Iklan

Rawat Kebhinekaan, DEMA Adakan Diskusi Agama-Agama Manusia

parist  id
Jumat, April 02, 2021 | 14:20 WIB
BERSINERGI: Dema IAIN Kudus merealisasikan diskusi lintas agama dengan mengundang narasumber dari berbagai latar belakang (Foto: Minan/Paragraph)


Kudus
, Parist.id – Sikap moderasi beragama perlu dibangun untuk merawat Kebhinekaan di Indonesia. Sebagai upaya menumbuhkan nilai keberagaman di kalangan mahasiswa, Dema IAIN Kudus menggelar diskusi Agama-Agama Manusia secara virtual lewat Zoom Meeting, Kamis (01/04).

Semakin maraknya pemahaman agama yang menyimpang di tengah masyarakat, mengharuskan masyarakat untuk terus merawat Kebhinekaan. Nilai-nilai toleransi tersebut mencerminkan Indonesia yang beragam ras, suku, budaya dan agama.

Hal ini disampaikan oleh Rektor IAIN Kudus, Mundakir. Ia mengatakan forum ini bertujuan untuk meluruskan paham-paham yang menyimpang tersebut.

“Kita tidak boleh mengklaim kelompok yang paling benar, adanya harmonisasi dan dinamika sebagai dasar nilai kemanusiaan dan diakui kebenarannya oleh agama manapun,” buka Mundakir dalam diskusi yang bertema "Penerapan Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Upaya Merawat Kebhinekaan" tersebut.

Mundakir menambahkan, bahwa keberagamaan merupakan hasil dari empiris (hasil pengalaman -red) yang dibatasi ruang dan waktu (kapan dan dimana -red).

“Kita di Indonesia dengan kemajemukannya dalam konteks hari ini, konsep keberagamaan itu menjadi kultur dan sifat empiris ini telah kita bawa sejak lahir,” tambahnya.

Hadir dalam diskusi ini berbagai narasumber dari latar belakang yang beragam. Diantaranya Tokoh Agama Budha Suparno Bodhicakra, Ketua FKUB Kudus Ihsan, Jaringan Gusdurian Indonesia Redaktur Alif.ID Muhammad Autad An-Nasher, dan Ketua PCNU Kudus Muhammad Asyrofi Masitho.

Tokoh Agama Budha, Suparno Bodhicakra mengatakan, dalam ajaran budha menyikapi keberagamaan mendasari diri dengan hirri dan ottapa (rasa malu dan takut berbuat jahat).

“Ada empat prinsip yang harus diimplementasikan dalam keberagamaan yaitu metta, karno, mudita, dan upeksha (cinta, belas kasih, simpatik, dan selaras),” jelas Suparno.

Selanjutnya, Ketua FKUB Kudus, Ihsan menyampaikan, penerapan nilai moralitas beragama dapat diibaratkan seperti perpaduan harmoni, simponi, dan orkestra.

“Bahwa hidup saling mengisi, berpadu menjadi musik yang indah,” kata Ihsan.

Sementara itu, ketua Dema Institut, Mohammad Khoirul Annas berharap, dengan diadakannya acara ini bisa membuka mindset tentang keberagamaan yang disatukan oleh Pancasila.

“Kita harus mengajak dan mengimplementasikannya, menanamkan keberagamaan dalam kehidupan bermasyarakat,” ucapnya. (Minan, Astuti/Magang)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Rawat Kebhinekaan, DEMA Adakan Diskusi Agama-Agama Manusia

Trending Now

Iklan