Iklan

Mimpi Indonesia Bermula Dari Bantaran Kali Anyar

parist  id
Selasa, April 06, 2021 | 18:47 WIB


Oleh : Junaedi

Identitas Buku

Judul Buku :  Jokowi Mewujudkan Mimpi Indonesia

Penulis :  Darmawan Prasodjo

Penerbit :  PT. Gramedia Pustaka Utama

Editor :  Trias Kuncahyono

Terbitan :  Pertama, Februari 2020

Tebal Buku :  580 halaman

ISBN : 978-602-06-3789-1

ISBN Digital : 978-602-06-3796-9

Presiden Jokowi dalam pengantar buku ini menceritakan bahwa Darmawan Prasodjo datang meminta izin untuk menuliskan tentang karakter-karakter kepribadian yang terbentuk dari masa lalu, terutama di bantaran Kali Anyar. Juga karakter-karakter yang mewarnai hidup Jokowi muda, yang bersumber dari karakter-karakter garis keturunan dari pihak bapak dan dari pihak ibu.

Berbeda dengan buku-buku biografi Jokowi lain yang serupa yang menempatkan pengalaman tersebut sebagai pokok cerita, buku ini menjadikan pengalaman hidup dari Jokowi sebagai pintu masuk ke cerita yang lebih dalam. 

Sebagai Penulis, Darmawan Prasojo menuturkan bahwa ketika berdiskusi pertama kali dengan Jokowi untuk merencanakan buku ini seolah menginjeksikan stimulus. Darmawan merasa mendapatkan limpahan energi yang besar untuk menulis buku secara lengkap dari sudut pandang berbeda, dibandingkan buku-buku lainnya yang telah terbit.

Darmawan menyebut Jokowi sebagai mata air yang tidak pernah habis untuk digali dan ditimba airnya. Karakter-karakter yang membentuk Jokowi di masa lalu dan apa yang dikerjakannya sebagai pemimpin hari ini, kata Trias, harus ditenun dalam satu kesatuan.

“Jangan hanya melihat dan menulis masa lalu Jokowi. Itu sudah berserakan di dalam buku-buku yang sudah terbit. Apa yang dikerjakannya untuk bangsa ini, pasti bersumber dari pembentukan karakter masa lalu, baik dari keluarganya, dari garis keturunannya, maupun dari jatuh-bangun Jokowi dalam menjalani hidup,” katanya.

Dalam catatan editor, Trias Kuncahyono menyarankan kepada Darmo, agar karyanya harus menonjolkan aspek humanisme Jokowi, yang menjadi dasar pertimbangan semua kebijakannya. Artinya, buku Darmo harus memberikan garis tebal bahwa kebijakan Jokowi dalam segala bidang menekankan martabat dan kemampuan setiap manusia.

Trias menyarankan agar Darmo benar-benar memahami latar belakang Jokowi, lingkungan masa kecil Jokowi, dan orang-orang di sekitarnya. Harus dipahami benar apa yang membentuk Jokowi sekarang ini sehingga menjadi pemimpin yang sangat menjunjung tinggi prinsip salus populi suprema lex, kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi, misalnya.

Bantaran Kali Anyar merupakan kunci utama pembentuk kepribadian Jokowi. Lingkungan tempat ia bermain di masa kecil dan dibesarkan menuju remaja, telah mewarnai sikap hidupnya dalam memandang kenyataan hidup dan perjalanan hidup di kemudian hari. Dibuntuti sewa, didera penggusuran adalah gambaran kenyataan hidup dan kehidupan yang dilalui Joko kecil, orang tuanya dan beberapa tetangganya di bantaran Kali Anyar.

Bantaran Kali Anyar telah mengajarkan banyak hal pada Joko untuk memasuki usia dewasa, termasuk tentang kehidupan, tentang berkomunikasi dengan tetangga, dan masyarakat, pun tentang perilaku, serta siasat menghadapi persoalan hidup yang rumit dan pelik. Bantaran kali juga memberikan semangat untuk selalu mampu mengatasi keadaan dalam keterbatasan. Seperti batu-batu kali yang menahan gempuran arus setiap harinya.

Bukan hanya paham makna dan arti wong cilik, Ia juga menghayati dengan baik bagaimana memperlakukan wong cilik. Hal itu terlihat betul ketika ia menjadi Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, dan kini Presiden RI. Itulah yang kini menginspirasi Jokowi membuat Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diberikan kepada rakyatnya yang membutuhkan. Semata-mata demi menebus masa lalu yang getir.

Garis keturunan Jokowi dari pihak ayah maupun ibunya mewariskan karakter-karakter  yang berbeda. Keluarga dari pihak ibu, yang sepanjang hidup bergelut dengan dunia usaha dan dagang, menjadi fondasi dalam upayanya membangun bisnis meubel. Keluarga dari pihak ayah, yang kental dengan kehidupan birokrasi lokal, memberinya bekal berharga kelak dikemudian hari.

Jokowi berkata, “Lima masalah besar yang harus di benahi. Kelima masalah itu adalah merosotnya kewibawaan negara, melemahnya sendi perekonomian nasional, merebaknya intoleransi dan krisis kepribadian bangsa, kebebasan berpendapat yang kebablasan dan masalah etos kerja dan budaya semakin menurun.”

Dengan tantangan seperti itu, Jokowi melihat bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki senjata hebat, yakni pedoman bernama Trisakti yang sudah dirumuskan oleh Bung Karno, sang pendiri bangsa. Tri Sakti adalah tiga konsepsi dalam menjalankan roda pemerintahan yang ideal, yakni berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, berkepribadian dalam bidang kebudayaan.

Jokowi menegaskan bahwa seluruh potensi dan sumber daya bangsa akan dioptimalkan. Martabat dan harga diri bangsa dihadapan bangsa lain disejajarkan. Jokowi tidaklah pandai berwacana, tetapi sangat cermat dalam bekerja. Setiap tujuan yang ingin dicapai, dicarilah terlebih dahulu di mana duduk permasalahannya. Baru kemudian dicari jalan keluarnya. Dengan cara itulah Ia bekerja.

Untuk menjawab tantangan dunia pariwisata, Jokowi membuat program “Terobosan Utama Pariwisata” dan “Empat Pilar Pariwisata”. Empat Pilar Pariwisata itu adalah Destinasi Wisata, Indutri Pariwisata, Pemasaran Pariwisata, serta Kelembagaan Pariwisata. 

Untuk mendukung pariwisata sebagai sektor unggulan, Jokowi mengeluarkan Perpres Nomor 3 tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN). Melalui Perpres ini, pemerintah melakukan percepatan pembangunan infrastruktur transportasi, listrik, dan air bersih guna menunjang pengembangan kawasan pariwisata unggulan.

Pemerintah Indonesia membutuhkan dana investasi sekitar Rp 280 triliun untuk pengembangan program pariwisata unggulan yang dinamai “10 Bali Baru”. Program ini terdiri dari atas sepuluh destinasi wisata unggulan dengan berbagai keunikan masing-masing. Ke-10 Bali Baru tersebut adalah Danau Toba, Kawasan Candi Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, Belitung, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Gunung Bromo, Wakatobi dan Morotai.

Jokowi mempunyai kenangan tentang kampung kakeknya dari pihak ibu yang bernama Wirorejo, di Dusun Gumuk Rejo. Jika menuju ke dusun itu, Ia memandangi hamparan persawahan,  berjalan meniti pematang sawah, menembus perkebunan tebu, atau menyusuri pinggiran rel kereta api. Jokowi kecil pastinya melihat hamparan hijau. Namun, bisa juga tidak, mengingat Gumuk Rejo bukanlah daerah yang subur. 

Bagi Jokowi, pembangunan infrastruktur seperti bendungan, bandara, pelabuhan, embung, waduk, jembatan, Pos Lintas Batas Negara, jaringan jalan, dan jalan tol memiliki tujuan yang jelas. Jokowi ingin membangun konektivitas, membuat akses keterhubungan antardesa, kota, dan wilayah, serta membuka potensi baru kegiatan ekonomi. Muaranya adalah kesejahteraan rakyat.

Pernah hidup di bantaran Kali Anyar, Jokowi menjumpai sebagian rumah tetangganya yang terpaksa menumpang listrik milik tetangganya yang lain.  Selama lebih dari 70 tahun Indoensia merdeka, kita hanya berhasil membangun kurang lebih 55.000 MW. 

Jokowi menargetkan dalam 5 tahun bisa bertambah lagi 35.000 MW. Jokowi optimis dan meyakini target penyediaan energi listrik listrik tersebut bisa dicapai. Perbaikan dan penyederhanaan regulasi menjadi strategi utama. Namun, program yang awalnya diragukan akhirnya sukses.

Jokowi, yang lahir dari desa, menjadi presiden pertama yang menggelontorkan Dana Desa. Tujuannya, agar tulang punggung bangsa Indonesia itu bisa berdiri tegak. Warga desa bisa berlari, menyongsong harapan dan mimpi.  Berani menatap matahari yang baru terbit, sama dengan warga negara lain di kota-kota. Hingga akhirnya, desa menjadi tulang punggung bangsa sesungguhnya.  

Kesederhanaan Jokowi bisa dilihat dalam penampilan dan tutur katanya di depan publik. Kegembiraan hidupnya juga dapat dilihat dari caranya merespons dan berkomunikasi dengan khalayak. Protokol yang ketat dan tata penampilan yang sangat ketat tidak mampu menghilangkan jiwa sederhana dan gembira dalam dirinya.

Kesederhanaan dan kegembiraan itu, rupa-rupanya terefleksikan pula dalam kebijakan-kebijakan yang diambilnya, dan proses melaksanakan kebijakan. 

Kelebihan dan Kelemahan Buku

Buku tulisan Darmawan Prasojo, cenderung berisi datakrasi dan teknokrasi, sesuai dengan jabatannya sebagai Deputi I Kepala Staf Kepresidenan bidang Energi dan Infrastruktur Strategis.

Buku ini sangat bagus, lengkap, dan rinci, yang mengulas tuntas tentang karakter-karakter baik dan praktik-praktik baik Jokowi. Sangat layak Anda miliki khususnya para pemegang kebijakan strategis di pemerintahan, baik di Pemerintahan Pusat, Daerah maupun Desa, yang muaranya adalah demi kesejahteraan masyarakat.

Buku setebal 580 halaman, mungkin terlalu tebal bagi pembaca terutama bagi kalangan pelajar dan mahasiswa maupun bagi warga desa. Mungkin akan merasa malas sebelum membaca ketika mengetahui fisik buku ini, dan terlalu banyak gambar pendukung walaupun gambarnya  berwarna dan kertasnya bagus. 










Junaedi, S.E., lahir di Pemalang, 06 Januari 1974, lulus S1 dari STIE Widya Wiwaha (1999), sebagai Pegiat Desa Budaya Bumi Panggung, bekerja di Yayasan Sanggar Inovasi Desa, berdomisili Gedangan RT 02 Ngireng-ireng Panggungharjo Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. No HP (WA) : 088 225 045 416, Medsos IG : @imfatjunaedi, Medsos FB    : Junaedi Imfat


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mimpi Indonesia Bermula Dari Bantaran Kali Anyar

Trending Now

Iklan