Iklan

Satukan Masyarakat, KBPW Kembali Gelar Guru Pagi

parist  id
Senin, April 05, 2021 | 10:09 WIB
MENIKMATI: Para pengunjung tampak terhibur dan menikmati pertunjukan di Panggung Ngepringan, Minggu (04/04). Foto: Hasyim/Paragraph

Kudus, parist.id - Setelah sebelumnya diselenggarakan secara virtual, Komunitas Kreatif berbasis kebudayaan Kampung Budaya Piji Wetan kembali mengadakan Guyub Rukun Pagi secara offline. Kegiatan yang berlangsung di desa Lau, Dawe, Kudus ini mengusung tiga tema besar yakni Taman Dolanan, Pasar Ampiran, dan Panggung Ngepringan.

Hal ini disampaikan oleh Ahmad Zaini selaku inisiator Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW). Ia mengatakan konsep dari guru pagi ini ialah bagaimana menggabungkan semua segmen yang ada di masyarakat menjadi satu.

"Ghiroh atau semangatnya adalah bagaimana masyarakat bergabung jadi satu, tiga eksekusi tadi sudah mewakili semuanya," ungkap Zaini saat ditemui Tim parist.id, Minggu (04/04).

Meskipun digelar secara offline, acara yang dimulai pukul 06.00 - 11.00 WIB ini tetap menggunakan protokol kesehatan. Semua pengunjung yang datang diwajibkan memakai masker dan mencuci tangan sebelum memasuki area KBPW.

Ketika ditanya apa yang baru dari guru pagi kedua ini, Zaini menjelaskan sebenarnya tidak ada yang baru. Hanya saja, ia lebih menekankan pada bagaimana KBPW bisa Istiqomah menggelar guru pagi.

"Mungkin dari pengisinya yang berbeda, kali ini lebih melebar dari kalangan pelajar dan mahasiswa," ujarnya. 

Zaini menambahkan, untuk kelas pagi akan diselenggarakan di akhir bulan. Kelas kebudayaan ini nantinya akan menampung komunitas-komunitas untuk sharing dan belajar bersama.

"Karena waktu persiapan sangat sempit, kita taruh kelas pagi di akhir april. Nanti kita belajar bagaimana branding menjadi sebuah komunitas, apa masalahnya kita cari tahu," tambahnya.

KOMPAK: Pementasan Tari Tradisional oleh Anak-Anak Piji Wetan. Foto: Mahiroh/Paragraph

Dari kegiatan ini, Zaini berharap kebudayaan yang ada bisa diserap oleh masyarakat.

"Contoh di taman dolanan ada permainan, apa sih maknanya. Di pasar ampiran ada kuliner yang mungkin tidak ada di luar piji. Untuk panggung ngepringan, harapannya masyarakat semakin terbuka, ternyata ada cara untuk menghentikan anak bermain hp," terangnya.

Sementara itu, salah satu pengunjung, Jamian (43) mengatakan, kesan pertama terhadap kegiatan guru pagi ini adalah cukup menikmati. Warga asal Gembong, Pati ini mengaku baru pertama kali datang dan baru lihat-lihat suguhan yang ada di KBPW.

"Saya belum bisa berkomentar, tapi kesan pertama saya cukup menikmati, Mbak," ujarnya. (Anas, Alma/Magang)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Satukan Masyarakat, KBPW Kembali Gelar Guru Pagi

Trending Now

Iklan