Iklan

Ucapkan Selamat Tinggal Buku Bajakan

parist  id
Senin, Desember 14, 2020 | 13:30 WIB

Judul Buku       : Selamat Tinggal

Penulis             : Tere Liye

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : Kedua, November 2020

Tebal               : 350 halaman

ISBN               : 9786020647812

Resensator       : Nonik Nurhanifah*

“Tulislah sesuatu yang harus dibaca banyak orang, bukan yang ingin dibaca orang banyak”. Menulis tidak hanya ingin mendapatkan uang banyak atau mempertontonkan kehebatan melainkan menulis untuk menebarkan manfaat pengetahuan tentang suatu hal. Pesan itulah yang tersampaikan dalam buku berjudul “Selamat Tinggal” yang ditulis oleh Tere Liye.

Melalui dinamika kisah mahasiswa yang bernama Sintong Tinggal, Tere Liye menggambarkan maraknya buku bajakan sebagai masalah serius yang ada di negara Indonesia. Dikutip dari berita VOA Indonesia bahwa Indonesia masuk 10 besar kasus pembajakan. Kasus pembajakan karya memang sangat merugikan banyak pihak mulai dari pencipta, pemerintah, dan konsumen. Padahal, hakikatnya setiap karya telah dilindungi oleh Undang-undang tentang Hak Cipta.

Sintong Tinggal memang tak memiliki pilihan lain, jalan satu-satunya agar ia tetap bisa membiayai ongkos kuliah yakni dengan menjaga toko buku bajakan milik pamannya, Maman. Ditemani Slamet, Sintong menjaga toko buku yang diberi nama Toko Berkah. Meskipun isinya semua buku bajakan, pemberian nama tersebut terselipkan doa semoga bisa membawa keberkahan. Letaknya yang strategis membuat Toko Berkah selalu ramai dikunjungi mahasiswa yang sekadar mampir atau membeli buku bajakan.

“Ini buku bajakan. Semua bajakan. Oleh sebab itu, setiap bulan biasanya ada petugas berseragam yang datang minta jatah. Upeti. Kadang permintaan mereka normal, lancar, kadang mereka bertingkah. Nanti Slamet yang akan menjelaskan, lama-lama kamu akan paham,” kata Pak Maman kepada keponakanya itu. (hal. 22)

Kemajuan teknologi yang semakin pesat dan kemudahan dalam bertransaksi menjadi keuntungan tersendiri bagi si penjual buku bajakan. Fitur marketplace banyak menjual buku bajakan yang terjual tanpa disaring terlebih dahulu. Jika buku bajakan telah menguasai pasar online akan sangat merugikan buku yang orisinal.

Sebagai pembeli buku harus lebih bijak dalam membeli tidak hanya menginginkan harga murah yang penting dapat. Tetapi memikirkan nasib penulis buku juga. Tidak mendapatkan hasil royalti, ide pikiran sudah terkuras habis. Sebaliknya, tetapi penjual buku bajakan melimpah ruah hanya sekadar menjualnya saja. Demikian disiratkan Tere Liye dalam kutipan obrolan Istri Maman

“Alaaah, pemilik yunikon-yunikon itu kan yang penting bisnis mereka ramai. Semakin banyak yang jualan, semakin besar transaksi mereka, nilai perusahaan mereka semakin tinggi. Tutup mata saja mereka, mau isinya bajakan, atau aspal. Di depan ngomong melarang, di belakang membiarkan saja”. (hal. 63)

Skripsi dan Buku Bajakan

Rentetan cerita menjadi mahasiswa tingkat akhir setiap individu berbeda-beda. Perjuangan menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi harus dilewati. Ada mahasiswa yang ingin segera lulus ada pula yang betah berlama-lama berstatus “mahasiswa”. Banyak kendala yang dialami mahasiswa tingkat akhir, bisa berupa kemalasan, belum punya niatan, mentoknya pikiran, dan sulitnya bertemu dosen.

Lain halnya dengan Sintong Tinggal yang menjadi mahasiswa selama enam tahun dan hampir di DO (Drop Out). Pada semester awal, Sintong adalah mahasiswa yang aktif dalam perkuliahan dan organisasi. Ia pernah menulis di koran nasional. Dosen pun mengagumi kehebatannya. Ketika memasuki semester akhir, Sintong tidak segera mengerjakan skripsinya karena kekasih yang dicintainya telah menikah, yang menyebabkan Sintong patah hati.

“Apa susahnya menyelesaikan skripsimu, Sintong. Itu bukan seperti memindahkan gunung. Atau mengeringkan lautan. Itu cuma skripsi. Ada ratusan juta orang di muka bumi yang pernah menyelesaikan menulis skripsi. Itu artinya pekerjaan biasa. Kamu nulis setiap hari, lama-lama selesai juga. Ini hampir dua tahun, skripsimu bahkan tidak maju-maju satu halaman pun,” kata Dekan Fakultas Sastra (hal. 23)

Buku ini hadir tak sekadar hanya membahas tentang buku bajakan yang marak di pasaran. Namun juga sebagai semangat dan prinsip hidup. Sutan Pane adalah penulis besar yang menjunjung keyakinan dalam dirinya  dan  skripsi. Tak goyah meskipun badai besar menghadangnya. Seorang penulis netral, berani, dengan prinsip terbaik. Semangat menulis Sutan Pane patut dicontoh. Meskipun banyak yang belum kenal, ia adalah penulis produktif di tahun 1960-an dengan pemikiran menarik, tajam, dan penuh inspirasi.

Seperti penawar obat ketika sakit, Sutan Pane memberikan solusi untuk hadap masalah negeri ini. Nasehat untuk seluruh penerus bangsa. Sepenggal kata tersusun rapi nan elok. “Kita tidak pernah sempurna. Kita mungkin punya keburukan, melakukan kesalahan, bahkan berbuat jahat kepada orang lain. tapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji tidak melakukannya lagi, memperbaiki, dan menebus kesalahan tersebut. berani mengucapkan “Selamat Tinggal”. (hal. 350)

Buku ini menjadi boomerang bagi setiap pembacanya, menjadi sindirin yang pelik para pembaca buku bajakan, dan menjadi refleksi untuk kedepannya. Jadilah pembeli yang cerdas dan berhenti melakukan keburukan. Kasus pembajakan buku pula menjadi PR untuk kita semua karena jika tidak segera tertangani maka banyak penulis yang enggan menulis lagi.

Akibatnya sangat luar biasa karena kita tidak bisa mendapatkan ilmu dari tulisan-tulisan mereka. Mulailah dari diri sendiri untuk tidak membeli buku bajakan sekaligus menyelamatkan industri buku di negeri ini. Bermodalkan membeli buku bajakan bisa menyelamatkan mahasiswa dari kemarahan dosen, menghemat uang saku, dan membantu dalam penulisan tugas akhir.

*Penulis adalah mahasiswa PGMI IAIN Kudus

 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ucapkan Selamat Tinggal Buku Bajakan

Trending Now

Iklan