Iklan

Amplop Biru

parist  id
Jumat, Februari 26, 2021 | 10:56 WIB

        Seakan baru kemarin, angin bertiup sangat kencang meratakan pepohonan dan rumah bergelimpang di tanah. Memusnahkan di setiap sudut altar kenangan. Orang bilang rumah adalah bukanlah sekedar tempat tinggal, bukan melindungi hujan panas tanggal. Benar saja sebelum terwujud manusia, rumah itu masih kokoh menaungi leluhur. Hanya rumah using, bangunanya kini telah roboh, hantaman angin menerpa rumah itu tanpa kasihan. Menghampar sama halnya tanah biasa dengan gundukan rerutuhan kayu dan bata. Barang berharga dan tidaknya terlihat sama saja, waktu tidak menyisakan beberapa menit kesempatan selamatkan yang berharga di hidup kami.

Rumah usang dengan susunan kayu jati dan ukiran, titah mewarisi dengan penjagaan sepenuh hati dari leluhur hanya iangan belaka. Rasa sesal, telah gagal menjaga kepingan kisah di dalamnya. Setidaknya ada setitik terima kasih kepada Sang Maha Kuasa, ayah kehilangan salah satu kakinya dari semua angggoa tubhnya. Di sela kehimpitan, Nurani mengajak berdebat dan akhirnya mengakui anugerah-Nya. Terima kasih kuucap,bukan proses mudah, nenek kakek seakan mengetahui kejadian ini, hingga sejak di pangkuan ibu, kalimat thoyibah terus mengiang di telinga. Mematri ke hati dan mewujud di tingkah. Bahkan sebelum kakek mengembuskan napas terakhir, kira-kira satu bulan lalu, ia mendongeng tentang betapa luar biasanya nikmat sampai tidak ada kesempatan untuk mengkufurnya. Teringat dalam sebuah hadis riwayat Bukhori dan Muslim,

“Pandanglah orang yang stratanya berada dibawahnya dan janganlah kau pandang orang yang stratanya berada diatasmu. Hal yang demikian itu lebih pantas agar engkau tak meremehkan nikmat Allah kepadamu.” Atau dimata lain, kakek tidak mengartikan musibah sebagai nestapa, tapi belajaran berharga.

Dalam al qur’an sudah disebutkan bahwa “ Saat ditimpa musibah, niscaya ucapkanlah innalillahi wa inna ilaihi roji’un.’" Sederhana, dengan mengucap istirja’ tanda pasrah bukan kaleng-kaleng.

Lidaku tak lagi kelu, mataku tak lagi sayu, hatiku tak lagi layu. Ayah ibu masih menemani di jalan hidupku. Sontak sangat bahagia bukan? Leluhurku menitipkan pesan. Pesan hidup yang lebih berharga dari segalanya. Ayah ibu dan aku diungsikan tetangga ke rumah pak dhe, masih satu rumpun desa.

Kursi ranjang itu masih tersisa di teras reruntuhan tadi, kami bersepakat mengambil sisa barang yang masih bisa diselamatkan pasca reruntuhan kemarin. Beralaskan sandal jepit, ayah memandang kami bertiga- ibu, aku, dan Pak Dhe.  Pikirku akan selamatkan ijazah dan buku kesukaanku, tapi sepertinya aku memindahkan haluanku sesaat memandang foto kakek nenek tak tersentuh reruntuhan bangunan sedikitpun.

“Kakek nenek,” batinku.

Ku ambil sisa foto tadi dan meletakkan di kardus yang telah ibu persiapkan.  Ku pandangi ayah, wajahnya sumringah, tapi tidak dengan mata. Matanya mengisyaratkan semuanya, bahwa ia sangat terpukul dengan kondisinya sekarang. Netranya memutar ke setiap sudut rumah itu. Ku biarkan ayah memandangi setiap jejak yang ada. Lalu ku menuju pandangan ibu, ia masih sibuk tepatnya mencari bukan mengambil apa yang ada.

“Ibu… sedang mencari apa?”

“Tidak apa-apa Nak,” jawabnya tak senada dengan netranya, ia teliti melihat apa yang dilintasi. Lalu tak selang kemudian ia mengatakan “Alhamdulilah masih utuh." Ingin tahuku merasuki dadaku, ku menghadap ke arah ibu yang sebelumnya di belakang punggungnya.

“Apa Bu?”

Ibu seakan memang tiada ada niat memberitahuku, terpaksa aku menurutinya. Namun bukan berarti aku diam, berpasrah dengan ketidaktahuanku. Ku cba menyelinap di kamar ibu dulu dan mencari perkakas sejarah. Ku sibak reruntuhan dengan alat bantu cangkul dan ku gali sampai kedalaman kurang lebih satu meter, terbungkus rapi di amplop biru ada dan kubuka ternyata ada foto sosok perempuan memakai kemeja putih dan stetoskop melingkar di lehernya yang dilumuri tanah.  Tanpa berpikir lama kusimpan di saku baju, entah kapan ada kesempatan bisa mengetahui segalanya.

Selang beberapa jam berjibaku mengais sisa kenangan di reruntuhan itu, kami beristirahat di teras tampak Bu dhe sudah menyiapkan makan siang untuk kami, tapi diriku masih berontak ada apa gerangan?

Selepas makan siang, berhadap-hadapan dengan ibu, kutanyakan kembali, belum saja sampai aku bicara ibu sudah maksud gerak gerikku, ia memintaku mengantar ayah pulang untuk istirahat di rumah pak dhe. Aku hanya bisa mengiyakan.

Kini rumah sebesar kapal serasa sempit ayah sedng beristirahat di kamar, sedang aku masih diam seribu Bahasa dengan seribu pertanyaan.  Gundahku sangat ingin kuketahui, selama ini ibu hidup dengan penuh tanda tanya, ia terkadang sibuk bak pegawai negeri bahkan di hari libur, atau sebaliknya, sekadar mengurus rumah di hari sibuk.

Ibu tidak membiarkan aku tahu apa yang ia jalani. Ku tanyakan kepada ayah rasanya tidak mungkin. Kondisi kehilangan salah anggota tubuh tidak bisa kuberikan gadi luka itu dengan pertanyaan. Setelah lamunanku buyar, ibu menyapaku.

“Sedang apa Nak?”

“Memikirkan Ibu… eh.” Kututup mulutku.

“Untuk apa?”

“Jawaban.”

Ibu bergeming, dan memintaku menatapnya dengan lamat.

“Sudah saatnya ibu cerita Nak."

“Sebelum menikah dengan ayah,  dokter menjadi karir dan pengabdian Ibu dengan memiliki klinik gratis di seberang desa. Dulu Ibu yang mengelolanya sebagai dokter umum disana. Kamu mungkin tidak lupa banyak yang mengucapkan terima kasih kepadaku. Semenjak ibu menikah dengan ayah, kakek dan nenek memintaku fokus ke urusan rumah tangga. Ibu hanya menerima Nak, karena cintaku pada ayah juga keluarganya. Ibu lepaskan semua karirku sebagai dokter, sebab tidak ingin kamu membenci siapapun. Tapi kini sudah saatnya kamu tahu.”

Melihatnya kembali menunduk, aku memutar kembali memori itu. Saat usiaku beranjak remaja duduk di bangku SMP aku kerap kali mendengar untaian terima kasih. Pernah seorang nenek datang ke rumah kuno itu, ia membawa buah tangan kue brownis sebagai pertanda syukur atas bantuan klinik ibu.

Tampak di ruang tamu kursi panjang kayu jati diduduki ayah dan ibu serta nenek itu. Aku mengintip dari dinding kayu lain. Namun, selepas nenek pulang, kakekku beringsut kepada ayah ibu, dan bertanya keduanya. Aku yang tidak sempat mendengar dan melihat karena nenekku mengajak diriku keluar rumah untuk

membeli gula di warung sebelah. "Apa benar waktu itu kakek marah?" batinku.

Aku tidak percaya kalau kakek berbuat demikian, aku menampik dan menggelengkan kepalaku sampai ibu menegurku.

"Kenapa Nak?"

Aku hanya menatap bingung, bukankah dokter profesi yang baik? Kenapa kakek melarangnya? Aku hanya bisa membisik diriku sendiri, dirasa tidak kuat menahan, aku terus mengungkapkan

“Kenapa kakek melarang Bu?”

“Tempat kerja ibu harus lepas hijab, tapi… ibu tetap mencuri waktu untuk menunjang klinik gratis itu Nak. Maka dari itu, aku menerima praktik disana setiap hari ahad. Maafkanlah Nak, ibu telah bohong kepada kalian semua. Ibu sebenarnya tidak tega, tapi dada ini  terasa sesak.”

Sadarku baru menyergapku. Inikah alasannya kakek mendidik agama sangat kental agar aku bisa mewujudkan apa yang menjadi titahnya. Berat sekali. Apa daya, rumah yang menjadi sekolah agama bagi jiwa haus ilmu sudah runtuh. Menepis untuk tidak memperjuangkan kakek juga bukan hal yang baik. Setidaknya ajaran kakek tetap mematri di lubuk hati dan kembali menggema saat tiba waktunya.

Gelombang air mata kian mengombak di tepi mata indahnya. Isak tangis tak terbendung, segera kutadahkan tangan menyambut bulliran. Sesak dada menghinggap selama belasan tahun, kini buncah di altar kejujuran. Ibu menyimpan segala lara dan duka seorang diri, ayah hanya memanggut tidak berkutik disaat kakek menyabdakan diri akan keputusannya. Siapa yang bertahan sejauh itu?

Seakan mengiyakan selama ini, kakek menaruh harap untuk mengemban amanah besar. Ibu menceritakan seketika kakek mengetahui tentang karirnya di dunia kedokteran, berbagai alasan ibu berikan untk meyakinkan kakek bahwa ini perjuangan mulia, mengentaskan masalah ksehatan pada rakyat jelata, kakek tetap memakai baju besi sama seperti pendiriannya tidak bisa ditembus oleh senjata apapun. Bahkan kewajiban muslimah ibu lakukan, tetap saja tidak bisa mengubah keridoan kakek.

Aku hanya berpangku bimbang, kakek menaruh harap yang belum sempat ditunaikan ibu, tapi aku juga tidak bisa dililit amanah tanpa berbuat apapun kecuali menjadi ustazah dan pelengkapan yang menyertainya.

Ibu jangan merasa bersalah seperti itu, aku paham maksudmu."

Sergap, muka ibu tercampak bingar, perasaanya telah kalut dengan kebencian anak terhadap dirinya, justru dukungan anak menggamangkan gundahnya selama ini.

Kamu tidak benci pada ibumu nak?”

 Aku hanya menggelengkan kepala tanpa sepatah kata terucap di bibirku.

Kursi kayu dan sepiring kentang goreng mengguyurkan diri dalam kedinginan. Lalu aku tunjukkan foto yang kutemukan tadi kepada ibu. Ibu menatap sendu, dan memancarkan senyum tipis padaku. Bergeming. Sajak boleh saja tidak seirama dengan syair, aku? Anak seorang pejuang, masih bolehkah tidak meniti perjuangan ibunya?

            Di masa seperti ini, hidup menumpang di rumah saudara sekali pun, menumpang adalah bukan memiliki. Aku  tetap memperjuangkan perjuangan ibu yang tidak bisa maksimal. Klinik itu harus tetap berjalan, meskipun tidak dengan menjadi dokter, tapi menjadi bagian donatur. Ibu sudah memulai tinggal diri yang melanjutkan. Tidak boleh dilupa, juang kakek tetap membara di sanubariku.

 

Oleh: Mu’ayyadah 

Mahasiswi Prodi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial

 

 

 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Amplop Biru

Trending Now

Iklan