Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Tak Pernah Menargetkan Juara Ratna Dwi Elia Justru Menjadi Mahasiswa Terbaik

parist  id
Sabtu, Februari 07, 2026 | 16:19 WIB

Potret Ratna Dwi Elia Wisudawan Terbaik Prodi Tadris Bahasa Inggris

Kampus, PARIST.ID – Wisuda Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus tak hanya menjadi penanda kelulusan, tetapi juga ruang lahirnya kisah-kisah inspiratif mahasiswa. Salah satunya datang dari Ratna Dwi Elia, wisudawan Program Studi Tadris Bahasa Inggris yang dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik dengan capaian IPK 3,85.

Bagi Ratna, predikat tersebut bukanlah target sejak awal. Ia mengaku tidak pernah membayangkan akan menyandang gelar mahasiswa terbaik, apalagi di angkatan pertama era UIN Sunan Kudus. Targetnya sederhana, lulus tepat waktu dengan nilai yang memuaskan.

“Yang pertama saya rasakan itu rasa syukur dan terharu. Jujur, saya tidak pernah menargetkan jadi mahasiswa terbaik. Bagi saya, ini bukan hanya tentang saya, tapi tentang doa orang tua,” ungkapnya.

Ratna menyadari, pencapaian tersebut lahir dari proses panjang yang tidak selalu mudah. Dukungan orang tua, bimbingan dosen, serta kesediaan untuk terus belajar menjadi fondasi utama dalam perjalanan akademiknya. Ia pun merasa memiliki tanggung jawab besar untuk terus memperbaiki diri setelah dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik.

Menjalani kuliah sambil mondok bukan perkara ringan. Ratna harus membagi fokus antara tuntutan akademik dan kewajiban sebagai santri. Kunci utamanya, menurut Ratna, terletak pada niat dan konsistensi.

“Saya menanamkan bahwa kuliah itu amanah yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Bukan soal pintar, tapi soal komitmen untuk terus berusaha meskipun lelah,” tuturnya.

Di tengah padatnya aktivitas pondok, Ratna menetapkan target sederhana namun konsisten. Setiap hari ia berusaha menghafal satu halaman Al-Qur’an, sekaligus menyelesaikan tugas kuliah tanpa menunda. Waktu yang terbatas justru melatihnya untuk lebih disiplin dan jujur pada diri sendiri.

“Di pondok, waktu pegang HP itu terbatas. Kadang cuma satu jam. Mau tidak mau, tugas harus selesai. Jadi saya manfaatkan waktu sekecil apa pun, termasuk saat dosen berhalangan hadir, untuk mencicil tugas,” jelasnya.

Ia mengakui bahwa tantangan terberatnya adalah menjaga keseimbangan di tengah kelelahan fisik dan mental. Namun dari sanalah Ratna belajar tentang tanggung jawab, kesabaran, dan istiqamah dalam menjalani pilihan hidup sebagai mahasiswa sekaligus santri.

Bagi Ratna, menghafal Al-Qur’an bukanlah penghambat prestasi akademik. Justru sebaliknya, Al-Qur’an menjadi penolong dan penyeimbang dalam proses belajar.

“Jangan pernah merasa bahwa menjadi penghafal Al-Qur’an itu menghambat prestasi akademik. Justru Al-Qur’an yang menjaga kita dari rasa malas dan membantu menata hidup,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu, terutama menghormati dosen dan bersungguh-sungguh saat perkuliahan berlangsung. Menurutnya, keberkahan ilmu salah satunya lahir dari sikap menghargai proses belajar.

Motivasi terbesarnya tetap bermuara pada orang tua dan dosen yang selalu memberi dukungan. Pengorbanan orang tua menjadi pengingat bagi Ratna untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar, sementara sikap dosen yang terbuka dan membimbing membuat perjalanan akademiknya terasa lebih ringan.

Di akhir, Ratna berpesan kepada mahasiswa dan para penghafal Al-Qur’an agar tidak ragu melangkah dan mencoba.

“Jangan minder dan jangan takut. Semua orang punya proses masing-masing. Selama kita disiplin, berusaha, dan bertawakal, Allah pasti memberi jalan,” pungkasnya.

Kisah Ratna Dwi Elia menjadi bukti bahwa keterbatasan waktu bukanlah penghalang untuk berprestasi. Dengan niat, disiplin, dan keikhlasan, prestasi akademik dan nilai-nilai spiritual dapat berjalan beriringan.

Penulis : Aisya Niken Cahya Salim

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tak Pernah Menargetkan Juara Ratna Dwi Elia Justru Menjadi Mahasiswa Terbaik

Trending Now