Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Nuhayaus Aunila, Menjadi Wisudawan Menyisakan Jejak Organisasi

parist  id
Jumat, Februari 06, 2026 | 23:49 WIB

Potret Nuhayaus Aunila, alumni LPM yang menyatukan akademik dan organisasi.

Kampus, PARIST.ID - Wisuda Sarjana dan Magister Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus kembali menjadi momentum refleksi perjalanan akademik dan organisasi mahasiswa. Dalam gelaran Wisuda Sarjana (S1) Ke-40 dan Wisuda Magister (S2) ke-22 yang berlangsung pada Kamis, (5/02/2026), bertempat di Aula Laboratorium Terpadu Lantai 5, hadir berbagai kisah inspiratif dari para alumni, salah satunya datang dari Nuhayaus Aunila, alumni Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma UIN Sunan Kudus, yang akrab disapa Nuha.

Momentum wisuda tidak hanya menjadi penanda selesainya masa studi, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas proses panjang yang telah dilalui mahasiswa selama menempuh pendidikan. Bagi sebagian alumni, capaian akademik tidak dapat dilepaskan dari pengalaman berorganisasi yang turut membentuk pola pikir, karakter, serta kesiapan menghadapi dunia setelah kampus.

Bagi Nuha, keterlibatannya di LPM Paradigma membawa perubahan besar sejak menjadi mahasiswa hingga sekarang. Tidak hanya memperluas relasi, LPM juga menjadi ruang belajar yang kompleks dalam dunia pers, mulai dari proses produksi karya hingga tanggung jawab moral terhadap informasi yang disampaikan kepada khalayak.

“LPM membawa perubahan besar buat saya, terutama dalam hal relasi dan pengalaman di bidang pers. Saat diamanahi menjadi Pimpinan Umum, tanggung jawabnya cukup berat karena bukan hanya soal anggota dan pengurus, tapi juga tentang karya yang kita bagikan ke khalayak,” ujarnya.

Menurutnya, dunia pers memiliki kompleksitas tersendiri. Namun justru dari proses tersebut ia banyak belajar, baik secara teknis maupun mental. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pengurus LPM Paradigma yang telah berjuang dan berkarya bersama selama masa kepengurusannya.

Dalam menjalani perkuliahan, Nuha menilai bahwa akademik dan organisasi merupakan dua hal yang sama penting dan harus dijalani secara seimbang. Tantangan terbesarnya adalah mengatur waktu serta membagi fokus agar keduanya tidak saling mengorbankan.

“Bagi saya, perkuliahan penting untuk kebutuhan akademik, sedangkan organisasi penting untuk pengembangan soft skill dan relasi. Keduanya sama-sama penting dalam membangun diri,” jelasnya.

Manfaat terbesar yang ia rasakan dari aktif berorganisasi adalah pengembangan soft skill yang menunjang akademik, pengalaman dari berbagai kegiatan, serta relasi yang hingga kini masih terjaga. Pengalaman tersebut juga berdampak langsung pada proses perkuliahan, khususnya dalam hal public speaking dan keberanian menyampaikan gagasan.

“Pengalaman organisasi sangat membantu, terutama saat diskusi di kelas. Mahasiswa dinilai dari critical thinking dan keberanian menyampaikan pendapat. Ide yang kita miliki juga lebih luas karena pengalaman kita tidak hanya di dalam kelas, tapi juga di organisasi,” tambahnya.

Di akhir, Nuha menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar tidak ragu untuk aktif berorganisasi dan memaksimalkan setiap proses yang dijalani.

“Menjadi organisatoris adalah privilege buat kita. Maka lakukan dengan maksimal agar hasilnya maksimal juga. Kesuksesanmu tidak berasal dari orang lain, tapi dari dirimu sendiri,” pungkasnya.

Penulis : Rahni Azaria Maulida

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Nuhayaus Aunila, Menjadi Wisudawan Menyisakan Jejak Organisasi

Trending Now