| Dokumentasi peserta beserta pemateri pada talkshow open budget academy (12/05) |
Kegiatan ini menghadirkan diskusi mengenai literasi data publik, transparansi anggaran, hingga jurnalisme data melalui program Open Budget Academy. Program tersebut merupakan kolaborasi antara PATTIRO Semarang, AJI Semarang, Ngulik.org, serta didukung oleh Tifa Foundation.
Puluhan mahasiswa dari Prodi PPI dan KPI mengikuti jalannya diskusi secara aktif. Dalam forum tersebut, mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga diberikan ruang untuk menyampaikan pandangan terkait keterbukaan anggaran dan akses data publik di Indonesia.
Admisi Program Studi PPI UIN Sunan Kudus, M. Nur Rofiq Addiansyah, menegaskan bahwa anggaran publik tidak bisa dipandang sekadar kumpulan angka semata.
“Anggaran bukan hanya deretan angka atau tabel, tetapi kontrak sosial dan alat kontrol terhadap negara. Politik anggaran yang sehat adalah ketika masyarakat bisa mengakses data, bukan hanya menerima hasil jadi,” ujarnya.
| Penyampaian materi oleh Ilham |
Pemateri dari PATTIRO Semarang, Untung Prasetyo Ilham, menyampaikan bahwa persoalan utama bukan terletak pada programnya, melainkan kesiapan sistem dan pengelolaan anggarannya.
“Menurut saya program MBG bukan program yang salah. Namun, persoalannya adalah kesiapan negara dan masyarakat dalam menjalankannya, terlebih ketika anggaran yang digunakan juga berkaitan dengan sektor pendidikan,” jelasnya.
Selain membahas transparansi anggaran, diskusi juga menyoroti pentingnya jurnalisme data di era digital. Materi ini disampaikan oleh jurnalis AJI Semarang, Noni Arnee, yang menjelaskan bahwa data dalam dunia jurnalistik tidak hanya berbentuk angka, tetapi juga foto, video, teks, hingga dokumen digital lainnya.
Ia memaparkan tahapan dalam pengolahan data jurnalistik, mulai dari pencarian data, pengambilan data melalui open data maupun scraping, proses pembersihan data, analisis, hingga penyajian informasi melalui berbagai platform media.
“Kalau ditanya tips di dunia jurnalisme data, saya justru balik bertanya, apakah kesabaran Anda setipis tisu?” ujarnya disambut tawa peserta.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memiliki kesadaran kritis terhadap pentingnya keterbukaan data publik sekaligus memahami bagaimana data dapat diolah menjadi informasi yang berdampak bagi masyarakat.

