Pentas "Orang Madak", Bentuk Keresahan Masyarakat Pesisir

KUDUS, PARIST.ID - "Tuhan ampun jenengan paringi jawoh, kejobo jawoh uyah," sepenggal kalimat pembuka dari pentas produksi Teater Satoesh IAIN Kudus yang berjudul "Orang Madak" di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) Rabu, (5/9/2018) malam. Kalimat tersebut berasal dari bahasa Jawa yang artinya "Tuhan jangan engkau beri hujan, kecuali hujan garam."

Naskah orang madak yang dipentaskan berasal dari tulisan Rouf Kuro, sapaan akrabnya yang juga menjadi sutradara dalam pentas tersebut. Naskah itu diangkat dari kehidupan sehari-harinya di kampung halaman, yaitu daerah pesisir Rembang, Jawa Tengah. 

Menurut Rouf, naskah orang madak ditulis karena berawal dari keresahannya melihat ayah, keluarga dan tetangga-tetangga sekitarnya kesulitan ketika menjadi petani garam. Alasannya, lanjut Rouf, selain karena cuaca yang tak menentu, juga karena kebijakan pemerintah yang lebih memilih garam impor daripada hasil produksi bangsa sendiri.

"Saya ingin memperkenalkan, bahwa inilah garam, inilah segala sesuatu tentang garam. Kegelisahan orang madak ketika impor datang," kata Rouf.

Kesuksesan pementasan naskah "Orang Madak" dari Teater Satoesh mengundang banyak kritikan dan apresiasi dari kalangan penonton. Badrussoleh misalnya, penonton asal Madura yang jauh-jauh datang ke Kudus untuk menyaksikan pementasan di UMK mengapresiasi pementasan tersebut. Namun ia menyayangkan pentas dari Teater Satoesh kali ini. Pasalnya pentas produksi tersebut memakai bahasa Jawa yang tidak dimengerti olehnya. 

"Untuk keseluruhan, penampilan tersebut sangat baik. Akan tetapi alangkah baiknya untuk penampilan selanjutnya bisa di selingi bahasa-bahasa nasional biar orang-orang seperti saya yang tidak tahu bahasa daerah juga bisa menikmati," paparnya.

 Sementara itu, Rizky atau yang akrab disapa Ngadono, sebagai Pimpinan Produksi "Orang Madak" menuturkan bahwa pentas kali ini adalah murni tulisan dari anggota Teater Satoesh sendiri. Menurutnya dari pementasan tersebut, tim produksi Teater Satoesh ingin menunjukkan kepada penonton bahwa di Indonesia itu banyak keragaman, dan keresahan Orang Madak adalah salah satu bentuk keresahan yang dialami oleh masyarakat kecil. 

"Melalui pementasan kali ini, kami ingin berpesan bahwa di Indonesia itu banyak keragaman. Setiap adanya komunitas atau perkumpulan manusia, disitu pasti ada keresahan, dan keresahan tersebut diangkat ke pentas Orang Madak," terangnya. (rif)