Iklan

Dewi Peneduh

parist  id
Kamis, Januari 14, 2021 | 21:14 WIB
Ilustrasi: vivi/paragraph

Oleh: Zakiyatus Sariroh*

“Anak mami, anak mami, sini dong ikut main jangan sembunyi dibelakang ibunya mulu,” ledek segerombolan anak lelaki berumur tujuh tahunan selalu mengejekku demikian. Gibran sebutannya, ia tidak habis suara saat berteriak 'anak mami' di depan rumahku, lagaknya selalu berjalan bak perwira tertinggi di depan daripada teman lainnya. Seolah sumbu yang siap membakar teman sepermainannya.

 “Hari ini, kita akan bermain sepak bola di lapangan  desa sebelah, bertanding dengan Kahlil dan teman-temannya. Mau ikut tidak?" 

"Jangan membayangkan nada makian yang keluar dari mulut Gibran karena kau tidak akan menemukan itu. Ia boleh sering meneriakimu anak mami, karena memang itu kenyataannya, tapi dia tetap temanmu yang sering mengajakmu bermain bola sepak bersama," batinku. Sekejap pula bisikan hati membuyar dan cepat memberikan jawaban permintaan Gibran tadi.

“Ya tunggu sebentar, aku harus menjaga warung, sebab ibu pergi keluar sebentar."

Mereka tidak salah menyebutku bak bulan yang selalu bersama bintang. Begitulah adanya, bahkan untaian seribu puisi tentang ibu tidak akan pernah cukup mengungkapkan sedalam kasih dan sayang padanya. Memang seperti itulah, aku sangat menyayanginya, sepenuh jiwaku. Ada tekad dimana kuukir cerita bersama ibu sehingga menyebut tentang salah satu prinsip hidup. Ibu bagaikan dewi peneduh, kata-katanya adalah sabda bagi anaknya, nasihatnya adalah mutiara. Janji harus ditepati, Janji itu hutang. Dewa Bisma memilih di pihak Kurawa dan menentang kebijakan Pandawa demi sebuah janji yang harus Ia tepati.

*

Waktu berjalan begitu cepat. Aku Aham, asma pemberian ibuku. Pergolakan hidup semakin nyata. Air dan tanah saling menopang dan pada masanya berkelit menjadi terbaik. Pada masanya, aku harus memilih. Memilih merantau adalah keputusan sulit, bayang-bayang senja tua umur ibu,  siapa yang harus menjadi sandarannya ketika ibu memerlukan bantuan? Pikiranku begitu kalut sehingga keputusan tak kunjung kudapatkan.

Malam haru menyisir sendu. Purnama bulan tiba masanya. Aku duduk berseberangan dengan Ibu di ruang keluarga, duduk di kursi belajar yang menghadap dinding warna kelabu monyet, sedang Ibu duduk di kursi depan TV. Mungkin terkesan tidak sopan, atau malah memang tidak sopan, tapi aku benar-benar tak kuasa menahan semua ini. Pergolakan batinku tak usai juga. Sontak, tatapan ibu lekat dan semakin lekat. Tanpa aku sadari kata itu mengucur membasahi padang jiwanya. 

 “Nak, bagaimanapun, ibu juga ingin melihat kamu bahagia, bukankah itu impian semua ibu di dunia ketika melihat anaknya bahagia? Disini tidak ada jurusan yang kau impikan dari kecil, Ibu hapal bagaimana kau menempelkan tabel kimia di kamarmu. Tidak apa, Ibu masih bisa melakukan semua sendiri."

Sedari kecil, aku sudah menitipkan mimpi diantara bintang-bintang, berharap ada satu yang membawaku bersamanya. Ilmuwan kimia, salah satu mimpiku. Terkesan aneh? Biarkan saja, aku bukan anak sultan yang bisa mudahnya mengais lembar emas. Lagi pula di sisiku ada malaikat tanpa sayap yang kini mulai renta dimakan usia. Keputusanku bisa membawa segalanya yang harapku membahagiakan ibu. Meskipun melawan dunia dan bertaruh mimpi bersama tawa tulus ibu.  

“Ibu, aku kuliah disini saja, nggeh. Ambil jurusan apapun tidak masalah, yang penting kuliah kan?”  pintaku.

“Ambilkan teh Ibu di dapur, Nak." Aku beranjak, tanpa sahutan, meletakkan cangkir corak usang di depan Ibu. 

Aku membisik pada sisi jiwaku, "Kamu paradoks, ah bukan, munafik, hipokrit, atau tak berani jujur dengan diri sendiri, atau malah tak tau kemauan sendiri. Bagaimana disatu sisi kau ingin ke sana dan disisi lain kau ingin di sini?"

“Sebenarnya ibu tidak mau memaksa Le, toh ini juga mimpi kamu sendiri, dimanapun, ambil jurusan apapun juga itu keputusanmu. Ibu tidak punya kuasa buat memaksa kamu tentang mimpimu. Yang tau mimpi kamu, adalah kamu sendiri." 

Lega, dengan pernyataan ibu semua masalah ini menjadi selesai, aku harus segera mungkin mengambil keputusan. Mengejar mimpi di seberang kota adalah keputusan akhirku.

Berada di perantauan sudah sekitar tiga tahun,  aku sedang berada di tingkat akhir masa studi. Mengambil jurusan teknik kimia, membuatku harus bolak-balik ke laboratorium kimia dan mengalami sekian banyak trial error akibat eksperimenku. Belum lagi, Gibran mengirimku pesan terkait kabar ibu yang keadaan kesehatannya mulai menurun. Aku total pusing. Kembali lagi dihadapkan dua pilihan antara menyelesaikan praktikumku yang menyita banyak waktu dan pikiran, atau pulang ke rumah kembali mengabdikan diri untuk merawat ibu, paling tidak sampai ia pulih kembali.

Esok saat melaporkan perkembangan hasil riset ke dosen pembimbing. Kalimat telah kususun rapi agar tidak terbata saat menyampaikannya. Tetap saja tangkai bunga yang bengkok tetaplah bengkok, sekuat apapun ku mengingat, bukan semakin ingat justru melebur tanpa sisa satu katapun. 

“Prof, boleh saya menunda penelitian saya? Itu...harus pulang pokoknya. Ibu sedang sakit," ucapku ketika berada di laboratorium dan bertemu profesor penguji. “Penelitianmu sudah setengah jalan, lanjutkan saja dulu. Tapi kalau kau menundanya juga tidak apa-apa, masih ada semester depan kalau mau mengulang praktikum.”

Aku kembali berda di persimpangan, jika ia terus menunda studinku maka semakin lama ia di perantauan. Jika meneruskan penelitianku, siapa yang merawat ibu? Aku kembali meminta izin kepadanya untuk mengajukan niatku.

 “Prof, bagaimana kalau saya melanjutkan penelitian itu di rumah? Bukankah itu win-win solution?” Dengan tanggap Profesor Ali menyahuti pertanyaanku, membalikkan badan dengan wajah serius, “Apa yang kau teliti?”

 “Pengolahan biji jarak untuk penggunaan bahan kosmetik, Prof," jawabku ketika baru saja menyadari kalau biji jarak adalah bahan yang kurang aman secara keseluruhan. 

“Biji jarak, ketika salah dalam pengolahan akan menghasilkan senyawa risin. Protein beracun yang berbahaya, daya toksik yang tinggi bisa membunuh manusia hanya dengan kurang lebih 1,8 miligram. Seharusnya kau paham risiko itu, lakukan di laboratorium atau tidak sama sekali." Keputusan Profesor Ali matang, tak bisa digugat. 

Berbagai keadaan yang harus kualami dalam waktu bersamaan membuat cara kerja otakku menjadi kurang sehat. Berbekal pikiran gila, tekad yang tak wajar. Perkataan Profesor Ali ia hiraukan, membawa penelitian ke rumah dan merawat ibuku yang sakit. 

Biji jarak diolah menjadi kastor oil, yang memiliki manfaat antiinflamasi, antibakteri, dan antijamur cocok digunakan sebagai bahan dalam pembuatan salep, krim, atau sediaan untuk mengobati penyakit kulit. Aku memilih biji jarak dalam penelitian telah membawa sebagian biji jarak yang telah diolah, biji jarak mentah, dan biji jarak yang kulitnya sedikit terkelupas. Sebagai informasi tambahan, biji jarak yang telah tekelupas inilah yang bisa menghasilkan senyawan risin, racun mematikan bila tertelan, dioles, atau bahkan dihirup. Aham telah memikirkan matang-matang risiko yang harus aku alami. Ia berhati-hati hanya menaruh biji jarak dan semua alat bahan penelitian di kamar, supaya tak terjangkau yang lain.

Tiba saatnya, rumah itu tak banyak berubah. Hanya saja depan rumah Gibran ada pintu gerbang. Begitu lama kupandangi kanan kiri lalu menuju altar kamar ibu.

“Kau pulang, Le? Bagaimana kuliahmu, lancar? Bagaimana kabarmu?” Sapaan pertama ketika aku menghampiri ibu di kamar, terbaring lemah, penyakit tua perkiraannya. 

"Kita ke rumah sakit ya Bu, berobat, supaya cepat sembuh.” 

"Tidak usah Le, Ibu sudah membeli obat di apotek. Rasanya mendingan kok, katanya Ibu cuma kecapekan.” Namun, si keras kepala ini tentu saja membawa ibunya berobat ke rumah sakit. “Ibu ke rumah sakit ya, kita berobat, tidak disuntik kok, janji.”

“Benar kata Ibu, kan, Ibu cuma kecapekan, terlalu banyak yang dipikirkan, istirahat juga cukup. Keras kepalamu itu lho perlu kamu kurangi, sudah besar harus bisa kontrol diri sendiri ya." Benar kata Ibu. 

“Bagaimana kuliahmu? Langsung balik kesana atau bagaimana, ibu juga baik kok. Apa harus ke kampus sekarang?"

"Masih bisa besok-besok, Bu. Aku mau rawat Ibu sampai sembuh total, lagi pula Aham juga kangen ibu masa sudah disuruh balik saja.”

Ibu hanya mengangguk pelan dan membiarkan keputusan anaknya begitu saja.

*

Membersihkan kamarku sudah menjadi rutinitas yang dilakukan ibu, menemukan kacang arab yang sepertinya enak ketika digoreng. Apalagi ketika musim penghujan begini, ibu sudah memikirkan akan memberikan camilan sore untuk anak semata wayangnya. Aku sebenarnya tidak pernah membawa oleh-oleh kacang arab, sebab bukan pulang dari haji atau umroh. Bentuk yang hampir mirip membuat biji jarak yang dibawanya dikira kacang arab oleh ibu.

"Braak." Tidak menyangka, aku mendapati ibu yang pingsan di depan ruang TV. sesaat pulang dari rumah Gibran meminjam buku untuk bahan penelitian.

"Bukankah kemarin Ibu sudah sehat?" pikirnya.

Aku segera membawa ibu ke rumah sakit, bagaimanapun otakku tak bisa berpikir sehat. Menunggu lebih kurang empat puluh lima menit untuk melihat dokter keluar dari ruang perawatan. Tuhan, tolong, aku hanya ingin mendengar kabar baik. Tuhan tetap mengabulkan doa hambaNya. Dokter memberikan kabar bahwa ibu keracunan, dan tak terselamatkan. Bak tersambar petir di siang bolong, aku hanya menatap dokter dengan mata kosong, berharap dokter mengucapkan kata 'selamat kamu kena prank atau supertrap.'

"Bagaimana bisa, ibu yang kujaga mati-matian malah meninggalkanku duluan. Apa yang diucap oleh dokter? Keracunan? Siapapun, siapapun yang telah meracuni Ibu, membuat meninggal, kubunuh juga. Nyawa dibayar nyawa." Aku menggerutu dalam peraduan.

Aku telah kehilangan hidupku nyawaku, dan dirinku. Semenjak kematian ibu, ia terus mengusut apa yang menjadikan sang dewi peneduh meninggal dunia. Aku membicarakan dengan dokter, sebab keracunan apa hingga menghilangkan nyawanya. Mengetahui, selanjutnya, bahwa yang menyebabkan ibu meninggal adalah biji jarak aku merutuki diriku sendiri. Menyalahkan diri mati-matian akibat tidak mendengarkan profesor Ali. Menyalahkan diri akibat tidak memberi tahu ibu untuk tidak menyentuh biji jarak di kamarku. Mengingat janji minggu lalu, membunuh siapapun yang telah membunuh ibu berarti, membunuh diriku sendiri.

Perkataanku telah kupatri bahwa ibu adalah nyawaku, aku rela menukar nyawa sekalipun demi ibu. Apalagi dengan janji yang telah dibuat. Medapatkan petuah dari ibu untuk selalu menepati janji, Aku masih terus memikirkan, apakah harus membunuh diriku sendiri? Sesuai dengan janji yang kubuat.

Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku. "Inikah yang diinginkan ibu, dengan menemani kematiannya? Haruskah janji selalu ditepati? Inikah cinta? Apa benar aku mencintai ibuku?" Isi kepala penuh beban moral, lalu teringat diucapkan ibu kala itu.

“Nak, bagaimanapun, ibu juga ingin melihat kamu bahagia, bukankah itu impian semua ibu di dunia? Melihat anaknya bahagia? Disini tidak ada jurusan yang kau impikan dari kecil, Ibu hafal bagaimana kau menempelkan tabel kimia di kamarmu. Tidak apa, Ibu masih bisa melakukan semua sendiri."

Ucapan ibu kembali menyadarkanku, jika aku tak bisa mencintai diriku sendiri, bagaimana aku bisa mencintai ibu. Dengan aku mengakhiri hidupku, maknanya tidak mencintai diriku sendiri juga ibu. Janji harus ditepati. Tidak, untuk kali ini, aku meminta maaf telah membuat janji yang gila,  izinkan diriku untuk melanggar janji. Untuk kali ini, izinkan aku mencintai diriku sendiri. Untuk kali ini, izinkan aku untuk memaafkan diriku. Aku ingin tetap hidup, setidaknya tidak dengan mengakhiri kehidupanku sendiri. Aku berusaha mewujudkan cita-citanya, kebahagiaanya dan kebahagiaan ibuku.

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi PAI penyuka kartun Spongebob Squarepants




 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dewi Peneduh

Trending Now

Iklan