana-mana,” jelasnya. 

Prof. Arskal Salim menambahkan, Revolusi Industri 4.0 hendaknya menjadi pegangan dalam artian jangan sampai kita gagap akan era yang tengah kita jalani ini. “Karena semua hal yang ada akan mengarah pada revolusi industri 4.0. Kita perlu menyikapinya secara positif supaya tidak muncul dampak negatif yang ditimbulkan,” katanya. 

Lebih lanjut, Prof. Arskal Salim mengatakan, Ada beberapa tantangan yang perlu dijawab oleh PTKI dalam era ini, yaitu bagaimana PTKI merespon dan dapat beradaptasi dengan generasi millenial, bagaimana nilai-nilai keislaman dapat ditanamkan dengan baik oleh generasi millenial secara relevan dan kontekstual. 

Selain itu, PTKI juga harus dapat menyiapkan muslim millenial yang tangguh menghadapi tantangan zaman. “Sekarang semua serba online, bisnis pun dilakukan secara online. Banyak dari anak muda sekarang terjun ke dalam dunia wirausaha karena dianggap hidup lebih fleksibel,” imbuhnya. 

Terakhir, ia menyampaikan tujuan dari pendidikan agama Islam yang terkandung dalam PTKI, yaitu membentuk kepribadian utama, Insan Kamil yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah. Kemudian membentuk kesadaran diri sebagai Hamba Allah sekaligus sebagai Khalifah di Bumi. 

Prof. Arskal Salim menambahkan, pendidikan agama berperan sebagai benteng kepribadian dan pembekalan hidup untuk andil dalam persaingan kancah dunia dan juga menjadi benteng dari kelompok-kelompok yang bermacam-macam. “Mahasiswa harus terus meningkatkan kualitas kompetensi, terus giat belajar, memperkuat jaringan relasi dan juga meningkatkan kemampuan berbahasa,” tegasnya. (Arum/Waf)

KUDUS, PARIST.ID - "Tuhan ampun jenengan paringi jawoh, kejobo jawoh uyah," sepenggal kalimat pembuka dari pentas produksi Teater Satoesh IAIN Kudus yang berjudul "Orang Madak" di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) Rabu, (5/9/2018) malam. Kalimat tersebut berasal dari bahasa Jawa yang artinya "Tuhan jangan engkau beri hujan, kecuali hujan garam."

Naskah orang madak yang dipentaskan berasal dari tulisan Rouf Kuro, sapaan akrabnya yang juga menjadi sutradara dalam pentas tersebut. Naskah itu diangkat dari kehidupan sehari-harinya di kampung halaman, yaitu daerah pesisir Rembang, Jawa Tengah. 

Menurut Rouf, naskah orang madak ditulis karena berawal dari keresahannya melihat ayah, keluarga dan tetangga-tetangga sekitarnya kesulitan ketika menjadi petani garam. Alasannya, lanjut Rouf, selain karena cuaca yang tak menentu, juga karena kebijakan pemerintah yang lebih memilih garam impor daripada hasil produksi bangsa sendiri.

"Saya ingin memperkenalkan, bahwa inilah garam, inilah segala sesuatu tentang garam. Kegelisahan orang madak ketika impor datang," kata Rouf.

Kesuksesan pementasan naskah "Orang Madak" dari Teater Satoesh mengundang banyak kritikan dan apresiasi dari kalangan penonton. Badrussoleh misalnya, penonton asal Madura yang jauh-jauh datang ke Kudus untuk menyaksikan pementasan di UMK mengapresiasi pementasan tersebut. Namun ia menyayangkan pentas dari Teater Satoesh kali ini. Pasalnya pentas produksi tersebut memakai bahasa Jawa yang tidak dimengerti olehnya. 

"Untuk keseluruhan, penampilan tersebut sangat baik. Akan tetapi alangkah baiknya untuk penampilan selanjutnya bisa di selingi bahasa-bahasa nasional biar orang-orang seperti saya yang tidak tahu bahasa daerah juga bisa menikmati," paparnya.

 Sementara itu, Rizky atau yang akrab disapa Ngadono, sebagai Pimpinan Produksi "Orang Madak" menuturkan bahwa pentas kali ini adalah murni tulisan dari anggota Teater Satoesh sendiri. Menurutnya dari pementasan tersebut, tim produksi Teater Satoesh ingin menunjukkan kepada penonton bahwa di Indonesia itu banyak keragaman, dan keresahan Orang Madak adalah salah satu bentuk keresahan yang dialami oleh masyarakat kecil. 

"Melalui pementasan kali ini, kami ingin berpesan bahwa di Indonesia itu banyak keragaman. Setiap adanya komunitas atau perkumpulan manusia, disitu pasti ada keresahan, dan keresahan tersebut diangkat ke pentas Orang Madak," terangnya. (rif)


PARIST.ID, KUDUS - Puluhan aktivis pers se-Kudus melakukan aksi solidaritas untuk merespon sengketa jurnalistik yang mengemuka beberapa Minggu terakhir. Aksi solidaritas tersebut dilakukan saat _Car Free Day_ di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (2/9/2018) pagi.

Sejumlah aktivis pers tersebut menyesalkan tindakan kriminalisasi jurnalis oleh petinggi salah satu kampus negeri di Semarang terhadap pimpinan redaksi _serat.id,_ Zakki Amali (ZA) baru-baru ini. Menurut mereka tindakan melaporkan jurnalis ke Polisi mencoreng kebebasan berekspresi dan pengawasan sosial.

"Tindakan itu tidak tepat sebab liputan itu murni karya jurnalisme investigatif yang berfungsi sebagai kontrol sosial bukan menjatuhkan nama baik kampus," ujar Muhammad Farid, wartawan Suara Nahdliyyin.

Farid melanjutkan, seharusnya pihak yang diberitakan itu mengklarifikasi dan menggunakan hak jawab sebagaimana yang diatur dalam UU. Pers. Tidak asal melapor dengan delik perkara dari pasal lain.

"Karya jurnalistik ya harus diselesaikan dengan UU Pers, yang sejalur, bukan UU yang lain," lanjutnya.

Sementara itu, aktivis lain, Falis Istianah mengapresiasi keberanian ZA untuk melakukan kontrol sosial melalui jurnalistik. Menurutnya zaman sekarang liputan investigasi memang selayaknya perlu didukung dan dikembangkan untuk menciptakan pola pikir masyarakat yang kritis dan sehat.

"Intinya itu kan jangan baper (bawa perasaan) aja. Jurnalisme investigatif itu baik, tujuannya agar orang lebih berhati-hati dalam bertindak karena merasa diawasi oleh orang banyak. Kalau memang tidak bersalah ya sudah tinggal dibuktikan saja tidak perlu baper terus lapor sana-sini," kata Mahasiswa asal Jepara ini.

Terlihat para aktivis ini menggelar aksi protesnya dengan membawa poster bergambar wajah ZA dengan tulisan #Stopkriminalisasijurnalis. Aksi mereka ini dilakukan bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kudus yang juga menghimbau kepada masyarakat untuk melawan hoaks.

"Kami harap aksi kami ini bisa jadi dukungan moral sekaligus menyadarkan masyarakat agar tidak gampang mengkriminalisasi sebuah produk jurnalistik," papar Falis. (Qih)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.