Iklan

Refleksi Kisah Teladan Para Pemimpin Masa Silam

parist  id
Jumat, Februari 26, 2021 | 11:40 WIB

Buku Lisanul Hal; Kisah-Kisah Teladan dan Kearifan

Identitas Buku

Judul Buku    : Lisanul Hal; Kisah-Kisah Teladan dan Kearifan

Penulis          : K.H. Husein Muhammad

Penerbit        : PT Qaf Media Kreativa

Cetakan        : Pertama, 2020

Tebal Buku  : 235 halaman

ISBN             : 978-602-5547-75-1

            Menjadi pemimpin bukanlah suatu pilihan. Meskipun tidak memilih kita tetap akan menjadi pemimpin walaupun dalam lingkup kecil, seperti pemimpin keluarga atau lebih mengerucut lagi pemimpin bagi diri kita sendiri. Jangan kira pemimpin ialah mereka yang hanya berprofesi sebagai presiden atau yang duduk di kursi parlemen. Lebih luas lagi kita semua adalah pemimpin baik bagi orang yang berada di sekitar kita, keluarga, bahkan diri kita sendiri. Karena setiap kita adalah pemimpin di lingkup masing-masing, maka kita butuh figur para pemimpin dan tokoh-tokoh penting dalam dunia Islam dari beragam latar belakang lintas dunia dan lintas masa.

            Maka terbitlah buku dengan judul “Lisanul Hal; Kisah-Kisah Teladan dan Kearifan” ini sebagai media bagi kita untuk menjadi pemimpin yang ideal. Buah tangan K.H. Husein Muhammad ini memaparkan keteladanan-keteladanan  para pemimpin terdahulu sejak Nabi Muhammad saw, khulafaur rasyidin, hingga generasi setelahnya. Najib Mahfuzh, peraih nobel sastra dari Mesir, mengatakan bahwa keteladanan memiliki pengaruh yang besar dan sangat menentukan bagi kemajuan dan kemunduran suatu bangsa. (hlm. 8)

            Jika melihat dari keseluruhan kisah yang tersaji dalam buku ini, maka dapat dikelompokkan ke dalam beberapa tema, yaitu kepemimpinan, toleransi, asketisme (zuhud), cinta ilmu pengetahuan, dan keterbukaan pikiran serta penyamarataan di depan hokum.

            Ketika membaca buku ini, pada bagian awal kita akan disuguhkan dengan bentuk-bentuk keteladanan Nabi Muhammad saw. Semasa hidupnya, beliau adalah sosok pemimpin yang baik hati, jujur, dan dapat dipercaya. Nabi juga dikenal sebagai sosok yang memiliki sikap yang lembut serta keterbukaan pikiran. Dengan sifat-sifat itulah Nabi Muhammad mampu meluluhkan hati orang yang membencinya, Bahkan orang yang sangat benci dan dendam kesumat bertekuk lutut dan menangis tersedu-sedu di hadapan beliau karena telah berbuat kasar kepada Nabi.

Nabi Muhammad menjadi sosok yang begitu dirindukan kehadirannya oleh setiap orang, lebih-lebih ketika beliau wafat. Maka tak heran jika Husein Haikal dalam bukunya yang sangat terkenal “Hayat Muhammad” mengatakan bahwa “Nabi bukanlah manusia yang mengenal permusuhan atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia. Dia bukan seorang tiran, dan tidak mau menunjukkan sebagai orang yang berkuasa. Tuhan telah memberinya kemampuan mengalahkan musuhnya, tetapi dia justru memberi mereka pengampunan. Dengan begitu, beliau telah memberikan keteladanan luar biasa kepada seluruh dunia dan semua generasi manusia tentang kebaikan, kesetiaannya dalam janji dan kebesaran jiwa yang belum pernah dicapai oleh siapapun.” (hlm. 38)

            Mungkin, setelah  membaca keseluruhan kisah dalam buku ini, dalam pikiran kita muncul pertanyaan, apakah hikmah yang dapat kita ambil dari kisah teladan Nabi dalam buku ini, sedangkan kita hidup sangat jauh dari kehidupan beliau?

            Kisah-kisah keteladanan Nabi Muhammad dan para sahabatnya hingga ulama yang berdedikasi dalam kebersehajaan semasa hidup yang jauh setelah wafatnya khatamunnabiyyin, keseluruhannya masih relevan dengan situasi bangsa kita saat ini, yang belum sepenuhnya berhasil keluar dari krisis kebudayaan (untuk menyebut lebih dari sekadar krisis ekonimi ). Barang kali terjadinya krisis multisisi tersebut dikarenakan oleh pemimpinnya. Karena pemimpinlah yang menentukan arah dan mau dibawa kemana Negeri ini. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan al-Ghazali dalam kitabnya al-Tibr al-Masbuk Fi Nashihah al-Muluk  bahwa “ Kebaikan rakyat adalah karena baiknya kepribadian pemimpinnya, kelakuan rakyat adalah akibat dari kelakuan para pemimpinnya dan manusia (rakyat) mengikuti kelakuan para pemimpinnya.”

            Kata-kata bijak di atas ingin menegaskan bahwa baik dan buruknya masyarakat, sejahtera atau tidaknya kehidupan sosial, sangat ditentukan oleh perilaku dan keteladanan para pemimpinnya. Jika pemimpinnya baik, jujur, rendah hati, dan adil maka rakyatnya juga akan mengikutinya. (hlm. 7)

            Pada kenyataannya, kita melihat banyak pejabat Negara yang terlibat kasus korupsi, baik pejabat tertinggi sampai pejabat yang terendah sekalipun. Ditambah lagi keluarga pejabat dan orang-orang yang selalu berfoya-foya kerap kita saksikan di tengah kemiskinan di tengah masyarakat. Belum lagi pandemi korona yang melanda seluruh dunia semakin membuat resah seluruh masyarakat. Semua ini memperlihatkan potret buram kepemimpinan di banyak Negara, tak terkecuali di Indonesia.

            Mari kita lihat potret kepemimpinan khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dikenal sebagai pemimpin yang adil dan jujur. Ia tidak setuju dengan tindakan korupsi yang dilakukan para pejabat Negara, maka khalifah Umar tidak segan-segan memecat sejumlah pejabat Negara yang korup dan bertindak otoriter. Ini membuktikan keseriusannya membersihkan negaranya dari tradisi korupsi para pejabat. Tetapi, satu hal yang paling dikhawatirkan Sang khalifah adalah tuntutan istrinya mengikuti tradisi para istri pejabat sebelumnya; mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya seperti kebiasaan para istri atau anak-anak raja dan pejabat tinggi Negara sebelumnya. Namun ia tak peduli. Keadilan bagi rakyat harus ditegakkan dan ini harus dimulai dari keluarganya sendiri (hlm. 63). Begitulah, untuk memulai sesuatu yang baik memang harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga. (hlm. 64)

            Dalam hal kesamarataan hukum, kita bisa mengambil keteladanan khalifah Umar bin Khattab yang menghukum anak seorang gubernur Mesir yaitu Amr bin Ash lantaran memukul seorang petani miskin. Khalifah Umar ingin mengajarkan kepada kita beberapa hal, pertama, kemerdekaan atau kebebasan adalah hak dasar manusia yang tidak seorang pun berhak menghilangkannya atau merampasnya. Tuhanlah yang memberikannya. Merampas hak dasar ini sama dengan menentang hak Tuhan. Kedua, Umar juga ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa semua manusia memiliki hak yang sama di hadapan hukum. Ketiga, Umar, pemimpin besar bagi berjuta-juta rakyat itu ingin memenuhi seruan Tuhannya untuk bertindak adil. Keempat, Umar ingin mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. (hlm. 207)

            Walaupun secara garis besar buku ini menghadirkan topik perihal kepemimpinan, namun ada beberapa cerita dari sosok ulama, sufi, dan zahid yang bisa dinikmati sebagai bahan refleksi diri agar hidup ini lebih bermakna.

            Demikianlah kisah-kisah teladan dan kearifan yang ditulis kembali oleh Kyai Husein Muhammad dengan alasan, menunjukkan persoalan-persoalan fundamental dalam penyelenggaraan republik ini. Salah satunya, tidak adanya keteladanan dari pemimpin saat ini. Sekali lagi, buku ini mengajak kita untuk menengok kembali ke masa silam dengan pikiran jernih di mana suatu Negara dipimpin oleh individu-individu yang melayani rakyatnya. Seperti pepatah Arab “Imamul Qawm Khadimuhum” (pemimpin masyarakat adalah pelayan mereka). Dan yang tak kalah penting, adalah menjadi teladan bagi rakyat itu jauh lebih baik dari sekadar basa-basi tanpa memberikan contoh yang baik, sebagaimana maksud di balik judul buku ini, Lisanul Hal. (*)

Penulis: Muhammad Rizal

Santri PP. Annuqayah daerah Lubangsa Selatan sekaligus Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah

                                                                      

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Refleksi Kisah Teladan Para Pemimpin Masa Silam

Trending Now

Iklan