Sastrawan Se-Kudus Hadir di Jagong Sastra

KUDUS - Awal 2020, Jagong Sastra memiliki konsep lebih meriah dengan dihadiri sastrawan se-Kudus. Tidak hanya diskusi, jagong sastra juga diisi dengan parade puisi dari perwakilan komunitas yang hadir diantaranya Kofiku, Omah Gatra, Omah Dongeng Marwa, Keluarga Berkarya, Stand Up Comedy Kudus dan Komunitas Teater Se-Kudus 

Mengambil tema Jagong Sastra Kudus Zaman Semo (Now) diskusi dimoderatori oleh Ketua Panitia jagong sastra sekaligus penggiat sastra Kudus, Tiyo Ardianto pada Sabtu, (25/20) di Museum Kretek Kudus. Hadir sebagai narasumber Jumari HS, MM Bhoernomo, Rohadi Noor, Jimat Kalimasada dan Kasman Sutiono. 

Sastrawan Kudus, Jimat Kalimasadha, memaparkan, bagi sebagian orang jagong merupakan tambahan kekayaan inspirasi dan jagong sastra menjadi laboratorium untuk berkarya. “Jagong sastra menjadi tempat paling mulia untuk berkarya, selepas jagong kita akan mendapat inspirasi dan dituangkan dalam karya,” paparnya. 

Senada, Jumari HS, juga menyatakan, jagong sastra menjadi peluang untuk menulis yang harus dimanfaatkan dengan baik. “Dari adanya jagong sastra ini kita bisa menularkan virus literasi di Kudus apalagi mengingat minimnya penyair Kudus,” jelas Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Kudus. 

Sementara itu, Pengelola Tempat Budaya Kudus, Kasman Sutiono, mengajak para peserta jagong sastra agar tidak berhenti semangat dan mencari tahu bakat masing-masing. Ia juga menawarkan ruang edukasi seni dan budaya termasuk salah satunya di Museum Kretek.

“Teruslah belajar dan pantang semangat jika ingin menekuni sastra. Kami tawarkan ruang edukasi untuk terus melestarikan sastra Kudus,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, parade puisi juga dipentaskan oleh Jimat Kalimasada, Jumari HS, Rohadi Noor dengan puisinya berjudul Pattern, Boernomo yang membacakan puisi berjudul Gemuyu, Kasman Sutiono yang turut membacakan puisi berjudul Kau.

Ketua Panitia, Tiyo Ardianto, menjelaskan, jagong sastra merupakan kelas menulis yang diadakan satu bulan sekali dan tahun ini merupakan gebrakan baru jagong sastra untuk menarik masyarakat khusunya anak muda.  

“Berawal dari keresahan para sastrawan Kudus mengenai generasi penyair di kemudian hari, maka jagong sastra dengan konsep baru menjadi media guna memancing khalayak untuk tetap mencintai dan melestarikan sastra,” ungkapnya saat ditemui Tim LPM Paradigma.

Terakhir, Tiyo berharap, eksistensi sastra Kudus tidak hilang dan tetap ada generasi penerus yang mau melestarikan. “Jangan sampai sastra Kudus hilang, mati dan gugur,” harapnya.(umi)