Tepo Seliro, Ajaran Toleransi Sunan Kudus


KAMPUS -  Ajaran Tepo Seliro Sunan Kudus merupakan bentuk toleransi masyarakat Kudus terhadap keberagaman Indonesia. Tepo Seliro diartikan sebagai ukuran perbuatan seseorang apakah merugikan orang lain atau sebaliknya.  

Misalnya, hubungan baik umat Islam dengan umat Hindu di Kudus pada zaman dahulu. Sunan Kudus melarang masyarakatnya untuk tidak menyembelih sapi meski dalam Islam sapi halal untuk disembelih. Hal tersebut dilakukan  sebagai bentuk toleransi keberagaman, karena sapi sangat disakralkan oleh umat Hindu.

"Sunan Kudus sudah mencontohkan bagaimana kita harus bertoleransi. Karena dengan kasih sayang kita semua bisa hidup berdampingan dengan baik," kata Wakil Rektor III IAIN Kudus, Ihsan dalam acara Simfoni Toleransi dengan tema “Antar Iman, Keberagaman dan Kemampuan Berpikir Kritis” di GOR IAIN Kudus, Rabu (16/10/2019).

Ihsan menambahkan inti ajaran toleransi adalah saling menghargai. Tidak menbenarkan apa yang menurut kita benar dan menyalahkan yang tidak sama dengan kita. 

"Simponi toleransi merupakan nada, irama, suasana keberagaman yang memperkuat dan lengkap. Kita diciptakan bersuku, berbangsa agar kita saling mengenal," jelasnya. 

Di samping itu, tokoh Kristen, Elga J. Sarapung mengatakan bahwa perbedaan akan menjadi konflik bila tidak dikelola. Menurutnya, berdialog merupakan salah satu cara saling memahami saat hidup di negara dengan banyak keberagaman.

"Inti ajaran semua agama adalah sama-sama mengajarkan kasih sayang. Untuk itu pemahaman perbedaan aqidah menurut agama masing-masing harus dihargai," tuturnya. 

Lebih lanjut, ia menghimbau agar masyarakat tidak terprovokasi dengan sesuatu yang tidak jelas asal usulnya. Sebab menurutnya manusia diciptakan untuk saling mengasihi dan menyayangi.

"Bercermin pada agama kita sendiri. Karena setiap agama tidak akan mengajarkan kebencian dan permusuhan," katanya. 

Sedangkan, Tokoh Samin Ki Pramugi Prawiro Wijaya, menjelaskan ada lima tujuan hidup sedulur sikep yaitu demen, becik, rukun, seger, dan waras. 

"Lima tujuan hidup ini yang dijadikan sebagai landasan bertoleransi," katanya. (Nonik)