Wujud Kecintaan Kudus Dalam Bentuk Jurnalisme Naratif

PARIST.ID, KAMPUS - Kudus kedepannya diharapkan dapat lebih dikenal dengan literasinya, bukan hanya dari segi industry maupun kreteknya. Kira-kira begitulah harapan kami yang menggarap buku yang asing di kampung sendiri ini. Hal tersebut disampaikan oleh Ade Ahmad Ismail selaku moderator mengawali bedah buku pada senin (10/12/18) di Gedung SBSN lantai dua IAIN Kudus. 

Buku yang dieditori Afthonul Afif ini terdapat 13 tulisan dengan sembilan penulis. Yang mengambil seting tulisan berbeda-beda. Zakki mencontohkan kisah keseharian yang bisa dijumpai di Kudus seperti orang puasa dalail, buruh kretek, situs patiayam dan tradisi nganten mubeng. 

“Buku ini merupakan buah kasih sayang dari para penulisnya,” kata Zakki Amali mengawali diskusi dan bedah buku yang diseleggarakan oleh LPM Paradigma IAIN Kudus dan Paradigma Institute Kudus. 

Lebih lajut Zakki menerangkan, Buku ini memang belum sempurna, tapi menjadi tonggak awal dalam mengabadikan Kudus melalui teknik jurnalisme naratif. Semoga ke depan semakin banyak yang meminati, karena respon pembaca sangat bagus. 

“Tidak seperti narasi yang lainnya, Pembaca akan langsung puas dengan satu berita atau cerita singkat. Tapi dengan prosa jurnalisme, pembaca akan ditarik hanyut ke dalam cerita penulis. Metodenya memang sama, tapi cara menulisnya beda," ujar alumni IAIN Kudus ini. 

Sementara itu, Zaenal Abidin selaku Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Kudus masih menyayangkan belum dieksposnya sosok Sosrokartono. Padahal menurutnya kakak dari Raden Ajeng Kartini tersebut merupakan salah seorang tokoh legendaris di Kudus. “Belum cukup bagi kita untuk untuk melihat Kudus dari buku ini saja, yang ada di sini cuma sebagian kecil dari Kudus,” terangnya. 

Arif Maulana, Pimpina Umum LPM Paradigma berharap, semoga dengan terbitnya buku yang asing di kampung sendiri ini bisa menjadikan pelecut semangat buat teman-teman berani menciptakan suatu karya dan lebih kreatif lagi. Karena sebagian besar penulisnya pun masih berstatus Mahasiswa, walau ada beberapa yang sudah lulus wisuda. 

“Dengan membaca buku ini, saya yakin pembaca dapat lebih tergugah lagi untuk memperhatikan sejarah dan potensi yang ada di daerahnya. Biar tidak serasa asing di kampung sendiri seperti judul buku tersebut. Karena sejauh apapun kita pergi pasti akan balik lagi pulang ke kampung sendiri,” ungkapnya 

Rektor IAIN Kudus, Mudakkir mengatakan dalam sambutannya, buku ini telah membuatnya terhibur. Sehari-hari, ia berkutat pada penelitian yang ciri penulisannya kaku dan datar. 

"Saya baca di awal ini sudah asik. Saya sempat terkecoh juga, karena pada awal tulisan tak menjelaskan. Tapi penjelasan ada di akhir. Tidak seperti karya tulis lainnya. Ini unik dan membangkitkan kegairahan untuk terus membacanya," pugkasya. (Anam/Waf)